Hasil Ujian Matematika
7. Hasil Ujian Matematika

Aku mengikuti ajakan Hani untuk masuk ke kelas. Dia menuntunku sampai aku duduk di bangku dengan sesekali mengelus punggungku agar aku bersabar pada perlakuan Satrio tadi, baru kemudian dia duduk dibangkunya sendiri yang berjarak hanya satu meja disisi kiriku.

Kelakuan Satrio pagi ini masih membuatku jengkel, kuambil gunting dan selembar kertas dari dalam tas, kemudian mulai ku gunting kertas menjadi beberapa bagian, kuulangi lagi hingga kertas menjadi potongan-potongan kecil. Cara itu sudah aku lakukan sejak lama untuk menenangkan hati. Entah efek dari apa, tapi bagiku menggunting-gunting kertas membuatku lebih nyaman dan tenang.

"Selamat pagi anak-anak." Sapa pak Budi mengagetkanku yang tanpa kusadari kehadirannya.

"Selamat pagi pak." Seru kami serempak.

Segera kubereskan potongan kertas yang berserakan di atas meja, lalu menyiapkan buku paket, LKS, dan buku tulis matematika.

"Hari ini hasil ujiannya akan Bapak bagikan. Banyak yang mendapat nilai 100, namun ada pula yang nilainya dibawah 70. Jadi nanti yang mendapat nilai diatas 70 tidak remidi, sedangkan yang kurang dari 70 harus ikut remidi minggu depan. Siap ya?"

"Siap Pak."

"Baiklah, yang namanya bapak panggil diharap maju untuk mengambil kertas hasil ujian. Amin, Annisa, Tita, Hani, Satrio, Nabila, Yulia, Reni, Hakim......"

Satu per satu mereka maju dan mengambil kertas ujian. Hani terlihat sangat sumringah, bisa kupastikan nilainya bagus, sementara teman-teman yang lain ada yang biasa saja, ada yang bersorak gembira, ada yang terlihat sedih, dan ada yang nampak bingung.

"Dandelia," kini giliran namaku yang dipanggil.

Kulangkahkan kaki ke depan untuk mengambil kertas hasil ujian, sementara pak Budi masih memanggil nama anak-anak yang lain.

"Yesss!" Kukepalkan tangan.

Sesuai dengan harapan, aku mendapatkan nilai 100 bulat sempurna, tak sia-sia aku belajar siang malam agar mendapat nilai 100.

"Heh, Arang, kenapa nilaiku cuma 50 sedangkan nilaimu 100?" Satrio merebut kertas ujianku dan membandingkan dengan kertas ujian miliknya.

"Ya gak taulah, orang yang nyontek kamu." Aku mencebik menunjukkan wajah jutek, berkali-kali kuputar bola mata kekiri dan kekanan.

"Kok bisa jawaban akhirnya beda, punyaku salah semua," dengan menunjuk kertas ujian miliknya.

"Makanya kalo ngeliat yang bener, udah nyontek salah lagi." Belaku semakin sengit.

"Pasti kamu ganti jawabannya ya? Biar jawabanku salah semua? Hayo ngaku!" Balas Trio tak mau mengalah.

"Kalau iya, memangnya kenapa? Masalah buat loh?"

"Oh, berani ya kamu sama Satrio. Dasar Arang, belagu, sudah hitam, jelek, sok pinter lagi." Satrio mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku.

"Brakkkkkk." Spontan kupukul kepala Satrio dengan buku paket matematika yang ada di meja. Kuluapkan amarah yang sedari tadi tersimpan. Sudah cukup aku diam dari pagi tadi.

Kemaren aku memang sengaja membolak-balikkan jawaban agar hasil akhirnya salah, karena bisa dipastikan Satrio akan mencontek jawabanku. Setelah Satrio puas menyalin jawaban, giliranku beraksi, waktu 10 menit sebelum kertas dikumpulkan sudah lebih dari cukup untuk mengganti semua jawaban dengan jawaban yang benar. Baru kemudian aku mengumpulkan kertas ujian.

Cara itu ternyata cukup ampuh membalas kekesalanku pada Satrio. Seringkali saat ujian dia ingin mencontek, tapi tak pernah kuindahkan. Ujian kemaren adalah sebuah pengecualian, aku ingin membalas perlakuan Satrio, maka kubiarkan saja dia dengan leluasa menyalin jawabanku. Tentu saja jawaban yang salah. Hehe.

"Satrio, Dande, sedang apa kalian? Kenapa ribut-ribut?" Bentak pak Budi seraya berdiri. Wajah pak Budi yang biasanya tampak santai kini berubah menakutkan.

"Dande mukul saya pak."

"Satrio yang ngejek saya duluan pak." Belaku.

"Duduk! Tidak ada yang boleh berisik di kelas saya!" Tandasnya.

Kami seketika terdiam dan kembali duduk di bangku masing-masing. Jantungku masih berdebar antara masih emosi dengan Satrio atau karena takut dengan pak Budi. Entahlah. Kutundukkan wajah di mejaku, berusaha menenangkan diri.

Satrio yang tadinya terlihat berang juga nampak terdiam. Dia nampak meremas-remas kertas hasil ujiannya.

Kelas pun menjadi hening.

"Anak-anak, tadi sudah mengambil formulir data diri?" Pak Budi mengawali percakapan dengan suara yang kembali santai seperti biasanya.

"Sudah pak."

"Sudah diisi?"

"Sebagian sudah pak."

"Baik, begini anak-anak, libur semester tahun ini kita akan mengadakan hiking untuk kelas 5 dan kelas 6, jadi kalian nanti harus mengisi biodata diri tersebut sebagai persyaratan mengikuti hiking dan harus minta tanda tangan orang tua." Pak Budi menerangkan dengan seksama.

"Ada yang ditanyakan?"

"Tidak pak."

Kupandangi formulir ini, masih ada yang sangat mengganjal yang ingin kutanyakan pada pak Budi, namun kuurungkan. Aku malu kalau nanti teman-teman bersorak sorai meledekku.

Sebenarnya aku ingin bertanya perihal warna kulit.