Malaikat Tak Bersayap
Kelumpuhan Rara menjadi ujian tersendiri bagiku. Aku tak mau menganggapnya beban hidup. Bukankah di luar sana banyak perempuan yang mendambakan hadirnya seorang anak?

Keadaan Rara yang lumpuh ternyata juga mengubah perangainya. Rara jadi mudah tersinggung. Telat sedikit marah. Seminggu aku mencoba bertahan di rumah. Tanpa pernah sedikit pun ingin menghubungi mas Jono. Bagiku ada dan tiadanya mas Jono tidak berpengaruh lagi. 

Justru ketika mas Jono tidak ada hatiku menjadi lebih tenang. Pengeluaran harian pun dapat kutekan. Aku harus berhemat.
Hari ini adalah jadwal kontrol Rara ke fisioterapi. Aku terpaksa harus menggendong Rara di punggungku. Sebenarnya, Lina menyarankan untuk pindah jadwal saja sambil nunggu dapat kursi roda. 

Sudah seminggu Lina mencarikan kursi roda seken di pasar loak. Tapi belum  dapat juga. Alhamdulillah tadi malam Lina datang ke rumah memberitahukan sudah dapat kursi roda dari temannya di luar kota. Kursi rodanya baru sampai  dua hari lagi karena dikirim lewat jasa kurir.

Dengan halus aku menolak saran Lina. Juga menolak batuannya untuk memesan taksi online.Aku nggak enak merepoti Lina terus. 
Rencananya aku berangkat naik angkutan kota. Aku berpikir jika ditunda kasihan Rara. Aku berangkat pukul 07.30 untuk menghindari barengan dengan anak sekolah. Aku menunggu di pinggir jalan.

Setengah jam berlalu. Tak satu pun angkot mau berhenti. Mungkin sudah sepuluh kali lebih aku menyetop angkot, tapi sopir seakan tak mau menghentikan laju mobilnya. Padahal ada beberapa kursi masih kosong kulihat.
Terasa pegal punggung dan pundakku. Berdiri menggendong Rara seberat 18 kg. Tak ada halte yang dekat dengan tempatku berdiri. Bila terus menunggu aku bisa kesiangan.

 Kuputuskan berjalan sekuat tenagaku, meskipun terasa pegal kaki ini melangkah. Aku hanya berharap Rara tetap diam tidak rewel agar diriku tidak panik menenangkan Rara.
Pertama melangkah, kakiku kuat. Namun lama-lama kakiku terasa pegal. Badanku juga berkeringat banyak. Mungkin karena aku jarang berjalan sambil membawa beban berat.

Lama-lama kakiku terasa goyah. Tenagaku seakan habis. Kudengar beberapa kali suara klakson mobil mengingatkanku untuk tetap di pinggir jalan. Tetiba ada mobil sedan berhenti tepat di depanku. Aku berhenti sebentar, lalu hendak melangkah ketika ada suara yang memanggil namaku.

“Bu Suci ya? Ayo Buk ikut naik mobil!”
Aku melihat sekilas orang yang duduk di  depan kemudi. Aku rasa tidak mengenalnya. Wajahnya tertutup kaca mata warna coklat dan masker kesehatan.

“Maaf, saya..”
“Udah Buk, masuk! Lupa ya? Saya Himawan. Dokter yang merawat Rara kemarin.”
Dokter itu lalu keluar dari mobilnya. Dilepasnya kaca mata dan maskernya. Senyumnya pun mengembang. Santun mempersilakan saya untuk masuk mobilnya lagi. Beliau buka pintu belakang dan berusaha melepas gendonganku.

Aku heran dengan Rara. Mengapa Rara tidak berontak digendong dokter Himawan? Beberapa menit aku masih terdiam dalam heran.

