bab 3



        Mobil berhenti di depan sebuah bangunan berupa ruko bercat putih dipadu dengan warna oranye cerah. Aku membuka pintu, memakai kaca mata hitam agar pandangan terasa lebih nyaman. Lalu melangkah memasuki gedung di mana Anthony bekerja.

Ada plank bertuliskan PT. Sinar Asih tepat di atas pintu yang terbuat dari kaca itu.

Seorang satpam membukakan pintu dengan sikap hormat. Aku melangkah lebih dalam menuju ke ruangan Anthony.

"Ma-maaf, Pak Anthony sedang rapat," cegah sang sekretaris yang semula duduk di belakang meja kerja tepat di sisi pintu ruangan Anthony.

Gadis dengan blazer warna merah dengan polesan lipstik menyala itu bangkit berdiri. Sekilas ia melirik ke pintu, gugup, seperti berusaha menyembunyikan sesuatu. 

"Kalau begitu aku ikut rapatnya." Aku menyahut datar, sambil menekan handel pintu. Beruntung, tidak dikunci. Kalau sebaliknya, mungkin sudah terjadi keributan di depan wanita itu.

"Tapi, Pak!" Dia masih berusaha mencegah. 

Pintu terbuka. 

Aku melangkah masuk dan  kembali menutup pintu, lalu mengunci dan mengantongi benda itu di saku celanaku.

Di belakang meja kerjanya, Anthony tersentak kaget dengan mulut nyaris menganga. Seketika wajahnya memucat, sedikit terburu lelaki itu merogoh kantong celana dan mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk mengelap keringatnya.

Aku menatapnya sebentar, lalu beralih ke arah telepon warna merah yang teronggok di atas meja kerjanya.

"Sepertinya benda ini rusak?" Aku menyeringai sambil menatapnya tajam. Mengingat bahwa sejak pagi tadi telepon yang kulakukan tidak juga diangkat olehnya.

Anthony menelan ludah. "Sa-saya tadi ada rapat, Tuan," kilah lelaki itu.

"Rapat dengan calon pekerja yang harus bercinta dulu denganmu?" Aku mengangkat alis.

Wajahnya memerah. Sepertinya tak menyangka bahwa aku tahu detil tentang sepak terjangnya di dunia agen asisten rumah tangga.

Sedetik kemudian dia memamerkan senyum memuakkan. 

"Silakan duduk, Tuan, kita bicarakan ini baik-baik." Dia berdehem sambil membenahi kerah bajunya. 

Aku melirik ke arah kursi yang terletak tepat di hadapan meja kerjanya. Lalu menggeser benda itu dan duduk.

"Ada masalah apa dengan Puspita, Tuan?" tanyanya.

Aku menatapnya dingin.

"Kau tahu apa yang ingin kubicarakan."

.

        Lelaki bertampang penjilat itu berdiri dengan punggung lebih condong dari biasanya. Kedua tangan gemetaran, sama seperti nada suaranya.

    "Maaf, Tuan. Saya mohon maaf," ucapnya berulang-ulang. 

    Aku menyeringai, lalu melemparkan pisau kecil yang kupegang ke arahnya. Tepat, tertancap di dinding, di samping kepalanya. Dia mengerjap kaget. Tapi semakin menegang sementara wajah terlihat memucat.

    "Jarak antara pisau dan kepala itu, sebagai tanda aku sedang menghitung kesalahanmu," ucapku datar.

     Dia membungkuk sambil kembali mengumbar kata maaf yang memuakkan.

    "Kali ini kumaafkan."

    Dia meluruskan punggung, menatapku dengan pandangan lega dan penuh terimakasih. 

    "Tapi jangan lupakan jarak itu," bisikku dingin.

    "Tentu saja, tentu saja, Tuan." Dia membungkuk sekali lagi. Seperti orang yang sedang memohon pengampunan.

***

       "Kita batalkan saja kontraknya." Aku menatap wajah Puspita datar.

    Wanita itu terdiam. Masih tetap bergeming di depan meja kerjaku. Mengenakan kemeja longgar dan bawahan rok panjang berwarna abu-abu. Sementara rambutnya yang sedikit bergelombang hanya diikat ke belakang.

    Dia mengangkat wajah, kemudian hanya menatap sayu, saat aku mulai menggeledah laci demi laci untuk mendapatkan selembar kertas berisi kontrak kerja. Lalu menaruhnya di atas meja.

        "Ini kontrak kerjamu, dan ini, adalah surat jika kau mengundurkan diri. Tanda tangani ini, dan keluar dari rumahku." 

