Pindah Kerja Saja


Setelah menjawab salam dari lelaki yang membawa kardus besar itu, Dava mendekat ke pintu. 

"Bu Mayangnya ada, Pak?"

Dava melirik ke dalam. Dari tempatnya berdiri, ia tak dapat melihat Mayang. Mungkin sedang di kamar mandi, pikirnya. 

"Ada. Anda siapa, ya?"

"Saya mau anter ini."

"Apa ini?"

Dava baru hendak menerima kardus yang diberikan lelaki itu ketika tiba-tiba Mayang muncul dan membawa kardus besar yang serupa.

"Hai, Pram. Kamu udah sampai?"

"Iya, Bu." 

"Taruh aja di lantai. Ini yang kemarin."

Mayang meletakkan kardus yang ia bawa di dekat kaki lelaki bernama Pram. Dava mengerutkan dahi mencoba memahami pembicaraan kedua orang itu. 

"Ini, Bu," ujar Pram menyerahkan uang tiga puluh ribu rupiah. 

"Makasih, ya."

"Sama-sama, Bu. Saya permisi. Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam," jawab Mayang dan Dava. 

"Apa ini, May?" tanya Dava setelah Pram berlalu.

Mayang tersenyum. Ia membawa kardus besar itu dan membukanya sambil duduk. Bertumpuk kertas bertuliskan brand produk kecantikan, terlihat di sana. Ada juga satu tempat kecil yang Dava duga sebagai lem. 

"Sambil menunggu Aisyah pulang sekolah, aku mengerjakan ini Dav."

Tangan Mayang dengan cekatan melipat beberapa kertas dari dalam kardus. Mengolesnya dengan sedikit lem di beberapa sudut, kemudian membentuknya sedemikian rupa hingga membentuk sebuah tas kemasan kecil.  

"Berapa lembar semuanya?"

"Tiga rim."

"Honornya tiga puluh ribu?"

Mayang mengangguk. 

"Hmm, seribu lima ratus lembar. Jadi, kamu dibayar dua puluh rupiah untuk setiap lembarnya?"

"Baru seminggu ini. Awalnya hanya lima belas rupiah. Entah siapa yang naikin. Pram atau bosnya, aku juga nggak tahu. Yang penting ada pekerjaan tambahan yang bisa kulakukan tanpa harus meninggalkan Aisyah."

Dava menghembuskan napas perlahan. Seberat itu ternyata hidup yang harus Mayang jalani bersama gadis kecilnya. 

"Eh, aku lupa, kita belum jadi sarapan. Tunggu sebentar."

Dava tak menjawab. Ia kehabisan kata, bahkan sampai Mayang muncul kembali membawa nasi, tumis kangkung dan dua iris telur dadar. 

"Maaf, cuma ada ini, Dav. Pasti jauh beda dengan menu sarapan kamu di rumah."

"Nggak juga. Aku sering makan kangkung buatan ART di rumah. Ini pasti lebih enak. Apalagi aku kangen masakan kamu. Terakhir kita makan bareng di tempat kos Diaz, kan?"

Mayang tertawa.

"Ah, iya. Aku masakin dia rendang. Acara apa waktu itu, ya?" 

"Nggak ada acara apa-apa, sih. Diaz cuma nantangin kamu, karena dia nggak percaya seorang Mayang yang asli Jawa bisa masak menu Padang."

"Ah, iya benar. Malah terakhir dia bilang, rendangku lebih enak dari buatan ibunya."

Dava tertawa. Di saat yang sama, hati lelaki itu tersayat melihat kemiskinan yang menyelimuti Mayang. Wanita yang masih dicintainya. 

"May, kamu setiap hari ngerjain kerta kemasan itu?" 

"Harusnya iya, tapi aku minta libur setiap Ahad. Biar punya waktu yang benar-benar full bersama Aisyah."

"Kalau ada pekerjaan yang lebih ringan, tapi honornya lebih tinggi, kamu mau nggak pindah kerja?"

Mayang tertawa. 


"Semua orang pasti ingin bekerja di tempat yang lebih baik, Dav. Yang honornya lebih besar. Kalau ditanya, mungkin nggak ada orang yang mau jadi ART. Walau aku hanya mencuci dan nyetrika di rumah Tante Riska, dan dia juga baik banget, tapi tetap saja ingin pindah kalau ada yang lebih enak."

"Kalau gitu, kamu kerja di kantorku aja," ujar Dava dengan mata berbinar. 

"Mana bisa begitu? Aisyah bagaimana? Selama ini, aku belum pindah cari kerjaan yang lain, karena memikirkan Aisyah. Dia bisa kuajak kalau kerja di rumah Tante Riska."

Dava membenarkan posisi duduknya.

