bab 6


Selama beberapa saat, kami dalam posisi itu. Lalu berakhir setelah Puspita menarik diri, melepaskan pinggangnya dari rengkuhanku. Dia melangkah mundur menjauh, sementara wajahnya tampak bersemu kemerahan.

Aku kembali merebahkan diri di atas ranjang. Mengumpat dalam hati. Kenapa keadaan harus mengalami ini. Lalu menghela napas sambil memejamkan mata sesaat. Menikmati rasa dingin yang kembali menjalar di sekujur tubuh, sekaligus dalam dada.

Di sampingku, Puspita kembali meneruskan apa yang tadi dia dilakukan. Tangannya dengan lincah memeras handuk, lalu menempelkan benda itu di dahiku.

Selama beberapa saat, ada jeda hening di antara kami. Saat aku membuka mata, kusadari sepasang mata itu beberapa kali mencuri pandang ke arahku. Tampaknya ingin membahas sesuatu, tapi tertahan. Tapi aku bisa menebak apa yang ingin ditanyakannya.

"Ada yang ingin kau bicarakan, Puspita?"

Dia terdiam untuk beberapa saat.
Lalu saat mendekat kepadaku untuk menempelkan handuk yang baru, dia bicara.

"Dokter Rayn memberi pesan untuk Anda, Tuan," ucapnya lirih.

Aku kembali menyentakkan kepala di atas bantal, lalu memejamkan. 

"Apa katanya?"

"Dia bilang ... saya harus lebih berhati-hati bersikap di depan Anda."

Aku menyipit.

"Lalu?"

"Lalu ... dia meminta saya menanyakan kenapa Tuan tak lagi datang ke kantornya beberapa tahun belakangan."

"Lalu?"

"Dia hanya tidak ingin ... Anda kembali kambuh."

Aku terdiam. Karena tak kudengar lagi pertanyaannya, aku membuka mata. 

Ternyata Puspita tengah menatapku, dengan ekspresi entah.

"Kenapa?" 

 "Tuan, apa Anda ... pernah gila?"

Aku menatapnya tajam. Membuat wanita itu agar merasa tahu diri betapa lancang pertanyaannya. Tapi keingintahuan memberinya keberanian. Dia menatapku dengan sorot redup. Tatapan seseorang yang sedang mengasihani. Padahal kupikir tadinya dia akan sangat ketakutan.

"Aku tidak gila, Puspita. Aku hanya pernah depresi. Itu berbeda."

***
       
Wajahnya makin terlihat cerah dan terurus. Tubuh yang semula kurus kini makin sintal dan berisi. Aku bahkan tak menyangka dia akan berubah semenarik sekarang hanya dalam waktu lima bulan.

Hubungan kami sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kami sudah saling bicara, tanpa saling menyentuh. Meski aku ingin. 

Kadang, saat tengah berjalan di atas rumput halaman rumah, aku melihat Puspita bersandar di balkon kamarnya. Dia menunduk, hingga tatapan kami bertemu di satu titik. 

Kunikmati itu, bagaimana rambut panjangnya bergerak-gerak lembut tertiup angin. Lalu selanjutnya dia seperti tersadar bahwa kami tengah saling memperhatikan, kemudian menarik diri dan masuk kamar begitu saja. 

Aku kembali melangkah dengan kedua tangan saling terkait di belakang. Meresapi harum rumput segar pagi hari. Menyadari bahwa yang telah kembali hidup, kini tengah tenggelam dalam rasa.

Satu sisi. 

.

       "Puspita," panggilku.

Sedikit tergesa, wanita itu segera datang menemuiku. 

"Ya, Tuan." 

Puspita berdiri di hadapanku dengan kedua tangan bertumpu di depan paha. Entah bagaimana pun jahat atau baik perlakuanku, tetap tidak mengubah bagaimana sikapnya. Masih tetap seperti seorang pekerja di hadapanku. 

Aku menyandarkan punggung di kursi, lalu menekuk dan meremas jari-jari tangan yang terasa lelah. Kemudian kembali menatapnya.

"Ganti bajumu. Kita akan keluar," perintahku.

"Ke mana?" 

Aku menatapnya, tanpa ingin menjawab pertanyaannya. Wanita itu mengerti, dia segera berbalik dan melangkah keluar menuju kamarnya.

Puspita mengenakan terusan warna merah seperti yang diperintahkan. Rambutnya yang tergerai panjang diberi jepit kecil membuat tampilannya terlihat semakin manis. Sementara aku mengenakan kemeja hitam dengan bawahan berwarna senada.

Aku menyalakan mesin mobil, lalu kami meluncur keluar halaman. 

Di sepanjang perjalanan kami saling diam. Puspita lebih memilih menatap keluar lewat jendela. Sementara aku menikmati musik yang mengalun lembut, sesekali mengikuti liriknya.

Berharap wanita di sampingku bisa mengartikannya, lalu memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di dalam sini.