    Dia mendongak. Menatapku dengan sorot mata redup. "Tapi ... saya tidak bisa mengundurkan diri, Tuan," ucapnya pelan.

    "Kenapa tidak bisa?" Mataku menyipit.

    Dia terdiam.

    "Jawab," desisku.

    "Karena saya ...." Dia menelan ludah. Lalu sepasang matanya mulai berkaca-kaca. "Karena saya tidak sanggup membayar uang yang telah Anda bayarkan untuk operasi ibu." 

    Aku masih diam.

    "Jadi saya mohon, jangan batalkan kontraknya."

    Dia meluruhkan pandangan ke lantai. Seolah sedang membiarkan harga dirinya jatuh menggelepar di bawah kakiku.

    Aku menarik diri dari meja kerja. Berjalan memutar hingga akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Mendongakkan dagunya dengan telapak tangan hingga kedua mata kami bertemu. Menatapnya intens.

    "Jadi kau lebih memilih melayaniku?" desisku.

    Setetes air mata meluncur turun di pipinya. Hidungnya memerah, menahan isakan.

    "Ya."

    "Ya?"

    "Jika itu yang Anda mau, Tuan." Tetes-tetes berikutnya kembali mengalir dari kedua sudut mata Puspita.

    Aku menatapnya lekat.

    "Oke." Akhirnya aku menyentakkan pipi wanita itu, lalu berbalik dan kembali ke arah meja.

*** 

       Aku berdiri di tepi balkon kamar. Menatap lurus ke arah langit sambil mencengkeram tepian. Alam keheningan malam. Segala kenangan seolah kembali terputar ulang. 

    Bagaimana istriku meneriakkan kebencian berulang-ulang, tepat di depan wajahku.

    "Kau gila!" 

    "Ya, aku gila!"

    Bukankah cinta memang kegilaan saat berada dalam kadar yang sudah tak semestinya. Wanita yang seharusnya menghabiskan seumur hidupnya denganku, malah mencintai pria lain. Di hadapanku.

    Setelah mencintai begitu lama, sepenuh jiwa, akhirnya aku terhempas kalah oleh cinta yang baru bersemayam dalam hatinya. 

Aku mengusap wajah dengan helaan napas semakin berat.

    "Biarkan kami pergi!" Terngiang kembali jeritannya. 

Wanitaku terus memeluk tubuh bersimbah darah dalam dekapnya. Dia menangis untuk lelaki baru, yang sama sekali tak sebanding denganku. 

    Betapa sakitnya. Saat telah memberi segalanya, tapi harus menerima bahwa rasa cinta itu bukan lagi untukku.

    Aku benar-benar dikhianati.

    "Kita sudah bersama dalam waktu yang begitu lama," bisikku. Bahkan dalam kesakitan luar biasa aku masih bisa menghiba.

    Tak ada cinta kutemukan di sorot matanya. Tak ada kehangatan seperti sebelum-sebelumnya. Dia sudah berubah, hanya karena pria yang tak semestinya.

    "Biarkan kami bahagia. Kumohon, biarkan kami pergi," ratapnya sambil memeluk pria sekarat itu semakin erat.

    Aku tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. 

Menyingkirkan segala kenangan menyakitkan dari kepala. Lalu menunduk, menatap ke arah ramainya jalanan di bawah sana. Lalu melangkah masuk setelah menutup pintu balkon.

    Aku benci wanita yang mudah menduakan rasa. Dan sekarang aku harus tinggal dengan wanita semacam itu. Hanya saja aku berdiri di posisi yang berbeda.

Apa ini karma? Atau Tuhan hanya sedang ingin membuatku memahami posisi mereka?

***

    Kulit yang semula kecoklatan, kini mulai terlihat semakin halus dan bersih. Sementara rambut panjangnya diikat ke atas, hingga tengkuknya semakin jelas.  

Dia masih tak banyak bicara. Seperti layaknya pekerja yang sedang melaksanakan  kewajiban pada sang tuan.

    Hingga perlahan mulai kurasakan detak-detak kehidupan dalam jantungku. Bukan di saat aku mencium bibirnya. Tapi saat menatap sorot sayu sepasang mata hazel yang berada di antara kedua lenganku itu meredup, seperti mangsa yang meminta perlindungan pada pemangsanya.

Ada sesuatu yang membangkitkan rasa entah di dalam sini hingga aku berhenti mencumbunya begitu saja. Kembali mengingat rasanya pernah dikhianati, atau perlahan tergerak ingin melindungi?

Lalu semakin meyakini. Bahwa dia memang karmaku. 

***