Kamelia di Kerajaan Biru
Di negeri Nes hiduplah seorang gadis bernama Kamelia. Ia tinggal bersama seorang ayah dan adik perempuan yang tidak bisa bicara. Dia mengalami kebisuan sejak kematian ibunya dua tahun lalu. Kini usianya menginjak enam tahun. 

Mereka tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi kebun bunga dan pohon-pohon besar yang rindang. Setiap hari Kamelia dan ayahnya bergantian pergi ke kebun untuk mengurus bunga. Sebab selain mengurus bunga mereka juga harus menjaga adik Kamelia yang terus berdiam diri di rumah. 

Ia tidak mau menginjakan kakinya ke luar. Baginya berdiam diri seperti itu setiap hari sudah menjadi rutinitas. Sebenarnya ini tidak baik bagi kesehatan mental dan fisiknya. Namun, setelah berkali-kali Kamelia dan ayah membujuknya untuk main di luar ia hanya menggelengkan kepala dan berkata "aku tidak mau main kalau tidak ada ibu." 

———

Suatu hari Kemelia sedang memetik bunga di kebun. Tanpa sengaja dia melihat seekor kucing di balik semak-semak. Kucing itu berlumuran darah. Ia tampak kesakitan. Karena merasa kasihan, akhirnya Kamelia membawa kucing itu pulang ke rumah. 

Kamelia merawat kucing yang malang itu dengan baik. Dia memberinya makan, obat serta tempat tidur yang hangat. 

"Kucing, kamu jangan pergi ke mana-mana, ya! Kamu temani saja Airi di sini. Nanti kamu suapi dia makan ya!" ucap Kamelia sambil menatap Airi, adik kecil yang sangat ia sayangi itu. Kucing itu mengeong seolah mengiyakan perkataan Kamelia. 

Airi tersenyum. Ini adalah hal langka. Biasanya Airi selalu murung meski kakaknya itu membuat candaan lucu dengan berkostum seperti badut di hadapannya. 

Ayah yang kebetulan melihat kejadian itu pun ikut tersenyum. Ini kali pertama putri bungsunya tersenyum kembali setelah dua tahun lamanya ia selalu murung dan menangis. 

"Ayah, aku pergi ke kebun dulu, ya. Bunga-bunga aster yang kemarin itu siap dipetik. Lagipula ada yang memesannya dua hari lalu." Kamelia meminta izin. 

"Iya, Nak. Hati-hati ya!" jawab Ayah singkat. 

Kamelia bergegas menuju kebun. Ia tidak mau sampai terlambat memetik bunga.

Sesampainya di kebun, Kamelia mendapati sebagian bunganya layu. Padahal kemarin semuanya tampak segar dan berwarna cerah.

Kamelia mencoba memeriksa keadaan sekitar. Tapi tak ia temukan satu pun penyebab bunganya layu. Ia berpikir mungkin ini semua karena keteledorannya. Padahal kerajaan memesan bunga dalam jumlah yang tidak sedikit.

Akhirnya ia memetik bunga-bunga yang masih segar itu dari tangkainya menggunakan sebuah gunting. Dua keranjang yang Kamelia bawa tidak terisi penuh. Ia hanya mendapat satu setengah keranjang. Ia menyusunnya dengan rapi agar kelopaknya tidak rusak.

Saat membawa bunga-bunga itu pulang, tiba-tiba di tengah jalan Kamelia melihat satu lubang aneh berwarna hitam tepat di bawah pohon kembar. Pohon itu persis seperti sebuah gerbang.

Karena penasaran, akhirnya dia mendekati lubang hitam itu untuk memastikan. Kemudian ia memasukan lengannya ke dalam lubang dan keanehan pun terjadi. Tanpa disadari, ia telah memasuki dunia lain. Dunia yang sangat indah.

Padang rumput hijau yang membentang luas, sungai yang mengalir deras dengan puluhan ikan berwarna-warni yang hidup di dalamnya, gunung-gunung yang menjulang tinggi serta bangunan yang unik dengan aritektur yang khas. Semua tertata rapi dan bisa dibilang sempurna.

"Kakak ini siapa?" tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.

"Aku dari ..." Kamelia yang hendak menjawab pertanyaan itu, menghentikan perkataannya setelah mengetahui tidak ada siapapun di sana.

"Dari mana, Kak?" tanya suara itu lagi.

Kamelia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak ia dapati seorang pun di sana. Akhirnya ia mengamati sesuatu yang bergerak di dekat sepatunya. Ada satu makhluk kecil di sana. Ia bersayap namun sayapnya tampak retak.