“Loh, kok malah melamun, ayo Bu Suci!”
“Eh..iya Dok. Maafkan saya. Makasih Dok.”
Aku terpaksa menuruti ajakan dokter Himawan karena sungkan. Lagian, Rara juga sudah di dalam mobil. Rara sepertinya senang duduk di dalam mobil mewah itu. Mobil yang bersih dan wangi. 

Aku jadi teringat, terakhir kali Rara naik mobil saat pulang menjenguk panti asuhan dulu. Sudah tiga tahun lebih Rara tidak pernah keluar rumah pergi jalan-jalan bertamasya.
Dan jujur, sebenarnya aku juga merasa bersyukur bisa naik mobil. Rasanya sudah tidak kuat berjalan sambil menggendong Rara.

Beberapa saat suasana hening. Hanya beberapa pandanganku dengan dokter Himawan bersitatap. Aku gugup. Tapi Dokter Himawan justru tersenyum manis. Aku sadar dengan diriku. Kucoba menahan halu yang tetiba merasuki pikiranku.

“Sudah tahu ruang fisioterapinya Bu Suci?”
“Belum Dok.”
“Ruangnya ada di lantai 4. Bisa naik lift atau eskalator. Tapi lebih aman naik lift. Nanti bareng saja naik Lift khusus, lebih sepi dan tidak antri.
“Tapi, Dok?
“Gapapa Bu Suci. Hari ini saya tidak ada jadwal poli, hanya ada rapat sebentar dengan direktur. Insya Allah sebelum dhuhur selesai.”
“Apa sampai siang Dok terapinya?”
“Biasanya kalo hari senin pasien pasti banyak. Antrian nomor bisa lebih 50-an.
“Wah, lama juga ya Dok.”
“Ya begitulah. Nanti kalo sudah tahu jadwal hari yang  kosong bisa ganti jadwal kok”
Makasih Dok, atas bantuannya.”

Aku merasa lega dapat mengobrol dengan dokter Himawan. Rasanya seperti plong. Dan entah mengapa saat dokter Himawan meminta nomor ponselku, aku tak kuasa untuk menolaknya.

Sesampainya di rumah sakit aku melihat Lina. Rupanya Lina sudah menunggu dengan kursi roda dari rumah sakit yang bisa digunakan pasien selama periksa.

Aku melambaikan tangan. Tapi Lina tidak melihatku, pandangannya fokus ke mobil yang berhenti di titik yang sudah ditentukan.

“Kamu kenal Lina?
 “Eh iya Dok. Lina sudah saya anggap adik sendiri. Dulu  saya pernah hidup bareng  dalam panti asuhan al Huda.”

Sebenarnya saya ingin menanyakan kok dokter Himawan bisa kenal Lina. Tapi sepertinya tidak sopan. Bukankah dulu yang ngurus Rara saat diriku pingsan juga Lina. Mungkin waktu itu dokter Himawan tahu Lina. Tapi mengapa dulu ketika visit seakan dokter Himawan tidak mengenali Lina ya?

Aku tergagap ketika dokter Himawan tak sungkan menggedong Rara. Aku mengikuti dari belakang. Jalan menuju gedung agak naik. Lumayan jauh jika berjalan dari basement parkir khusus dokter ke gedung utama. Napasku kembang kempis. 

Beruntung begitu sampai lobi, Lina dengan cepat memindahkan Rara ke kursi roda. Lalu dokter Himawan berbicara sebentar. Aku terkejut karena Lina meninggalkan Rara dengan dokter Himawan. Aku segera berjalan cepat mendekati Rara.

Dokter Himawan mengajakku naik lift khusus. Aku menurut saja. Aku sudah terbiasa naik lift dan eskalator.Tapi naik lift bareng dokter Himawan menjadikanku gugup, keluar keringat dingin.

Saat masuk lift entah mengapa mataku seakan berkunang-kunang. Tapi aku menahannya, malu diketahui dokter Himawan. 
Saat lift naik dengan hentakan naik, tubuhku limbung. Dengan refleks, dokter Himawan menangkap tubuhku yang oleng. Aku berusaha menjauh, tapi tangan dokter Himawan semakin kencang menahan tubuhku.

