Ayam Goreng untuk Ais
Dava duduk di balik kemudi dengan tatapan lurus ke arah rumah nomor lima belas. Sudah hampir tiga jam ia mengamati, tapi belum ada tanda-tanda Mayang dan Aisyah keluar dari sana. Sengaja mobilnya diparkir agak jauh supaya tak menimbulkan kecurigaan bagi satpam di rumah itu. 

Tepat pukul empat sore, Mayang dan Aisyah muncul di depan pagar rumah bercat hijau itu. Mereka tidak menyeberang, melainkan langsung jalan kaki di trotoar. Arahnya justru mendekati mobil Dava. Tentu saja itu menguntungkan.

Menunggu dalam hitungan detik, Dava keluar dari mobilnya. Ia mendekat ke arah Mayang. Perempuan itu langsung menghentikan langkahnya karena terkejut. Gadis kecil yang dituntunnya juga ikut berhenti. 

"Om Dava!" teriak Aisyah yang menyadari kehadiran lelaki setinggi 178 sentimeter itu.

"Hai, Ais! Senangnya bisa ketemu lagi."

Mayang menatap dengan waspada. Ia berpikir, kenapa Dava ada di sini saat ia hendak pulang? Apakah dirinya dan Aisyah sudah dikuntit dan diawasi laki-laki dari masa lalunya itu?

"May, aku antar kalian pulang, ya," ujar Dava saat posisinya hanya tiga langkah lagi dari Mayang. 

"Nggak usah, Dav. Kami bisa jalan kaki ke halte, lalu naik busway."

"Tolong jangan menolakku, May. Lagi pula, bukankah kartumu hilang?" 

Mayang tersenyum hingga menampakkan lesung pipi yang menambah cantik parasnya. Senyum yang selalu hadir di langit-langit kamar, pada malam-malam sunyi milik Dava Adivari. 

"Iya. Makanya aku dan Aisyah mau ke mini market di depan sana itu. Mau beli kartu e-money dulu sekaligus mengisinya."

"Udah, nggak usah beli. Aku punya banyak. Nanti kamu bisa pakai salah satunya. Sekarang, aku nggak nerima penolakan. Kamu harus mau kuantar."

Mayang menarik napas berat. 

"Oke. Sekali ini aja, ya?"

Dava tak menjawab. Ia melangkah menuju mobilnya dan membukakan dua pintu di sisi kiri.

"Aku nggak mau di belakang, Bu," ujar Aisyah. 

"Kalau gitu, Aisyah di depan sama Om Dava. Biar ibu di belakang."

"Nggak mau juga. Aku mau di depan, tapi dipangku Ibu."

Dava tersenyum karena tak kehilangan kesempatan untuk duduk di samping pujaan hatinya. 

"Ya sudah. Ayo naik," tukas Mayang sambil membantu Aisyah.

Setelah keduanya duduk di kursi depan, Dava menutup pintu-pintu mobilnya lalu berjalan ke sisi kanan. Dengan cepat ia masuk dan duduk di kursi kemudi. 

"Emangnya, Om Dava tahu rumah aku?"

Dava tersenyum lagi. Ia takjub dengan Aisyah. Di usia lima tahunnya, ia sudah tidak cadel. Bahkan pikirannya terlihat jauh lebih dewasa dibanding anak seusianya.

"Belum tahu, memangnya di mana rumah Aisyah?"

Gadis kecil itu menyebutkan sebuah daerah padat penduduk di wilayah Jakarta Barat. Tidak jauh dari tempat Mayang bekerja, tapi juga tidak bisa dibilang dekat mengingat perempuan itu harus naik kendaraan umum. 

"Wah, Om pernah lewat sana, tapi waktu itu Ais belum lahir kayaknya."

Mayang langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Dava. Lelaki itu bergegas mengulurkan sebotol air mineral. Mayang menerimanya, tapi sempat ragu dan menatap air kemasan itu sejenak. 

"Minumlah. Belum dibuka, kok."

Mayang meminum air putih itu perlahan. Sesekali ia masih terbatuk. Wajahnya yang putih tampak memerah. 

"Maaf," ucap Dava lirih. 

"Kamu nggak salah. Aku yang terlalu sensitif."

Setelah itu mereka diselimuti keheningan. Hanya suara Aisyah yang sesekali terdengar mengomentari beberapa hal. Benda-benda di dalam mobil Dava, kendaraan yang lalu lalang di jalan, hingga pengamen dan tukang asongan yang mereka temui di beberapa lampu merah. 

