Air Mata Pesona

Terengah-engah Rayhan memegang dada yang detak di dalamnya berpacu tak menentu. Cukup jauh preman itu mengejar hingga akhirnya menyerah karena kelelahan. Untung saja dia dalam keadaan setengah sadar. Bila tidak, habislah Rayhan.

Laki-laki muda bertubuh atletis itu menatap kesal pada wanita muda di sebelahnya yang tetap tersenyum dalam lelahnya.

“Kenapa kamu meninggalkan aku?” tanya Rayhan.

“Menurutmu, kenapa aku harus menunggumu,” gerutu Sona. Mereka bukan teman kan? Dan Laki-laki di sampingnyalah yang menyebabkan kesialan pagi ini. Tak ada motif yang tepat bagi Sona untuk setia kawan padanya.

“Setidaknya bersimpatilah padaku karena kau bisa merasakan berlari berdampingan dengan anak orang kaya yang ganteng di pagi ini. Itu rezeki.” Rayhan mengibaskan rambutnya yang basah oleh keringat.

Sona mendelikkan matanya. Rezeki?

“Ada baiknya kau suruh ibumu membeli kaca baru di rumahmu itu, biar kau tahu seberapa buruk rupamu di mataku.” Sona beranjak, bersiap meninggalkan Rayhan. Hanya buang energi dan mendatangkan kesialan saja bila bersama dengan orang sombong seperti dia.

“Hei, kau mau kemana? Jangan pergi, kau harus bertanggung jawab!” teriak Rayhan.

“Apa aku tak salah dengar?” Sona mengehentikan langkahnya.

“Pinjami aku uang untuk ojek dan beli minuman, dompetku ada di dalam mobil.” Rayhan berkata ketus.

Sona tersenyum. “Bukankah kalimatmu seharusnya ditambahi kata ‘tolong’?” Sona tersenyum penuh kemenangan.

“Hei, kau kan bekerja untuk mamaku, berarti aku juga bosmu kan?” Nada suara Rayhan meninggi.

“Bila kau tak mau minta tolong, kau bisa jalan kaki ke rumahmu atau kau bisa bayar di rumah kan? Jangan merepotkan orang, aku sibuk tahu.”

“Akan kuadukan pada mamaku biar kau dipecat!” Rayhan berkacak pinggang.

“Ah ide bagus itu, aku memang menantikan saat dipecat oleh mamamu, pasti menyenangkan tidak bekerja di rumahmu lagi.” Sona melipat tangannya dan tersenyum.

“Baik, lihat saja, akan kuadukan pada mamaku,” ancam Rayhan.

Sona mengangkat bahu dan bergegas. Siapa takut?

“Hey kau mau kemana?” panggil Rayhan.

“Pergi. Daaa Rayhan, jangan lupa bilang mamamu untuk memecatku ya.” Sebuah senyum terukir di wajah manis Sona. Orang kaya sombong itu sekali-sekali harus diberi pelajaran.

“Pinjami aku uangmu!” teriak Rayhan lagi.

“Aku tak mendengar kata ‘tolong’” Sona terus berjalan tanpa menoleh.

“Hey kamu, pinjami aku uang!” Lagi Rayhan berteriak.

“Bilang tolong dulu.” Sona tetap melangkah tanpa menoleh.

“Oke, oke kau menang.” Rayhan menghela napas. “Tolong pinjami aku uang Sona!”

Sona berbalik menatap Rayhan dengan muka masamnya. “Bisa kau ulang?” Senyum Sona semakin mengembang.

“Sona, tolong pinjami aku uang.” Seketika wajah pucat Rayhan memerah. Malu.

Entah mengapa bahagia itu unik, melihat Rayhan kena batunya sekali ini, merupakan hiburan yang indah di pagi hari. Sesaat masalah Sona seakan menguap seiring dengan semakin masamnya wajah Rayhan.

“Ini foto ayahku.” Sona segera menundukkan pandangannya setelah menyerahkan foto terbaru ayahnya. Ada rasa tak menentu bergemuruh di dadanya, ia tak mampu membayangkan bagaimana reaksi laki-laki yang di hadapannya.

