Bab 4


Seringkali aku mengamati wanita itu. Saat dia sedang mengerjakan tugas rumah. Saat dia membawakan segelas jus ke tepi kolam renang sambil memalingkan muka karena tak ingin melihat dada telanjangku. Saat ia datang ke ruanganku sambil menunduk karena terlalu takut digerayangi.

Mengamatinya, menjadi sebuah rutinitas yang membuat jantungku seolah kembali berdetak. Seperti dulu.

Sayangnya, definisi hidup adalah rasa. Di mana datangnya bahagia selalu beriringan dengan datangnya luka.

Memasuki bulan ketiga, wanita itu mulai berani meminta sesuatu. Siang ini dia mengetuk ruang kerja, lalu melangkah masuk dengan wajah tampak gelisah. 

Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatapnya lekat. 

"Ada apa?"

Dia menarik napas, lalu mengulum bibir sendiri. Seperti sedang mempertimbangkan kembali apa yang ingin dikatakannya.

"Saya ingin meminjam telepon, Tuan." Dia menatapku. Ada sorot memelas di sepasang mata sayunya.

Aku mengangkat alis. "Untuk apa?"

"Saya ingin menelepon keluarga saya di kampung," jawabnya semakin lirih, terkesan ragu. 

Untuk beberapa saat aku hanya menatapnya, karena tahu siapa keluarga yang dimaksud Puspita. 

"Maksudmu, suamimu?" Aku menebak santai. 

Dia menunduk.

Aku bangkit berdiri, lalu melangkah mendekati Puspita. Wanita itu sedikit bergeser seperti takut tersentuh.

Beberapa saat kami terjeda hening.

"Ini lucu. Bagaimana bisa seorang wanita yang telah menjual tubuh sendiri sanggup mengatakan rindu pada suami yang sedang dikhianatinya," gumamku sinis. Berdecak pelan sambil menyunggingkan senyum tipis.

Puspita sedikit mendongak demi menatap mataku. Tegas.

"Saya tidak berkhianat, Tuan," sahutnya.

Aku menggeser tubuhnya dengan tubuhku hingga ia sedikit tersudut di tepi meja kerja.

"Kita pernah tidur bersama, kau tidak ingat?" bisikku serak di telinga Puspita, mengendus sekitar lehernya menikmati harum tubuh wanita itu.

Dia menggigit bibir tanpa mau menatapku.

"Anda memang telah menjamah tubuh, tapi Anda tidak pernah menjamah hati. Saya tidak pernah berkhianat," tegasnya, diiringi setetes air yang meluncur dari sudut mata.

Aku menarik wajah, sekaligus menarik diri menjauh darinya. Melangkah kembali ke balik meja kerja untuk mematikan komputer. Kemudian melangkah keluar ruangan begitu saja.

"Tuan," panggilnya.

"Pakai saja," sahutku tanpa menoleh ke belakang.

Di pintu aku tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Melangkah menjauh dari ruangan di mana samar-samar kudengar wanita itu bicara dengan seseorang di seberang sana.

***

        "Bagaimana pembicaraan kalian tadi, hmm?" Aku melangkah santai memasuki kamar Puspita, lalu meraih pinggang wanita itu. Menariknya dengan sekali sentak, hingga membuatnya sedikit terdongak.

"Tuan," desisnya.

"Apa dia merindukanmu?" ejekku sambil mengendus leher Puspita.

Dia memejamkan mata dengan raut penolakan. Itu membuatku semakin  kehilangan harga diri.

"Tentu saja dia rindu menjamahmu, Puspita. Sayangnya, sekarang aku yang melakukannya." Aku mencengkeram pipi wanita itu.

"Tuan." Puspita meronta.

"Layani aku, Puspita!" Aku menggeram. Lalu menyeretnya ke arah ranjang. "Kau bilang menjamah tubuh bukan pengkhianatan. Sekarang layani aku!"

Plak!

Jemarinya gemetar setelah menampar wajahku. Sepasang matanya berkaca-kaca, detik selanjutnya setetes air meluncur dari sana.

Aku terdiam. Tanpa sadar melepaskan cekalan di lengan wanita itu. 

Entah berapa kali aku telah membuatnya menangis sebelum ini. Memaksanya bercinta meski ia meronta. Tetap mendapat kepuasan di atas tubuhnya meski tahu ia tak punya sedikit pun rasa. Tapi kali ini ada yang berbeda.

Benar-benar berbeda saat melihat sorot terluka di sepasang matanya.

Risiko dari segala yang kembali hidup adalah harus mengecap segala rasa, tanpa bisa memilih mana yang hanya ingin dirasakannya.

Jantungku, kembali teremas pelan.

Untuk pertama kali aku menyadari, bahwa Puspita tidak selemah perkiraanku. Ada keberanian yang tersembunyi dalam raga tak berdaya itu. Sesuatu yang tercipta dari kuatnya kesetiaan. Pada sang suami yang bahkan tak tahu bagaimana caranya menafkahi.

Ini memuakkan.

***

Puspita kembali bekerja dalam diam, memenuhi nasib sialnya menunggu kontrak yang selesai setelah genap enam bulan. 

Sesekali dia menoleh, menyadari bahwa setiap geraknya sedang kuawasi dari balik meja kerja. 

Kuamati itu, bagaimana wajah yang dulu tampak selalu tegang dan takut setiap kali menyadari keberadaanku, perlahan berubah menjadi raut kesal. Seperti ingin memukul seandainya punya kesempatan. 

"Ganti pakaianmu," perintahku pagi ini. Tepat saat wanita itu menuangkan air putih ke dalam gelas milikku.

Dia menoleh dengan sorot penuh tanya.

