Tujuh

"Hahahahahaha ...." 

Aku mendelik pada dua orang lelaki beda usia yang sedang duduk di depanku, sedari tadi kerjaan mereka hanya menggodaku lalu tertawa tak berhenti, sungguh persekutuan yang tercela. Untunglah Rena tadi ijin pulang duluan sehingga dia tak ikut merundungku. 

Selepas kejadian pernyataan cinta yang kelewat mengenaskan, Dewa langsung membawa aku dan Gio ke kafe yang berada dekat dengan rumah sakit untuk makan cemilan karena Gio lapar. 

Sekaligus katanya Dewa, dia khawatir kalau wajahku akan viral kalau terus ada di situ. Ya, viral karena menyatakan cinta pada mayat tentu tak lucu. 

Menyebalkan. 

"Udah deh Pak, saya kaya gitu karena petugas itu juga yang salah kasih info!" rutukku membela diri. Saat Dewa terus mengungkit masalah wajahku yang lucu ketika menangis. 

Tawa Dewa akhirnya berangsur berhenti begitupun Gio saat melihatku memajukan bibir. Aku sebenarnya heran, katanya mereka itu bukan papah dan anak yang sebenarnya tapi kok bisa sifatnya sama? Aneh. 

"Iya, Bu Guru maaf, tapi terlepas dari itu saya senang hoax itu bikin saya tahu perasaan Bu Guru masih ada, terimakasih sudah menyayangi saya." 

Uhuk! Aku langsung terbatuk padahal aku baru saja minum teh manisku. 

Aku melotot kaget. Tidak menyangka Dewa akan mengucapkan hal yang harusnya disensor di depan anak kecil. 

"Pak Dewa, jangan bilang hal yang begitu di hadapan Gio saya kan jadi malu," demoku kesal.

Dewa tersenyum jahil. "Gio kan anak saya dan anak Bu Guru juga, jadi gak masalah! Dia tahu kok Bu Guru sayang sama saya, iya kan Gio?"

"Iya, Gio tahu!" cengir anak itu tanpa merasa bersalah. Aku merasakan pipiku memanas dan suasana di sekitarku gerah. 

"Eh, kok saya yang sayang sama Pak Dewa bukannya Pak Dewa duluan yang bilang? Jangan memutarbalikan fakta ya?" Aku melipat tangan kesal. Berani-beraninya mereka bersekutu, aku melihat Pak Dewa dan Gio bergantian pura-pura marah. 

"Enggak. Kan satu rumah sakit tahu Bu Guru yang bilang sayang. 'Aku sayang kamu Dewa! Aku sayang!' Begitu kan?" Dewa menangkupkan tangan di dada lalu bergoyang-goyang menggoda. 

"Enggak! Pokoknya eggak!" Aku membuang muka kesal, tak terima kalau aku dituduh yang pertama kali mengungkapkan. 

"Ih, Bu Guru dan Papah lucu marahannya kaya anak kecil! Hahaha ...." Gio tergelak sambil memakan eskrim di tangannya lahap. Pipinya mengembung sangat menggemaskan, tangannya menunjuk kami berdua. 

Aku dan Dewa jadi saling pandang melihat tingkah Gio yang sok dewasa, tak lama kami tertawa. Ternyata bahagia itu sederhana, saat aku, kamu dan dia menjadi keluarga. 

****

Esok harinya. 

Mendengar suara klakson mobil berulang kali dari luar pagar rumah membuatku langsung menyambar tas kerjaku. Tadi aku diberi tahu kalau Dewa dan Gio sudah hampir sampai, tapi tak kusangka akan secepat ini. 

Aku langsung mematut wajahku di cermin, tidak ingin terlihat buruk di depan Dewa karena kami bukan pasangan seperti dulu lagi yang kurang memperhatikan penampilan. Dewa jauh berbeda sekarang terlihat lebih keren, aku mengakuinya. Meksi aku tak secantik Maura, paling tidak nggak beda jauhlah. 

