3
Bukan Anak Haram

Part 3

“Gajinya besar, Yah, untuk satu malam saja Vania bisa dapat lima ratus ribu, Dewi yang ngajakin.” Vania ingat hari itu ia mati-matian merayu ayahnya agar bisa diizinkan menjadi pelayan pada sebuah pesta anak ulang tahun seorang anak konglomerat di kotanya. 

Awalnya ayahnya menolaknya, ayah mana yang mengizinkan putrinya bekerja mulai dari lepas Isya hingga pagi walau statusnya hanya sebagai pelayan saja. Vania bersikeras, lagipula mereka butuh uang kala itu, ibunya sakit-sakitan dan perlu biaya untuk berobat, belum lagi biaya kuliah yang sudah mendesak. 

“Hanya melayani makannya saja?” tanya ayah ragu. 

Vania mengangguk pasti dan bersorak riang ketika akhirnya ayah mengizinkan. 

Malam itu ia dan Dewi berangkat menggunakan ojek, Dewi sudah terbiasa mengambil pekerjaan ini, menurutnya selain honor tetap, biasanya tuan rumah akan memberikan tips jika pekerjaan kita dianggap memuaskan. 

“Aku benar-benar butuh duit, Wi,” ucap Vania kala itu. 

“Bismillah saja, semoga rezeki kita bakal dapat banyak tips.” 

Pesta itu berlangsung di sebuah rumah mewah, hunian termegah yang pernah Vania dan Dewi lihat, biasanya mereka hanya menjadi pelayan dadakan di hotel ketika ada acara saja, namun job kali ini lebih spesial, selain karena honor yang dibayar dimuka, tips nya pun kabarnya tak main-main. 

Awalnya pesta berjalan seperti biasa, ada life music, adegan dansa khas orang kaya dan juga mengobrol biasa saja. Ada pula sambutan-sambutan dari beberapa orang yang sepertinya orang penting, pesta normal saja yang menjadi ajang pamer kalangan atas. 

Menjelang tengah malam beberapa tamu sudah mulai pamit, Vania dan Dewi kira acara sudah akan berakhir, namun yang terjadi sebaliknya, pesta yang sesungguhnya barulah dimulai. 

Musik keras mulai menghentak, laki-laki dan wanita mulai tak sungkan menegak minuman keras, berdansa sambil berpelukan dan berciuman, bahkan penyanyi yang awalnya sopan mulai melucuti pakaian satu per satu hingga tak mengenakan satu helai pakaian pun. 

Pesta apa ini? 

Vania mulai merasa tak nyaman, ini adalah kali pertama ia melihat kegilaan seperti ini. Dari kejauhan ia melihat Dewi pun mulai risih ketika beberapa pria dengan seenaknya menggoda dengan menyentuh tubuhnya. 

“Kita pulang, Wi, ini sudah gak beres,” bisik Vania. 

Dewi yang mulai ketakutan mengangguk setuju. Keduanya perlahan mulai menjauhi kerumunan dan menuju ke luar rumah mewah itu. 

Baru saja Vania hendak berbalik menyusul Dewi yang tengah melihat keadaan di luar ketika ia merasa ada tangan kekar yang menarik kasar tubuhnya, menyeretnya masuk ke dalam sebuah kamar dan membekap mulutnya. Sekuat apapun Vania berontak namun tubuh kekar laki-laki itu lebih kuat, ia bahkan menampar wajahnya berkali-kali hingga jatuh ke atas tempat tidur. 

“Ambillah wanita ini, dia punyamu,” ucap laki-laki itu dengan senyumnya yang menjijikkan. 

Vania hendak bangkit namun tubuhnya tertahan ketika seorang laki-laki lain dengan senyum aneh menindih tubuhnya dan menciumnya paksa. Vania menjerit, ia berontak, kakinya menendang tak tentu arah, dan suaranya serak hingga hanya tersisa tangis saja namun ia tetap tak berdaya dalam perlawanan yang sia-sia, laki-laki itu terlalu kuat. Dan malam itu adalah awal dimana penderitaan hidupnya dimulai. Saat Alfian, laki-laki yang bahkan tak ia kenal itu merenggut kehormatannya. Ia diperkosa, dilecehan dan dihinakan seolah ia bukanlah manusia. 

Vania masih ingat dengan detail setiap detik kejadian itu, saat akhirnya ia berusaha keluar dari ruangan itu, kepanikan yang disebabkan Dewi menangis mencarinya hingga para tamu yang seharusnya bisa menjadi saksi ketika melihat Alfian dengan tubuh tanpa busana ada di atas tempat tidur setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya. 

Vania pun masih ingat jelas ketika tubuh ayahnya yang bergetar memeluknya ketika di rumah sakit, amarah yang terpancar dari netranya dan tangis ibu yang semakin menjadi melihat keadaannya. 

“CCTV-nya kebetulan rusak.” 

“Para tamu tak ada yang bisa menjadi saksi, hanya temanmu saja yang bersedia memberi kesaksian dan itu tak cukup.” 

“Laki-laki yang bernama Alfian itu mengaku jika ia dijebak oleh anak bapak, ditemukan obat perangsang di dekat laci di samping tempat tidur. Dugaannya adalah putri bapak sendiri yang merencanakan perkosaan untuk dirinya.” 

Vania terdian, tak sanggup berkata apa-apa lagi, ia lah korbannya, ia lah yang harusnya dibela namun mengapa ketika melapor justru ia yang dituduh sebagai terdakwa?