"Hari ini kita pergi ke suatu tempat."

"Keluar?" tanyanya.

"Ya."

Dia terdiam, ragu. 

Aku mengamati pakaian yang dikenakannya. Selalu dalam model yang sama. Baju lengan panjang atau kemeja, dengan bawahan rok atau celana lebar.

"Jangan mempermalukanku dengan pakaian seperti itu," ucapku sambil mengelap mulut dengan serbet. Lalu bangkit berdiri. 

Puspita sedikit kaget saat aku menarik lengannya menuju sebuah kamar. Satu ruangan yang selama ini selalu ia bersihkan tanpa banyak bertanya. Di mana terdapat satu lemari yang penuh dengan pakaian wanita. Di sudut sana ada meja rias berwarna gading dengan kaca lonjong dan jejeran make up di atasnya. 

Barang-barang yang semuanya belum pernah terpakai, karena dulu kusiapkan khusus untuk seseorang.

Puspita hanya diam saat aku menarik beberapa pakaian dari lemari. Lalu melemparkannya ke atas ranjang king size bersprei putih gold yang mewah.

"Pakai itu. Rias wajahmu. Aku menunggu selama tiga puluh menit di luar." Aku menatapnya sekilas, lalu melangkah keluar kamar.

***

        "Anda menyumbangkan barang-barang ini ke panti asuhan?" Puspita bertanya keheranan.

Aku menoleh, wanita yang terlihat cantik dalam balutan dress biru itu berdiri di sampingku. Mata sayunya ikut mengamati tumpukan peralatan sekolah, mainan dan pakaian yang tertata di teras. Sementara beberapa orang kurir sibuk menaikkan benda-benda itu ke atas sebuah pick up warna putih. 

"Ya," jawabku singkat.

Bisa kurasakan tembok tinggi dan kokoh yang selama ini  mengelilingi hatinya, makin memudar, lewat pandangan mata.

Seperti puncak dari rasa lega karena setelah malam itu tak pernah lagi aku menyentuh tubuhnya.

"Anda biasa melakukan yang seperti ini?" tanyanya dengan nada yang jelas terdengar berbeda. 

"Seperti apa?" Aku menyahut datar, sengaja memperpanjang percakapan kami kali ini.

"Menyumbang barang-barang untuk anak-anak itu?" Dia menatapku.

"Apa itu salah?" 

"Tidak."

"Jadi kenapa bertanya seolah aku melakukan hal salah?"

"Aku hanya ...." Dia menggantung ucapan. 

Kalimat yang sebenarnya aku yakin tadinya akan meluncur sebagai pujian, tapi segera urung ia lontarkan.

Aku tahu, selama ini ia pikir, aku adalah sosok paling tak punya hati yang pernah ditemui.

Kemudian kulihat penyesalan di wajah Puspita saat menyadari aku tengah menyunggingkan selarik senyum. Mungkin menyesal, karena tahu aku bisa menebak apa yang tadi sempat ia pikirkan.

Kebanyakan orang memang selalu berpikir hitam akan selalu hitam, dan putih selamanya putih. 

Tak pernah setuju ada yang namanya abu-abu.

***

Panti asuhan ini hanyalah sebuah panti kecil yang mungkin tidak banyak mendapat bantuan. Hingga anak-anak di sana begitu hafal dengan mobil milikku. 

Puspita menatap takjub, saat melihat bagaimana anak-anak itu berlarian menghampiri mobil kami. Wajah-wajah polos yang tampak bersuka cita karena akan mendapat sesuatu.

Aku hanya mengamati, saat Puspita meraih salah satu anak perempuan kecil dan membawanya ke dalam dekapan, dengan mata berkaca-kaca.

Kubiarkan dia menikmati rasa hangat di dalam hati. Perasaan yang akan selalu menyelimuti diri setiap kali telah menyenangkan orang lain. Sementara aku mengatur para pekerja menurunkan barang-barang. 

Mendengar bagaimana anak-anak itu bersorak saat berebut mainan. Pemandangan yang membuatku merasa ada.

Aku membalas sekilas senyum pemilik panti, lalu membiarkan wanita tua itu mengatur barang-barang yang kuberi. Tanpa berniat mengajaknya bicara omong kosong. Hanya sekadar memberi, lalu kembali ke rumah dengan perasaan hangat di dalam dada.

Ini adalah caraku membahagiakan diri sendiri selama beberapa tahun terakhir.

Bisa kurasakan tatapan aneh Puspita ke arahku diam-diam, sepanjang jalan pulang.

***

Ketakutan dan kebencian di mata Puspita sedikit demi sedikit mulai terkikis, aku tahu. Apalagi setelah dua atau tiga kali aku kembali membawanya ke panti.

Dalam keheningan aku terus mengamatinya. Ada satu sisi yang terus mengingatkan logika, sementara sisi lainnya menguatkan rasa yang makin nyata.

Sakit, kecewa, luka. Kembali menganga setiap kali aku menatap sepasang mata milik Puspita.

Rumah ini, kubangun untuknya. Kekasihku. Bangunan klasik. Perpaduan antara arsitektur Eropa kuno yang megah, dengan rasa jiwa yang begitu dalam. Hingga setiap ruangan dirancang istimewa. Penuh cinta.

Dia menyukai bunga anggrek. Dia menyukai warna hijau taman di halaman depan. Dia menginginkan patung malaikat kecil sebagai penghias air mancur di kolam tengah taman.

Aku membangun semua ini untuknya. Tapi nyatanya semua sia-sia. 

Dalam keheningan malam. Aku sekarat di atas ranjang.

Tiap kali mengingatnya. Separuh jiwaku. 

Jiwa terkutukku.

***