Ayahku Banci
Krekkk. Suara deritan pintu itu. Jeritannya cukup memekakkan, termakan usia dan tentu karena minim perawatan. Dulu, ia pasti akan melonjak girang bila mendengarnya. Tamu berarti uang jajan lebih. Ayah tak akan segan membelikannya gulali atau balon warna-warni bila pelanggan datang silih berganti. Sampai saat itu, ia merasa bahwa dunia sungguh indah dan sangat mempesona, sama seperti namanya. Pesona.

“Mana laki-laki pemilik tempat ini?” Wanita paruh baya dengan penampilan kekinian itu berkata. Ia menurunkan kaca mata hitamnya, menatap sekeliling sambil sesekali mengibaskan tangannya memamerkan deretan gelang mengkilat yang memenuhi kedua pergelangan tangannya. Bila itu asli, pastilah harganya sama dengan sewa ruko ayahnya setahun. Rambutnya pirang dengan tatanan khas orang kaya dan make up minimalis yang sempurna. Orang yang beruntung.

“Ayah sedang keluar sebentar, ada yang bisa saya bantu, Bu?” Pesona berkata ragu. Apa ayah punya hutang pada wanita ini? Tak mungkin kan orang sekelas dia pelanggan ayah? Adakah yang lebih buruk akan menimpa hidupnya yang sudah sulit ini?

“Ohhh jangan panggil aku dengan sebutan Ibu, call me Tante May, EM-AU-EY, May,” ucap wanita itu menjelaskan dengan ejaan Bahasa Inggris yang cukup menggelitik.

“I am waiping oke.” 

“Waiping?” Sona mengernyitkan dahinya.

“Waiping, menunggu tahu. Payah, anak jaman sekarang gak gaul!” Wanita paruh baya itu mengibaskan rambut pirangnya.

Sona menganggukkan kepalanya. Ah ternyata tak selamanya penampilan berbanding lurus dengan isi otak seseorang.

 “Apa kau putrinya?” Tante May membuka kacamata hitamnya, jari lentik berkutek merah mengkilat itu menunjuk Sona.

“Siapa?” Sona mengernyitkan keningnya lagi.

“Siapa lagi? Apa ada orang lain selain kita di ruangan ini? Helo… atau kau pikir aku sudah gila hingga berbicara dengan cicak yang merayap di langit-langit rumah ini?” Seru tante May dengan tangan yang bergerak-gerak secepat caranya berbicara.

Sesaat Sona terdiam. Kecepatan bicara Nyonya Kaya ini sungguh luar biasa, ia hampir kesulitan mencerna setiap kata yang ia ucapkan. Seandainya ia rentenir, habislah ayah yang harus menelan omelannya.

“Kenapa diam? Apa suaraku kurang jelas?”

“Ah iya, aku anaknya, namaku Pesona, Tante bisa memanggilku Sona,” jawab Sona sedikit gugup.

“Good!Jadi sejak kapan ibumu minggat dan menelantarkan kalian?”

“Apa!” Sona berteriak. Hampir saja ia tersedak permen karet yang dikunyahnya. Sial! Bagaimana bisa wanita ini mengatakan hal yang tidak sopan pada pertemuan pertama mereka dengan wajah seolah tanpa dosa. Sungguh keterlaluan. Atau ayahnya lah yang terlalu mudah mengumbar aib keluarga.

Krekkk! Gesekan engsel berkarat. Tamu lagi.

“Ma, sampai kapan aku harus menunggu di dalam mobil, apa kau ingin membunuhku?” Seorang laki-laki muda sebaya Sona masuk.

Sona mengamati laki-laki muda itu. Ah, anaknya Tante May. Orang yang beruntung juga. Pastilah kecil dulu ia sering mengkonsumsi keju dan susu hingga tingginya begitu menjulang dan warna kulitnya begitu cerah.

“Aku memang akan membunuhmu, Rayhan. Sia-sia Mama keluar uang banyak untuk bayi tabung bila jadinya anak sepertimu. Tahu begini biar saja Mama tidak punya anak!” Tante May melengos menghindari tatapan Rayhan anaknya. Sungguh sebuah drama yang manis dari keluarga orang kaya.

