Bab 2


       "Jika para pekerja paruh waktu itu datang ke sini setiap hari lalu apa pekerjaanku, Tuan?" tanya Puspita, di hari ketiga setelah menyadari semua rutinitas yang terjadi di sini.

Aku menatapnya dari balik meja kerja. Mengamati wajah sederhana itu dengan sorot mata dalam.

"Biasakan dirimu menemaniku," sahutku datar.

"Maksudnya, Tuan?"

"Nanti kau akan tahu. Sekarang pergilah, kau mengganggu pekerjaanku." Aku mendengkus, lalu kembali mengamati layar laptop di atas meja.

Wanita itu berbalik dan pergi. Setelah itu tak pernah bertanya lagi. Lebih memilih diam-diam mengamati dan berusaha melakukan semua pekerjaannya dengan baik. 

Hari berikutnya dia bertanya tentang sebuah kamar di lantai dua yang berada tepat di sebelah kamarku dan  selama ini selalu tertutup, apa dia juga harus membersihkannya.

Lalu aku membawanya masuk, untuk pertama kali.

Kamar itu cukup luas. Sengaja dibuat untuk sepasang suami istri. Dengan ranjang king size berukir mewah di tepiannya. 

Selimut-selimut putih yang menutupi beberapa perabot. Kondisi ruangan sedikit pengap karena AC yang tak menyala ditambah minim cahaya. karena telah lama tak dibuka. 

Ada raut bingung dan tak nyaman di wajah Puspita. Lalu ia menoleh ke arahku.

"Apa saya boleh membuka selimut-selimut ini, Tuan?" tanyanya lirih.

"Lakukan sesukamu," jawabku datar. 

Sempat kulihat bagaimana raut wajahnya sedikit terbengong saat akhirnya selimut-selimut itu tersingkap. 

Kursi baca bersofa pink lembut, rak kaca dengan jajaran sepatu wanita, meja rias unik yang cantik dengan segala perlengkapannya, lalu lemari berisi pakaian wanita. 

Dia sempat kembali menoleh ke arahku. Kemudian raut wajah penuh pertanyaan itu kutinggalkan begitu saja.

Tapi ada kala sikap ingin tahunya tak bisa dibendung lagi. Seperti yang dilakukannya malam ini. 

"Anda akan pergi lagi, Tuan?" Wanita itu bertanya setelah sadar aku berjalan melewati kamarnya.

Aku menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Puspita.Untuk beberapa saat, kami saling menatap.

"Ya," sahutku.

"Kenapa Anda selalu keluar di malam hari, Tuan?"

Mataku menyipit.

"Ingat apa salah satu peraturan paling utama dalam perjanjian kerjamu?"

Puspita tak menjawab, seperti tengah berusaha mengingat-ingat.

"Jangan mencampuri urusan tuanmu," desisku.

"Maaf," sahutnya cepat. "Hanya saja ...." Ucapan wanita itu terhenti, ragu.

"Apa?"

"Kemarin malam Anda pulang dalam keadaan mabuk. Itu membuat saya takut," gumamnya lirih.

Aku mengangkat alis.

"Apa aku menyakitimu?" 

"Tidak, Tuan."

"Jadi apa yang kau takutkan?"

Dia terdiam. Aku menghela napas pendek dan melangkah keluar.

***

          Malam semakin larut. Kali ini, aku kembali dalam keadaan sepenuhnya sadar.

Puspita menyambut di pintu. Wanita muda itu terlihat sudah mengantuk, tapi berusaha menahan mata agar tetap terjaga di hadapanku.

Aku melewatinya. Membiarkan wanita itu mengunci pintu, sementara aku langsung menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas.

Dari balkon kamar bisa kulihat derasnya air hujan yang memantulkan cahaya lampu di luar sana. Hening. Dingin. Membangkitkan hawa tersendiri di dalam sini.

Setelah sekian lama tak kurasakan gejolak seperti ini. Hingga otakku dipenuhi imajinasi. 

Tepat seminggu Puspita bekerja di sini. Selama beberapa malam aku harus menahan keinginan untuk menjamah tubuhnya. Tapi malam ini aku tahu dia sudah mulai terbiasa.

Aku menuruni anak-anak tangga yang memutar menuju lantai bawah. Ruangan hanya diterangi cahaya temaram lampu tidur di atas meja. Menciptakan bayangan besar yang bergerak menuju kegelapan. Kegelapan dari hidup seorang pria yang enggan menikah untuk kedua kalinya.

Pintu kamar tertutup rapat. Dari sela ventilasi udara, gelap itu terlihat, bisa kupastikan Puspita sudah terlelap di dalam sana.

