3. Penjelasan Ibu Mertua
"Parfum apanya sih, Dek?" 

"Itu, yang nempel di badanmu. Sudah jelas bukan punya kamu, Mas! Ayo jawab. Punya siapa itu? Kamu nikung? Kamu main perempuan di belakangku?" 

"Demi Allah, Dek. Kamu sudah berpikiran buruk. Mas nggak pake parfum apa-apa. Mungkin hidungmu yang salah!" 

"Aku nggak salah, Mas. Aku juga nggak pilek. Masih bisa nyium dengan jelas. Itu parfum siapa? Katakan!"

Kulihat rahang Mas Raka mengeras. Giginya bergemeletuk. Mau menyangkal apalagi dia. Apa perlu kukeluarkan saja semua bukti slip gaji dan juga struk belanja dalam gawaiku. 

"Kamu itu emang sengaja nyari-nyari kesalahan. Bilang aja kalau nggak mau ngelayanin suami! Gitu pake nuduh ada parfum lain di badan Mas!" 

Lho, lho? Dia justru menyalahkanku. 

"Memang kenyataannya begitu, Mas! Ayo ngaku!" 

Plakk! 

Satu buah tamparan mendarat di pipiku. Nyeri, hingga menjalar ke ulu hati. 

"Ma-maafkan Mas, Dek. Tadi itu kelepasan. Maaf, Sayang." 

Mas Raka mendekat, kulihat raut wajahnya begitu menyesal. Tangan kanan terulur hendak mengusap pipiku yang bekas ia tampar. Kutepis dengan segera. 

"Nggak usah!" ketusku. 

"Sakit, ya? Maaf banget Dini, maaf!" racaunya lagi. 

Aku bangkit. Tanpa sepatah kata pun, kutinggalkan kamar itu. Membiarkan Mas Raka seorang diri. Dua tahun menikah, baru kali ini Mas Raka main tangan padaku. Woah, bukankah saking paniknya ia hingga berbuat kasar begitu?

Panik! Ya, jelas saja panik! Pasti tak mau ketahuan belangnya olehku! Awas kamu, Mas!

"Jangan terlalu nurut, jangan terlalu lempeng! Rumah tangga itu bukan hanya modal percaya, tapi juga harus jeli. Istri yang penurut lebih gampang dibodohi. Apalagi suamimu itu punya riwayat kalau dia mantan playboy. Nggak bakal jamin kalau dia diem di luaran!" 

Lagi, ucapan Karin waktu itu seolah semakin menambah kemelut hatiku. Aku ingin tahu kebenarannya, tapi harus dimulai dari mana?  

"Nduk, mau ke mana?" 

Suara panggilan Ibu menghentikan langkahku. Kuusap sudut mata yang basah. Tak ingin beliau melihatku sedang menangis. 

"Mau nyari udara segar, Bu. Sebentar. Ngadem dulu di depan," ucapku. 

"Oh, iya." 

Ibu tak menahan. Biasanya beliau sering melarangku untuk pergi ke depan saat malam-malam begini. Entahlah, sepertinya beliau mendengar pertengkaranku di kamar bersama Mas Raka tadi. 

*** 

"Jadi istri itu harus nurut sama suami. Nggak boleh banyak protes. Berapa pun uang yang dikasih, diterima ya, Nduk. Itu rejeki." 

Masih terngiang ucapan Almarhumah Ibuku. Dan hal itulah yang menjadi peganganku selama ini. Sejak menikah dengan Mas Raka. Aku tak pernah protes. Aku juga selalu menurut. Dia bahkan melarangku bekerja. Katanya tak ingin melihatku susah. Akan tetapi, kalau sudah seperti ini. Ya Allah, aku selalu meyakini bahwa didikan keluargaku tak salah. 

Aku sangat takut membayangkan masa depanku. Tanpa Mas Raka, aku akan bagaimana? Jika kembali ke rumah Bapak, aku pasti akan sangat malu. Beliau menentang keras pernikahanku dengan suami. 

"Sudah tahu kalau nggak bener, Nduk. Kok masih saja lanjut," resah Bapak waktu itu. 

"Mas Raka bilang kalau Dini pelabuhan terakhirnya, Pak. Dia janji nggak akan main perempuan lagi." 

"Kamu percaya?"

"Percaya. Kalau masih main perempuan, nanti sama Dini dipotong!" 

Bapak menatapku khawatir. Masih tak percaya sepertinya. Aku harus meyakinkan dengan ekstra. Karena waktu itu, hati dan mataku sudah tertutup dengan cinta buta. 

"Restui Dini, Pak. Nanti Bapak akan lihat kalau Dini bisa merubah Mas Raka."

"Beneran?"

"Bener."

"Ya udah kalau itu mau kamu, Nduk. Bapak gak bisa apa-apa." 

Aku memejam. Merasai sendiri hati yang begitu perih. Semoga tak ada kata terlambat. Aku akan bergerak cepat. Hanya ada dua pilihan, menyelamatkan rumah tangga ini atau mengakhirinya. 

*** 

Bukti yang kumiliki belum cukup kuat. Jangankan untuk ke pengadilan. Menunjukkan pada Ibu mertua saja aku belum berani. 

"Sudah, Nduk. Kamu capek." 

Ibu menyentuh punggung tanganku. Seperti biasa, aku selalu memijitnya sebelum tidur. Beliau sangat manja denganku. 

"Sini duduk. Ibu mau ngomong penting." 

Ibu menatap ke arahku. Lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling. 

"Kunci dulu pintu kamarnya," ucap Ibu mertua. Kok, aku jadi deg-degan? Apakah Ibu tahu sesuatu?

Aku bangkit menuju pintu. Mengunci slotnya dari dalam. Lalu duduk di samping Ibu. 

"Kenapa, Bu?" tanyaku. 

"Ini soal Raka. Janji jangan marah, ya?" 

Tuh, kan! Ibu pasti tahu. Ya Allah ... 

"Janji ya, Nduk," ucap Ibu lagi. 

Aku mengangguk. Kalau marah ke Ibu sepertinya tidak, tapi kalau ke Mas Raka. Entahlah.

"Apa pun yang terjadi, kamu tetap anak Ibu. Raka ...  sudah tiga bulan ini, dia pernah bawa perempuan hamil ke rumah Ibu." 

"Apa?" 

Aku terperanjat. Dugaanku tak salah. Mas Raka pasti ada main dengan perempuan lain.

Awas kamu, Mas! Dia pikir diamku selama ini tak bisa melawan. Begitu mudah dibodohi hingga sampai seperti ini.

"Siapa perempuan itu, Bu? Apakah dia hamil dengan Mas Raka? 

Bersambung .... 




Komentar

Login untuk melihat komentar!