Stroke
Suara tangisan pilu menggema di seantero rumah ini. Kulihat banyak orang menangisi seseorang yang terbujur di ruang tamu rumahku.

"Rumina, jangan tinggalkan kami Mina, bangun Dek, huhuhu" ucap abangku yang pertama dengan berurai air mata. Disampingnya kulihat dua kakak lelakiku juga menangis sesenggukan sembari mengguncang tubuh kaku itu. Mengapa abang-abangku menangis? Kenapa mereka memanggil namaku? Ini Mina Bang, ini Mina.

Kupertajam mata melihat mayat yang terbujur kaku itu, untuk memastikan siapa sebenarnya yang meninggal. Tidaaaak. Itu kan sama seperti mukaku. Aku tidak mungkin mati, tidak mungkin. Lututku serasa lemas lalu merosot ke lantai. 

Para tetangga yang melayat semuanya menutup hidung lalu pergi. Tak ada yang mau mengurus jenazahku. Belatung menari-nari keluar dari hidung juga mulutku. Tak kulihat ipar-iparku, anak-anakku, menantu-menantuku di rumah ini. Mungkin mereka senang jika aku mati. Ya Allah seandainya aku masih diberi umur, akan kuperbaiki semuanya, doaku penuh harap.

"Aaaa", teriakku sekuat tenaga, namun hanya tertahan ditenggorokan. Suaraku yang keluar malah seperti desahan. Tapi syukurlah, setidaknya aku belum mati. 

Kupandangi langit-langit rumahku, ini masih di kamar mandi dan tak ada satupun orang di sekelilingku.  Suara ayam yang bersahutan pertanda hari mulai pagi, itu artinya aku pingsan di kamar mandi  dari kemarin sore. 

Ku coba bangun untuk membersihkan diri, tapi badanku tak bisa digerakkan. Bau busuk dari kotoranku yang berceceran harus kunikmati sendiri. Ish, jijik. Tapi apa daya, hanya mata yang bisa berkedip, lalu perlahan meredup. Aku kekurangan cairan.
---

Aku merasa badanku lebih ringan, kucoba membuka mata perlahan lalu melebar sempurna karena terkejut banyak orang di rumahku. Apa aku mimpi mati lagi?

Melihat mataku yang melotot, seisi rumah serempak mengucapkan hamdalah.

"Alhamdulillah, Ibu udah sadar," 

"Bu, kok diam aja?" Tanya menantuku, Revi yang sok ramah. Kucoba menjawab, namun urung jua terucap kata. Kucoba menggerakkan kaki dan tangan, kok mati rasa. Aku benar-benar lumpuh atau hanya mimpi lagi?

"Bu, Ibu kok bisa pingsan di kamar mandi? Aku dari pagi datang mau mengambil mainan Rifky yang katanya tinggal disini. Ia merengek terus minta diambilin. Melihat pintu masih tertutup, kukira Ibu tidur lagi karena jrndela sudah buka. Aku pulang dan baru kembali lagi kesini tadi sekitar jam  12 dan kupanggil tak ada sahutan. Merasa ada yang gak beres, aku dobrak pintu  lalu menemukan ibu tergeletak di kamar mandi," jelas Tondi panjang lebar.

"Ibu tadi di infus Bu, apa tangan Ibu terasa sakit?" Tanya menantuku Revi sembari mengusap tanganku. Aku tak merasakan apa-apa.

"Aaaaa". Hanya itu lagi yang keluar dari bibirku.

"Kasih minum dulu," ujar tetangga yang langsung dilaksanakan oleh Revi. Beberapa teguk air hangat yang kuminum melalui sedotan membasahi kerongkongan, semoga  akan mengembalikan suaraku.

"Aaaaa", teriakku lagi, namun bahkan telingaku tak menangkap dengan jelas suaraku.

"Kayaknya  Bu Mina stroke, coba panggil tukang urut Ton," sahut tetangga yang langsung di iyakan Tondi. Tergopoh Tondi mengambil kunci di saku celananya yang diikuti abang-abangku menyusul keluar, tak lama kemudian terdengar deru suara motor lalu menghilang.

"Ish, tau gak sih bu ibu, kayaknya Nek Mina keracunan kue bolu deh. Soalnya ada sisa kue jamuran dan si nenek itu tuh mencret-mencret, hihihi." Suara bisik-bisik mulai terdengar samar dari ibu-ibu muda seumuran Revi. 

"Hihihi, tapi kok gak koit ya? Harusnya lama ditemuin biar mati , hihihi," sahut yang lain. Mereka terdengar cekikikan menahan tawa.

"Iya ya, sebel akutuh, kalau Nenek Mina mati, kan kita makan daging hihihi," ujar yang lainnya lagi. Sialnya, untuk menoleh memandang pemilik suara jahat itu saja aku tak mampu.

"Orang jahat mah, susah mati, noh contohnya."

"Kalo aku jadi si Revi, mana mau aku bersihin kotoran bauknya. Ish, najis."

"Iya, padahal kan si Revi selalu diomongi jelek-jelek sama si Sundel Bolong."

"Kalo tawa lepas dimari, Mak Lampir itu marah gak ya?"

"Hhiihi, mending kita pulang, lalu rumpi bareng, nanti kita balik lagi lihat perkembangan terkini."

"Hayuk, yuk. Disini mah gerah, bauk pulak, hihihi."

Kasak-kusuk itu menghilang bersama pulangnya ibu-ibu muda, para menantu tetanggaku. Awas saja nanti, akan ku hasut mertua-mertua kalian agar menyumpal mulut-mulut busuk itu dengan cabe rawit.




Komentar

Login untuk melihat komentar!