“Hei, jangan seperti itu Ma, doa seorang ibu itu pasti dikabulkan, mama mau aku beneran mati?” Rayhan langsung duduk di sebelah mamanya dan menggelayut manja. Kedua lengannya erat memeluk wanita cantik itu.

“Mama akan kesepian hanya bertemankan papa yang sudah tua itu dan adikku yang menyebalkan. Mau?”

Tante May memajukan bibirnya. Melihat gelagatnya, pastilah ia tak bersungguh-sungguh marah pada putranya itu.

“Ayolah Mama, sayangku, cinta pertamaku, berikan ATM-ku. Plizzz!” Rayhan menatap penuh harap. Buaya.

Tante May menatap langit-langit ruko yang cat putihnya telah mulai memudar. Ia pasti mencoba menghindari tatapan bening pemuda itu, tapi Sona yakin sebentar lagi pertahanan Tante May pasti akan runtuh.

“Ma, aku sudah menemani mama seharian ini, dari belanja sampai arisan, ayolah, Ma, plizzz!” Tatapan itu semakin memelas. Lebih tepatnya dibuat sememelas mungkin. Sona tahu tehnik ini ketika ikut kelas drama di SMA-nya dulu.

Tante May menghela napas, menatap putranya dan menghela napas lagi. “Sudahlah! Aku memang tak berguna mendidik anak seperti mu?”

“No, Ma, you are the best!” Rayhan mencium pipi mamanya.

“Oke anak nakal, kali ini kau kuampuni, tapi bila lain kali kau buat onar lagi, akan kuadukan pada papamu. Biar jadi miskin kamu!”

“Yesss! I love you, Mama.” Laki-laki muda itu bersorak girang.

“Ini, awas jangan pulang malam!” Wanita itu melempar sebuah kartu persegi berwarna gold.

Pesona menatap takjub, oh, begitu nasib terkadang begitu kejam mempermainkan manusia sepertinya. Seandainya ayahnya pun berlaku sama bila ia merajuk.

“Thank you, Mama cantik!” Rayhan beranjak setelah menghujani mamanya dengan ciuman.

Dan, luluh lah hati wanita cantik itu. Drama selanjutnya adalah adegan manis antara Ibu dan putranya.

“Dan kamu?” Rayhan menunjuk Sona yang dari tadi memperhatikan adegan mesra ibu anak itu. “Jangan terpesona seperti itu menatapku tahu!”

“A-a-ku?” Sona bertanya ragu.

Rayhan berjalan ke arah Sona yang masih terpaku.

“Yup, siapa lagi manis?” Tanpa aba-aba Rayhan mencubit pipi Sona.

“Kamu!” Sona berteriak dengan mata melotot. Ia tak siap dengan gerakan tiba-tiba Rayhan, kini ia pun tak mampu menyembunyikan semburat merah di pipinya. Laki-laki ini!

 Plak! Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi mulus Rayhan. Ia hanya terdiam menatap tak percaya. Perfect! Untuk pertama kali seseorang berani menampar pipinya.


“Kamu tahu, Say, pipi anakku itu sampai merah, bukan karena sakit tapi pasti karena malu ha ha ha.” Tante May tertawa girang. Matanya berbinar seolah anak kecil mendapat mainan baru.

“Ih, kok Sona gitu sih, itu anak emang gak tau sopan santun, main tampar anak orang saja, sebel.”

“Ih, gak apa-apa lagi, Say, emang tu anak perlu dikasih pelajaran, emang dia kira semua cewek sama apa? Dasar anak manja. Sok ganteng, sok keren, padahal dia mah gak ada apa-apanya tanpa harta orang tuanya.” Tante May memonyongkan mulutnya.

“Tetep Cin, aku gak terima, itu anak main tampar anak orang aja, sebel, sebel pokoknya!”

“Ha ha ha, udahlah, aku suka kok, biar sekali-sekali anak itu dikasih pelajaran, kalau sama aku dan papanya, manjanya gak ketulungan.”

“Sona! Ngapain coba kamu main tampar anak orang segala? Gak sopan tahu!”

Sona melirik ayahnya sekilas, berdehem dan kembali fokus pada laptopnya.

