5
Bukan Anak Haram

Part 5

“Ya Allah Abi.” Vania memeluk putranya erat. Untung saja Bunda Hana meneleponnya terlebih dahulu tadi, jika tidak mungkin kini Abi sudah dibawa oleh Bu Sri. 

“Lain kali tunggu di dalam masjid saja ya, Nak, jangan keluar kalau belum ibu jemput.” 

Abi mengangguk. “Maaf, Bu, Abi janji lain kali gak bakal jauh-jauh lagi,” jawabnya pelan. 

“Sekarang Abi main dulu dengan teman di teras masjid sebentar ya, ibu mau ngobrol dengan Bunda Hana dahulu.” 

Seperti biasa Abi tak banyak tanya, langsung menurut mengikuti perintah ibunya. Ia sudah terbiasa seperti itu, tidak terlalu banyak bertanya dan tak membantah. 

“Terima kasih, Bunda, gak tahu gimana jadinya kalau Bunda gak menghalangi mereka.” Vania meraih tangan Bunda Hana dan menggenggamnya. 

“Ini juga karena Abi memanggil saya, Bu, kalau enggak saya juga gak tahu. Untung juga di masjid ada CCTV-nya jadi mereka sedikit gentar.” 

Vania menghela napas panjang. “Anak ibu itu adalah ayah dari Abi, setelah dahulu tak menginginkannya kini mereka ingin merebut anakku.” 

Bunda Hana menatap prihatin pada wanita di hadapannya ini, begitu berat beban yang ia pikul. 

“Sebagai anak kecil, Abi terlihat lebih dewasa dari usianya. Terkadang saya suka melihat ia melamun, menyendiri dan lebih banyak diam. Anak ini pun kelewat penurut, saya sedikit khawatir dengan pertumbuhannya, Bu,” ucap Bunda Hana. 

Vania bergeming sejenak, benar yang dikatakan oleh Bunda Hana, ia pun sebagai seorang ibu merasakan jika putranya sedikit berbeda dari yang lain. Seolah Abi menyimpan sebuah beban yang tak pernah mau ia bagi. 

“Dahulu ketika balita Abi anaknya ceria, Bun, ia pun sangat aktif dan banyak tanya, lalu ketika usianya menginjak lima tahun dan mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya, ia mulai berubah,” jelas Vania pelan. 

“Apakah ada yang suka mengejeknya?” 

Vania mengangguk. “Apalagi jika topik pembicaraan tentang ayah, maka Abi pasti akan terpojok, pulangnya ia akan menangis menanyakan ayahnya.” 

“Ibu jawab apa?”

“Saya tak pernah menjawabnya, Bun, saya bingung mau bilang apa. Setiap Abi bertanya selalu saja saya bilang jika Abi hanya punya ibu, awalnya ia tak terima namun lama-lama ia terpaksa mengerti.” 

Bunda Hana melihat Abi yang tengah bermain bersama teman-temannya, ia terlihat tak banyak bicara, hanya sebagai pengamat saja. 

“Abi menjadi pendiam karena takut jika ditanya soal ayahnya ia tak bisa menjawab,” ujar Vania lagi. Perih sebenarnya mengungkap luka batin anaknya, tapi ia bisa apa? Sebenarnya ia pun terluka dan hingga kini luka itu masih terasa. 

Hingga kini, setelah bertahun terlewati, terkadang ia masih bermimpi buruk tentang pemerkosaan itu, saat laki-laki itu membekap mulutnya, menindih paksa dan menciumnya dengan beringas. Saat ia benar-benar merasa jijik dengan aroma alcohol dari mulut laki-laki itu, matanya yang menatap liar serta tamparannya yang berulang pada wajah Vania. 

Itu tak mudah, melalui hari demi hari dengan bayang peristiwa menyakitkan itu, mengobati luka sementara dalam kehidupan ia dituduh sebagai tersangka. Benar-benar sulit hingga terkadang terbersit niat untuk mengakhiri hidup saja. Sudahlah, ia lelah, rasanya dunia tak lagi bersahabat, ini terlalu kejam baginya, sangat kejam malah. 

“Saya titip Abi, Bun, tolong dijaga,” ucap Vania akhirnya ketika mereka ingin berpamitan. 

“InsyaAllah, Bu, saya sudah menganggap Abi sebagai anak saya sendiri.” 

“MasyaAllah, terima kasih banyak, Bunda.” 