Pagi hari ini aku memang setuju makan pagi bersama mereka. Kabarnya, memang Dewa akan melakukan perjalanan bisnis jadi ada yang mau dia berikan kepadaku sebelum dia pergi. Entahlah apa itu, yang jelas dia tahu kalau aku sudah memutuskan tak mau berpacaran jadi jika mau serius silahkan tempuh semua konsekwensinya. 

Bukan aku sok suci atau sok alim. Tapi, di umurku yang tak muda lagi dan seiring dengan pemahaman yang aku dapat pacaran memang tak memberikan manfaat apapun karena aku pernah merasakannya, semua itu hanya meletakkan perih maka aku tak mau seperti itu lagi. Terlebih kedua orang tua kami pastinya akan kaget jika tahu kami kembali dekat. 

Agh, orang tua? Gawat! Ibu kan masih belum berangkat sementara pastinya Dewa ....? 

Menyadari kekeliruanku, aku langsung keluar kamar untuk mencegah bertemunya Ibu dengan Dewa. Naas, aku terlambat mereka sudah bertemu saat ibu membuka pintu karena Dewa mengetuknya. 

"Untuk apa kamu ke sini lagi?" tanya ibu sinis. 

"Maaf Bu, saya mau minta ijin mengantar Nia, diperbolehkan Bu?" pinta Dewa sambil melihatku yang berjalan mengendap di belakang ibu dengan kikuk. Dewa sama sekali tidak tegang seperti sebelumnya, dia terlihat sangat santai menghadapi ibu. 

Aku menelan ludah, menyesalkan aku yang lupa kalau ibu hari ini tidak ada jadwal ngaji sehingga pastinya masih ada di rumah. Tadinya memang aku berencana menyembunyikan dulu kabar bahwa aku sudah berbaikan dengan Dewa tapi sayang backstreet yang kurencanakan gagal, mungkin Allah memang tak menginginkan aku bermain di belakang jadi semua upayaku untuk tidak ketahuan malah menuai curiga. 

Melihat arah mata Dewa, ibu memutar tubuhnya sehingga berhadapan denganku.

"Kenapa kamu gak bilang kalau Dewa yang jemput? Pantas kamu belum ngotak-ngatik Yolanda di pagi ini seperti biasa!" tegur ibu matanya nampak kecewa. 

Aku menundukan kepala, bingung. Aku tahu ibu bukannya tidak memahamiku, tapi mungkin dia takut anaknya terluka lagi dan hampir sekarat karena cintanya yang pernah dikhianati oleh orang yang sama, terlepas ibu tidak tahu hal yang terjadi sebenarnya. 

"Maafkan saya Bu, saya yang memaksa Nia untuk ...."

"Bu, maafkan Nia, tapi Nia memang tidak bisa membohongi perasaan Nia Bu, lagipula Dewa sebenarnya bukan papahnya Gio Bu, Dewa tidak seperti yang ibu pikir!" potongku cepat. 

Aku menatap lembut mata ibu yang menatapku tajam lalu aku raih tangannya berharap ibu mau melembutkan hatinya. 

"Tolong Bu, beri Dewa kesempatan! Gio anak kakaknya Dewa Bu," ulangku menegaskan sehingga Dewa dan ibu sama-sama terlihat terkejut.

Aku meminta maaf lewat mataku pada Dewa, saat mata kami tak sengaja bertemu. Semoga dia memahami semua kejujuran ini aku lakukan karena aku tidak mau ada kesalah-pahaman lagi. 

"Bagaimana bisa Gio bukan anak kamu Dewa?" bentak ibu. Kini pandangan ibu teralih pada Dewa.

Tubuh Dewa tersentak melihat sorot mata ibu yang terlihat marah, namun pria dewasa seperti Dewa pasti bisa mengendalikan keadaan dengan cepat, dia tetap terlihat tenang. 

"Betul. Kakak saya yang menghamili Yuli dan tak mau bertanggung jawab maka saya yang menggantikannya, tapi itu sudah berlalu sekarang bagi saya Gio adalah anak saya, tidak ada yang bisa merubahnya!" ujar Gio tegas. 

