Enam
Aku pulang diantar Dimas. Sepanjang perjalanan kuputuskan hanya berdiam diri. Dimas memaksa Pipit untuk membiarkan aku pergi bersamanya, meski berat pada awalnya tapi karena aku takut mengecewakan Dimas, akhirnya aku dengan berat hati mengiyakan.

Jalanan menuju rumahku memang rawan macet. Namun, sesaknya kendaraan yang menghalangi jalan mobil Dimas yang mengantarku tak sesesak perasaanku sekarang. Jasad memang bisa jadi berada bersama orang lain, tapi hati siapa yang sanggup memenjarakannya? Dia berkelana sesukanya meski kita mencoba sebisa mungkin mengendalikan diri.

Jika aku pikirkan, mencintai Dewa layaknya aku menggenggam pasir. Sekalipun aku menggenggam kuat dia akan lepas dengan sendirinya. Mungkin inilah saatnya aku menepi. Kadang kita harus memberi waktu pada hati untuk memilih mana yang harus diendapkan atau dihilangkan, termasuk membiarkan Dewa dalam kesalahpahamannya. Percuma aku menyuapi harapan, karena yang seharusnya pergi akan tetap pergi meski sekuat apapun aku menjaga.

"Masih mikirin kejadian tadi? Maafkan saya Nia, saya hanya tidak ingin kalau kamu jadi bingung dengan sikap Dewa."

Dimas membuka percakapan, saat melihatku hanya bungkam sepanjang perjalanan.

Aku tak langsung menjawab. Kupandangi gedung-gedung tinggi yang berjejer angkuh dari balik kaca jendela. Memberikan waktu otakku untuk menyusun kata yang tepat menjawab Dimas.

"Gak apa-apa, cuman aku pikir gak perlu sejauh itu. Tapi ... jika boleh tahu, kenapa tadi bilangnya kaya gitu? Kita kan udah sepakat gak usah bahas itu dulu?" tanyaku pelan tanpa menatap matanya. Aku tidak mau membuat diriku bersalah karena menyakiti pria yang baik.

"Saya hanya sedang mencoba menghormati perasaan saya ... juga perasaan kamu. Karena saya gak mau kalah sebelum saya berjuang, gak laki rasanya! Saya hanya ingin minta hak yang sama dengan Dewa," jawab Dimas santai, matanya sesekali melihat ke arahku.

"Hak yang sama? Maksudnya gimana?" Aku menatap Dimas heran.

"Hak untuk memperjuangkan kamu, saya akan menyerah jika takdir-Nya yang berbicara, maka jangan larang saya memperjuangkan seperti saya tak melarang kamu memperjuangkan Dewa."

"Dimas?"

Dimas tersenyum lembut sementara kusadar hatiku mendadak bingung mendengar semua kalimatnya. Dalam hidup ini, memang seringkali kita harus pintar mencerna makna. Setelah kejadian di mall tadi. Hatiku jadi sadar seringkali yang kuperjuangkan malah menghasilkan ragu tapi yang meragukan malah terlihat lebih pasti. 

(***)

Beberapa hari kemudian.

"Bu Guru!" Pagi ini sebuah suara kembali menyapa saat aku baru memarkirkan Yolanda. Aku menoleh ke asal suara, sontak mataku membulat bahagia dan bibirku melengkung.

"Hey, jagoan? Gimana kabarnya?" tanyaku sambil menerima pelukannya. Hal yang biasa yang dia lakukan setiap pagi, sebagai guru aku akan menerima anak didikku siapapun itu yang mau berbagi pelukan.

"Gio baik Bu Guru, Gio ke sini sama Papah!" tunjuk Gio ke arah Dewa yang berjalan mendekat. Tanpa kusadari tubuhku langsung menegang. Aku masih bingung apa yang harus aku bicarakan dengannya, aku sadar pasti dia bisa saja berpikir aku dan Dimas kembali bersama dan alasan kenapa aku menolak tas darinya pasti karena aku gak mau buat Dimas cemburu.