“Tak usah menutupi perasaanmu, katakan saja, sebelum kita terlanjur berjalan terlalu jauh,” ucap Sona lemah. Ia harus siap apapun reaksi darinya. Laki-laki mana pun ia yakin akan terkejut ketika mengetahui calon ayah mertuanya bukanlah seorang laki-laki dengan muka sangar melainkan pria paruh baya dengan wajah full make up lengkap dengan rambut pirang dan senyum khas menggoda yang memuakkan. Sona bisa saja mengatakan bila ia anak yatim piatu, namun nuraninya berontak, sebuah hubungan tak akan pernah berjalan mulus bila diawali dengan kebohongan.

“Ibumu?” Raut wajah laki-laki itu serius, tak ada kecemasan, amarah atau rasa sedih terpancar. Sona tak yakin tentang apa yang berputar dalam benaknya.

“Aku tak tahu, tapi kabarnya ia pergi dengan laki-laki lain.” Ada getar dalam nada suara Sona. Sebuah kalimat yang sederhana tapi untuk mengungkapkannya begitu berat dan menyakitkan. Hatinya seakan teriris ketika berkali harus mengulangi menjelaskan tentang keberadaan ibunya.

Ahmad, laki-laki dengan tatapan teduh itu. Seksama ia mengamati lagi foto ayah Sona. Akhirnya ia mengangkat wajahnya, lagi, memamerkan senyum indahnya.

“Soal ibumu, bila berat untuk memaafkannya, ingatlah bahwa wanita itulah yang berjasa menghadirkanmu ke dunia ini, tapi untuk ayahmu, tenang saja, bersama kita bisa membawanya ke jalan yang Allah ridhoi.” Ahmad tersenyum dan membiarkan Sona cukup lama dalam keterpakuannya. Laki-laki ini, seseorang dengan pesona ahlak yang luar biasa. Dan Sona, betapa beruntungnya ia ketika laki-laki ini mantap mengajukan diri sebagai calon imamnya.

Sona mengusap butiran bening yang perlahan mengalir membasahi wajahnya. Mengingat betapa bahagianya ia ketika Ahmad dapat menerima keadaan ayah dan masa lalu pahitnya akan seorang ibu, sungguh berkali dan tak berhenti rasa syukur itu hadir dalam benaknya. Penderitaan ini akan berujung, itulah yang ia yakini kala itu.

Ayah pun berteriak girang ketika akhirnya ada juga yang bersedia mempersunting putri tunggalnya dan tak mempermasalahkan keadaannya. Bukan pula orang sembarangan, ia adalah orang terpandang di kota tempat Sona mengajar. Keluarga baik-baik yang disegani. Bukankah itu suatu berkah yang datang ditengah kelamnya hidup Sona?

Seumpama pelangi yang tak bertahan lama menghias angkasa, begitu pun rasa bahagia itu. Semua yang terasa mudah, semua yang baik-baik saja lalu seakan berbalik menghempaskannya. Sona sudah terlalu tinggi melayang ketika terpaksa harus terjatuh.

“Maafkan aku Sona, maafkan,” ucap Ahmad kala itu.

Sona tak menjawab, untuk apa pula menjawab bila itu tak mengubah keadaan. Pernikahan ini akan batal. Tak ada secuil pun dari keluarga besar Ahmad yang menerima kehadiran Ayah Sona. Mereka terang-terangan menolak bila harus memiliki besan seorang banci. Dan seharusnya dari awal Sona sudah menyadari bila menikah bukan hanya tentang merangkai dua hati, lebih dari itu ada dua keluarga yang berbeda dalam segala hal yang akan disatukan. Sona dan Ahmad lupa akan itu.

