Kerja Keras vs Kerja Cerdas
Sang raja hutan mengumpulkan semua penghuni hutan di istana. Ia mengumumkan akan ada sebuah perlombaan dalam rangka memperingati ulang tahun kerajaan. Kebetulan di tepi sungai ada batu yang menghambat laju air. Untuk membuatnya kembali mengalir dengan baik, diadakanlah perlombaan memecahkan batu. Bagi siapa saja yang berhasil memecahkan batu tersebut, ia akan memdapatkan imbalan berupa persediaan makanan selama enam bulan berturut-turut.

Para penghuni hutan sangat antusias dengan lomba ini. Mereka memikirkan berbagai cara untuk memecahkan batu besar tersebut. Mulai dari semut, tupai, rusa, jerapah, hingga gajah yang siang dan malam tak henti-hentinya merangkai strategi terbaik mereka.

Tibalah hari perlombaan. Para peserta yang mengikuti lomba sudah berkumpul di halaman istana. Mereka diberi nomor antrian. Setelah semuanya mendapat nomor, Sang Raja pun mengaum tanda resminya perlombaan dibuka.

Jerapah menjadi peserta pertama. Ia segera menuju batu besar itu untuk memecahkannya. Ia membawa beberapa perkakas yang sudah dipersiapkan sejak beberapa hari lalu.

Dua puluh menit berlalu, tapi tak ada hasil yang berarti dari usaha yang dilakukan Jerapah. Waktu tersisa sepuluh menit, karena masing-masing peserta diberi durasi tiga puluh menit untuk menyelesaikan tantangan. 

"Tiga puluh menit berakhir. Kepada Jerapah dipersilahkan untuk berhenti dan dilanjutkan ke peserta berikutnya," ucap Ular yang menjadi juri dalam perlombaan ini. 

"Ahh, tampaknya aku tidak beruntung," ujar Jerapah sambil membereskan peralatannya kemudian Jerapah berlalu meninggalkan batu. 

Silih berganti penghuni hutan berusaha memecahkan batu. Tibalah giliran tupai. Ia tampaknya tidak membawa peralatan maupun perkakas untuk memecahkan batu tersebut. Hampir semua peserta heran menyaksikannya. 

Tupai naik ke atas batu besar itu lalu melihat-lihat sekelilingnya. Setelah kira-kira sepuluh menit, ia turun dan menggeserkan beberapa benda kecil yang menghalangi batu. 

"Hei, Tupai apa yang kau lakukan? Cepat pecahkan batunya!" teriak seekor buaya dengan lantangnya. 

Tupai tidak menghiraukan perkataan Buaya. Ia tetap fokus pada benda-benda di sekitarnya dan sesekali terdiam seperti sedang berpikir. 

Setelah menyingkirkan benda-benda yang menghalangi batu, tiba-tiba saja batu itu hanyut terbawa arus sungai. Semua peserta kebingungan. Mengapa Tupai tidak memecahkannya malah membuatnya hanyut. 

"Selamat kepada Tupai yang sudah menyelesaikan misinya dengan baik." terdengar suara Sang Raja dari atas tebing. "Selamat Tupai, anda berhak mendapat imbalan berupa persediaan makanan selama enam bulan berturut-turut yang akan diberikan setiap harinya oleh Kera." Sang Raja mengakhiri kalimatnya. 

Inti dari semua ini adalah membuat aliran sungai menjadi lancar. Bukan memecahkan batu yang besar itu. Karena kerja cerdasnya Tupai berhasil mengalahkan semua peserta yang hadir pada saat itu.

Hal yang tidak terpikirkan oleh binatang lain. Malah terbersit di kepala Tupai sejak pengumuman perlombaan itu diberitahukan Sang Raja Hutan. Terkadang kerja tidak harus selalu menggunakan tenaga, tidak selalu harus keras, tapi juga cerdas.