2.

Sejak pertemuan dua minggu yang lalu itu, perasaan Aina sedikit terusik dengan ingatan akan hinaan Lando yang memandangnya begitu rendah. Apalagi, ini untuk eprtama kalinya dia mendapatkan respon tak terduga dari seorang lawan jenis. 


Karena biasanya, yang ada justru mereka selalu mengatakan hal-hal yang teramat memuji diri Aina. Hingga terkesan seperti membual.


Dia tak menyangka, jika Bu Jasmin dan Pak Fakhtur  yang begitu baik dan sangat santun memiliki buah hati yang memiliki sifat bertolak belakang dengan mereka. Angkuh dan terlihat begitu sombong. Walaupun Aina tak menampik, jika penampilan Lando begitu menarik mata perempuan yang melihatnya.


Mungkin karena itu pulalah yang membuat Lando menjadi seperti ini. Melihat kelebihan yang dia punya, membuat dia seolah-olah memandang rendah orang yang dianggap tak sebanding dengannya.


"Seperti itu, Na... Gimana?"


"Na... Hello!!!" Tania menjentikkan jarinya kedepan wajah Aina yang ternyata sedang melamun tanpa memperdulikan apa yang sejak tadi dikatakan oleh sahabatnya itu.


Aina yang tersadar pun langsung tergagap dan ikut mengucap istighfar.


"Astaghfirullah... Maaf, maaf Tan. Gimana, gimana tadi?"


"Astaghfirullah.... Jadi dari tadi aku ngomong panjang kali lebar, gak kamu dengerin? Keterlaluan emang kamu tuh!"


Aina meringis dan menggelengkan kepala pelan. Dia merasa tak enak hati pada sahabatnya itu.


"Lagi mikirin apa sih? Kerjaan?" Lagi-lagi, Aina menggeleng.


"O-ooh, jangan bilang kamu lagi mikirin cowok. Iya kan? Aaa, Kamu lagi jatuh cinta ya?" Tanya Tania antusias diiringi dengan senyuman.


Reflek Aina menoleh dan menggeleng cepat. "Bukan. Siapa juga yang lagi mikirin cowok."


"Terus?" Tania memicingkan mata, membuat Aina menjadi lebih salah tingkah


"Apaan sih Tan, kepo amat. Udah ah, kita bahas proyek ini lagi. Enaknya kita mau nambah cabang dimana?" Aina merapikan berkas-berkas yang ada dihadapannya. Seraya melirik kearah Tania yang sedikit mencelos karena sebal dengan Aina yang mengalihkan topik seenak hatinya.


"Percuma kali Bu, kamu gak bisa bohong sama aku. Lagian, kita temenan tuh udah puluhan tahun.dari jaman kanak-kanak tau gak. Jadi setidaknya, sedikit banyak aku tuh tau tentang kamu."


"Ish, kayak dukun aja." Canda Aina diselingi tawa


"Lah, emang aku dukun. Buktinya, tebakan ku benar kan? Kamunya aja yang gak mau ngaku. Dosa Na, dosa!".


"Apaan sih Tan... Enggak, enggak, enggak. Enggak ada namanya cinta-cintaan. Mau diterusin gak?"


"Percuma juga kita diskusi kalau kamu gak merhatiian. Tubuh disini, pikiran disana. Gak nyambung atuh, Neng!"


"Udah doong... Iya, iya aku salah. Udah ah, kita fokus sama tujuan kita sekarang."


Tania memutar badan malas. Sebenarnya, dia sudah kehilangan mood untuk menjelaskan kembali pada Aina yang tak lain adalah bossnya sendiri, meski dengan sedikit keterpaksaan.


******

Klunting!!!

Sebuah notifikasi pesan diterima oleh Aina yang saat itu sedang menikmati makan siangnya bersama Tania. Kebetulan meeting hari ini selesai.


[Assalamualaikum... Nanti pulang jamberapa, Nduk?] Sebuah pesan yang dikirm oleh Bu Lita


[Waalaikumsalam, Bu. Mungkin satu jam lagi Aina pulang. Emang kenapa ya Bu?]


[Oh, gak papa kok Nduk. Soalnya, nanti Bapak sama Ibuk mau pergi bentar kerumah Bu Jasmin. Barangkali kamu mau ikut? Kalau iya, Ibu tunggu sampai kamu pulang.]


Aina bergidik ngeri. Membayangkan dia bertemu kembali dengan lelaki sombong itu.


[Mmm, gak usah Bu. Aina capek, mau istirahat aja dirumah.]


[Oh, yaudah kalau gitu Nduk. Ibu sama Bapak berangkat sekarang aja kesananya. Biar gak kesorean juga.]


[Oh iya, Bu. Hati-hati dijalan ya. Salam buat Tante Jasmin dan Om Fakhtur.]


