Empat
Jakarta memang banyak memberikan arti bagiku. Ibu kota ini memiliki arti lebih karena sebuah janji dan pertemuan yang menyimpan perih.

Janji untuk tidak menyesali keputusan yang diambil dan pertemuan yang merubah kata 'harapan' menjadi kata 'ikhlas'.

Rentetan kejadian yang mengejutkan tentang kembalinya Dewa dengan membawa Maura, layaknya ucapan Cinta pada Rangga. Betul! Yang dia lakukan padaku itu jahat.

Sejahat ban motor yang tiba-tiba bocor, eh, bukan! Lebih jahat Dewa sebenarnya. 

Ya, pagi ini aku mengalami kejadian sial yaitu ban bocor padahal aku sedang terburu-buru ke sekolah. Aku memicingkan mata, sejauh mata memandang aku tak melihat bengkel sama sekali.

Aku menghela nafas berat, setelah Dewa mengabaikanku sekarang motor ini juga mengabaikanku. 

Jam di tanganku menunjukan pukul tujuh pagi. Itu berarti setengah jam lagi kegiatan KBM akan dimulai, aku berdiri gelisah jika tak cepat kuselesaikan masalah ban bocor ini mungkin bisa jadi aku akan telat dan mendapat nyanyian dari Bu Wakasek terbawel.

Aku berpikir siapa yang bisa aku hubungi. Otakku tiba-tiba teringat pada Dimas, dia tadi datang lagi ke rumah seperti biasa berharap aku mau diantar olehnya. Padahal dia tahu aku punya Yolanda. 

Benarkah aku harus menghubungi Dimas? Bagaimana kalau dia besar kepala? Dan bilang aku kualat karena menolak ajakannya? Selundupan rasa curiga memang tak hentinya memutar di kepalaku jika itu berkenaan dengan kedua sahabat itu sampai detik ini.

Heum ... aku hubungi sajalah! Mendesak soalnya. Aku mengirimkan pop up chat menu kepada Dimas, sambil menambahkan kata 'urgent'. Dan betul sekali, dia langsung membacanya.

"Bu Guru!" 

Perhatianku langsung teralih ketika sebuah teriakan anak kecil yang berasal dari sebuah mobil HRV berhenti tepat di depan Yolanda yang aku pakirkan di bahu jalan.

Aku mendengus kesal, ketika aku tahu itu mobil siapa. Memang, jalan yang aku lalui ini adalah jalan utama menuju ke sekolah tempatku mengajar. 

Jadi wajar apabila siapapun bisa melewatiku sekarang, dari arah mana saja termasuk dari arah rumah Gio.

Gio keluar dari mobil Dewa dengan semangat, aku langsung memasang wajah semanis mungkin, karena raut wajah gak ada urusan dengan hati bagiku sekarang ini.

"Bu Guru, Yolanda kenapa?" tanya Gio  menunjuk motorku. Semua anak di kelasku hapal motor beat tua itu bernama Yolanda, jadi jangan tanya kenapa Gio bisa mengetahuinya? 

Aku tersenyum sambil mencubit pipinya yang chubby. 
"Motornya ngadat kayaknya, Bu Guru harus nyari tambal ban sekarang," 

"Biar saya bantu Bu Guru?" tawar Dewa yang menyusul Gio di belakangnya. Mobilnya sengaja dia parkirkan seolah akan berhenti lama.

"Gak usah Pak. Saya bisa sendiri, lagipula akan ada yang salah paham nanti!" ujarku menolak. Desiran halus menelusup dada saat netra kami tak sengaja bertemu.

"Dimas? Bukannya kalian sudah tidak ada hubungan?" tanya Dewa setengah menyangsikan.

Aku melirik Gio yang tersenyum jail di samping Dewa. Pasti anak itu yang memberi tahu papahnya. 

"Iya memang, tapi kami masih berhubungan baik. Sebenarnya, bukan Dimas yang saya takutkan salah paham Pak, tapi pacar anda Maura," ujarku menyindir.

"Oh, Maura. Heum ... dia masih calon. Saya diminta Ayah saya buat mengenalnya lebih dekat!" jawab Dewa santai. 

Aku bergeming, tak percaya. Lelaki kalau terdesak biasanya punya 1000 alasan, rasanya aku kenyang menerima modus semacam itu.

"Soal kemarin saya minta maaf ya, saya berbuat seperti itu karena khawatir saja Nia, saya pun tidak tahu Maura jadi menjemput Gio sangat mendadak. Maaf Nia?" 