Aku mengetuk. 

Sekali, dua kali. Hingga berulang kali. Beberapa saat kemudian lampu dalam kamar menyala, lalu pintu terbuka. 

Keterkejutan jelas terlihat di sorot mata wanita itu. 

"Tuan Khai?" Dia membelalak heran. Kaget dan sedikit tersipu malu, mungkin karena penampilannya yang berantakan.

Berantakan, tapi seksi. Daster lengan pendek dengan bahu sedikit terbuka tak mampu menutupi lekuk tubuh.

Darah berdesir hangat. Bercampur dengan debaran dada dan imajinasi yang semakin liar di dalam kepala.

"Ya?" Aku mengangkat alis.

"Ada apa?" tanyanya keheranan.

"Ada apa?" ulangku.

"Ya, ada apa?"lirihnya.

"Apa maksudmu ada apa?"

"Maksudku, ada yang bisa saya bantu?"

"Tentu saja ada." Aku menyipit.

"Apa?"

"Anthony tidak memberitahu semua pekerjaanmu?"

"Menjadi asisten rumah tangga?"

"Lalu kenapa gajimu berkali lipat daripada yang seharusnya?"

"Karena ... Anda sangat cerewet dan kasar, jadi tidak ada yang betah bekerja di sini."

Aku menahan napas. Sialan pecundang itu. "Lalu apalagi?"

"Tidak ada."

"Kau sudah menandatangani kontrak?"

"Ya, Tuan."

"Oke."

Aku mendorong bahunya hingga ia tersurut ke belakang. Sorot matanya makin menunjukkan kebingungan.

Aku menutup pintu kamar. Memutar kunci, lalu berbalik ke arahnya dan mulai membuka kancing kemeja satu persatu.

"Tuan?" 

"Ya?"

"Anda mau apa?"

"Tidur denganmu."

"Apa?"

Matanya membelalak kaget. Sekilas terlihat kemarahan di paras ayu itu.

"Seperti yang tertulis dalam surat kontrak. Bahwa pekerja yang bekerja padaku harus siap melayani dalam hal apa pun. Termasuk tidur denganku."

"A-apa?" Matanya membesar. Bibir sensualnya sedikit terbuka. 

Aku berjalan mendekat. Bersamaan dengan langkahnya yang justru semakin membuat jarak. 

"Aku tidak mau!" Dia menggeleng dengan raut wajah panik. "Bisakah kita bicara dulu?"

"Bicara apalagi?"

"Pak Anthony tidak membicarakan tentang ini. Saya benar-benar tidak tahu. Sungguh." 

Aku mengembuskan napas, kasar. Mulai terpancing emosi karena hasrat yang harus tertahan. 

"Oke, kalau begitu kuanggap ini sebagai pembatalan kontrak," geramku.

Dia terdiam, kaget.

Aku menatapnya tajam, menunggu reaksi yang sebenarnya telah bisa kuperkirakan.

"Jadi ... itu artinya Tuan akan mengambil kembali uang muka yang sudah diberikan untuk operasi ibuku?"

"Ya." Aku berbalik akan keluar.

Dia bergerak cepat menuju pintu, menghalangi langkahku. Lalu mulai dengan sorot memohon. Seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi tertahan di tenggorokan. Lalu yang keluar hanya berupa tetes air yang meluncur dari sudut matanya. 

"Menyingkir dari pintu," desisku.

Puspita masih menatapku dengan lelehan air mata. Sesaat wanita itu menggigit bibir, seperti menahan agar tangisnya tak tersembur keluar.

"Tuan ...."

"Menyingkir!" 

"Jangan batalkan kontraknya." Dia bicara pelan.

Aku menatapnya.

Dia balas menatapku. Mata sayu basah dengan bibir sensual yang digigit pelan.

***

  Pagi. Aku terbangun dalam keadaan tubuh hanya tertutup selimut, masih di atas ranjang kamar Puspita. Sementara wanita itu sudah tak terlihat lagi.

Mungkin dia sudah mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya.

Aku menggeser tubuh. Sejenak mengusap rambut. Lalu membuka selimut dan segera mengenakan pakaian yang telah tertata rapi di sisi ranjang.

Dengan gerakan asal, aku memakai kemeja dan celana. Lalu keluar dari kamar Puspita. Baru kusadari, rumah dalam keadaan terlalu hening kali ini.

"Puspita!" Aku memanggil.

Tak ada sahutan.

Ke mana dia? Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah.Tapi wanita itu tak terlihat di mana pun. 

Aku kembali mencari.