"Begini, May. Kamu kerja di tempatku. Setiap jam pulang sekolah, biar sopirku yang jemput Aisyah dan bawa ke kantor."

"Nggak, Dav. Aku nggak mau bikin kecemburuan karyawan yang lain. Mana ada orang kerja kantoran tapi bawa anak?"

"Udah, lah. Kamu nggak usah pikirin omongan orang lain. Yang penting sekarang, kamu bisa bekerja lebih tenang, dan nggak terlalu berat juga."

"Dalam hidup, kita memang nggak harus pusing dengan apa kata orang, tapi ...."

"Apa?"

"Kita juga harus menjaga agar orang lain tak berpikir negatif pada kita. Harus bersikap yang tidak memberi peluang bagi orang lain berburuk sangka."

"Aduh, May. Kenapa jalan pikiran kamu masih ribet aja, sih? Ya, udah gini aja. Kamu kerja di tempatku, nanti kita cari orang buat jemput dan jagain Aisyah di rumah."

"Bayar orang buat momong itu nggak murah, Dav."

"Gajimu di kantorku cukup buat hidup kalian dan bayar orang."

Mayang kembali tertawa. 

"Memangnya berapa gaji perempuan berijazah SMA di kantormu?"

"Kamu bukan cuma SMA, May. Kamu udah hampir jadi sarjana."

"Calon sarjana yang kandas, Dav. Aku belum sempat skripsi, apalagi ngerasain wisuda."

"Udah, gampang itu. Nanti kamu bisa lanjut kuliah lagi. Sekarang yang penting kamu setuju dulu buat kerja di kantorku."

"Jadi apa? Lulusan SMA paling jadi tukang kebersihan kan? Office girl?

"Nggak. Kamu akan kutempatkan jadi staf keuangan. Aku tahu emampuan kamu, May."

"Dav, jangan tempatkan aku pada posisi sulit. Bagaimana nanti kalau karyawanmu yang lain tahu, bahwa aku yang cuma lulus SMA bisa kerja di bagian yang butuh skill sarjana? Udah, deh. Kamu nggak usah pikirin hidup aku dan Aisyah. Kami bukan siapa-siapa."

Dava menghembuskan napas dengan berat. 

"Jangan bicara begitu, May. Kita memang tak ada ikatan apapun saat ini, tapi aku peduli pada hidup kalian. Bahkan aku merasa, Aisyah seperti anakku. Atau, jangan-jangan dia memang anakku?"

"Nggak, Dav. Aisyah bukan anakmu. Ayahnya sudah meninggal."

"Kamu bicara jujur kan, May? Aisyah usianya lima tahun. Bukankah itu tepat dengan ...."

"Stop, Dav. Jangan dilanjutkan. Aku nggak mau mengingat itu."

"Maaf. Aku hanya ingin tahu kebenarannya."

"Aisyah memang berusia lima tahun, tapi aku yang paling tahu, siapa ayahnya. Dia laki-laki yang telah menjadikan hidup kami berdua hancur. Yang tak pernah menginginkan Aisyah lahir."

Mayang kemudian menceritakan kehidupannya setelah menikah dengan Adi Brahma dan mengandung Aisyah. Hingga keinginan suaminya itu agar Mayang dibawa ke banyu biru untuk melahirkan. 

"Saat kehamilanku sudah masuk bulan ke delapan, suatu malam Adi Brahma pergi ke pesta bersama beberapa pejabat desa. Pulangnya, ia mengalami kecelakaan. Dengan kecepatan tinggi, dia menyalip mobil di depannya yang berjalan sangat pelan. Ternyata dari arah berlawanan muncul mobil truk yang melaju kencang. Adi banting setir ke arah kiri, dan mobilnya langsung menabrak pohon beringin, lalu terpental dan menabrak pagar beton sebuah gudang. Suamiku itu meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Kupikir, hidupku mulai hari itu bisa bebas dan tak lagi terkekang. Nyatanya nggak. Aku dianggap sebagai penyebab kematian Adi Brahma, karena telah membawa sial, dan harus membayar semuanya." 

Hening.

Saat Mayang hendak melanjutkan ceritanya, terdengar suara laki-laki mengucap salam. Mayang dan Dava menoleh ke arah datangnya suara. 

"Pak Pardi? Ada apa, ya?"

Mayang langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Perempuan itu heran karena satpam sekolah sampai datang mencarinya. 

"I-itu, Bu. A-Aisyah kecelakaan."

***

Ditunggu komennya ya readerku, Sayang.
Jangan lupa tekan love di bawah. 

Baca juga ceritaku yang lain:

1. Tak Pakai Perhiasan Disangka Melarat
2. Menjaga Hati yang Kedua
3. Ingin Bertahan, tapi Aku Lelah
Dan masih banyak yang lainnya