Bab 1


        Selama bertahun-tahun aku berusaha menyingkirkan luka hati dengan cara mengkhianatinya. Mencari wanita-wanita yang bersedia ditiduri dalam semalam. Lalu pergi setelah aku merasa memberinya luka yang sama.

Tapi nyatanya, luka ini tetap menganga. Dihiasi dengan kehampaan luar biasa. 

BMW E37 keluaran terbaru meluncur tenang di atas aspal Kota Jakarta. Melintasi jalanan yang semakin lengang setelah malam semakin larut. Menyusuri jalan raya menjadi rutinitasku setiap malam, selama bertahun-tahun. 

Keheningan, kegelapan, dan lembab udara bercampur kabut, merupakan komposisi paling pas untuk jiwa bebas yang kupunya.

Dari belakang kemudi, pandangan tak henti mencari di setiap sudut kota. Seseorang yang sebenarnya sangat kunanti kehangatannya di pelukanku.
Hanya saja, untuk menemukannya kembali kadang aku masih tertahan oleh ego atas tercabiknya harga diri.

Dia. Kepada siapa sekaratku bermuara.

Malam ini pun berakhir sama seperti malam-malam sebelumnya. Mobil kembali masuk ke garasi bersama jiwa yang hampa.

Namaku Khaisar. 

Khaisar Bangsawan. 

Hidup dengan dada berisi separuh jiwa. Sisanya, tenggelam dalam sayatan rindu tak berjeda. 


***

Pagi yang hening. Aroma kopi menemani sarapan kali ini. Dari balik meja makan, bisa kulihat acara TV yang menayangkan tentang bursa saham. 

Beberapa saat meneliti angka demi angka yang terpampang di depan sana, lalu menggelengkan kepala saat menyadari saham perusahaan yang kupilih mengalami sedikit penurunan.

Baru saja akan menyuap sarapan yang kubuat, saat kudengar bel pintu berdentang. Sekali, dua kali, lalu yang ketiga. 

Aku menaruh sendok kembali ke piring. Mendengkus sebal. Kemudian beranjak dari kursi menuju ke ruang depan. Melewati  koridor demi koridor ruang-ruang berdinding tebal yang kokoh.

Segala sesuatu yang klasik, selalu menarik bagiku. Kemewahan yang berbalut dengan perpaduan ornamen benda-benda antik, sangat menenangkan. 

Pintu terbuka.

Terlihat seorang pria bersama wanita muda di sebelahnya. 

Menyadari aku telah berdiri di hadapan, pria itu segera membungkukkan badan, menghormat.

"Selamat pagi, Tuan Khaisar," sapanya sambil tersenyum lebar.

"Ya." Aku menjawab singkat.

"Saya diperintah oleh Pak Anthony, agen tenaga kerja yang Anda hubungi hari Selasa kemarin."

"Oke."

"Dan ... hari ini gadis yang Anda pilih untuk bekerja di sini," ucapnya sambil berkedip beberapa kali, menandakan rasa kikuk dan tak nyaman. "Kami tidak lupa memberitahunya tentang apa saja yang Anda inginkan,"
gumamnya melanjutkan.

"Oke."

Sesaat, keheningan menyelimuti kami bertiga. Aku berdiri tegak menatap lurus ke arah wanita itu. Mengamati.

Wajahnya manis, berkulit coklat. Sepasang mata besar, hidung mungil, dengan bibir sensual kemerahan. Sesuai dengan foto yang kutunjuk Minggu lalu. Wajah yang membuatku tersentuh hanya dengan sekali pandang.

Gadis itu mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kain. Menyamarkan bentuk tubuh, tapi dadanya jelas terlihat menantang. Ia memakai sepatu pantofel yang mulai mengelupas di beberapa bagian. Menyedihkan.

Di antara tenaga kerja sebelumnya, yang ini tampak sedikit berbeda.

"Kenapa menangis?" Mataku menyipit.

Gadis itu sedikit tersentak kaget, tidak siap dengan pertanyaan yang kulontarkan. Sama halnya dengan pria yang membawanya.

"Ti ... tidak, Tuan." Wanita dengan pakaian berwarna pudar itu buru-buru menggelengkan kepala.

"Terpaksa bekerja sebagai asisten rumah tangga?" tanyaku dengan nada dingin.

"Ti ... tidak!" Dia menjawab gugup. Sementara kaca-kaca di matanya justru semakin terlihat jelas. Dia menunduk sambil menyeka sudut mata dengan ujung jari.

"Tidak siap bekerja padaku, kau pulang saja. Aku tidak menginginkan seseorang yang bekerja dengan terpaksa."

Wanita itu mengangkat wajah. Menatapku memelas, bahkan setetes air mata turun membasahi pipinya.

"Tuan ... kumohon, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."

Pria di sampingnya ikut menyela. "Benar, Tuan. Dia sangat butuh pekerjaan ini karena ...."

"Karena apa?"

"Ibunya sedang sakit."

Aku hanya mengamati bagaimana wanita muda itu menjatuhkan diri di hadapanku. Lalu menyembah tepat di bawah kakiku. Bahunya berguncang. Sementara kedua telapak tangan menempel erat di atas lantai teras. 

