Lima
"Bu Nia, Bu Annisa Zania maaf saya memanggil Bu Nia ke ruangan, saya mendapat laporan dari Bu Welly katanya pagi tadi Bu Nia malah mengobrol dengan Pak Dewa bukannya mengajar?"

Aku terhenyak menerima pertanyaan tiba-tiba itu dari Bu Tia, beliau adalah Kepsek di tempatku mengajar. Selepas mengajar tadi aku tiba-tiba dipanggil ke ruangannya, ternyata untuk mempermasalahkan hal yang terjadi tadi pagi.

"Maaf Bu, kabar itu tak sepenuhnya benar, saya memang mengobrol tapi tidak lama karena Pak Dewa hanya membantu saya mengganti ban motor saya yang bocor. Maaf jika hal itu membuat ketidaknyamanan, tapi saya berjanji hal itu tidak akan terulang lagi." Aku memandang Bu Tia meminta pemakluman. 

Sebenarnya aku heran, kenapa Bu Welly Wakasek begitu sensitif jika berkenaan denganku? Hal ini terjadi semenjak Dewa selalu mengirim salam lewat Gio dan kabar aku nggak jadi menikah memperburuk sikapnya. 

Bu Tia mengangguk, kemudian memandangku dengan tatapan perhatian, Bu Tia itu pemimpin yang bijak dia cukup perhatian sama aku karena Bu Tia juga teman ibu.

"Iya, saya juga pada awalnya berpikir tidak mungkin Bu Nia berbuat aneh-aneh. Ya sudah, intinya mungkin lebih menjaga sikap aja ya Bu, kita kan gak tahu pandangan orang sama kita. Betul kan?" Bu Tia meminta pendapatku yang langsung aku sambut dengan anggukan.

Setelah mengobrol sebentar tentang kelas dan juga yang lainnya. Akhirnya Bu Tia membiarkanku pergi dari ruangannya. Aku menghela napas lega, aku sempat takut apabila Bu Tia akan berpikir macam-macam tapi seperti kata ibuku, Bu Tia itu lembut dan hatinya baik.

****
Beberapa hari berlalu pasca peneguran Bu Kepsek. Tak ada perubahan yang berarti, hanya yang aneh Maura lebih sering menjemput Gio karena papahnya Gio lagi sibuk di kantor. Jujur, sebenarnya aku tak suka atas kedatangan Maura tapi menurut kabar dari Rena, Maura memang gencar pedekate sama Dewa karena dia anak dari sahabat keluarga Dewa yang tertarik sama Dewa, terlebih ayah mereka mendukungnya.

Entahlah, terlepas dari benar atau tidaknya kabar itu. Pasca aku tahu ada Maura yang hadir di kehidupan Dewa dan Gio, aku langsung berusaha sebisa mungkin untuk mulai bersikap gak perduli sama semua tentang Dewa tapi tak ayal baik sadar atau tidak, jiwaku tetap mencari juga. 

Memang benar, sekalipun kadang kita menata hati agar tak terlalu berharap, tetap saja cara kerja hati suka melampaui logika. Sehingga dia memikirkan dan merindu di tempat dan waktu yang tak seharusnya.

"Ngelamun aja! Eh, ke mall yu? Anterin beli tas?" Pipit menyenggol lenganku sehingga lamunan buyar seketika. Pipit adalah guru pengampu Bahasa Indonesia yang meja kerjanya tepat di sebelahku. Kabarnya Pipit akan menikah dalam waktu dekat ini, melihat Pipit aku jadi ingat pernikahanku yang aku gagalkan.

"Iya boleh. InsyaAllah habis mastiin semua anak pulang ya?" Aku mengiyakan itung-itung meleraikan resah karena kalau hari sabtu kegiatan bagiku lebih longgar karena kelas 1 biasanya libur, paling kerjaanku ke sekolah hanya mengawasi yang sedang menjalani ekstrakurikuler. 

"Sip. Nyante aja, nanti pake mobilku aja ya?" tawar Pipit. Aku sekali lagi mengangguk lalu mengambil botol air mineral, haus.

"Oh iya, omongan Bu Welly jangan dianggap dia itu cemburu sama kamu gara-gara Pak Dewa keliatannya suka deh sama kamu!"