Aku terkesiap. Jujur, aku baru pertama kali melihat wajah papah Gio yang sesungguhnya, dia seakan siap pasang badan jika ada yang menyakiti hati dan jiwa anaknya. 

"Oh, jadi kamu membela keluarga kamu yang berantakan itu? Ternyata keluargamu itu gak ada yang benar, semua sama!" umpat ibu membuatku langsung meradang. 

"Ibu! Ibu tak pantas mengatakan itu pada Dewa, mereka keluarga baik-baik, tolong Bu jangan ungkit masa lalu!" sergahku kesal. 

Aku tak menyangka ibu tega berkata sekejam itu pada Dewa. Untunglah tidak ada Gio, pasti anak itu diminta menunggu di mobil. 

"Kamu mulai menentang ibu ya Nia, sudah! Kamu jangan dekat-dekat Dewa kecuali ...." 

Ibu memandang aku dan Dewa bergantian sementara kami terdiam waspada. 

"Kamu temukan ayah Gio yang sesungguhnya dan serahkan anak itu pada ayahnya! Jika kamu mau menikah sama Nia, saya gak mau anak saya mengurusi anak dari hasil zinah!" bentak ibu marah.

Seketika tubuhku dan Dewa mematung tak percaya bahwa syarat itu keluar dari mulut ibu yang paham agama. Tanpa sadar air mataku menetes merasakan perih. Sungguh, perih ini bukan karena perih tak diijinkan bersama Dewa tapi perih ibu bisa berubah menjadi kasar hanya karena hubungan cinta anaknya. 

"Dengar! Saya tak ijinkan kamu mendekati atau pergi dengan anak saya sampai kamu bisa memilih anak saya atau anak hasil zinah itu!" ancam ibu seraya bergegas pergi dengan memasang wajah marah. 

Tubuhku langsung serasa dipaku, seakan sendiku dipahat hanya untuk merasakan sakit. 

Ya Allah! Demi Engkau yang mencipta rasa dan pesona.

Kenapa rasa yang ada terlalu sakit kurasa? Aku kaget, kenapa ibu bisa sekejam itu? Aku memandang Dewa yang masih terdiam sekalipun tubuh ibu sudah berlalu dari hadapannya. 

Wajah Dewa yang semula tenang berubah menjadi merah padam. Kedua tangannya mengepal di samping garis celana.

Kala itu aku bisa merasakan jiwa pria itu terluka. Dia terdiam dengan gejolak yang membakar hatinya sebagai seorang pria juga papah. 

"Pak Dewa, maafkan ibu saya, maafkan!" Tanpa bisa kutahan buliran beling jatuh ke pipiku. Dewa mengalihkan pandangannya tepat ke mataku. Mata elangnya bergerak-gerak seakan mencari kekuatan di dalam mataku yang berkabut. 

"Saya gak apa-apa. Kamu tenang saja, saya yakin ibu kamu mengatakan itu karena takut kamu kecewa lagi! Maka, saya akan menunjukannya bahwa saya tak akan mengecewakanmu lagi!" ujar Dewa berat. 

"Bagaimana mungkin? Kita tidak bisa membiarkan Gio sama yang lain? Kamu dan Gio udah jadi keluarga, ikatan kalian sudah sangat dalam!" cicitku.

"Tenanglah! Saya sudah istikharah, selama kita terpisah saya yakin doa saya yang mengantarkan kamu bertemu dengan saya lagi. Maka kali ini pun saya akan berdoa, saya tak akan menyerah, insyaAllah. Entah bagaimana caranya, sebelum takdir mengatakan saya kalah maka saya takkan menyerah, semoga suatu saat nanti ibu kamu bisa menerima Gio dan saya. Kamu mau bantu kan?" tanya Dewa menatapku dalam seakan meminta keyakinan. 

Tanpa berpikir lama, aku langsung mengangguk seakan terbius oleh ucapannya. 

"Iya, insyaAllah saya mau." 

