Mengantar Indri pulang
Bismillah 

 "Bima Si Ganteng Dari Uwentira"

#part_2

#by: R.D.Lestari.

   Karena aku punya kekuasaan penuh dalam pekerjaanku. Aku bisa dengan mudah menyuruh pelayan sesuka hati. 

   Tak!

   Dalam satu kali jentikan jari, ruangan tempat rapat biasa di laksanakan berubah menjadi ruangan makan malam romantis. Penuh lilin dan bunga mawar juga makanan enak di atas meja. Sebenarnya untuk keseharian kekuatan kami pantang di keluarkan. Namun, untuk mempersingkat waktu, tak mengapa.

    Aku menunggu gadis itu, sementara pelayan sudah menjemput gadis cantik itu ke kamarnya. Menunggu bukan hal menyenangkan bagiku. Ada rasa deg-degan saat menunggu dirinya. 

    Krieettt!

   Gadis itu masuk. Mata nya menatap sekitar. Ia kelihatan amat bingung. Walau aku tak menatapnya secara langsung, aku bisa melihatnya dengan kekuatanku.

   Aku bangkit dan berbalik. Ia menatapku takjub, bisa ku baca pikirannya saat itu. Dia bilang aku ganteng, he-he-he, sepertinya ia punya perasaan yang sama padaku.

   "Ayo, mari makan," Aku berusaha ramah. Malam ini dia terlihat amat cantik, beda dengan keadaannya tadi siang yang lusuh dan juga sedikit bau. 

   Gadis itu tersenyum amat manis, membuat jantungku berdegup kencang karena nya. Ia amat berbeda dengan Silva. Aura kebaikan nampak dari tubuhnya. 

    Makan malam bersamanya di suasana romantis nyata nya tak membuat gadis itu menunjukkan jati dirinya. Ia makan cukup lahap, mengunyah udang tepung crispi dan juga steak, hingga kulihat ada noda saos di pipinya. Ia terlihat amat menggemaskan.

   Tanpa kusadari tanganku terulur ke arahnya, jemariku menghapus noda di sudut bibirnya. Ia nampak terkejut tapi tak menepis tanganku.

   Alunan musik indah mengalun di tengah aroma bunga mawar dan lavender yang menenangkan. Aku bangkit dan mengajaknya berdansa di antara sinar lilin yang menjadikan suasana romantis.

   "Mau berdansa denganku?" aku menawarkan diri. Ia tampak enggan tapi tak menolak.

   Gadis itu akhirnya bangkit dan menyambut uluran tanganku. 

    Aku menggenggam tangannya,dingin. Kurasakan tubuhnya gemetar. Mungkin ia grogi berhadapan dengan lelaki tampan sepertiku, he-he-he, aku sempat membaca pikirannya.  

   "Besok aku akan mengantarmu pulang," ucapku . Gadis itu sedikit terkejut. Ia mengulas senyum getir.

    "I-- iya, Pak," lirih ia menjawab. 

   "Jangan panggil Pak, panggil Kakak aja. Umur kami berapa?"

   "Dua puluh satu tahun, Kak,"

   "Aku dua puluh enam tahun, kita hanya selisih lima tahun aja," aku menatapnya lekat, ia tampak salah tingkah.

   "Ayo, aku antar ke kamarmu, kamu harus istirahat," ia mengangguk dan berjalan beriringan bersamaku menuju kamarnya.

    Berulangkali kudengar ia memuji diriku hingga ia terjatuh. Aku tersenyum geli. Lucu sekali manusia ini. Terpana pada ketampanan sampai tersungkur. 
   
    Aku meraih tangannya dan menolongnya berdiri. Ia cukup kikuk, tapi tak menampik bantuanku. 

    "Selamat istirahat, besok aku antar kalian pulang,"

    Gadis itu hanya mengangguk dan masuk ke kamarnya. Bisa kurasakan getaran dalam hatinya. Membuatku tambah bersemangat untuk mendekati nya.

***

   Sebelum waktu subuh aku sudah bersiap-siap untuk mengantar Indri dan teman-temannya. 

    Sengaja berdandan seganteng mungkin untuk menarik perhatiannya. Gadis itu memang sudah menancapkan panah asmara sejak pertama kali melihatnya. 

     Setengah jam menunggu di luar membuat diriku mulai di rundung kebosanan. Gadis itu akhirnya datang bersama dua temannya yang curi-curi pandang padaku.

    Sebagai cowok ganteng aku tau sekali perasaan cewek-cewek ini, tapi sayangnya, cuma Indri yang berhasil mencuri perhatianku, walaupun selama perjalanan gadis itu seolah acuh, tapi ku tau ia diam-diam memperhatikan ku. Biasalah cewek, jinak-jinak merpati.

     Berulang kali aku melirik ke arah Indri, kadang pandangan kami saling bertemu, dan ia langsung membuang pandangannya ke arah jalan. Dapat kurasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Dia ...