Kamelia terkejut. Ia hampir menendang makhluk kecil itu. Namun hal itu tidak terjadi karena ia berusaha terbang menyelamatkan diri dari tendangan kaki Kamelia meskipun tampak sedikit kesulitan dan kesakitan.

Kamelia lalu mendekati makhluk kecil bersayap itu. Ya, kini Kamelia sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang peri. Rupanya ia saat ini sedang berada di negeri peri. 

Dengan perlahan Kamelia mengamati peri kecil itu. Lalu bertanya, "tadi kamu yang berbicara padaku?" 

"Iya Kak," jawabnya. 

"Ohh perkenalkan aku Kamelia aku berasal dari Nes," ucap Kamelia. 

"Di mana Nes itu Kak?" tanya peri kecil. 

"Aku tidak bisa menjelaskan kepadamu lebih jauh. Sepertinya dunia kita berbeda. Kamu tidak akan mengetahuinya." Kamelia terdiam sejenak lalu melanjutkan perkataannya, "lalu ini dunia apa?" 

"Ini dunia peri Kak. Kita saat ini sedang berada di Kerajaan Biru." Peri kecil itu lalu menunjuk ke sebuah bangunan dengan dua menara di pinggirnya. "Bangunan berwarna abu-abu itu adalah kerajaan kami, Istana Biru. Oh iya  Kak aku hampir lupa perkenalkan namaku Sienna," lanjutnya. 

"Senang berkenalan denganmu Sienna. Lalu kenapa Kerajaan Biru ini istananya berwarna abu-abu?" tanya Kamelia lagi. 

Belum sempat menjawab pertanyaan Kamelia, Sienna memberi isyarat agar Kamelia diam dengan meletakan jari telunjuknya di depan mulut. "Sssst, Kak jangan berisik!" ucapnya. 

Kamelia mengangguk tanda mengerti. Ia mengamati keadaan sekitar. Ia melihat ada puluhan peri terbang. 

Setelah mereka menghilang dari pandangan, Sienna mengajak Kamelia ke tempat tinggalnya. Namun sebelum itu, ia meminta bantuan agar Kamelia menaburkan bubuk ajaib di sayapnya. Akhirnya sayapnya kembali berfungsi dengan baik. Sienna senang bisa terbang bebas lagi. 

Agar bisa mengajak Kamelia ke rumahnya, Sienna memustuskan mengubah ukuran tubuh Kamelia menjadi kecil. Kamelia setuju. Kamelia pun diberi sepasang sayap di punggungnya agar bisa terbang layaknya peri. 

Hari mulai berganti malam. Kamelia tiba-tiba teringat ayah dan adiknya. Bagaimana jika mereka khawatir lalu mencari-cari Kamelia. Tapi Sienna telah menjelaskan pada Kamelia bahwa ia tidak bisa pulang jika hari belum berganti. Karena lubang itu hanya berfungsi satu kali dalam sehari. Untuk masuk atau untuk keluar. 

Tok tok tok ...
Terdengar bunyi pintu diketuk. Sienna segera membukakan pintu. Ternyata tiga peri penjaga telah berdiri di hadapannya. 

"Ada apa ini?" tanya Sienna heran. Karena tidak biasanya mereka berpatroli seperti ini. 

"Kami dengar ada penghuni baru di rumahmu," ucap salah satu peri. 

"Benar. Lantas apa?" tanya Sienna lagi. 

"Kami perlu memeriksanya terlebih dulu. Siapa tahu dia penyusup." para peri penjaga itu menerobos masuk. 

Kamelia yang sedang duduk beristirahat itu dikagetkan dengan kedatangan mereka. Ia panik. Mereka bertiga dengan cepat mengikat tangan Kamelia dan menyeretnya ke luar rumah. Lalu memasukannya pada sebuah kurung menyerupai sangkar burung. 

Mereka membawa Kamelia ke kerajaan. Sementara Sienna yang tidak kuasa melawan ketiga peri penjaga mengikuti dari arah belakang. Ia ingin memastikan Kamelia tidak dalam bahaya. 

Dari kejauhan Sienna mengamati Kamelia. Karena penjagaan di pintu istana sangat ketat, ia tidak bisa masuk. Namun sayang, kini Kamelia menghilang dari jangkauan matanya. 

Kamelia tidak pernah mengira hal ini akan terjadi. Ia takut jikalau tidak bisa pulang kembali ke dunianya, Negeri Nes. Akhirnya sepanjang malam ia habiskan dengan menangis sampai matanya bengkak.

Pagi pun tiba. Raja Erkan—raja Kerajaan Biru—menghampiri Kamelia. Ia bertanya, "dari mana asal usulmu?" 