"Gak apa-apa. Oh iya, lain kali panggil saya Bu Guru, Pak," tegasku seraya mendesis kecil.

"Nia, kita tidak sedang di sekolah!"

"Tapi, kita ada di depan murid saya,"

"Kamu berbeda, biasanya gak masalah jika saya panggil nama?"

"Sekarang, tidak lagi!"

"Nia!"

"Papah, udah jangan ngobrol terus Gio sama Bu Guru harus ke sekolah, ini gimana Yolanda?" Gio memanyunkan bibirnya kesal sambil menarik kemeja Papahnya seperti biasa. Mungkin Gio melihat dua orang di depannya sedang bertindak gak ubahnya kaya dua orang temannya yang berebut permen.

"Oh iya. Baik Papah coba telepon bengkel kenalan Papah ya?" Dewa mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.

Aku biarkan pria itu melihat-lihat motorku pasca dia menelepon. Sambil menunggu aku mengobrol santai dengan Gio, tentang apa pun yang kami lihat. Anak itu selalu ada bahan untuk ditanyakan. Namun, meski asyik mengobrol aku masih tetap mengamati Dewa.

Lewat ekor mataku, aku bisa menangkap wajahnya yang serius seperti ingin memperbaiki motor itu sendiri. 

Itulah sikap yang dulu biasa aku lihat kalau mobil atau motornya  bermasalah saat dia mengantarkanku ngajar les privat sebagai sambilan kuliah. 

Jujur ekspresinya kali ini tak membahagiakanku sama sekali, malah terasa ekspresi pria itu perlahan mengiris sukma terdalamku yang masih mengendapkan kenangan, karena sadar keadaan telah berubah.

Beberapa orang tua murid yang kebetulan mengantar anaknya dan melewati kami, seringkali mencoba menawarkan bantuan, namun seolah jadi juru bicaraku Dewa menolak mereka semua secara halus katanya biar dia yang menolongku.

Mataku melihat arloji berulang kali,  sudah 15 menit berlalu tapi tak ada tanda-tanda tukang ban itu sampai. Untunglah, aku sudah meminta ijin telat sedikit sama Bu Wakasek, sekedar memberikan informasi agar tak disalahkan karena terlambat.

Aku menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan gelisah, sementara Gio malah asyik merecoki papanya yang lagi ngutak-ngatik ban depan motor.

Katanya Dewa dia bantu untuk melepaskan ban agar saat orang bengkel datang nanti tinggal pasang saja. Aku hanya mengangguk enggan, membiarkan Dewa dan Gio bereksperimen.

Melihat adegan di depanku, aku kadang terharu melihat Gio dan Dewa yang kompak kalau masalah acara membongkar sesuatu, bedanya kali ini Yolanda yang jadi objek. Harus kuakui Dewa cukup baik menjadi seorang papa bagi Gio, karena Dewa  secara sabar menghadapi semua pertanyaan Gio yang seringkali kritis. 

Anak zaman sekarang memang berbeda dengan zamanku, mereka lebih cepat menjadi dewasa, mungkin karena anak-anak sekarang tanpa sadar telah didewasakan oleh kecanggihan teknologi makanya sebagai orang tua di sekolah harus bisa menyamakan frekuensi.

Melihatku bengong, Dewa akhirnya menghampiriku. Aku melihat lengan kemeja kerjanya sudah di gulung sampai ke siku tanda dia sangat serius melepas ban depan Yolanda, hanya sayangnya kami tak punya ban motor pengganti.

"Bu Guru, bagaimana kalau saya antarkan saja kalian ke sekolah, nanti saya balik lagi ke sini buat bawa motor Bu Guru, soalnya saya khawatir tukang ban panggilan terkena macet," usul Dewa, melihatku khawatir. 

"Tidak usah. Pak Dewa antarkan saja Gio ke sekolah, saya menunggu di sini saya menunggu teman saya, katanya sebentar lagi datang!" 

"Teman? Dimas?" Pria tampan yang tampannya menyamai Nicholas Saputra itu menautkan alis seakan menyelidik.

Aku terdiam bingung mau jawab apa.

"Terserah pada Bu Guru sih, tapi yang saya tahu, murid Bu Guru tentu berharap gurunya akan lebih cepat sampai ke sekolah ketimbang ada di jalan."

Telak Dewa menyindirku.

Bola mata kecoklatannya menatapku sinis, seperti mau protes tapi tak bisa. Meski usulannya masuk di akal tapi entah mengapa aku rasa saran itu terlalu berlebihan jika terlontar dari seorang wali murid.

