Mengapa Terus Berkelit dengan Sakitmu Mas
Aku terbangun saat kudengar Lina membawa kabar gembira. Rupanya aku bisa tertidur meski kulihat terakhir jam di tanganku menunjukkan angka dua.

“Alhamdulillah, Rara udah siuman.”

Aku bangun. Kulihat infus telah dicopot dari tanganku. Aku memaksa Lina untuk mengantarkan ke bangsal anak tempat Rara dirawat. Lina mencoba menahanku, tetapi aku tetap memaksanya.

“Tegakah Kamu, menahan  seorang ibu bertemu anaknya?”
“Tapi mbak Suci yang sabar, ya?”

Aku mengangguk cepat seraya menarik lengannya. Aku mengikuti Lina dari belakang. Bangsal anak terletak di pojok bangunan. Saat tiba di depan pintu bangsal, hatiku berdebar-debar.

Perasaanku tak enak. Mengapa tak ada tangis dari Rara meskipun telah melihatku. Rara diam. Lalu pandangannya menatap ke langit-langit. Kosong. 
“Apa yang terjadi dengan Rara, Lin?”
“Aku nggak tahu, Mbak. Sebentar lagi ada visit dokter. Mbak Suci bisa lebih lega kalo bertanya lagnsung kepada dokter yang merawatnya.”

Kuciumi wajah Rara dengan lembut. Rara merespon dengan buliran air mata. Badannya terasa dingin. Gerakan tangan dan kakinya seperti berat, tak bertenaga. Astagfirullah, ampunilah aku ya Allah! Aku tak kuasa untuk menahan tangis yang sejak tadi kutahan.
“Mbak, dokternya sudah datang.”

Aku beringsut dari bed. Aku berdiri di samping kepala Rara. Dokter memeriksa mata Rara juga detak jantungnya. 
Dokter agak bingung untuk mendekat ke Suci atau Lina. Keduanya terlihat masih muda dan sebaya.

“Apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?”
“Maaf, ini dengan ibunya pasien anak Rara?”
“Iya, dok. Saya sendiri. Nama saya Suci.”
Maaf ya Bu Suci. Dari hasil pemeriksaan CT-Scan. Gegar otak yang diderita anak ibu tidak membahayakan. Hanya mungkin ada sedikit gangguan di saraf motoriknya.

“Maksudnya apa Dok?”
“Anak ibu  mungkin akan lumpuh sementara.”
“Terus apa yang harus saya lakukan Dok, agar anak saya bisa kembali pulih?”
“ Nanti anak ibu akan menjalani terapi atau fisioterapi.”
“Tapi bisa sembuh kan dok?”
“Iya, ibu tenang saja. Yang penting lakukan saran terapis dan rajin latihannya ya?”
“Alhamdulillah, terima kasih Dok.”
“Oh,ya. Anak ibu boleh pulang hari ini.”
“Iya, dok.”

Aku bersyukur bisa pulang hari ini. Namun juga jadi bingung dan sedih. Haruskah uang yang baru kuterima dari bu Broto kemarin harus digunakan untuk biaya berobat Rara dan diriku? 

Terus bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari ditambah dengan transport untuk Rara tiap harinya ketika kontrol ke rumah sakit?  Aku nggak bisa meminta klaim asuransi ketenagakerjaan kerena mas Jono sering menunggak iuran.

“Mbak Suci, jangan larut dengan keadaan. Kasihan Rara.” Suara Lina menggugah kesadaranku kembali.

“Iya, Lin. Aku ngerti. Hanya saja aku belum ngurus administrasi rumah sakit.”
“Oh, iya. Administrasi udah Lina selesaikan.Nggak ada tanggungan lagi.”
“Alhamdulillah, makasih ya Lin. Semoga Allah membalas kebaikanmu berlipat.”

“Mbak Suci itu sudah Lina anggap kakak kandung sendiri. Terus rencana mau pulang kapan? Maksudku biar Lina bisa tukar piket dengan teman yang lain. Mau bantu-bantu mbak Suci pulang.”
“Habis Dhuhur saja Lin.”
“Nggak nunggu mas Jono atau bu Rini, mbak Suci?”
“Percuma nunggu, paling juga nggak akan datang.”?”
‘Atau saya bel kan, no hape nya berapa?”
“Nggak usah Lin. Hapenya mas Jono kemarin rusak, jatuh pecah. Ibuk nggak pegang hape.”
“Ya udah kalo gitu.  Nanti kalo dah siap semuanya, Lina pesenkan mobil online, ya?”
“Iya, Lin. Makasih.”

Aku mengemasi barang dengan pikiran yang tak karuan. Masih berharap mas Jono datang menawarkan bantuan. Tapi aku sadar itu tak akan mungkin terjadi. Seandainya tidak ada ibuk. Mungkin aku tak akan bertahan selama ini. 

Kulihat Ibuk memasuki bangsal dengan membawa termos dan rantang. Juga beberapa bungkusan. Mataku basah. Maafkan aku, Bu! Belum bisa berbakti. Meski Engkau bukan ibu kandungku sendiri, tapi kasih sayangmu melebihi kasih sayang ibu kandungku sendiri.
 
“Gimana Rara,  Ci? Tadi malam Jono cerita,  katanya Rara jatuh,  terpeleset lantai kamar mandi. Jono tadi malam di WA Lina tentang kondisi Rara. Ci, Lina mana?”

“Lina baru kerja, shif pagi Bu.Katanya mau izin nganter Suci pulang kalo ada yang bisa gantikan shift sebentar.”
“Maaf ya Ci. Jono ndak bisa bantu. Soalnya vertigonya kambuh. Tahu sendiri kan kalo vertigo kambuh itu seperti apa. Mungkin masih kaget tiba-tiba di-PHK. Padahal dia karyawan yang sering melebihi target penjualan tiap bulannya, Tapi kok ya tidak dipertahankan atasannya.
“Aku hanya tersenyum masam. Sungkan untuk menanggapi cerita Ibuk. Toh sebernarnya ibu juga sudah tahu sifat mas Jono dari sejak kecil. “

“Ya udah Ci, Ibuk pamit dulu. Kasihan Jono, tadi kutinggal masih tidur. Kalo bangun pasti butuh Ibuk karena belum bisa bangun dari tempat tidur, katanya kepalanya terasa berputar-putar.”
“Iya, Buk. Suci paham. Hati-hati di jalan. Makasih ya Buk?”

Kucium tangannya. Ibuk membalas dengan pelukan erat. Ada basah di kedua matanya. 

Aku percaya vertigo itu bisa membuat orang pusing berputar-putar atau merasa berada dalam sebuah pusaran yang bergoyang. Namun, mas Jono sering menggunakan sakitnya itu untuk sesuatu yang kurang baik. 

Setiap pada kesulitan atau masalah yang berat, mas Jono selalu menghindar dan berasalan kambuh vertigonya. Sebaliknya, kalo ada masalah yang rumit, aku selalu dipaksanya untuk memilih atau mengatasinya.

 Tekanan yang dilakukan mas Jono membuatku depresi dan mengalami vertigo. Masih selalu kuingat ketika kambuh vertigoku mas Jono ketus mengomentari keluhanku.

“Ah cuma serangan beberapa menit saja. Entar kalo dah lewat kan ya sehat to? Udah nggak usah manja dan alasan vertigo terus!”

Dan Allah menegurmu mas. Kini kamu pun mengalami apa yang kualami. Dan mungkin lebih parah, tapi mengapa vertigo yang seharusnya menyadarkanmu, justru kau gunakan untuk berkelit dan berpura-pura sakit?”
=====