Bunda Hana tersenyum dan memeluk wali siswanya ini. “Sama-sama, Bu.”

***

Abi melingkarkan kedua tangannya di pinggang ibunya, rasanya sangat hangat dan menenangkan. Ibunya melajukan motor tua itu dengan sangat lambat, biasanya sepanjang perjalanan ibu selalu bercerita tentang banyak hal, bertanya ini dan itu yang membuat perjalanan pulang ke rumah begitu menyenangkan tapi kali ini ibu hanya diam saja dan sesekali terdengar helaan napasnya. Kasihan ibu. 

Awalnya Abi tak begitu paham tentang apa yang terjadi dengan keluarganya, ia pun baru tahu jika dalam keluarga itu harusnya ada ayah dan ibu bukan ibu saja. Teman-temannya lah yang bercerita sekaligus menanyakan tentang ayahnya. Andra temannya juga tak punya ayah tapi tiap bulan ia rutin mengunjungi kuburan ayahnya, orang menyebut Andra sebagai anak yatim. Velia temannya juga tak memiliki ayah, katanya ayahnya sudah menikah lagi tapi tiap bulan ayahnya mengunjungi Velia dan rutin memberi uang jajan. Temannya yang lain semuanya punya ayah, laki-laki yang mengajak putranya bermain bola, mengantar sekolah, memancing di sungai atau potong rambut bersama. Satu hal yang terkadang membuatnya begitu iri ketika sholat Jum’at, hampir semua anak laki-laki pergi bersama ayahnya, hanya Abi yang diantar ibunya saja. 

“Siapa ayah Abi, Bu?” tanyanya suatu ketika. 

Ibu hanya diam kala itu, tersenyum sambil mengusap lembut kepalanya. 

“Apa ayah Abi sudah meninggal seperti ayah Andra.” 

Ibu menggeleng dan setelahnya netranya akan berkaca-kaca sementara bahunya naik turun menahan tangis. 

“Apa Abi tak boleh bertanya tentang ayah?” tanyanya lagi. 

Ibu masih bergeming, air matanya kian mengalir deras, tak ada jawab hingga lama Abi menunggu, hanya isak tangis saja. 

“Nak, di dunia ini Abi hanya punya ibu dan kakek, apa itu sudah cukup?” Ibu bertanya sambil terisak. 

Abi bingung ingin menjawab apa, ia ingin juga punya ayah seperti temannya yang lain. 

“Maafkan ibu, Nak, maaf.” Tangis ibu semakin menjadi sambil memeluknya erat. 

Apakah yang salah? 

Dimana letak kesalahannya?


Abi hanya bertanya soal keberadaan ayahnya, tapi tangis ibu begitu menjadi. Setelahnya kakek akan menggendongnya, menceritakan berbagai macam dongeng untuk mengalihkan pembicaraan. Dan ibu… ia pasti akan bergegas ke kamar, menangis di atas tempat tidur hingga kedua matanya bengkak. 

“Kamu itu anak haram, Bi, gak punya ayah,” ujar Bu Dar tetangganya. 

“Haram itu apa Tante?” tanyanya bingung. Yang Abi tahu menurut Islam, yang haram itu adalah daging babi, alkohol dan bukannya seorang anak. 

“Haram itu berarti jelek, gak bagus, jahat,” jawab Bu Dar sambil tersenyum. 

“Jadi Abi ini jelek, gak bagus dan jahat ya?” tanyanya masih tak mengerti. 

Bu Dar mengangguk pasti. 

“Kenapa begitu, Tante?” 

“Ibumu itu diperkosa oleh ayahmu makanya lahir kamu.” 

“Diperkosa itu apa?” tanyanya lagi. 

“Dijahati gitu. Jelasnya kayak ini, kalau Venti anak Tante lahir karena cinta, Tante dan ayahnya Venti menikah dulu baru kemudian lahir Venti, tapi kalau kamu beda. Kamu itu anak yang tak diharapkan, lahirnya karena terpaksa.” 

Abi bergeming. 

Benarkah? 

“Lalu kemana ayah Abi, Tante?” 

“Lari, lah, gak mau bertanggung jawab, gak mau mengurus kamu dan ibumu.”

“Kenapa?” Netra Abi mulai berkaca-kaca. 