....

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

(Right Here Waiting For You, by Richard Marx)

Mobil berbelok di depan sebuah gedung yang terletak di Jl. Thamrin.  Di mana di bagian atas terlihat beberapa layar bergambar dengan judul-judul bertuliskan huruf besar. 

Speed, salah satu judul film yang tertera. Dibintangi oleh Keanu Reeves, Dennis Hopper, dan Sandra Bullock.

Puspita menoleh padaku. Mulai mengerti ke mana aku membawanya kali ini. 

Di area parkir hingga pintu masuk terlihat banyak pasangan kekasih berlalu lalang. Bercanda mesra, tertawa, atau saling memeluk lengan. 

Kami berjalan masuk. Tanpa bicara, tanpa saling genggam, tanpa saling pandang. Aku tahu, baginya ini bukan kencan, tapi sebuah pekerjaan.

Di mana pekerja memang harus selalu melayani sang tuan.

***

    Puspita setengah berlari masuk kamar. Lalu pintu itu terhempas sedikit keras. Sementara aku melangkah menuju kamar sendiri. 

Kubuka pintu, lalu membuka dua kancing paling atas. Agar rasa panas di dalam dada segera berangsur menghilang.

Di depan sana, cermin memantulkan bayangan seorang pria tengah berdiri arogan. Sebuah lebam tercetak jelas di sudut bibirnya. Dia terdiam, hingga kami saling bertatapan. 

Ada emosi yang masih menyala di sini. Aku mendengkus. Lalu melilit punggung tangan dengan kain kasa yang telah ditetesi alkohol agar luka di punggung tanganku segera mengering. 

Seharusnya bajingan itu mati, andai saja kami tidak berada di tempat ramai. Seandainya saja Puspita tidak berteriak ketakutan sambil menghalangi tinjuku dengan tubuhnya sendiri. 

Seharusnya bajingan itu mati. 

Beraninya dia memperhatikan tubuh Puspita begitu lama!

Aku mengelap sudut bibir, mengecap rasa asin yang masih terasa tiap kali kutelan ludah. 

Seharusnya, aku tak membawa wanita itu keluar!

Aku menggeram. Sebuah melayang menghantam kaca hingga pecah berserakan di atas lantai. 

***

   Aku membuka mata, cahaya matahari berwarna kekuningan telah menggeser penerangan kamar.

Di sana, kulihat Puspita sedang berjongkok memunguti pecahan kaca semalam.

Aku menggeser tubuh, menumpukan dagu di atas bantal. Mengamati wanita itu dalam diam.

Kembali terngiang ucapan Anthony saat aku menemui bajingan itu di kantor agensi.

"Maaf, maaf Tuan Khai ... ini semua bukan bagian dari rencanaku," katanya dengan suara gemetar.

"Lalu rencana Tuhan?" 

"Ma ... maksud saya ... hari itu saat salah satu calo kami mendatangi desanya. Dia memohon-mohon untuk jadi tenaga kerja. Lalu saat tahu bahwa Anda biasa membayar dengan gaji lebih besar ... dia memintaku memasukkan ke dalam lis yang akan kami tunjukan pada Anda. 

Saat itu ... kondisi keuangannya memang sangat menyedihkan. Ibunya harus dioperasi sementara mereka sama sekali tak punya barang berharga yang tersisa."

Aku masih diam, mengamati lelaki itu dengan tatapan datar, sengaja menciptakan teror di kepalanya melalui jeda hening di antara kami.

"Jadi ... saya mengizinkannya atas dasar kemanusiaan, Tuan."
Dia masih berusaha menjelaskan dengan suara semakin terbata.

Kemanusiaan.

Kadang alasan rasa kemanusiaan malah menjerumuskan orang lain masuk ke lubang hitam lebih dalam.

"Saya mohon, jangan tarik kembali uang mukanya. Biarkan dia membayar sampai 6 bulan di sana. Tanpa gaji. Saya akan mencari alasan agar keluarganya mengerti kenapa tak ada kiriman uang sama sekali."

Puspita menoleh. Sedikit kaget karena ternyata aku telah bangun dan sedang mengamatinya. 

Aku tetap menatap wajah itu.

Dia seharusnya tumbuh menjadi wanita terpelajar yang pintar. Sayangnya, dia terlahir dalam keluarga sangat sederhana.

Kemiskinan memang seringkali jadi alasan utama kenapa bakat dan kecerdasan dinomorduakan. Tanpa diberi kesempatan untuk berkembang. Karena terpaksa kalah demi keadaan.

Aku bangkit dari ranjang, lalu berjalan mendekati wanita yang telah selesai mengumpulkan pecahan kaca.

Puspita bangkit berdiri, sesaat tatapannya terhenti di sudut bibirku sambil mengernyit heran.

Kuraih kepalanya, mengecup rambut Puspita lalu melangkah ke kamar mandi.


***