Paling tidak itu yang aku pikirkan, Dewa bisa jadi salah paham. Namun, aku tak tahu apakah dia juga berpikir tentangku yang juga bisa jadi salah paham karena dia kemarin bersama Maura. Makanya, aku menarik nafas dalam bukan untuk bersiap menjelaskan tapi anggap saja ini pertahananku yang juga merasa diabaikan.

"Pagi Bu Guru!" Dewa sudah berdiri tepat di depanku.

Hari ini pria itu terlihat sangat tampan, setelan jas kerja abunya membuat Dewa nampak lebih macho dari biasanya. Sayang, pemandangan ini masih milik umum.

"Baik. Bagaimana kabar Pak Dewa?" Aku tahu itu terkesan basa-basi tapi itu lebih baik dibanding langsung ke inti permasalahan.

"Tidak sebaik Bu Guru," jawabnya singkat terkesan sinis.

"Pak Dewa, ini sekolah jangan memulai!" ucapku takut didengar sama guru lain dan menjadi bahan gunjingan.

Aku menutup telinga Gio, aku khawatir anak itu terkontaminasi hal-hal yang tak sesuai umurnya.

"Kalau begitu, tolong Nia, kita harus bicara sekarang! Biarkan Gio ke kelas, saya mau meminta waktumu!" ujarnya tegas tak menerima penolakan.

Aku memandangnya kesal begitupun dia. Akhirnya aku menyerah, aku tahu watak Dewa jika dia ingin menyelesaikan sesuatu pasti tak mau ditunda.

"Gio, Gio ke kelas duluan ya? Kan sekarang pelajaran IPA ya?" Aku mensejajarkan diri dengan Gio mencoba membujuk Gio. Gio manyun. Dia tampak ragu meninggalkan aku dan papahnya, matanya bergantian menatap kami.

"Papah, jangan bertengkar lagi sama Bu Guru, ya? Gio, sayang Bu Guru bukan Tante Maura! Gio ke kelas!" usai mengatakan itu Gio langsung mengambil tangan Dewa dan menciumnya sementara Dewa masih mematung kaget.

Tidak! Bukan hanya Dewa, tapi aku juga. Aku tak menyangka ucapan itu bisa keluar dari anak sekecil Gio. Benar dugaanku, anak-anak itu perasaannya peka, dia bisa merasakan mana kasih sayang yang nyata atau palsu dalam satu waktu yang sama.

Aku dan Dewa memutuskan untuk berbicara 4 mata di taman yang tak jauh dari sekolah. Untunglah aku tidak ada jadwal di jam pertama, sehingga bisa keluar sebentar setelah absen guru.

Pria itu mengajakku duduk di salah satu bangku panjang. Aku duduk di ujung kiri bangku dia di sisi kanan, kami berbicara dengan sikap seolah kami orang asing yang tak sengaja duduk di bangku yang sama.

"Nia, saya hanya ingin bertanya, sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Dimas? Jadi ... setelah gagal menikah, kalian memutuskan pacaran begitu?" Suara Dewa tenang namun menusuk.

Sebenarnya, aku ingin sekali langsung membalas ucapannya. Hanya saja belajar dari pengalaman aku tidak boleh berbicara yang menimbulkan pertanyaan baru, maka aku berpikir sejenak baru menjawab.

"Bukan urusan Pak Dewa juga saya dan Dimas ada urusan apa, maaf saya kira saya juga tak ada kepentingan buat menjelaskannya. Seperti saya tak bertanya kenapa Pak Dewa sibuk dengan Maura dibandingkan anak Bapak di hari liburnya?"

Skak mat! Aku balas menatap Dewa dingin. Sudah dari semalam aku juga sebenarnya ingin mengatakannya, tapi mungkin inilah saatnya.

Dewa menghela nafas berat, "Saya ke sana karena dipaksa Nia, Maura anak dari sahabat ayah saya dia salah satu anak pemegang saham, hanya itu!" Dewa mencoba meyakinkanku, wajahnya tetap santai seolah yang kutanyakan hanya masalah sepele.