Akhirnya kutemukan sosoknya. Dia tengah berdiri di dekat pintu keluar menuju kolam. Berdiri mematung sambil memeluk tubuh sendiri. 

Dia tengah menangis di sana.

Aku ingin bertanya. Tapi aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara. Jadi aku membiarkannya.

***

       "Puspita, aku ingin bertanya satu hal padamu." Aku berucap datar setelah ia mengantarkan secangkir kopi ke meja kerja.

Tepat di hari ketiga setelah malam panas itu.

Puspita menunduk. Sebenarnya aku tahu, sikapnya adalah bentuk halus dari membuang muka di hadapanku. Dia membenciku karena peristiwa malam itu.

"Apa kau pernah mengalami pemerkosaan?" tanyaku sambil menatap wajahnya lekat.

Dia menggigit bibir.

"Andalah yang telah memperkosa saya, Tuan," desisnya menahan marah.

Aku menghela napas. 

"Sebelumnya."

"Tidak."

"Itu berarti kau pernah melakukannya dengan pacarmu?" Mataku menyipit. 

Dia sedikit tersentak, sekilas mengangkat wajah menatap mataku, kemudian kembali menunduk dengan ekspresi gugup.

"A- aku," jawabnya terbata.

"Kau apa?" desakku tak suka.

Dia terdiam.

"Jawab, Puspita!"

Wanita itu tersentak kaget. Tangannya yang gemetar sibuk meremas celemek yang ia kenakan.

"Ya, aku ... pernah melakukannya," jawabnya lirih.

"Aku memang sudah menduga." Aku berdecak sinis.

Dia mengangkat wajah. Lalu menatapku dengan raut wajah tersinggung.

"Tapi aku melakukannya dengan suamiku sendiri!"

Mataku menyipit. "Suami?"

"Ya. Aku sudah menikah, Tuan."

"Kau seorang janda sekarang?"

Dia mengatupkan mulut, sesaat berpaling ke arah lain. Lalu saat kembali menoleh padaku, kusadari kaca-kaca yang mulai menggumpal di pelupuk matanya.

"Aku masih memiliki suami, Tuan," tegasnya, dalam desis pelan. 

Rahangku mengeras. Bersamaan dengan dada yang memanas.

"Oke. Sekarang pergilah." Aku menyandarkan punggung di kursi.

Wanita itu segera berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan.

***

Selama beberapa hari, kami diselimuti keheningan yang menyebalkan. Bisa kulihat bagaimana caranya menghindar, antara ketakutan dan kebencian yang menyatu menjadi tingkah kaku di hadapanku.

 Aku melintas di hadapan wanita itu, dengan masih menggulung lengan kemeja.

 Puspita yang tengah mengelap salah satu guci di ruang tamu, segera menghentikan gerakannya. Lalu menoleh dan menunduk sungkan sebagai basa basi antara  pekerja dan majikan.

 Dia segera membuang pandangan ke arah lain saat tatapan kami kembali bertemu. 

 Aku mendengkus. Lalu melangkah keluar. Beberapa saat kemudian telah mengendarai mobil meluncur ke arah jalan raya.

.

 Namaku Khaisar Bangsawan. Hidup di dalam sebuah rumah besar di daerah Pondok Indah, Kota Jakarta. Selama bertahun-tahun menghabiskan waktu untuk bekerja dalam diam. Sendirian.

 Setelah kejadian terkutuk malam itu, aku memutuskan bersenang-senang dengan semua wanita yang kumau. Hanya untuk membalas sesaknya dada tiap kali teringat tentang pengkhianatan itu. 

Selama bertahun-tahun aku menyeret diri dalam hiruk pikuk malam. Alkohol dan wanita, dua hal yang sempat membuatku nyaris terlena. Lalu di satu titik, aku kembali menyeret diri untuk menikmati hening, bukan riuh rendah musik dan derai tawa di klub-klub malam. 

Aku kembali menjadi aku. Kembali menenangkan diri dalam duniaku.

Kemudian memilih hidup bersama pekerja paket komplit yang disediakan oleh seorang agen tenaga kerja. Dengan satu syarat paling utama. Bahwa wanita yang bekerja padaku harus seorang gadis. Ini bukan tentang keperawanan, tapi tentang etika. Aku tidak suka diduakan.

 Dia harus melakukan tugas sebagai asisten rumah tangga, juga melayaniku di atas ranjang. Itulah kenapa, aku berani memberi gaji yang cukup besar perbulan.

 Kali ini, ada yang berbeda. Mereka melakukan persekongkolan untuk menipuku. Bahwa wanita yang bekerja padaku, yang telah kutiduri, ternyata seorang istri.

Juga seorang ibu.

***