part 4
Aku perlahan membuka kedua mata. Di mana ini? ruangan serba putih dengan gorden berrwarna biru. Ada Mama dan Papa di sebelah. 

“Vin, kamu sudah sadar, Nak?” kata Mama.

“Tunggu, Ma. Papa panggil dokter sebentar.” Papa langsung pergi meninggalkan ruangan. 

 “Ma, Vino kenapa?” tanyaku sambil menyentuh kepala. 

“Kamu pingsan tadi pas lagi ada keramaian penemuan mayat wanita yang diperkosa. Kebetulan papa dan Mama lagi lewat mau ke luar provinsi. Pas dilihat ternyata kamu.”

“Oh, iya. Vino ingat kejadian itu. Vino pingsan sesaat mayat diangkat ke mobil jenazah. Karena, memang sedang tidak enak badan. Akan tetapi, tidak bisa meninggalkan tugas saat dibutuhkan.”

Aku sengaja tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Mama. Takut beliau khawatir dan langsung membujuk Papa membawaku pulang ke rumah. Mama orangnya tidak tegaan dan mudah iba, sedangkan Papa orang yang sangat tegas. Memang, kadang Papa luluh kalau Mama sudah membujuknya. Untuk kali ini aku tidak berniat pulang, tetap ingin melanjutkan profesi ini dulu. aku mulai menyukai profesi mengerikan ini. Mengapa? Entahlah. Susah untuk dijelaskan. 

Tak berselang lama, Papa datang bersama dokter lelaki berkepala gundul. Ia memeriksa keadaanku. 

“Dia sudah membaik, hanya perlu istirahat.”

Setelah ngobrol sebentar dengan orang tuaku, dokter paruh baya itu pun keluar ruangan. 

“Vin, kenapa kamu tidak jujur dari awal kalau profesi kamu sopir pengantar jenazah?” tanya Papa.

Aku sudah tidak tahu mau bilang apalagi kalau sudah begini. Ibarat kata sudah tertangkap basah. Memang aku belum pernah bercerita tentang profesi ini. Saat ditelepon pun hanya kujelaskan kalau sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan besar gajinya. Ya, profesi pengantar jenazah lumayan gajinya. Akan tetapi, memang sesuai dengan segala risikonya. Termasuk risiko hal yang ganjil. Aku takut kalau bercerita sedari awal sudah dapat dipastikan Mama dan Papa tidak akan pernah mengizinkan. 

“Maaf, Ma, Pa. Vino memang belum menceritakannya. Takut kalian marah dan melarang.”

“Apa kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil? Tidakkah kamu takut?” tanya Mama.

“Tidak, Ma. Vino ikhlas jadi sopir pengantar jenazah. Tugas yang mulia. Jadi, Vino mohon agar Mama Papa mengizinkan meneruskan profesi ini. Sampai waktunya nanti tiba dan Vino akan pulang ke rumah. Saat itu juga anak manja ini sudah berubah jadi pemuda yang tangguh.”

Mama dan Papa saling melempar pandangan penuh arti. Entah apa itu. Pandangan kesal atau bahkan pandangan karena merasa terharu akan keberanianku barusan. Sejujurnya, aku bukanlah pemberani. Sedari kecil memang penakut untuk hal mistis. Karena, dulu pas kecil pernah disembunyikan wewe gombel di atas pohon besar di kuburan. Ingatan itu masih masih sangat membekas, membuatku besar dan bertumbuh jadi penakut. Untuk itu aku ingin berubah. 

“Baiklah, kami izinkan kamu dengan profesi ini. Padahal, kalau kamu jujur sebelumnya papa bisa minta teman untuk memasukkan kamu bekerja di kantornya. Tidak perlu berprofesi yang berat begitu.”

“Mama juga merestui keputusanmu, Nak. Jika memang itu menurutmu terbaik, kamu sudah dewasa dan bisa mengambil sikap sendiri.” Mama mengusap rambutku penuh kasih sayang. 

“Ingat! Kamu harus bisa jaga diri. Jaga kesehatan juga, jangan lupa untuk selalu berdoa,” peringat Papa. 

“Baiklah, Vino akan selalu  ingat. Terima kasih, Ma, Pa.”

***

Jam dua belas siang gawaiku berdering, ada panggilan video dari Pak Agung. 

“Vino, bagaimana keadaan kamu?” tanyanya dari seberang sana. 

“Sudah membaik, Pak. Maaf soal kejadian tadi, itu semua di luar kuasaku.”

“Itu bukan salahmu, tubuhmu memang sedang tidak sehat. Aku dapat memahaminya, untuk tadi mayatnya sudah dibawa temanmu. Mobil ada di kantor, nanti kalau kamu sudah pulih silakan ambil lagi.”