Brushhh! Hampir saja aku memuntahkan semua air dalam mulutku saat mendengar Pipit mengatakan hal yang mengagetkan.

"Ih, heboh banget deh!" protesnya melihat air dari mulutku muncrat.

"Maaf, soalnya kamu suka ngagetin orang. Udah, jangan ngomongin macem-macem kata siapa Pak Dewa suka sama aku? Inget loh dia hanya wali murid!" demoku sambil mengelapkan tisu ke bibir.

"Lagipula, dia kayaknya udah punya calon!" lanjutku lagi. Terasa ada rasa dentuman ringan di hati saat aku mengatakannya.

Pipit menggeleng, "Enggak, aku yakin dia gak suka sama wanita yang suka jemput Gio itu. Aku bisa mengendusnya, itu cinta sepihak!"

"Sok tahu! Udah ah Pit, entar aku geer kan berabe!"

"Yey ah, keliatan kali! Heum ... Nia, gimana rasanya? Seneng gak?"

"Rasanya? Maksudnya apa sih?" Aku mendelik pada Pipit yang tiba-tiba memasang wajah menggoda.


"Rasanya di sukai sama dua orang ganteng kaya Dimas sama Pak Dewa? Seneng dong ... ya kan? Byeee!" Pipit langsung melarikan diri sebelun aku sempat mencubit lengannya. Dasar guru aneh! Doyannya godain orang mulu. Aku misuh-misuh sendiri di meja sementara di ambang pintu ada yang melirik sinis ke arahku. Dialah Bu Welly, Wakasek yang masih single sepertiku hanya umurnya lebih tua dua tahun.


Seperti janjiku sama Pipit. Pasca sekolah bubar kami langsung menuju mall lalu berkeliling mencari tas yang akan dia beli. Pipit itu orangnya sulit milih barang, sampai rasanya kakiku pegal dari satu toko ke toko tas lainnya. Kali ini kami berada di toko tas Elizabeth. Sesuai gaya hidupnya, Pipit termasuk guru SD yang lumayan berada dan calon suaminya juga lumayan kaya tak heran dia senang berbelanja barang branded, berbeda denganku yang lebih suka tas yang di tanah abang.

Sementara Pipit lagi sibuk memilih-milih, aku memutuskan duduk di salah satu kursi yang disiapkan toko untuk para pengunjung. Aku memijat telapak kakiku yang lelah, karena sejam berputar-putar di dalam mall.

Derrrt! Deerrt! Deerrt! Aku melirik ke tas saat benda pipih itu bergetar. Siapa sih yang nelepon? Aku hentikan agenda pijat-memijat, lalu merogoh tas.

"Wa'alaikumsalam. Nia, lagi di mana?" jawab suara pria di ujung telepon, setelah aku mengucapkan salam.

Dimas? Aku menghela nafas. Lagi-lagi Dimas. Pria satu ini seakan tak pernah absen meneleponku, dia terlalu perhatian.

"Di mall sama Pipit, kenapa?"

"Enggak. Aku boleh nyusul? Di mall mana?" Dimas langsung bersemangat.

Eh, dia mau ke sini? Aku memutar otak mau menolak tapi canggung.

"Aku mau pulang sebenarnya sebentar lagi, jadi--"

"Selamat sore Bu Guru? Halo!"

Kalimat jawabanku untuk Dimas terpotong saat sebuah suara wanita menyapaku.

Aku mendongak. Maura? Mataku sontak membulat melihat Maura berdiri di depanku dan lebih terkejut lagi saat aku melihat pria yang bersamanya, dia Dewa.

"Nia? Nia? Kamu masih di situ kan?" Suara Dimas terdengar cemas di ujung telepon. Aku memaksakan senyum lalu mengangguk ke Maura tapi tidak pada Dewa yang menatapku penuh tanda tanya. Sadar Dimas yang terus memanggilku di telepon, akhirnya aku meminta ijin menjawab telepon dari Dimas di luar toko. Sebuah alasan yang tepat agar aku tak terjebak dalam pandangan keduanya yang membuat dadaku panas.