Saat pintu lift terbuka, kulihat Lina berdiri di depan lift. Lina agak terkejut melihat diriku dalam dekapan dokter Himawan. Beberapa menit kemudian dokter Himawan meminta Lina membantuku untuk berjalan. Lalu dokter Himawan mendorong Rara ke kursi tunggu di depan ruang fisioterapi.

Lina menyerahkannya nomor antrian padaku. Lina kemudian mendekati dokter Himawan. Beliau lalu berbicara sebentar dan sesekali memandangku.

Lalu dokter Himawan berjalan mendekatiku.
“Bu Suci belum sarapan?”
“E, belum  Dok” jawabku gugup.
Dokter Himawan hanya tersenyum semanis tadi.
“Nanti kalo ada ojol datang, makanannya segera dimakan ya? Besok lagi kalo mau ke rumah sakit jangan lupa sarapan dulu”
“Tapi, Dok..”
“Udah, bu Suci nggak usah mikir macam-macam lagi. Semoga Rara cepat pulih ya?”

Dokter Himawan meninggaliku jejak rasa nggak karuan. Begitu baik dokter Himawan menolongku dan Rara. Aku memang belum sarapan. Rencananya mau menyuapi Rara sekalian sisanya akan kumakan.

Alhamdulillah, ya Allah. Engkau kirimkan malaikat penolong itu. Tak terasa ada rasa hangat memenuhi sudut mataku, basah dan perlahan mengalir.

“Lo, kok nangis. Napa mbak ?”
Aku tersadar ketika Lina memijit pundakku.
“Aku terharu dengan kebaikan dokter Himawan. Semoga beliau dibalas dengan pahala yang banyak.”
“Dokter Himawan memang begitu. Beliau terkenal dokter yang suka menolong pasiennya. Tak jarang beliau membelikan obat gratis kepada pasien yang tidak mampu.”
“Oh. .”
“Baju mbak Suci basah. Keluar keringat dingin, Mbak?”
“Ia Li. Mungkin karena tadi saat berjalan menggendong Rara tenagaku habis karena belum sarapan.”

Tetiba ponselku bunyi. Kulihat ada misscall dari seseorang. Kulihat wa yang masuk. Pesan dari dokter Himawan. Ternyata pesanan makanan dokter sudah datang, sekarang br otw ke lantai 4.

Aku meminta Lina menyambut ojol yang berjalan kebingungan. Lina bergegas  mendekati  ojol dan membawa makanan dan minuman pesanan.
Aku terharu lagi. Mataku kembali basah melihat pesanan yang dibelikan dokter Himawan. Kulihat bubur ayam tiga bungkus dan 3 bungkus teh hangat. Juga kulihat buah jeruk, roti, sate telur puyuh dan hati ayam.

Kulihat Rara mulai berteriak minta makan. Rasa laparnya sudah dirasakannya sejak dari tadi. Mungkin karena ada dokter Himawan tadi, Rara bisa diam menahan lapar.

Aku segera menyuapi Rara. Kuberikan bubur ayam satunya ke Lina tapi ditolaknya.
Kata Lina sebentar lagi mau pulang. Bubur ayam satunya bisa untuk makan siang saja sarannya. 

Aku pun menuruti saran Lina karena ternyata, aku lupa membawa dompet. Yang kubawa kartu berobat, surat rujukan fisioterapi dan bekal makan yang kubawa serta ke rumah sakit. Juga ponsel yang kini menyala karena panggilan masuk dari dokter Himawan.

Di layar ponselku terpampang wajah dokter Himawan yang tersenyum manis. Berkedip-kedip gambarnya disertai getaran–getaran kecil seakan menyetrum ponselku.

“Assalamu’alaikum, hallo?”
====