Memaksaku mengerti kesungguhan hatinya.

"Bangunlah." Pria itu segera menariknya berdiri. Lalu matanya menatapku, ikut memelas, "Kumohon pertimbangkan kembali keputusan Anda untuk menolaknya. Kasihani dia, Tuan."

Aku masih diam untuk beberapa saat. Mengamati wanita itu kembali berdiri lalu membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan setelah bersujud tadi. 

"Oke." Akhirnya aku memutuskan.

"Uang muka sudah ditransfer ke rekening kalian seminggu yang lalu. Kalau caranya bekerja membuatku tidak suka, aku tidak akan membayar sisanya."

"Baik, Tuan!" 

Aku mengamati wajah tirus itu sekali lagi. Lekat. Lalu menggerakkan kepala sebagai isyarat agar wanita itu mengikuti masuk ke dalam.

***

Di rumah ini, suasana ruangan memang selalu redup dan temaram meskipun di siang hari. Dengan dinding berwarna dasar merah tua bermotif ukiran warna gold, tirai cokelat bertali keemasan, dan sofa beludru warna maroon. Dalam lemari-lemari kayu jati berkaca, beberapa hiasan benda antik terpajang. 

Dia hanya berdiri di sudut dekat sofa ruang tamu, tampak pasrah membiarkanku mengamati dengan detil setiap inci tubuhnya. Kepalanya menunduk, sementara jemari menggenggam erat tali tas cokelat kumal yang dibawa. 

Dengan gerakan gugup, sesekali wanita itu membenahi rambut hitam yang terurai panjang miliknya. Sementara aku duduk di sofa, menyilangkan kaki sambil menggenggam secangkir kopi tanpa melepaskan pandangan darinya.

"Siapa namamu?" Aku bertanya datar.

"Puspita, Tuan."

"Puspita siapa?"

"Puspita saja."

"Oke, Puspita Saja."

Dia mendongak. Lalu menggeleng cepat dengan wajah polos yang sedikit ketakutan.

"Ma- maksud saya ... hanya Puspita, Tuan."

"Oke."

Hening. Lagi, aku mengamatinya dengan tatapan lekat. 

"Semua bajumu bermodel sekumuh itu?"

"A—apa?" Dia kembali mendongak.

"Bajumu. Kumuh."

"Saya ... cuma punya yang seperti ini, Tuan," jawabnya penuh rasa bersalah.

Aku mengangguk santai, "Oke."

Hening lagi. Postur tubuhnya terlihat semakin gelisah. Seolah tengah berdiri menghadapi seorang algojo yang akan menghukumnya. 

"Sudah paham apa saja yang harus kau kerjakan di sini?"

"Sudah, Tuan." Dia mengangguk pelan.

"Bagus. Setiap pagi akan ada yang datang untuk membantumu membersihkan rumah dan seluruh halaman. Jika ada apa-apa, telepon beserta buku panduan nomor telepon penting, lengkap ada di meja. 

Alarm tanda bahaya di belakang pintu dan di setiap kamar, terhubung langsung dengan kantor polisi. Tekan itu jika aku sedang pergi dan terjadi sesuatu mencurigakan di rumah. Karena di sini, aku tidak memakai jasa sekuriti."

Dia menatapku lama, dengan mulut sedikit terbuka. Seperti sedang berusaha mencerna setiap kalimat yang kuucapkan, lalu mengangguk dengan raut yang masih sedikit kebingungan.

Aku menghela napas, lalu bangkit berdiri. "Baiklah. Sekarang taruh barang-barangmu ke dalam kamar."

Dia mengangguk. Lalu beranjak mengikuti langkahku menuju ke sebuah kamar yang berada tepat di sisi tangga.

Sejenak dia berdiri di depan pintu, lalu menoleh padaku. 

Aku tetap mengawasi, saat dengan kikuk akhirnya dia melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

***

Terdengar ketukan di pintu. Membuatku sesaat harus menghentikan ketikan pada keyboard komputer di meja kerja. Aku mengalihkan pandangan dari layar yang penuh oleh grafik dan angka.

"Masuk," sahutku datar.

Pintu terbuka. Terlihat Puspita berdiri ragu di depan pintu ruang kerjaku. Kedua tangan berada di depan paha. Seperti biasa, wajahnya terlihat gugup dan gelisah.

"Ada apa?" Aku bertanya.

Dia mengangkat wajah, lalu menunduk lagi.

"Sa- saya," ucapnya gugup.

"Kau apa?" sahutku tak suka.

"Sa ... saya, tidak tahu cara menggunakan mesin cuci, Tuan."

Aku mendongak. Kami bertatapan dalam heran.

Hening.

Namanya Puspita. Wanita berparas manis dengan pandangan mata sayu yang cantik. Pertama kali kulihat wajahnya di dalam foto terakhir yang yang dikirimkan agen tenaga kerja, Pak Anthony, aku tahu bahwa dia bisa menyenangkan hatiku. 

Di atas ranjang. 

***