"Dimas, saya di Mall Grande, udah ya!" tutupku tergesa setelah mengucapkan salam. Aku langsung menyandarkan tubuh ke dinding lemah, tak bisa kusembunyikan hatiku yang sakit melihat mereka berdua bersama.

Aku mendekap ponsel di dada. Mungkin aku sedang syok dengan keadaan yang terjadi tiba-tiba atau mungkin aku tengah cemburu? Entahlah, karena aku tak yakin dengan hakku.

"Siapa yang nelepon? Dimas?"

Eh? Suara itu? Aku langsung membalikan badan kaget dengan pertanyaan yang berasal dari suara yang sangat aku kenal.

"Pak Dewa?"


Tanpa kutahu ternyata sedari tadi Dewa berdiri di belakangku, mata elangnya mengamatiku dengan tajam.


"Waah! Makasih Pak Dewa, saya jadi dibeliin tas!"

Pipit bersorak bahagia saat Dewa membayarkan tas Elizabeth yang mahal kesukaannya. Aku hanya diam mematung di sebelah Pipit, tak berniat mengambil peranan dalam obrolan.

"Sama-sama Bu Pipit, anggap aja sebagai hadiah pertunangan Bu Pipit sama teman saya Faldi. Maaf saat itu saya tidak bisa datang, karena eyangnya Gio meninggal!" ujar Dewa terlihat menyesal karena dari yang kudengar temannya Dewa ternyata tunangan Pipit. Dunia memang sempit, berputar-putar di daerah yang sama.

Aku biarkan Pipit berbasa-basi ngobrol sama Dewa, dia senang mungkin dibelikan harga tas yang lumayan mahal sehingga dia memintaku diam sebentar, tidak enak kalau langsung pergi. Sesekali di tengah obrolan mereka, kulihat mata Dewa mengarah kepadaku, bahkan saat tanpa sengaja netra kami bertemu dia seolah memberikan intimidasi yang membuat desiran halus kembali hadir. Namun, untuk kali aku langsung mengalihkan tak mau terbawa arus, karena konon katanya penebar harapan palsu sedang booming.

"Dew, tas ini cocok gak buat aku?" Maura lagi-lagi menyela, sekarang dia meminta pendapat Dewa dengan gaya genit. Aku dan Pipit berpandangan malas, perempuan bernama Maura itu selalu mencari perhatian Dewa sejak dari tadi, padahal Dewa sedang mengobrol.

"Bagus. Kata Bu Nia bagus gak?" Dewa mengambil tas dari tangan Maura lalu menyerahkan ke tanganku. Aku terhenyak kaget. Kok ke aku? Aku menatap Dewa tak percaya, dia meminta pendapatku? Tidak salah? Aku melirik Maura yang sedang melipat bibir kesal, aroma permusuhannya denganku semakin nyata.

"Maaf Pak. Sepertinya itu bukan kewenangan saya, kan yang nanya Bu Maura?" tanyaku tak enak dengan Maura. Mendengar pertanyaanku, bibir merah Dewa tertarik ke samping, menyunggingkan senyum lembut. Sejenak aku terpesona, dia selalu tampak tampan kapanpun dan di manapun, pantas Maura tergila-gila.

"Saya kan bertanya, Bu Nia suka gak?" ulangnya menegaskan.

Aku melihat canggung pada Maura yang tengah memelototiku sementara Pipit mesam-mesem sambil pura-pura memainkan ponsel, aku tahu tandanya Pipit angkat tangan.

"Bagus sih, tapi kalau buat saya--"

"Oke. Maura kamu suka?" potong Dewa seenaknya seakan tak perduli dengan kalimatku.

"Suka banget Dewa! Kamu mau membelikannya?" Mata Maura terlihat senang.

Aku bingung.

Dewa memanggil pramuniaga toko dengan petikan jarinya. Setelah itu dia menatapku, "Tas yang cantik pastinya buat perempuan yang cantik bukan ... Maura?" Saat mengatakan nama Maura, matanya teralih dariku ke Maura yang berdiri di sampingnya. Seketika aku merasakan kesal dan dadaku panas ke ubun-ubun.

Sialan.

Ya Allah! Maafkan mulutku yang lolos mengumpat. Tapi biarlah, Dewa memang pantas mendapatkannya. Aku membuang muka kesal.