Dewa tersenyum lega mendengar jawabanku, "Nia, kamu tahu kenapa saya bisa yakin sama kamu?" 

Aku menggeleng sambil memaksakan senyum. 

"Itu karena, cinta yang dulu ternyata tak pernah hilang bahkan entah kenapa saya rasa kini semakin dalam sama kamu!"

Mendengarnya mengatakan itu, perlahan tapi pasti aku merasa ada aliran rasa halus yang merambat dan tiba-tiba membuat hati yang beku menjadi menghangat. 

*****

Aku memeriksa ponsel. 

Apakah ada yang salah? Soalnya dari tadi perasaan tidak ada notif satupun yang masuk, bukan dari yang lain tapi dari Dewa. Jadi sebenarnya apa yang rusak? Hatiku apa hapeku? Entah. 

Pasca tidak jadinya makan pagi kami Dewa belum menghubungiku sama sekali. Mungkin karena kejadian itu cukup mengagetkan kami berdua, termasuk Dewa juga gagal memberikan sesuatu yang dijanjikannya untukku. 

Aku mendudukan pantatku di kursi, menghela nafas berat. Aku alihkan pikiranku yang sesak karena Dewa ke arah tumpukan buku PR anak-anak agar aku tak terlalu gelisah.

"Iya Papah, iya ini Pak Amin udah datang!"

Di tengah penantianku, tiba-tiba aku mendengar suara Gio berada di luar ruangan guru sedang dihubungi seseorang, tampaknya itu Dewa. 

Semenjak kejadian Gio tidak jadi dijemput Maura, anak itu dibekali papahnya ponsel agar mudah dihubungi tapi tanpa paket data agar Gio tak main internet macam-macam. Untuk hal ini aku setuju dengan Dewa. Zaman sekarang, arus negatif banyak yang masuk lewat media internet, maka sebagai orang tua Dewa memang harus hati-hati dalam menjaga Gio. 

Dengan gaya elegan, aku mendekat ke arah Gio pura-pura memastikan keadaan muridku. Padahal sejujurnya aku hanya ingin tahu Dewa sudah sampai di Singapura atau belum? Kenapa dia tak menghubungiku? Biasanya dia memberikan info sekalipun tak pernah kubalas. 

Itulah sementara yang ingin kutanyakan, hatiku ini emang aneh saat Dewa memberondongku dengan chat-nya aku merasa terganggu tapi jika dia tak memberikanku pesan rasanya ada yang hilang.

Aku sengaja berdiri di depan Gio agar dia tahu aku ada di depannya. Mata anak itu menatapku polos lalu dia tersenyum lebar menampakan giginya yang berbaris putih.

"Papah, di sini ada Bu Guru mau ngomong nggak?" tanya Gio seakan tahu maksudku mendekatinya. 

Aku tersenyum bahagia tanda misiku berhasil. Aku menatap Gio harap-harap cemas, menunggu jawaban seseorang di ujung telepon. 

"Enggak ya. Kenapa?" 

Gio mengangguk-angguk sementara aku kecewa. 

"Oh gitu. Iya Pah, dah Papah!" 

Aku menekuk wajah, dari gelagat Gio aku tahu Dewa bilang tidak mau berbicara denganku. Rasanya aku jadi hilang percaya diri sekarang, kesal. 

"Udah ya neleponnya Gio?" tanyaku penasaran.

Gio mengangguk, "Iya, Papah Dewa baik-baik aja katanya," jawab anak itu jujur. 

Aku mensejajarkan tinggi dengan Gio lalu mengelus puncak kepalanya. 
"Alhamdullilah kalau baik. Tapi ... Papah bahas hal lain gak? Atau udah bilang gitu aja?"

"Bilang .... "

"Bilang apa? "

"Bilang kalau Gio jangan makan sembarangan," jawaban Gio lagi-lagi mengecewakanku. 

Aku mengangguk memahami menyembunyikan penyesalan karena terlalu berharap. 

"Ya udah, Gio hati-hati ya pulangnya!" Akhirnya aku menyerah. 