Padahal, wanita mana yang tak patah hati dan ragu? Saat pria yang sebelumnya mengaku masih cinta tiba-tiba bersama yang lain di hadapannya.

"Heum ... tak perlu dijelaskan pun tak apa, lagipula apa hak saya?" tanyaku sarkastik.

"Kamu punya hak Nia, sangat punya hak, karena sampai sekarang hati saya masih milik kamu! Katakan kamu juga sama kan?"

Aku kaget Dewa berdiri lalu menghampiriku. Aku termangu, wajahnya serius memandangku dengan penuh harap. Sejujurnya dengan posisi seperti ini aku takut ada orang yang melihat kami dan berprasangka macam-macam.

"Jangan bertanya seperti itu Pak Dewa, sudahlah! Kita tak perlu membahasnya," ujarku sambil berdiri hingga tubuh kami tepat berhadapan satu sama lain.

"Saya ingin membahasnya, pandang saya Nia, apakah kamu masih memiliki rasa yang sama?" tanya Dewa parau. Jakunnya bergerak seakan berusaha mengendalikan debar yang perlahan menghentak.

Aku terdiam. Jujur aku tak sanggup memandang matanya yang membiusku untuk jujur mengungkapkan cinta.

Lalu, apakah masih harus ditanya? Aku mundur dua langkah, mencoba memberi jarak karena jiwaku tak hentinya berontak. 

"Nia, kamu tak mau memandang kan? Kenapa? Kamu takut saya hanya akan menjadi aib buat keluargamu? Karena saya memiliki anak di luar nikah, terlepas apapun alasan yang menyebabkan saya melakukan itu? Betul kan?" 

Dewa menatapku terluka, matanya memerah dan tangannya mengepal. Aku terdiam karena bingung mau mengatakan apa, diamku bukan aku tak cinta tapi aku heran pada Dewa yang seakan berpura-pura melihat betapa pengorbananku lebih dari sekedar kata-kata.

Kenapa dia berkata demikian saat semua jalan kubuka untuk mengenyahkan aib itu? Hatiku sungguh kritis sekarang karena pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan.

"Baiklah! Saya tahu kamu sudah tak memiliki rasa yang sama, terimalah Dimas! Saya memang tak pantas, saya hanya menyebar aib. Keluargamu menolak saya untuk--"

"Stop!" potongku sambil mengacungkan jari, pria itu langsung terdiam jengah. Aku tak menyangka pemikirannya yang berlebihan dan terlalu jauh menyangka aku semudah itu berpaling.

Sungguh aku muak dengan sifat kekanak-kanakannya.

"Kita rasanya tak usah meneruskan penjelasan ini, saya lelah Pak! Saya yang salah terlalu berharap bahwa yang dulu bisa terulang, bahkan saya menghentikan pernikahan saya. Mungkin memang benar kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Permisi!" Aku langsung membalikan badan melangkahkan kaki pergi.

Belum 10 langkah ku pergi, tanpa kuduga tanganku tiba-tiba ditarik, hingga tubuhku berbalik. Untung saja tak ada orang yang melihat. Sulit menghindar untuk tidak berbalik menatap matanya yang memerah karena frustasi. Sejenak kami terpaku saling pandang dalam diam, memahami bahwa aku kini tengah menahan diri.

"Lepaskan! Saya tidak mau berbicara dengan Anda lagi! Silahkan berpikir sesuka anda!"

"Tidak! Jangan dulu pergi!"

"Lepaskan sakit!" berontakku lagi.

Aku menarik lenganku kasar hingga Dewa terpaksa melepaskannya.

"Maaf!" sesalnya saat sadar dia menyakitiku.

Aku bergeming karena dadaku sesak, seakan dihimpit ribuan ton kayu.

Hening. Kami berdua termangu. Perlahan mata Dewa meredup, emosi yang tadi memuncak mungkin telah meredup.