"Baiklah, saya pikir itu boleh juga. Tapi tampaknya saya ...."

"Nia! Maaf, tadi jalanan macet!" Belum saja aku menyelesaikan ucapan ini, sebuah suara membuatku dan Dewa menoleh berbarengan.

Dimas dan Dewa bertatapan secara asing. Kedua pria itu layaknya musuh baru bertemu lalu keduanya saling mengangguk setelah lama bertatap.

Aku memundurkan langkahku, memberikan jarak pada dua pria di hadapanku. Aku dekati Gio, sedikit menjelaskan kemungkinan Gio harus berangkat lebih dulu karena aku akan telat.

"Saya kira, Bu Guru sudah bisa saya antarkan sekarang ke sekolah dengan Gio karena bukannya 'teman' Bu Guru sudah datang?" Dewa menekankan kata teman sambil melihat Dimas.

Dimas mendelik, "Maaf Pak Dewa, jika melihat setelan anda sekarang, saya kira lebih baik Anda meneruskan tugas mulia Anda sebagai montir ketimbang mengajak Nia pergi betul?" sinis Dimas.

Aku melihat mereka berdua dengan perasaan kesal. Terjadi lagi. Selalu saja, jika mereka berhadapan jatuhnya itu saling sindir.

Inilah pertama kalinya aku merasa tepat untuk tidak memilih satu di antara keduanya, sementara ini. 

"Sudahlah, maaf Pak Dewa jika tidak keberatan saya dan Gio, akan pergi dengan Dimas lagipula tinggal 15 menit lagi sampai ke sekolah. Jika boleh saya minta tolong Pak Dewa menunggu di sini bagaimana? Karena saya khawatir tukang bengkelnya nyari-nyari." Aku memberikan usul seolah adil dan masuk akal. Tapi sebenarnya Dewa tahu mungkin aku sedang mencoba menjahilinya atau sedang balas dendam? Entahlah.

Aku tersenyum semanis mungkin ke arah Dewa. Mataku menatapnya dengan pandangan jahil.

Rasakan pembalasan dari wanita yang sehari sebelumnya kamu bentak dan kamu buat cemburu.

Dewa terdiam sejenak menatapku. 

"Kenapa Pak Dewa tidak bisa membantu saya ya? Kalau begitu baiklah saya terpaksa di sini, soalnya--"

"Saya bersedia, Bu Guru dan Gio bisa ikut mobil Dimas. Saya akan jaga motor Bu Guru," potong Dewa akhirnya.

Dewa mendekati anaknya, lalu mengelus puncak kepala lembut.
"Gio ikut Om Dimas ya? Biar gak telat!Papah nanti nyusul sama motor Bu Guru." jelas Dewa bijak.

Entah kenapa melihat Dewa mengatakan itu pada Gio, aku bukannya senang tapi malah sebaliknya.

Gio mengangguk patuh. Dengan riang dia mengaitkan jarinya ke jariku, anak itu terlalu polos untuk memahami kisah di hadapannya yang begitu rumit.

"Ayo Bu Guru, nanti telat!" ajaknya. 

Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu menatap Dewa yang masih memandangku dalam, menelusup rasa sesal dibalik keangkuhan. 

Karena melihat waktu yang mendesak, aku dan Gio bergegas masuk ke dalam mobil Dimas. Bisa dipastikan pria itu mengembangkan senyum kemenangannya pada Dewa.

Akhirnya mobil Dimas pun melaju, meninggalkan Dewa yang melepas kami berat.  

Mobil sudah mulai menjauh namun aku masih melihatnya lewat kaca spion, pria itu terlihat tersenyum seakan tahu aku diam-diam memperhatikannya.
*******

"Selamat pagi beranjak siang anak-anak!"

Bukan. 

Itu bukan suaraku itu suara Dewa. Aku terkejut melihat dia mampir ke kelasku, padahal sudah aku sampaikan lewat nomornya yang baru untuk menitipkan kunci pada Pak Satpam saja. 

"Ih, ada Papahnya Giooooo!" Koar anak-anak kompak. Aku langsung melotot melihat Dewa yang masih tersenyum lebar tanpa dosa ke semua anak.

"Papah!" Melihat Dewa diambang pintu kelas, anak itu langsung menyambut papahnya.

"Hey jagoan! Kamu pintar gak hari ini?" Dewa mengacak rambut anaknya seolah sudah lama mereka berpisah padahal baru sejam.