“Ya karena kamu lahir bukan karena cinta, kamu itu anak hasil perkosaan, anak haram.” Bu Dar menjelaskan dengan lugas dan mengakhiri penjelasannya dengan senyum. 

“Ohhh…” Abi hanya bisa berguman sambil mengusap netranya yang mulai berair. Begitu rupanya, ia adalah anak haram. Wajar ibu menangis ketika ia bertanya soal ayahnya. 

“Makanya Tante kurang suka kalau kamu main sama Venti, kamu kan anak haram, takutnya kasih pengaruh yang gak baik untuk anak tante.” 

Abi mengangguk. Benar, beberapa kali ia ingin main ke rumah Venti pasti Tante ini langsung menutup pintu dengan membanting. 
 
“Temanmu yang lain juga mungkin hanya terpaksa saja mau berteman denganmu.” 

“Ohhh…” Lagi, Abi hanya bisa berguman saja. 

Langkahnya kali ini gontai tak bersemangat, ia belum paham sepenuhnya soal apa yang terjadi, tapi kini ia paham jika ia berbeda. Setelahnya, Abi tak pernah ingin bertanya lagi soal ayahnya, ia tahu ibu akan menangis jika ia menyebut kata ‘ayah’. Perlahan ia mulai membiasakan diri hanya berdiam di rumah saja, tak mau bermain terlalu lama, hanya mengamati saja ketika teman-teman lain bermain dan langsung pulang ketika tema obrolan bersama teman sudah menyangkut tentang ayah. 

Abi sudah sangat paham jika kata ‘ayah’ itu tabu diucapkan, tak usah banyak tanya dan bicara, cukup diam dan menurut saja apa yang dikatakan oleh ibu dan kakek. 

***

Vania mengecek catatan belanjaannya, terigu, ikan giling, bawang putih, gula merah, cabe rawit dan juga minyak goreng. Semua sudah ada dalam kantong belanjaannya. Berarti sudah lengkap, ia segera ke kasir, membayar dan membawa barang belanjaannya ke motor. 

“Mang, titip belanjaan ya, saya masih mau beli buah dulu,” ucap Vania pada tukang parkir langganannya.

“Iya, Mbak, aman kok.” 

Di ujung jalan itu, ada tukang jual langganannya, tempatnya memang terpencil, tidak di pinggir jalan tapi harganya sangat murah, itulah mengapa Vania selalu membeli di sana. Ayahnya sangat menyukai anggur, senyumnya akan merekah hanya dengan sekantong anggur merah. Sangat mudah menyenangkan hati ayahnya itu. 

Vania melewati lorong sempit yang sedikit agak gelap, di sini beberapa pedagang kaki lima menggelar dagangannya di pinggir jalan dengan hanya beralas tikar saja. Tidak begitu ramai karena ini bukan hari minggu. 

“Vania!” Seseorang memanggilnya. 

Vania menoleh. Cukup lama terdiam sejenak memastikan sosok yang kini berada di hadapannya. 

Alfian menyentuh pundaknya dan menatapnya lekat. “Aku perlu bicara,” ucapnya tegas. 

Vania mundur, tubuhnya langsung bergetar hebat, lorong di jalanan ini remang-remang, sama persis seperti suasana malam itu. 

“Kamu mau apa?” tanya Vania gugup. 

“Aku ingin bicara,” ucap Alfian lagi. 

“Kamu mau apa? Ya Tuhan… kamu mau apa?” Vania berjalan mundur hingga tubuhnya membentur tembok. “Jangan ganggu aku,” ucapnya lirih sambil memeluk tubuhnya. 

“Hei, aku hanya ingin bicara,” ucap Alfian heran. Ada apa dengan wanita ini?

Vania langsung berjongkok dan menutup wajahnya, bayang kejadian itu kembali terulang, saat laki-laki itu menariknya paksa dan menyakitinya berulang. Ia mulai terisak dengan tubuh yang bergetar hebat. “Jangan… jangan,” ucapnya lirih. 

Alfian mundur, ia tak mengerti akan apa yang terjadi, ia bahkan belum berbuat apa-apa pada wanita ini. Ia kenapa? 

“Pak, wanita ini kelihatannya trauma,” bisik Faiz. 

“Trauma?” ulangnya tak mengerti. Wanita di hadapannya ini masih terisak  dengan tubuh yang bergetar hebat. 

Alfian masih menatap tak mengerti. Apakah peristiwa itu begitu menyakitinya?

Bersambung…