“Apa maksudnya bapak mengatakan jika putriku yang merencanakan pemerkosaan ini?” Suara Pak Budi bergetar . Ia dan putrinya memenuhi panggilan dari pihak kepolisian namun mengapa semua seolah berbalik menyerang putrinya? 

“Bisa jadi motifnya karena putri anda ingin menjadi istri orang kaya,” ujar pengacara keluarga Alfian. 

Pak Budi memegang dadanya yang semakin sesak. Putrinya difitnah dengan sangat kejam. 


Dan lihatlah, betapa mudah hukum diputar-balikkan, siapa yang teaniaya siapa pula yang menjadi tersangka. Hancur hati Vania, remuk rasanya, bukan hanya dirinya yang terluka namun ayah dan ibunya yang ikut tersiksa melihat keadaanya dan hingga saat ini, sedetik pun ia tak akan pernah lupa saat dimana dengan mata kepalanya sendiri ia melihat betapa mudah hukum dibeli dengan lembaran rupiah saja. Nurani itu mati seketika jika dihadapkan pada tumpukan uang. 

Kini, setelah luka itu perlahan mulai sembuh, ia bisa menata hati yang sempat hancur, mana bisa dengan mudah mereka mengambil abi darinya, jangan harap, kini dan sampai kapanpun juga Abi hanyalah anaknya saja. 

***

Dewi sahabatnya memeluknya erat, sejak kecil mereka bersahabat, dan setelah kejadian malang itu, bukan main rasa sesal di hati temannya ini. Vania tak menyalahkan Dewi yang mengajaknya dahulu, ini adalah kesialannya, siapapun bisa mengalaminya dan ia yakin Allah punya rencana indah dibalik semua ini. 

“Untung kamu kirim SS status mantan istrinya ke aku, jadinya aku bisa punya senjata untuk menyerang balik Alfian,” ujar Vania pada Dewi. Ia memang bercerita soal kedatangan orang tua Alfian ke rumahnya pada Dewi dan sahabatnya itu langsung mengirimkan SS story mantan istri Alfian padanya. 

“Aku memang sudah menunggu saat ini, Van, sejak dahulu aku sudah dendam pada laki-laki itu. Dan lihatlah hanya dalam waktu beberapa tahun saja Allah sudah menunjukkan kuasa-Nya,” sahut Dewi berapi-api. 

“Aku malah gak tenang mereka hadir di hidupku lagi.”  

“Sejak dahulu aku memang sudah follow IG Alfian, keluarganya hingga mantan istrinya, aku sudah merasa ada yang tak beres dengan keluarga itu dan sekarang terbukti. Laki-laki kurang ajar itu ternyata mandul akibat kecelakaan." 

“Sudahlah, Wi, aku sebenarnya sudah malas meladeni mereka.”

“Gak, kamu jangan menyerah, harus melawan! Bertahun-tahun hidupku dihantui rasa penyesalan karena menjadi orang yang mengajakmu ke pesta itu, bertahun-tahun aku selalu mimpi buruk mengingat kejadian naas itu.” Dewi mengusap sudut netranya. “Kamu sahabatku, Van, lebih daripada saudara, sakitmu adalah sakitku dan aku gak rela mereka kembali menyakitimu.” 

Aku mengangguk. “Gak akan.” 

“Jangan pernah serahkan Abi pada mereka, kita tak perlu uang mereka, akan kita besarkan Abi bersama-sama.” 

Vania mengusap netranya yang mulai menghangat. Bukan main dukungan sahabatnya ini padanya, bahkan setiap gajian pun ia selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk Abi, jika tak ada Dewi mungkin Vania pun tak mampu setegar ini. 

“Anakku adalah anakku,” ucap Vania pelan. 

“Benar, jangan biarkan keluarga jahat itu merebutnya.” 

Vania mengangguk dan memeluk erat kembali sahabatnya ini. Di saat semua mencerca, teman-teman yang menyishkan dan menyudutkan, Dewi lah yang maju untuk membelanya. 

“Aku ada di sana, Vania menjadi pelayan dengan mengenakan pakaian tertutup dan hijab, jadi jaga mulutmu!” Vania ingat kala Dewi berkelahi dengan teman sekampus mereka yang mengejeknya sebagai wanita penggoda. Kala itu Dewi bahkan hampir dilaporkan ke polisi karena kasus penganiayaan, untung masalahnya bisa selesai. Walau akhirnya Vania harus rela keluar dari kampus karena keadaan, setidaknya ia telah berusaha hingga akhirnya menyerah tak mampu bertahan karena kehamilannya yang mulai tampak. 

***

“Benar kata ibu jika anak itu mirip denganku, sangat mirip bahkan.”  Alfian menyesap rokoknya dalam, sebuah kenikmatan palsu yang sangat ia sukai. 

“Bagaimana hasil pertemuannya, Pak?” tanya Faiz pada bos-nya itu. 

Alfian tersenyum. “Tak baik, dia menolak mentah-mentah tawaranku, sombong,” ucapnya kesal. 

“Lalu?”

“Tak ada cara lain, lakukan dengan cara baik atau bila tak bisa, gunakan kekerasan.” 

“Pada wanita itu?” Faiz bertanya ragu. 

“Iya, awalnya aku ragu namun setelah melihatnya secara langsung, aku menginginkan anak itu. Ia harus jadi milikku, penerus keluarga ini.” Alfian melempar sisa rokoknya ke asbak. “Wanita itu tak tahu berhadapan dengan siapa, sejak dahulu apa yang kuinginkan harus bisa kudapatkan, apapun caranya.” 

Bersambung…