“Hey Sona, denger ayah gak sih? Ayo jawab ayah, kamu gak sopan ya!”

Sona melirik sekilas lagi, menggelengkan kepala, tersenyum simpul dan kembali fokus pada layar laptop.

“Sona, kamu ini ya, perlu diajari tata karma!”

“Ayah!” Sona menarik napas, menatap lelaki yang sedari kecil telah merawatnya itu. “Ayah gak perlu mengajari aku soal tata karma bila ayah masih suka pakai rok mini kalau kerja!” Sona beranjak, menatap sosok ayahnya dengan rok mini dan make up tebalnya. Berkali menghela napas dan bergegas ke kamarnya.

“Hey, mau kemana kamu Sona?”

Sona membalikkan badannya dan tersenyum. “Mau ke kamar sholat Ashar, memohon hidayah untuk ayahku,” sahut Sona ketus.

Ayah Sona mencibir. “Huh, anak gak tahu diri, liat tu, Cin, kurang ajar bener!”

“He he he, wajar banget sih dia kayak gitu, siapa coba yang tahan punya ayah banci kayak kamu, ups, sorry!” Tante May menutup mulutnya menahan tawa.

“Ihhh kamu, bukannya belain sahabat sendiri malah belain anak itu!” Ayah Sona menghentakkan kakinya.

“Kalian lucu, Say, anak you berjilbab eh, ayahnya malah pake rok mini ha ha ha.” Kali ini tawa itu semakin nyaring.

“Ya gimana, Cin, ini panggilan jiwa.” Ayah Sona menggigit kuku berkutek pink nya. Mengingat bahwa memutuskan untuk menjadi dirinya yang ia inginkan bukanlah mudah. Bukan serta merta ketika seorang laki-laki beristeri dan memiliki seorang putri memutuskan untuk menjadi waria. Tak se-simple yang orang kebanyakan bayangkan. Cukup lelah batinnya meronta dan kata hati saling bertarung memperebutkan jati diri sampai akhirnya ia memutuskan. Sakit awalnya, tapi ia lega, ia suka, nyaman dan menikmati keadaanya ini walau ia tahu ada hati seorang putri yang teriris menerima pilihan hidupnya.


Seandainya hidup dapat memilih, seandainya semua takdir dapat diubah, apalah daya manusia ketika ada banyak rahasia Ilahi yang terkadang memaksa hambanya untuk melalui jalan dengan liku yang berbeda.

Sona menghela napas berulang. Tepat sudah dua minggu ia menjadi pengangguran di kota kelahirannya. Dua minggu pula ia mulai muak dengan lenggak-lenggok genit ayahnya yang melayani para pelanggan salonnya. Sungguh memalukan. Rasanya wajar bila keluarga calon suaminya itu serta merta menolak dirinya menjadi calon menantu. Siapa juga yang mau mengambil mantu anak seorang banci. Wajar kan? Kewajaran yang menyakitkan.

Ah, dan penolakan itu terasa semakin menusuk kala mengetahui bila ia telah terlalu jatuh cinta pada laki-laki itu. Dan kemana ia harus membawa luka kecewa bila tak kembali, pulang dan berlindung dalam dekapan satu-satunya keluarga yang tersisa. Ayah.

“Kenapa pulang Sayang?” Ayah membelainya setelah seharian sejak kembali ia hanya mengurung diri di kamar.

Sona tak menjawab. Terlalu menyakitkan untuk bercerita ulang tentang apa yang ia alami. Biarlah, semua menjadi kenangan saja. Ayah pasti akan menangis tersedu bila mengetahui yang sebenarnya. Lelaki berjiwa pink itu akan sangat mellow bila mendengar cerita yang mengundang air mata.

“Apa ada masalah?” Ayah kembali membelainya.

Sona menghela napas untuk kesekian kalinya. Ayah, entah harus bagaimana ia memanggilnya. Laki-laki yang telah bepuluh tahun merawatnya seorang diri. Seorang ayah, ibu sekaligus sahabat baginya. Sebuah sosok sempurna untuk dikagumi andai saja ia tak berbeda.

“Kenapa ayah tak berpakaian seperti ayah temanku?”

“Kenapa ayah mengenakan rok?”