Ahmad pun tak berlari mengejar ketika Sona tanpa pamit berlari meninggalkan Ahmad yang bahkan belum sempat mengakhiri ceritanya. Laki-laki itu hanya terpaku menyaksikan punggung Sona yang akhirnya menghilang dari pandangannya. Ada telaga yang tergenang di matanya, sungguh berat. Ia adalah seorang laki-laki, sudah seharusnya ia menapati janji pada Sona, tapi ia lupa ia pun seorang putra yang harus taat pada orang tuanya. Dan ia yakin, bahkan Sona takkan mampu membayangkan perihnya hati ketika ia terpaksa menyakiti wanita yang perlahan mulai mengisi harinya.

Berkali Sona berusaha menata hati, membuat semua sebagai hal yang biasa, tapi itu tak semudah teori. Setiap ada yang bertanya prihal pernikahan, tentang Ahmad, dan penyebab batalnya peristiwa bersejarah itu, Sona tak kuasa berkata. Hanya air mata yang menjadi jawabannya.

Lalu, apa yang lebih baik dari ketika ia memutuskan meninggalkan kota itu. Berlari, pulang dan menghambur dalam pelukan ayahnya. Inilah tempat ternyaman sekarang. Ia tak sanggup bila harus terus berhadapan dengan laki-laki dengan sorot mata teduh itu. Dan pulang adalah solusinya.

“Aku ini Kak, kok susah banget nangkap kalo belajar, kok ya sudah sebesar ini masih saja belum bisa membaca.” Bening menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Nggak juga kok, Kakak pikir kamu ini sebenarnya hanya malas,” ucap Sona. Ia memeriksa tulisan Bening yang tidak lebih baik dari tulisan anak TK.

“Jadi, maksud Kakak aku ini sebenarnya pintar tapi cuma malas saja?” Berbinar-binar Bening menatap Sona berharap mendapat jawaban anggukan.

“Ya gak juga sih, kamu itu ya paket komplit, malasnya iya, gak pintarnya juga iya he he.” Sona tertawa.

Bening langsung menekuk mukanya, dibuat sejelek mungkin walau itu sulit karena sudah kodrat wajahnya sangat rupawan.

“Papa itu Kak, mau nikahin mama karena mama cantik kayak artis di TV. Maunya papa, anak-anaknya itu nanti bisa sepintar papa tapi secantik mama. Taunya Allah cuma ngabulin separuh keinginan papa,” Bening menghela napas memberi jeda pada ceritanya.

“Aku dan Kak Rayhan emang jadinya ganteng and cantik kayak mama tapi begoknya kok malah lebih parah dari mama.”

Sona menutup mulutnya berusaha menahan tawa yang siap meledak.

“Emang kakakmu itu gak pintar, kayaknya kok pintar?” tanya Sona setelah mampu mengendalikan gelak tawanya yang siap pecah.

“Ihhh, Kakak gak tahu ya. Dia itu kuliah udah semester belasan gitu, gak tamat-tamat. Kenapa coba? Ya karena otaknya gak nyampailah,” Bening memonyongkan mulutnya.

Lagi, Sona harus menahan tawa yang siap meledak itu. Kalau dipikir, unik juga keluarga ini walau ya jelas tak seaneh keluarganya. Perlahan Sona mulai menyukai tingkah lucu Bening.

Anak ini memang banyak tingkah dan tidak pernah fokus belajar. Ada-ada saja tingkahnya untuk membatalkan proses belajar. Dari mengeluh sakit perut lah, pusing, demam dan berbagai alasan supaya tidak belajar.

Tapi, Bening, anak ini sangat polos. Ia akan bicara apa adanya sesuai dengan suasana hatinya. Sangat jujur dan tidak munafik. Ia akan berkata A bila ia suka A dan berkata B bila ia suka B. Sona suka kejujuran itu.

“Sudah mau pulang Son?” tanya Tante May.

Sona mengangguk.

“Hari hujan nih, gimana mau pulang? Udah mau Magrib lagi, udah nginap aja di sini.”

“Nggak ah Tante, biar saja, saya bawa payung kok.” Sona berkata sungkan.

“Tapi kan gak ada ojek kalau hujan gini, terus kamu pulang gimana coba? Mana supir lagi gak ada lagi.” Ada kekhawatiran dalam ucapan Tante May.