Dengan tergesa aku menghampiri Dewa, berdiri tepat di depannya hingga pria itu menyunggingkan senyum.

"Ngapain masuk? Kan, saya udah bilang jangan ke kelas," bisikku kesal.

"Pak Satpamnya lagi sibuk ngupil, saya kasihan. Jadi saya masuk aja ke sini," jawab Dewa asal.

Dewa selalu seperti ini, bertindak seenaknya dan suka mengundangku untuk memprotesnya.

"Maaf, Pak, ikut saya!"

Aku mengajaknya keluar untuk mengobrol di depan kelas, aku takut Dewa berbuat aneh-aneh seperti yang ia lakukan dulu, terlebih agar tidak menjadi tontonan gratis juga bagi Gio dan kawan-kawan. Ingat, anak kecil zaman sekarang lebih sensitif masalah orang dewasa.

Sampai di depan kelas, aku membuka telapak tangan dengan kesal.

"Mana kunci saya? Seharusnya kalaupun dia sibuk ngupil Pak Dewa bisa taruh di depan mejanya!" desakku kesal.

"Bu Guru, saya takut gak sopan kalau dikira gak menyerahkan langsung. Ini kuncinya!" Dewa beralasan sambil mengacungkan kunci motorku. 

"Baik, siniin kuncinya, terimakasih!"

Tanganku langsung terulur untuk mengambil kunci itu dari tangannya. Sayang, tangan Dewa lebih cepat sehingga tangkapanku meleset.

"Eit, gak kena!" ujarnya saat aku mencoba menangkap tangannya lagi. 

Aku menarik napas saat menyadari pria dewasa di depanku ini mencoba mempermainkanku. Lihat saja sekarang anak-anak yang tanpa kusadari sedari tadi mengintip mentertawakanku tak terkecuali Gio.

"Pak Dewa, saya harus mengajar tolong kunci saya, kemarikan!" ujarku gemas. 

Dewa terkekeh, mungkin merasa berhasil memperdayaku.

"Baiklah, silahkan ... betewe Bu Guru harus tahu Yolanda memang sudah beres, tapi hati saya enggak."

"Maksudnya? Sudah, sinikan! Maaf, saya gak suka anda mempermainkan saya kaya tadi!" ujarku sambil mengambil paksa kunci dari tangannya.

Dewa tersenyum jahil, "Iya saya kan hanya lagi intermezo anggap saja saya sedang iseng, iya kan Gio?" 

Ya Allah! Pria satu ini malah mengajak anaknya yang berdiri di depan pintu untuk bersekutu.

Gio langsung mengangguk setuju, "Iya Papah, Papah lucu tadi kaya lagi ngasih makan si Pussy!" jawab Gio yang langsung disambut koor seluruh anak-anak. 

Pussy? Astaghfirullah! Aku melihat Gio kaget karena menyamakan aku dengan kucingnya. Dewa langsung mengacungkan jempol setuju, sungguh perbuatan tercela.

"Ciyeee ... Bu Guru!" sambung yang lain.

"Eh, syuut jangan berisik! Yang lain lagi pada belajar, ayo kembali ke tempat!" perintahku pada anak-anak  saat melihat beberapa guru dan murid mulai penasaran melihat ke arah kelasku. 

Alhasil aku mengangguk canggung sambil memberi kode permintaan maaf kepada mereka yang melihat kami.

Aku melotot ke arah Dewa, kesal karena dia telah mengganggu agenda mengajarku.

"Saya ucapkan terimakasih tapi jika tak ada lagi yang harus diuruskan saya mau kembali mengajar," ujarku terkesan mengusir.

Tanpa melihat ekspresinya, aku langsung bergegas menyuruh anak-anak masuk ke dalam kelas dan merapihkan anak-anak agar kembali ke tempat duduk. Aku takut guru-guru lain akan mengomentariku, secara beberapa minggu terakhir banyak sekali gosip dan kelas 1B memang terkenal dengan keunikan muridnya.

"Bu Guru!" panggil Dewa yang ternyata masih belum pergi.

Aku menoleh kesal ke arahnya yang berdiri di luar kelas.

"Masih di sini Pak?" 

"Ingat Bu, motornya sudah beres tapi hati saya belum, saya pamit Bu Guru!" ujar Dewa sebelum pergi sambil menunjukan jari membentuk hati. 

Alay. Ya Allah! Manusia bentuk apa yang sedang aku hadapi ini? Aku beristighfar untuk mengalihkan fokus kembali pada anak-anak.