Benar. Rindu itu menyiksa biar Dilan dan Milea saja. Aku dan Dewa lebih baik tidak. 
****

Malam harinya. Waktu menunjukan jam 11.00 mustahil Dewa akan menghubungiku. 

Mataku sama sekali tak bisa terpejam. Pikiranku melayang jauh ke negeri sebrang, sampai sekarang Dewa belum juga mengirimkan chat padaku. 

Apa semua karena omongan ibu? Apa aku menghubunginya lebih dulu? Agh, aku bolak-balik cemas di atas tempat tidur. Ribuan pertanyaan tentang Dewa seakan menumpuk dalam benak. 

Derrt! Derrt! Derrt! 

Akhirnya benda pipih itu bergetar dan layarnya menyala. 
Jam 11 malam? Siapa yang menghubungiku? Seketika bulu romaku berdiri. 

Aku beranikan diri mengambil ponsel di atas nakas. Melihat layar di ponsel telepon itu berasal dari privat nomor. Ragu aku mau mengangkatnya, tapi ponselku terus bergetar. 

Bahkan setelah aku mendiamkannya lama, ponsel itu terus bergetar membuatku menerka pasti sangat penting. 

"Assalammu'alaikum? Ha-halo!" jawabku terbata.

"Wa'alaikumsalam. Nia, nunggu teleponku ya?"

Astaghfirullah! Seketika mataku membulat, sergapan rasa rindu membuncah menjadi sebuah bentuk garis di bibirku. 

"Pak Dewa, kok malam-malam neleponnya? Pake privat nomor lagi! Saya pikir Pak Dewa lupa kalau ...."

"Saya gak lupa, saya hanya lagi disibukan oleh urusan di sini. Nia, sebenarnya ada hal penting yang harus saya bicarakan!" potong Dewa cepat nada suaranya berubah khawatir. Seperti bukan dia yang biasanya. 

"Apa Pak?" tanyaku gugup. Aku belum terbiasa memanggilnya Dewa, entah kenapa. Prinsipku jika janur kuning belum melengkung, posisiku hanya sebagai wali kelas Gio. 

Pertahanan yang normal bagiku sebagai yang pernah dikhianati dan cintanya gagal. 

Terdengar helaan nafas berat di ujung sana, aku menunggu dengan dada berdebar. 

"Andro, kakakku kembali. Dia menemukan Gio, kata Pak Amin tadi siang mobil kami hampir saja dicegah olehnya. Andro sangat berbahaya, Nia. Maaf, sepertinya saya berencana akan memindahkan sekolah Gio!"

Degh! Jantungku rasanya berhenti berdetak saat Dewa mengatakan kabar yang mengejutkan itu. 

Apakah aku akan berpisah dengan Gio dan Dewa lagi? Pikiranku seketika berhenti berpikir dan mulutku membisu. 

"Nia? Nia, kamu baik-baik saja?" Suara Dewa memanggil berulang kali memastikan. Aku langsung tersadar aku sudah tercenung lama. 

"Sa-saya bingung Pak, apakah ini keputusan yang tepat? Bagaimana bisa gara-gara Pak Andro kembali Pak Dewa dan Gio harus berkorban?" berondongku tak terima. 

"Entahlah, saya kira saya memang takut kehilangan Gio. Dan saya mau berbuat apapun untuknya! Termasuk pergi jauh!" ujar Dewa pelan tapi dapat membuat jiwaku kembali terhentak. 

Aku bingung.

"Itu berarti kalian bisa jadi pergi?" tanyaku menyembunyikan dada yang tiba-tiba sesak. 

"Iya, mungkin ...."

Pikiranku mendadak beku. Aku sadar sekarang, Gio lebih penting dari apapun daripada aku. 

Ya Allah! Mungkin cintaku memang ditakdirkan datang untuk pergi. Tapi kenapa? 

"Nia?" panggilnya setelah lama kami hening tak saling bersuara.

"Apa Pak?"

"Saya rindu."