“Kenapa ayah harus berlipstik?”

Dan ada banyak kenapa yang selalu ingin ia utaran ketika kecil dulu, termasuk kenapa ia tak memiliki ibu seperti teman lainnya.

Lalu, hidup selalu menyimpan misteri. Jika bisa memilih, ia tak pernah keberatan ketika mengetahui fakta bahwa hingga kini ibu, wanita yang melahirkannya tak sekalipun menghubunginya. Atau ketika sejak kecil ia harus berhemat dan membantu ayah bekerja, apa ia pernah mengeluh? Tidak, ia melakukan dengan suka cita. Tapi, berhadapan pada sebuah kenyataan bahwa ayah bertindak selayaknya wanita. Bahwa ayah yang mengingkari kodratnya lah penyebab ibu kabur, sungguh berat dan menyakitkan.

Sona sudah terlalu biasa dengan ejekan kata “banci”. Rasanya pun tak lagi tersentil bila orang lain dengan mudah menyindirnya dengan kata-kata yang melecehkan. Telinganya pun tak lagi panas ketika jilbab yang ia kenakan selalu dibandingkan dengan rok mini ayahnya.

Lalu, ketika penolakan itu datang, di saat terakhir, di saat ia telah mantap untuk memulai hidup baru. Rasa itu seakan telah mencabik jiwanya. Berat, sungguh ia telah terlalu tinggi berharap dan kini terhempas sangat keras. Pernikahan yang tinggal kenangan dan hanya ada dalam angan.

“Aku dipecat oleh sekolah tempatku mengajar, sekarang aku pulang kampung dan ingin menumpang hidup dengan ayah,” jelas Sona dengan mata lekat pada layar ponselnya. Ia ingin berkata sesantai mungkin walau ia yakin ada getar dalam tiap ucapnya.

“Hey!” Laki-laki gemulai itu menepuk pundak putrinya.

“Sakit ayah,” ringis Sona.

“Kau bilang mau menumpang hidup dengan ayah? Enak saja, untuk apa kuliah tinggi-tinggi bila akhirnya dipecat? Anak tak tahu diri ya.” Ayah Sona membalikkan badan, sebuah tanda bila ia sedang merajuk. Lucu, sungguh lucu bila membayangkan yang melakukan itu adalah lelaki berusia empat puluh lima tahun.

“Sudahlah ayah, aku akan mencari pekerjaan di sini, tenang saja, akan kubayar biaya kuliahku dulu!” Sona mencubit pipi mulus ayahnya. Lebih mulus dari pipinya.

“Bukannya kau mau menikah? Mengapa pindah? Apa laki-laki itu mencampakkanmu?”

“Enak saja, aku yang mencampakkannya, ia tak pantas untukku. Kurang ganteng!” Sona memonyongkan mulutnya. Kebohongan yang menyakitkan.

“Sona, apa ia mencampakkanmu karena Ayah?” Ayah Sona menatap menyelidik.

Sona bergeming, menatap jendela untuk menghindari tatapan ayahnya.

“Benar kan, Nak? Karena ayah, kan?” Suara ayahnya bergetar.

Sona benci melihat ini. Laki-laki ini pasti akan menangis dan meraung lagi. Tak cukup sepuluh menit, setidaknya butuh waktu satu jam untuk menenangkannya. Payah, bagaimana bisa laki-laki ini begitu cengeng.

“Tidak Ayah, aku yang mencampakkannya, dia kurang ganteng, jadi kuputuskan akan cari calon suami yang lebih ganteng demi memperbaiki keturunan.” Sona tersenyum, memamerkan dua gigi ginsulnya.

Plak! Ayah Sona memukul punggungnya. Lagi.

“Sakit ayah, ada apa?”

“Ada apa? Ada apa? Seenaknya saja membatalkan pernikahan hanya karena masalah fisik, tak tahu diri kamu ya! Apa kau pikir kau sangat cantik? Anak uztad kok ditolak, kelewatan!”

“Karena aku gak cantik makanya aku cari salon suami yang ganteng!” Sona membela, sepertinya kebohongan ini berhasil.