"Maaf saya tadi berlebihan dan keterlaluan. Semua itu, karena mungkin saya sedang tak percaya diri dan takut kehilangan," kata Dewa menyesal.

Aku masih membisu, tanganku terulur menghapus air mata dari sudut pipi.

Kehilangan? Aku merasakannya lebih dulu sebelum kamu.

"Tapi, dibandingkan kehilangan itu, ternyata saya lebih takut kalau kamu tidak bahagia,"

Degh! Aku langsung menatap lurus ke matanya begitupun dia. Aku berdoa semoga dia tahu bahwa aku sedang tidak ada tenaga sekalipun untuk mengucapkan cinta.

"Aku menyerah!" lanjutnya sambil berbalik pergi, tanpa memperdulikan aku yang tengah sekarat.

Sekarat karena aku tengah menyembunyikan jiwa yang meneriakan kebohongan, kebohongan bahwa aku baik-baik saja tanpanya.

Di luar suasana sudah mulai hujan, itu tandanya aku harus menahan diri untuk pulang cepat-cepat dari sekolah. Padahal, semua anak kelasku juga sudah pulang, jadi tak ada keperluanku untuk tetap ada di sekolah.

Sebenarnya, aku ingin segera sampai ke rumah, karena di sana akan lebih nyaman untuk menguarkan jiwa yang sedang gundah ini daripada aku berada di bawah pandangan para guru yang sudah mulai berbeda akibat tadi pagi terjadi lagi gosip yang tak mengenakan.

Aku lelah dan bimbang.

Sambil menunggu hujan aku putuskan untuk mengerjakan evaluasi bulanan guru, karena dibandingkan memikirkan ucapan Dewa yang seharian ini memang berhasil memecahkan konsentrasiku, lebih baik aku mengerjakan hal yang bisa membuat hatiku yang koyak sedikit teralih. Dewa benar-benar menjadi racun bagi otakku sekarang, setiap berbicara dengannya selalu menyisakan cerita yang tak pernah menyesal, aku menarik nafas berat.

Derrt! Derrt! Derrt. Tiba-tiba sebuah getaran kuat sukses membuyarkan lamunan panjangku.

Tanpa melihat siapa yang nelepon aku langsung mengangkat dan mengucapkan salam.

"Iya?"

"Mbak, ini Rena!" jawab sebuah suara di ujung telepon dengan suara panik disertai tangis.

Aku langsung menghentikan aktivitasku, karena suara Rena terdengar panik. Jantungku berdegup dan otakku langsung tertarik pada dua nama Dewa atau Gio.

"Iya Ren? Gimana? Tadi Gio udah pulang kan sama Pak Amin?" tanyaku panik.

"Bukan Gio Mbak, tapi Mas Dewa Mbak, dia ... kecelakaan!" Rena menangis.

Tubuhku langsung berdiri. Kecelakaan? Tidak mungkin! Dewa! Ya Allah! Mataku sontak memanas, jiwaku terbakar dan dadaku sesak. Aku menjerit dalam diamku.

Katakanlah padaku bahwa aku sedang bermimpi? Tolong!

***

Pikiranku kacau, ku biarkan buliran itu mengalir ke pipi tanpa henti. Rasa cemas dan perih sudah tak lagi nyata yang kurasakan hanya kehampaan dan aku ingin segera mengetahui keadaannya. Setelah memarkirkan motorku di parkiran rumah sakit. Aku menyeret tubuhku yang basah dan tak bertenaga berlari menuju ruang informasi. Tak kuperdulikan pandangan orang lain yang kuseruduk antriannya, aku tak perduli lagi pada semuanya, fokusku adalah bertemu Dewa.

Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal, bahwa aku mencintaimya dan aku tak ingin kehilangannya.

"Mbak, pria yang katanya kecelakaan dibawa kemana Mbak? Tolong jawab!" teriakku tak sabar. Mbak Suster yang kutanya tersebut langsung berdiri karena melihatku panik.

