Jangan lupa pakai bedak!
5. Jangan lupa pakai bedak!

"Walah nduk, pelan-pelan kalau makan, jadi keselek kan." Ibu menepuk-nepuk punggungku sambil memberikan segelas air.

Kuraih segelas air pemberian ibu, kuteguk separuh untuk mendorong nasi yang menyangkut di tenggorokan.

"Ahhhh," lega sambil kuelus-elus leherku. Kulanjutkan menyendok nasi dan melahapnya. Sambel goreng kentang plus ati ampela bikinan ibuk memang rasanya tiada lawan. Perpaduan bumbu rempah dan ati ayam berlemak bisa bikin nasi satu magic com habis tak tersisa.

"Enak gak?" Tanya ibu.

"Maknyussss." Aku menggabungkan jari jempol dan telunjuk sehingga membentuk bulatan dengan tiga jari yang lain mengacung keatas seperti iklan kuliner di TV.

"Buk, emang kondangannya naik pick up?" Tanyaku setelah menghabiskan suapan terakhir di piring.

"Iya, kan biasanya juga naik pick up, kalo sewa mobil mah gak muat, apalagi ibu-ibunya pada bawa anak, mana gede-gede lagi, kayak kamu, Hani, Nadya, Satrio, ya penuh anaknya doang." Jelas ibuk.

"Satrio juga ikut?" Aku mengerutkan dahi, tak terasa bibirku maju beberapa centi dari semula.

"Ya jelas ikut to nduk, wong yang punya hajat masih saudara jauh ibunya Satrio," tandas ibuk.

"Ahhh, males ah buk kalo ada Satrio. Aku gak jadi ikut aja."

"Lo bukannya tadi udah janjian sama Hani, pengen liat Via vallen."

Aku hanya terdiam, membayangkan Trio ikut pasti ada aja ulahnya, tapi kalau gak ikut kapan lagi bisa lihat Via Vallen secara langsung, gak bayar pula. Baiklah, ikut saja, toh ada ibu sama bapak, Trio gak mungkin berani mengejek secara terbuka.

Kupilah-pilah baju yang di almari, mencari baju terbaik yang akan kupakai ke kondangan nanti. Setelah sekian banyak baju, ada satu stel baju berwarna merah muda. Celananya model kulot, sedangkan bajunya model tunik kombinasi brukat dengan lengan balon berenda pada ujungnya. Meskipun warnanya agak kontras dengan warna kulit, tapi baju ini yang kurasa paling bagus.

Sambil menunggu sore, aku bermain lompat tali bersama Nadya, Sekar, Irma, dan Tita. Tak berselang lama mobil pick up mas Tri datang, sang pemilik memarkirnya di depan rumah bu RT yang tak jauh dari dari tempat kami bermain.

"Lohhh, mobilnya udah dateng," kata Irma menghentikanku yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat.

"Ayok mandi yok, tar ketinggalan gak jadi liat Via Vallen," imbuh Nadya.

"Ayokkk, ayokkk," kata yang lain.

Kami pun menyudahi permainan dan beranjak pulang. Aku yang pulang paling terakhir karena masih harus menggulung tali karet. Kukebaskan terlebih agar tanah yang menempel terlepas, baru kugulung di tanganku.

"Sudah, bubar, buruan mandi, biar gak ketinggalan." Mas Tri meneriaki kami dari atas bak pick up nya.

"Dande juga ikut?" Tanyanya.

"Iya mas, mau liat Via Vallen," kataku sumringah.

"Jangan lupa luluran ya, pake bedaknya yang tebel biar kelihatan putih glowing." Imbuhnya, lantas tertawa lepas.

Hatiku bergemuruh, dadaku penuh sesak mendengar kata-kata mas Tri. Apa iya karena kulitku yang gelap aku disuruh pakai bedak tebal. Kuhentikan langkah. Kuarahkan pandangan pada mas Tri, kupelototi dia, jika saja dia tak lebih tua pasti sudah kurobek mulutnya.

"Guyon Dan, jangan diambil hati." Kilahnya.

Tak kuhiraukan kata-kata mas Tri, bagiku jika sudah menyangkut warna kulit berarti itu menghinaku. Kata-kata orang dewasa yang mereka anggap bercanda, sebenarnya sangat menyakiti hati.

Sesampai di rumah aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Kumasukkan lagi baju yang rencananya akan kupakai itu ke dalam almari, lalu merebahkan badan di ranjang, sesak rasanya. Kata-kata luluran dan bedak tebal masih tergiang-ngiang di telinga. Tak terasa bulir bening mengalir di pelipis kiri dan kanan.

"Nduk, buruan mandi! Jadi ikut kondangan gak? Bapak sama ibuk sudah siap ini," kata ibu dari sisi luar pintu kamar.

Kuhapus air mata dengan cepat, kuhela napas panjang agar tak kelihatan habis menangis.

"Gak buk, Dande gak jadi ikut, capek abis mainan lompat tali tadi," jawabku dari dalam.

"Buka dulu pintunya!" Titah ibuk.

Kuputar kenop pintu perlahan. Ibu berdiri di depan kamar, nampak anggun dengan kebaya modern yang berbahan brukat berwarna abu-abu. Riasan wajah natural dengan lipstick warna nude menambah kecantikan wanita yang berumur hampir setengah abad itu.

"Beneran kamu gak jadi ikut?" Ibuk memastikan.

"Kenapa? Ada ngledekin?" Tanya ibu penuh selidik.

"Gak ada apa-apa buk, Dande capek banget, lagian besok ada ujian Bahasa Indonesia, Dande mau belajar aja." Aku berpura-pura lelah di depan ibuk dengan sesekali kupijat lenganku sendiri.

"Ya sudah kalo begitu, kamu jangan lupa mandi ya nduk, ibuk pergi dulu." Ibuk beranjak pergi, suara selopnya yang beradu dengan lantai terdengar menjauh.

Kamar mandi adalah saksi bisuku menumpahkan air mata. Jarang sekali aku mengadukan perkataan orang yang selalu menyindir warna kulitku pada bapak atau ibuk, hanya kupendam sendiri saja. Aku takut ibuk akan melabrak orang yang menghinaku, jadi sebisa mungkin aku selesaikan dengan caraku sendiri. Seperti saat ini, mas Tri juga akan mendapatkan balasan. Tunggu saja.