“Kamu ya, seenaknya saja memutuskan,” seru Ayah Sona. Terkadang ia tak mengerti jalan pikiran putri satu-satunya ini. Benar-benar tak tahu diri, masih untung ada laki-laki yang mau jadi suaminya. Memang dia pikir dia siapa?

“Ah, aku bosan, mau keluar dulu.” Sona beranjak, menarik jilbab instan yang tergantung di balik pintu kamarnya, memakai dan bergegas pergi.

“Hei, Sona, apa kau pikir kau sangat cantik, ambil kaca coba!” Ayah Sona berteriak.

Sona mulai bersenandung, dengan begini ia tak akan mendengar ocehan ayahnya lagi.

“hey anak nakal!” Ayah Sona kembali berteriak. Ia menatap punggung putrinya yang dengan santai melaju tak menghiraukan teriakannya.

Sona menarik napas panjang, menatap langit yang tetap sama indahnya sejak dulu. Mungkin saja ada jawab dalam setiap tanya dalam hatinya.

Ayah. Sebuah kata penuh makna, lelaki yang dalam sekejap bisa membuat Sona tertawa sekaligus meringis perih akan tingkahnya.

Ia tak ingat sejak kapan, apakah sejak Ibu pergi tanpa kabar atau malah jiwa kewanitaan ayah lah yang menjadi penyebab ibu pergi. Memiliki ayah yang dengan dekapnya ia hanya mampu telelap adalah anugrah, tapi memiliki ayah dengan jiwanya yang tersesat sama berat ketika seorang lelaki secara sepihak membatalkan pernikahannya. Sakit.


“Gimana Rin? Apa sudah ada lowongan?” Sona menyeruput es teh tawar kesukaaanya dengan perlahan. Dia tak pernah suka sesuatu yang manis karena baginya itu tak berbanding lurus dengan kisah hidupnya. Sona menatap wajah sahabat SMA-nya itu, berharap ada kabar baik yang terucap.

“Ada satu, anak SD kelas tiga, belum bisa baca, tapi agak berat, anaknya rewel,” ucap Airin.

“Bayarannya?” Tak masalah soal beratnya tugas, uang dulu yang utama.

“Satu kali pertemuan seratus ribu, seminggu empat kali, jadi sebulan satu juta enam ratus. Lumayanlah.”

“Aku terima Rin, minta kontak orang tuanya ya.”

“Tapi aku gak jamin kamu bakal betah, ibunya rewel pake banget and anaknya wuih malas bener, motivasi belajarnya bukan nol tapi minus, kamu sanggup?” tanya Airin memastikan.

“Gak ada pilihan, kalau ada anak SMP atau SMA sih aku lebih prefer itu, cuma kepepet, aku gak ada uang.”

“Lagian, kamu juga, bego banget, batal nikah malah berhenti kerja dan pulang kampung, tau sendiri di sini lowongan kerja sulit,” ucap Airin.

“Helooo, Airin sayang, mana tahan aku sekantor dengan dia, melihat wajahnya aku sudah menitikkan air mata.” Sona membela diri. Menyendiri di kota kecil kelahirannya ini jauh lebih baik daripada ia harus terus berada di dekat laki-laki itu.

“Lebay!” Airin memonyongkan bibirnya. Sejak kapan Sona jadi sok melo gini. Ia anak yang cuek setaunya tapi entah bila cinta telah mengubah segalanya.

“Aku serius Rin, aku gak sanggup bila setiap hari harus berhadapan dengannya. Kamu tahu kan sejak aku diterima jadi pengajar di sekolah itu aku sudah suka dia.” Sona menatap Airin serius. Tangannya meremas ujung jilbab hijau lumut pemberian ayahnya. Sesekali ia menoleh ke sekeliling, antisipasi bila saja ada yang mendengar curhatnya.

“Kamu tahu kan, dia cinta pertamaku dan ketika dia untuk pertama kalinya mengajak aku berbicara formal padanya, kau tahu kan, saat itu dia langsung melamarku dan meminta gadis biasa ini menjadi pendampingnya. Siapa yang gak terbang coba?”

Airin menatap wajah sahabatnya yang mendadak mendung itu. Pasti berat bila ia yang harus berada di posisinya.