“Gak apa kok, Te, aku sudah biasa kok jalan kaki, tenang aja.”

“Bener nih? Aduh, Tante jadi gak enak. Coba tante bisa nyetir ya? Atau apa kamu bisa nyetir, bawa saja mobil di garasi?”

Sona menggeleng cepat. “Gak bisa Te, gak apa kok.” Sona mencium punggung tangan Tante May, berpamitan.

“Ya sudah, kamu hati-hati ya.” Cukup lama Tante May membelai lembut pundak Sona. Sejenak rasa haru itu hadir.

Ibu, selalu saja Sona tak dapat menahan air mata bila setitik merasakan kasih sayang seorang wanita. Sekilas menatap tatap khawatir Tante May, mungkin itulah rasa khawatir dari setiap ibu pada anak wanitanya.

Sona menyeka sudut matanya. Sungguh baik cuaca hari ini, mendung gelap dan bergerimis seperti hatinya. Seandainya saja ia punya ibu, pastilah ia akan mendekapnya erat bila tahu kegundahan hatinya. Entah bagaimana rasa memiliki ibu. Pastilah hangat merasakan belainya, merindukan masakannya yang lezat dan tentu saja keseruan mendengar kepeduliannya yang berbalut ocehan. Selalu saja Sona iri pada siapapun yang memiliki ibu. Tak tersisa setitikpun kenangan, baik indah maupun menyakitkan pada sosok yang di telapak kakinya terdapat surga itu. Ia ingin ada masa dimana dengan bangga bergelayut manja atau berceloteh mesra pada sosok bergelar ibu. Dan rindu itu seakan menusuk kala ia butuh tempat bersadar seperti saat ini.

Tinnn! Tinnn! Tinnn! Berturut klakson itu berbunyi, mungkin dari tadi tapi Sona tak perduli, ia sibuk dalam angannya.

Tinnn! Tinnn! Tinnn! Bunyi klakson itu lagi. Ada apa dengan pengemudinya? Bukankah ia sudah berjalan di garis terpinggir dari jalan ini.

“Hei Sona! Dimana telingamu?” Sebuah teriakan.

Sona menoleh dan cukup lama terpana menyaksikan Rayhan dengan payungnya berdiri tepat di belakangnya.

“Ada apa?” tanya Sona. Ia mengusap sisa air mata di wajahnya.

“Apa maksudmu ada apa? Dari tadi aku mengklakson tapi sedikitpun kau tak menoleh. Menyusahkan saja. Kamu senang melihat aku harus keluar mobil dan terkena cipratan air hujan!” Rayhan berteriak keras.

Sona bergeming, belum sepenuhnya ia memahami keberadaan Rayhan.

“Cepat naik, aku antar kamu pulang. Menyusahkan saja!” Rayhan berteriak lagi.

Sona tersenyum, membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya.

“Hei! Kamu kenapa pergi?” Setengah berlari Rayhan menyusul Sona yang mempercepat langkahnya. Tak perlu waktu lama, laki-laki jangkung itu sudah membentangkan tangannya menghadang jalan Sona.

Sona menunduk, menyembunyikan wajahnya, bukan wajah sebenarnya tapi air mata dan mata sembabnya.

“Ka- ka- kamu menangis?” Ragu Rayhan bertanya sekaligus meyakinkan diri bila yang ia lihat adalah nyata. Ada air mata yang mengalir di sudut mata sosok wanita yang selalu terlihat tegar ini. Tapi Rayhan lupa terkadang seseorang yang terlihat tegar dan kuat bisa saja sesungguhnya ia sangat rapuh dan sedang bersandiwara menutupi kegundahannya.

Terkadang, berharap bila hujan mampu menyamarkan gerimis di hati tak sepenuhnya benar. Ada masa di mana hati tak mampu menyembunyikan rintihan, ia hanya mampu bercerita lewat air mata.

Bersambung...

Next akan update dua kali sehari ya.