“Baik, terima kasih, Pak.”

“Maaf gak bisa ke ruangan kamu, sibuk hari ini. Semoga cepat sembuh,” ucapnya sebelum mengakhiri panggilan video. 

Setelah ngobrol dengan Pak Agung, aku jadi teringat tentang mayat gadis bernama Via itu. Ada rasa bersalah dalam diri, walaupun sebenarnya bukan salahku sepenuhnya. Manusia mana yang bisa mengartikan kode dari mereka yang telah meninggal? Apalagi posisinya malam, kota ini juga penuh dengan kisah kelam dunia malam yang semua oranaaga pun tahu jeleknya seperti apa. Aku telah salah sangka, ia hanya meminta tolong tadi malam. 

Setelah dipikir, seandainya tadi malam itu aku mengikuti dia ke pohon randu, apa yang terjadi selanjutnya? Ketika aku menemukan mayatnya dan pingsan di sana. Sudah dapat dipastikan jadi kena terseret kasusnya juga walaupun posisinya tidak tahu apa-apa. Iya, kan? Ah, apa pun pikiranku tak akan bisa dipahami oleh arwahnya. Tujuannya hanya minta tolong, itu saja. 

Seandainya, saat kejadian tadi malam itu posisinya ia masih bernapas, mungkin ia masih terselamatkan nyawanya karena cepat tertolong. Pikiran sangat kacau untuk saat ini. Rasa bersalah dan takut pun mendera. Aku tidak ingin punya tekanan batin yang aku sendiri pun tidak tahu asal muasal kejadian pemerkosaan itu. 

Aku hanya pingsan sebentar tadi, sekarang pun tubuh sudah baikan. Aku ingin segera keluar dari rumah sakit ini dan kembali beraktivitas seperti biasa. Melihat kondisiku yang sudah membaik, Papa dan Mama pun pamit untuk melanjutkan perjalanannya ke luar provinsi. 

***

Sore hari aku ke rumah duka untuk mengikuti prosesi pemakaman Via. Proses pemeriksaan telah selesai, dan bukti-bukti telah terkumpulkan sebagai bahan acuan polisi memburu si pemerkosa si gadis malang itu. Mayat yang meningga basah atau berdarah, tidak bisa didiamkan terlalu lama di bumi. Harus segera dikuburkan agar tenang dan tidak menimbulkan fitnah bagi mayat dan keluarga yang ditinggalkan. 

Aku menelepon Beni dan menceritakan semuanya. Lalu, mengajak Beni untuk menemani ke rumah duka. Tanpa alasan apa pun ia langsung setuju dan mau menemaniku. Sesampainya di sana, kami sudah langsung disambut suara isak tangis keluarganya. Siapa yang tidak sakit hati dengan kejadian memilukan ini?

“Ben, aku merasa bersalah,” bisikku. 

“Kamu tidak perlu merasa bersalah, mayatnya pun sudah ketemu dan sebentar lagi dikuburkan. Kamu hanya perlu minta maaf di pusaranya nanti. Tidak mungkin minta maaf pas orang rame begini.”

“Baiklah, terima kasih sudah menemaniku.”

“Tidak masalah, ini bukan apa-apa.”

Tak perlu menunggu lama, akhirnya jenazah dimakamkan di TPU terdekat. Tidak perlu diantar mobil jenazah karena cukup dipapah dengan keranda mayat. Saat prosesi pemakaman mayat berlangsung, ada wanita bergaun putih bersembunyi di belakang pohon. Ia ikut menonton pemakaman. Namun, sepertinya tidak ada satu pun yang melihatnya. Aku tak terlalu jelas melihat rupa wajahnya yang tertutup rambut. Satu yang jelas, dia benar-benar ada. Entah siapa.

“Ben, sini sebentar,” panggilku. 

“Kenapa, Vin?”

“Coba kamu lihat ke pohon sana, ada perempuan yang ikut melihat prosesi pemakaman. Tapi, dia gak mau dekat ke sini.” Aku menunjuk pelan pohon di antara kuburan. 

“Mana?”

“Masa gak kelihatan? Itu dia yang lagi ngintip.”

“Enggak lihat apa-apa.”

“Kamu tunggu sini dulu, Ben. Kamu lihat dari sini aja, biar aku samperin itu cewek.” Aku berkata sambil berjalan meninggalkan Beni yang tampak kebingungan. 




Bersambung.... 

Yang belum subscribe silakan sub dulu yaaa. 

Komentar

Login untuk melihat komentar!