"Kecelakaan? Oh yang barusan itu ya Mbak? Sebentar!" ujar Mbak Suster gugup. Dia langsung memeriksa data.

"Cepat!" desakku. Tubuhku bergetar tak sabar.

"Sebentar Bu!"

Mbak itu memegang telepon entah menghubungi siapa. Aku menyusut berulang kali air mataku yang menyentuh bibir. Beberapa orang nampak iba karena tampilanku yang mengenaskan. Akhirnya Mbak Suster menutup teleponnya. Tangannya terulur menyentuh tanganku matanya memancarkan sorot iba.

"Maaf Mbak, lelaki yang kecelakaan itu ... dia meninggal, itu mayatnya sedang di bawa ke sini!" tunjuk Mbak ke brankar yang menuju ke arahku.

Bagaikan disambar petir seketika, tubuhku membeku, kenyataan yang tidak bisa aku toleransi dan aku takutkan membuat jiwaku tercabik. Aku mematung, dadaku sesak dan darahku bergolak. Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana bisa dia meninggalkanku sebelum aku meminta maaf dan mengatakan aku mencintainya.

"Mbak, Mbak yakin?" tanyaku tercekat. Suster itu mengangguk pelan membuatku bungkam.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berlari menyongsong brankar yang sedang dibawa oleh tiga orang penjaga melewati lorong. Aku tubrukan badanku ke brankar yang di atasnya terbaring sesosok tubuh yang kaku dan tertutup kain putih seluruh badannya.

"Dewa, bangun Dewa, ini aku! Aku sayang kamu Dewa, bangun Dewa!" teriakku histeris.

Aku tak perduli disebut orang gila. Cintaku kali ini lebih dari kandas, dia kekasihku tak mungkin tega melakukan ini. Semua orang di lorong memperhatikanku penuh rasa kasihan, mata mereka ikut menangis.

Cintaku terlambat. "Dewaaaa! Bangun! Aku belum bilang sesuatu meski kamu nyebelin, aku beneran gak marah! Bangun buat aku dan Gio!"

"Bu Guru?"

"Lihat Gio saja, ada di sini!"

Aku berteriak semakin histeris kala suara Gio terdengar. Pasti anak itu sedih, setelah ibunya kini papahnya.

Sungguh sangat mengenaskan. Aku tak bisa membayangkan hidupku dan Gio tanpanya.

"Banguuun!" Aku menangis di samping mayat sambil menundukan kepala menyembunyikan tangis tanpa jeda.

"Nia, kamu lagi apa?"

"Lagi nangisin kamu, kenapa pake nanya? Eh?"

Aku langsung mengangkat wajahku. Tersadar bahwa suara itu tak asing. Gak mungkin mayat bisa ngomong? 

"Nia, saya masih hidup, loh!" Kini suara itu semakin dekat, tepat di kupingku. Sontak aku menoleh.

"Astaghfirullah!" Aku langsung kaget. tanganku refleks menggisik-gisik mataku yang basah untum memastikan penglihatanku tidak salah.

Dewa masih hidup? Lalu yang di brankar? Aku masih bingung menatap Dewa.

"Ka-kamu masih hidup?" tanyaku gagap melihat Dewa dan Gio berdiri menatapku aneh.

"Nia, yang di brankar adalah salah satu korban dari tabrakan beruntun yang waktunya sama kayak saya. Alhamdullilah saya gak terlalu parah, hanya pelipis dan jahitan di kepala. Maaf ya membuatmu khawatir dan makasih atas pernyaatan sayangnya!"

Apa? Aku syok setengah mati. Jadi drama tangis-tangisan sampai membuat iba itu hanya karena aku salah info alias hoax.

Aku menelan ludah, menyesal tidak memperivikasi sebelumnya pada Mbak Suster.

"Jadi Bu Guru sayang sama Papaj?" Suara Gio yang polos menggoda. Ya Allah! Adakah yang lebih memalukan dari ini? Pernyataan cinta pada orang dan waktu yang salah.

Giooooo!