“Terus mengapa pujaan hatimu itu membatalkan pernikahan?” tanya Airin.

“Menurutmu?” Sona mengerutkan keningnya. Pertanyaan bodoh untuk jawaban yang sangat mudah ditebak sebenarnya.

“Ayahmu?”

Sona mengangguk. “Bukan dia yang keberatan, tapi keluarganya. Sejak awal ia sudah mengetahui keadaan ayah, tapi keluarganya, entahlah, kurasa dia pasti telah berusaha keras meyakinkan tapi yah mungkin belum jodoh.” Sona mengaduk-aduk gelas yang tinggal berisi bongkahan kecil es batu. Terlalu sulit menyembunyikan rasa kecewa itu.

“ Sudahlah, Son, jangan dipikirkan, bergembiralah oke.”

“Aku memang sudah tak memikirkannya lagi, tapi kamu lah yang mengungkitnya kembali, lain kali cari topik yang lain oke?”

“He he he Sorry, “ Airin menepuk pundak Sona lembut.

Sona dan Airin sedang asik dengan pikirannya masing-masing ketika sebuah suara yang rasanya tak asing di telinga Sona mengalihkan perhatian dua sahabat itu.

“Hei, kita jodoh, bertemu lagi!” Suara itu lagi.

Sona membalikkan tubuhnya, memastikan bila suara itu berasal dari orang yang ia kenal.

Laki-laki muda itu tersenyum, ada dua orang sebaya dengannya berjejer di sampingnya.

“Ah, anak Tante May,” ucap Sona, terdengar santai, sekedar menutupi kekhawatiran. Ia harus tersenyum mengendalikan diri. Laki-laki ini pasti masih cukup kesal dengan tamparan waktu itu. Ada sedikit sesal mengapa juga ia harus menampar laki-laki itu, sekarang ia baru merasa bila bentakan saja sebenarnya sudah cukup untuk meluapkan amarahnya kala itu.

“Ah, anak Om…” Rayhan menghentikan ucapannya, keningnya berkerut seolah mengingat sesuatu. “Om atau tante ya ha ha ha.”

Sona tersenyum. Baiklah, babak baru pembullyan akan dimulai. Setelah SD, SMP, SMA dan berakhir di masa kuliah karena jauh dari kampung halaman, kini ia harus menghadapinya lagi.

“Jangan ragu, katakan saja, sebagian penduduk kota ini sudah tahu tentang ayahku,” tantang Sona.

“Ohh baiklah, aku tak akan sungkan lagi nona, ayahmu, banci, B-A-N-C-I banci!” Rayhan tersenyum mengakhiri perkataannya yang menyakitkan.

“Mengapa?” tanya Sona. Ia ingin terdengar sesantai mungkin.

“Karena dia mengenakan rok mini ha ha ha!” Rayhan tertawa, tak lucu sebenarnya, kedua temannya pun tak ada yang tertawa, tapi tetap ia tertawa sangat keras demi melihat Sona malu.

“Kalau begitu, kamu pun banci.” Sona berusaha untuk tetap santai walau dengan gemuruh di dada yang siap meledak.

Rayhan mengernyitkan keningnya dan tersenyum.

“Kau tahu kenapa? Karena ternyata kau lebih cerewet dari ibumu. Kukira dulu hanya wanita saja yang bawel tapi ternyata ada juga laki-laki yang mulutnya ember. ” Sona mengatakan dengan sedikit berbisik.

Senyum di wajah Rayhan terhenti. Ia mengepalkan tangannya. Kedua temannya mencengkram bahu Rayhan. Walau bagaimanapun juga seorang wanita bukanlah lawan yang setimpal, dan Rayhan harus selalu diingatkan akan itu.

“Ayo Rin, kita pergi.” Sona segera menarik lengan Airin yang sedikit gemetar karena kejadian barusan. Airin menurut. Ia masih belum dapat mencerna atas apa yang terjadi. Apakah hanya dalam hitungan minggu kedatangan sahabatnya ini ia sudah mendapatkan musuh? Sona, entah kenapa hidupnya tak pernah sepi akan masalah.

Bersambung...

Teman-teman, bantu subscribe cerita ini ya, terima kasih 🙏