[Iya, nanti Ibu salamin.]


Setelah selesai berbalas pesan, Aina melanjutkan kembali suapannya yang sempat terhenti.


"Langsung balik? Atau mau jalan-jalan dulu?" Tanya Tania yang lebih dulu selesai.


"Mmm, boleh. Kebetulan parfum ku uda tinggal dikit nih."


"Oke, buruan habisin. Terus kita cus ketempat biasanya."


"Siap, boss!!!" Jawan Aina membuat pipi Tania bersemu merah karena malu.


******

"Aina...!" Sapa seorang lelaki yang sangat dia kenal. Dia melambaikan tangan kearah Aina, dan berjalan mendekatinya bersama dengan seseorang yang tadi sempat hinggap dipikirannya.


'Ya Allah, kenapa juga harus ada orang menyebalkan itu sih!' batin Aina sebal. Berbeda dengan Tania yang malah senyam-senyum melihat kedatangan dua lelaki yang begitu tampan itu


Padahal dia sempat menolak ajakan Ibunya untuk bertamu kerumahnya dengan tujuan menghindari lelaki sombong ini. Tapi ternyata, Allah malah mempertemukan mereka disini.


"Oh, hai Bar!" Sapa Aina balik sesaat setelah mereka mendekat. Seperti biasa, Lando membuang muka padanya. Seolah Lando begitu jijik melihat wajah Aina. 


Dan hal itu pulalah yang membuat dia bingung. Karena perasaan dia sama sekali tak pernah menyakiti Lando. Tapi, tatapan Lando padanya seolah begitu membencinya. 


Apa mungkin ini karena ucapan Tante Jasmin yang hendak menjodohkan mereka? Ah, bisa saja. Lagian, siapa juga yang mau dijodohkan dengan lelaki berdarah panas seperti orang ini.


"Lagi apa?" Tanya Bara yang masih dengan senyum yang mengembang


"Oh, cuman jalan-jalan aja kok." 


"Pantesan. Cuman jalan-jalan doang. Kan gak punya uang." Celetuk Lando tiba-tiba, yang membuat ketiga orang tersebut kaget. Merasa menjadi sorotan karena ucapannya yang tak tepat waktu, Lando pun buru-buru mengulum bibirnya.


Tania yang tak terima dengan ucapan Lando, hanya bisa membelalakkan mata. Dan hendak menjawab ucapannya. Akan tetapi, dengan cepat Aina mencegahnya dengan memberi kode kerlingan mata dan gelengan kepala lemah.


Bara yang berada disitu pun menjadi canggung. Dia merasa tak enak hati pada kedua perempuan yang berdiri dihadapannya itu.


"Mmm, maafin ucapan temen ku ini ya. Dia emang begitu, suka ceplas ceplos gak tau tempat." Ucapnya dengan menggaruk tengkuknya yang mungkin tak gatal.


"Oh, mirip mulut cewek ya, suka nyinyir." Cebik Tania yang membuat Lando tersinggung.


Bara hanya mampu mengulum senyum. "Oh iya, kenalin, ini temen aku namanya, Lando!"


"Kami sudah saling kenal kok, Bar! Jadi gak perlu dikenalin lagi." Jawab Aina singkat yang membuat Bara tak percaya.


"Oh ya? Wah, emang dunia itu tuh sempit banget ya." Aina mengangguk, dan membalas senyuman Bara.


"Lagian juga, kita gak mau kenal." Celetuk Tania lagi. Meskipin pelan, tapi tetap mau terdengar jelas ditelinga.


Melihat situasi yang kurang kondusif, Aina pun segera pamit undur diri. Sebelum Tania semakin mengucapkan kata-kata pedas yang malah membuat Lando makin terlihat bete.


"Kalau gitu, kita pergi dulu ya, Bar!"


"Oh iya, Na..."


"Mariii..."


Bara menganggukkan kepala melepas kepergian wanita yang pernah mencuri hatinya itu. Berbeda dengan Lando yang terlihat semakin tak suka dengan Aina.


"Kamu tuh ngomong apa sih, Lan?"


"Emang ada yang salah ya?" Tanyanya tanpa merasa bersalah.


"Jelas salah dong. Kamu gak tau siapa Aina?"


"Tau, cukup tau." Jawabnya singkat.


Sedangkan Bara hanya menghela napas berat. Karena percuma juga berhadapam dengan proa dingin seperti Lando ini, tak ada gunanya juga.


"Dasar, cewek Gil*!" Umpatnya.


"Apa?" Tanya Bara memperjelas.


"Apanya?"


"Yang barusan kamu ucapin?"


"Emang aku ngucapin apa?" Kilah Lando


"Entahlah! Yaudah yok, cabut!" Ajak Bara pergi.