Mayang dan Dava pun larut dalam pikiran mereka sendiri. Keduanya mengingat kembali kejadian malam itu. Saat pertama mereka bertemu. 

Mayang adalah mahasiswi yang cerdas, tapi tak mendapat dukungan penuh dari orangtua untuk melanjutkan sekolah. Beruntung dengan rekomendasi seorang guru di sekolahnya, gadis itu akhirnya mendapatkan beasiswa penuh selama delapan semester untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. 

Mayang menguatkan hati merantau ke ibukota. Karena beasiswa yang didapat hanya untuk biaya pendidikan, Mayang harus berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk makan dan tempat tinggal. Kuliah sambil bekerja menjadi pilihannya. 

Mulai dari bekerja menjadi tukang cuci piring di warung makan, jaga toko, hingga mengajar privat dari rumah ke rumah. Pekerjaan terakhir adalah yang paling ia suka. Selain mengasah kemampuan akademisnya, Mayang pun merasa terhibur ketika berinteraksi dengan anak-anak usia SD, SMP, dan SMA yang menjadi muridnya. 

Seperti hari itu, Mayang baru dalam perjalanan pulang setelah mengajar Indah, murid privatnya yang duduk di kelas dua SMA. Gadis itu sedang menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang ke tempat kos, ketika dua orang preman mendekat. 

Suasana halte yang sepi semakin menguntungkan bagi preman-preman itu. Awalnya mereka mengatakan hanya ingin berkenalan, tapi dengan cara yang tidak sopan. Bahkan keduanya mulai berani hendak menyentuh Mayang. 

Saat kondisinya semakin terdesak, datang seorang pemuda dengan motor besar yang langsung menghajar kedua preman tersebut. Kemampuan bela dirinya jauh di atas dua lelaki yang hendak melecehkan Mayang. 

"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Dava pada Mayang setelah membuat para preman lari tunggang langgang. 

"Ng-ngggak. Ma-makasih, ya."

Sejak malam itu, Dava dan Mayang bersahabat. Mereka ternyata kuliah di kampus yang sama walau beda angkatan, hingga sangat banyak waktu untuk bersama.

Sejak awal melihat Mayang, sudah tumbuh Cinta di hati Dava. Membuat ia ingin selalu melindungi gadis itu. Gayung pun bersambut, karena ternyata Mayang menyimpan rasa yang sama. Keduanya mengikat janji, hingga petaka malam kelulusan angkatan Dava pun terjadi. 

"Bu, itu tempat beli ayam goreng seperti yang dimakan Nita, ya?"

Suara Ais menyadarkan keduanya dari lamunan. Mayang menoleh ke arah yang ditunjuk putri semata wayangnya. 

"Iya, Nak."

"Ais mau beli itu. Boleh?"

Ais mendongakkan kepala ke arah sang ibu. Wajahnya penuh harap.

"Besok aja ibu masakin, ya?"

"Memangnya ibu bisa masak ayam seperti itu?"

"Bisa, dong."

"Asyik. Makasih, Bu."

Dava menyaksikan adegan di depannya dengan hati tersayat. Ia yakin, jika memiliki uang yang cukup, Mayang pasti langsung setuju untuk membelikan ayam yang diinginkan Ais. Bukan menjanjikan akan memasaknya sendiri. Segera lelaki itu mengarahkan mobil untuk masuk ke halaman resto ayam goreng Amerika yang ditunjuk Ais.

"Dav?" lirih Mayang sambil menatap lelaki di sampingnya.

"Kenapa kita ke sini, Om?" tanya Ais yang kini juga menatap Dava. 

"Om mau beliin ayam goreng untuk Ais. Mau makan di sini atau di rumah?" 

"Di rumah aja, Om."

"Oke. Kalau gitu kita makan dulu di sini, nanti Om belikan juga untuk yang dibawa pulang."

Mata Aisyah berbinar. 

"Makasih, Om."

"Dav, nggak usah kayak gini."

"Sudahlah. Aku mau beliin Aisyah. Jangan ditolak."

Ketiganya turun dari mobil dan berjalan hendak masuk ke resto. Tiba-tiba seorang perempuan dengan rambut berwarna merah mendekat ke arah mereka. Ia langsung menarik tangan Mayang.

"Heh, pembawa sial! Kamu di sini ternyata. Pantesan nggak pernah muncul, udah dapet korban baru ternyata!"

***