Dengan gelagapan Kamelia menjawab, "aku dari dunia manusia." Kamelia tidak bisa bohong. Meski kini tubuhnya berwujud seorang peri, namun pada kenyataannya ia adalah manusia. 

"Lalu kenapa kamu bisa masuk ke negeri kami?" tanya Raja Erkan lagi. 

"Aku awalnya hanya penasaran dengan sebuah lubang hitam yang kutemukan di bawah pohon kembar. Lalu aku memasukan lenganku dan tiba-tiba saja aku ada di sini," tutur Kamelia. 

"Apa? Lubang hitam? Kamu bisa menunjukan kepadaku di mana letak lubang hitam itu?" Raja Erkan sepertinya mengetahui sesuatu tentang lubang hitam itu. 

"Tapi Raja, bolehkah aku meminta satu hal?" Kamelia harap Raja Erkan mau mendengar dan mengabulkan permohonannya. 

"Baiklah. Apa itu?" Raja Erkan memang berencana akan memberikan imbalan atas informasi yang diberikan Kamelia. 

"Aku punya tiga permintaan Baginda Raja," ucap Kamelia. 

"Sebutkan permintaan-permintaanmu itu!" perintah Sang Raja. 

"Pertama, aku ingin kembali menjadi manusia. Kedua, tolong kembalikan aku ke negeri asalku. Yang ketiga, tolong sembuhkan adikku yang bisu," sambil menunduk rupanya dia juga menangis. 

Kamelia dikeluarkan dari tempat menyerupai sangkar burung itu. Namun sebelum menunjukan lubang hitam kepada Raja Erkan, ia terbang menuju rumah Sienna terlebih dulu. Ia akan berpamitan pada sahabat kecilnya itu. 

Kemudian mereka berangkat menuju tempat pertama kali Kamelia datang. Raja Erkan bersama pasukannya mengikuti dari arah belakang. Hingga akhirnya sampailah mereka tepat di depan lubang hitam. 

Setibanya di sana, Raja Erkan meminta salah satu dari pasukannya membawakan satu cairan ajaib. Kamelia mengira bahwa itu adalah ramuan agar ia bisa kembali menjadi manusia lagi sebelum Raja Erkan berkata, "Berikan ini pada adikmu yang bisu. Maka dalam dua hari ia akan bisa berbicara." 

"Terimakasih banyak. Aku pasti akan segera memberikannya pada adikku," ucap Kamelia sambil membungkukan badannya. 

"Aku juga berterimakasih padamu karena sudah menunjukan letak lubang hitam ini." Meskipun ia seorang raja, namun kerendahan hatinya tidak lantas menahannya berterimakasih atas informasi yang diberikan Kamelia. 

Sebelum mengembalikan Kamelia ke negeri asalnya, Raja Erkan mengubah tubuh Kamelia ke ukuran semula. 

Dengan senyuman tipis di bibir serta lambaian tangan Kamelia memasuki lubang hitam itu. 

Sesampainya di depan pohon kembar, Kamelia bergegas lari menuju rumah untuk menemui ayah serta adiknya. Tak pikir panjang, segera ia berikan cairan ajaib yang ia dapat dari Raja Erkan kepada adiknya. 

"Ayah maaf aku baru pulang," ucap Kamelia pada ayah yang sedang memanaskan makanan di dapur. 

"Kamu ini kenapa? Memang biasanya kamu pulang jam empat sore, Nak." Ayah menjawab dengan nada datar. 

"Tapi kemarin aku ..." Kamelia menghentikan perkataannya. 

"Kemarin kan apa?" tanya Ayah. 

"Tidak Ayah," jawab Kamelia pendek. 

Dunia peri memang memiliki perbedaan dengan dunia manusia. Ternyata, satu hari yang Kamelia habiskan di dunia peri hampir sama dengan satu jam di dunia manusia. 

Hari mulai gelap. Kamelia segera membersihkan diri untuk kemudian beristirahat. Setelah selesai, ia menghampiri Airi di tempat tidur. Sambil mengusap-usap kepala adiknya akhirnya ia pun tertidur. 

"Kamelia, istana Kerajaan Biru kini menjadi biru lagi, tidak abu-abu seperti saat kamu datang ke sini. Itu berkat kamu yang memberi tahu Raja Erkan tentang keberadaan lubang hitam," ucap Sienna yang datang di mimpi Kamelia. 

---

Dua hari berlalu. Kamelia mendengar sesuatu berbisik di telinganya pelan, "Kakak, bangun! Ayo kita beri kucing ini makan!" 

Kamelia terkejut sekaligus bahagia. Dipeluknya Airi erat-erat sampai adiknya itu berkata lagi, "Kakak sakit, lepaskan!"