"Mbak, bungkus dua tas ini! Saya mau bayar sekarang!" perintah Dewa pada Mbak pramuniaga.

"Loh? Kok dua Dewa? Maura kan butuhnya satu?" Maura memprotes dengan nada rengekan.

"Satu lagi buat Bu Nia," jawab Dewa santai tanpa melihat Maura yang sedang sengit menatapku.

"Pak Dewa, saya tak butuh tas itu. Saya tidak mau Pak!" larangku cepat.

Pipit memegang lenganku, memberi kode untuk lebih santai.

Tapi bagaimana aku akan santai? Sementara aku takut membuat kesalah-pahaman. Aku tidak mau dianggap mencari muka oleh Maura.

"Bu Nia, Bu Nia kan guru anak saya emang gak boleh kasih hadiah?" tanya Dewa tetap pada pendiriannya.

Aku terdiam.

"Dewa, Bu Nia kan gak minta. Iya kan Bu?" Penekanan Maura terdengar tak nyaman. Dia bergeming meskipun muka Maura terlihat merah padam.

"Betul itu Pak. Tolong saya gak mau tas itu!" Aku melangkahkan kakiku berdiri tepat di depannya seraya melayangkan tatapan memohon untuk tidak mencari masalah.

"Terima Bu Guru! Ini hadiah dari saya,"

"Tapi saya tidak mau, jangan memaksa saya!"

"Saya yang mau!"

"Kenapa?"

Dia terdiam. Matanya menatapku gelisah lalu tangannya memijit pelipis, sikap yang biasa dia lakukan kalau sedang bingung.

"Itu karena ...." Kata-kata Dewa seakan tercekat di kerongkongan. Sebegitu beratkah alasan yang ia ingin ucapkan? Aku langsung merasakan dadaku berdetak lebih cepat. Dewa menatap tiga wanita di depannya bergantian. Sampai akhirnya mata elang Dewa berhenti tepat ke sosokku yang masih berdiri menunggu jawabannya.

Saat itulah aku merasa, ada frekuensi yang sama saat mata kami saling memandang dalam diam. Meski tak saling bicara tapi aku tahu rasa kami masih ada. Aku tahu dia ingin memberikan tas itu bukan karena aku guru Gio, ada alasan lain yang hanya hati kami yang paham.

Seperti dua jiwa yang punya magnet satu sama lain, secara otomatis kami saling memendam. Karena untuk kasusku di mana hubungannya sulit mendapat restu, seringkali keputusan bungkam lebih baik daripada pengungkapan yang melukai hati satu sama lain.

"Biar saya yang bayar semua belanjaan Bu Nia, karena saya lebih dari sekedar punya alasan untuk membelikannya," potong sebuah suara pria yang membuat semua mata sontak mengarah ke sosoknya.

"Dimas, apa maksudnya?" tanyaku terkejut.

"Nia, aku menyukaimu dan aku tidak sedang bersama orang lain kan?" tegas Dimas menyindir Dewa. Semua orang terhentak dengan ucapan Dimas, terutama Dewa. Dewa menatap Dimas tajam begitupun sebaliknya, aku jadi merasa gak enak terlebih banyak orang yang memperhatikan kami.

Diam-diam aku sangat merasa bersalah, mau diakui atau tidak, penyebab kedua sahabat dekat yang berubah menjadi asing itu adalah aku. Jujur perihal ini, aku tidak bangga, malah aku merasa berdosa.

"Baiklah. Terserah!" Itulah kalimat yang akhirnya keluar dari mulut Dewa setelah kedua pria itu lama berperang dalam diam. Dewa memandangku dengan tatapan dingin sementara aku hanya bungkam, bibirku rasanya kelu untuk menjelaskan apa yang kumaksudkan, agar dia tidak salah paham padaku.

Dewa memalingkan wajah, setelah sadar kami hanya saling menyakiti.

"Ayo Maura, kita pergi!" ujarnya sambil melangkah pergi keluar toko diikuti Maura yang melirik sinis ke arahku.

Tubuhku membeku di tempat. Pria itu kembali pergi, tanpa bisa aku ungkapkan bahwa aku juga sama terlukanya karena melihatnya pergi bersama orang lain bukan aku.