Piano Ajaib
"Oliver, coba angkut karung-karung ini!" perintah Ibu Oliver.

"Baik, Bu. Tapi aku lupa kalau aku belum makan. Aku mau makan dulu ya, Bu," pinta Oliver.

"Ya sudah, cepat makan dulu sana! Jangan lama-lama! Nanti pelanggan kita bisa berpaling ke pedangang lain," ucap Ibu Oliver.

Sepuluh tahun lamanya Oliver selalu membantu berdagang di pasar. Ia dan ibunya berjualan buah-buahan. Mereka tidak memiliki kebun, mereka mengambil buah-buahan tersebut dari pengepul. Kini usia Oliver menginjak lima belas tahun. Artinya selepas balita ia mulai menemani ibunya berdagang.

Meski baru lima belas tahun, namun sebagai anak yang terbiasa dengan pekerjaan menguras tenaga seperti ini, kekuatannya hampir menyamai orang dewasa. Ibu Oliver mendidiknya menjadi anak yang kuat dan tidak manja. Tidak ada kata bersantai dalam kamus Oliver. Setiap hari adalah bekerja dan membantu ibunya berdagang di pasar. 

Oliver hanya sekolah sampai bangku sekolah menengah pertama karena ibunya tidak mampu lagi menanggung biaya sekolah Oliver yang semakin tinggi. Meski begitu, Oliver tidak pernah berhenti belajar. Ia selalu menyempatkan  membaca buku sambil menunggui dagangannya. 

———

Setelah menyelesaikan makannya, Oliver segera mengangkat karung-karung berisikan buah-buahan itu ke atas roda untuk kemudian ia angkut ke pasar. Ibunya telah lebih dulu berangkat. Ia menyiapkan tempat untuk mereka berdagang. 

Sesampainya di pasar, Oliver disambut para pelanggan yang menunggu buah-buah segarnya. Sebagian dari mereka jugalah yang suka memberikan buku-buku untuk Oliver belajar. Karena mereka tahu Oliver anak yang rajin, baik, pintar dan jujur. Jika ada buku bekas yang tidak terpakai lagi, mereka tidak ragu memberikannya pada Oliver. 

"Oliver, ini ada buku lagi untukmu," ucap salah seorang pembeli. 

"Ohh ya, terimakasih banyak!" Oliver menerimanya dengan senang hati. "Ini untuk Kakak karena sudah memberikanku buku ini," lanjut Oliver sambil menyodorkan sekantong buah apel untuk pembeli tersebut. 

"Tidak, Oliver. Jangan! Ini buku bekas. Sedangkan buah-buah ini adalah buah-buah yang segar. Rasanya tidak sebanding jika kamu memberikan ini padaku," tolak si pembeli. 

"Tapi, Kak ..." kata-kata Oliver terhenti. 

"Sudahlah, Oliver. Kakak sukarela memberikan buku ini." Pembeli itu tersenyum pada Oliver. 

"Ya sudah kalau begitu terimakasih lagi, Kak!" Tutup Oliver. 

Lembar demi lembar buku itu Oliver baca. Ia baru menyelesaikan setengahnya. Karena waktunya terbatas untuk melayani pembeli. Hari itu pembeli cukup ramai. Oliver harus bekerja lebih keras dari biasanya. Namun baginya ini merupakan berkah. Dengan semakin banyak pembeli, semakin banyak uang yang bisa ia dapat. 

Sore pun tiba. Ia dan ibunya membereskan tempat berdagang mereka. Hari ini semua buah habis laku terjual. Mereka pulang dengan rasa senang.

Sesampainya di rumah setelah membersihkan badan, Oliver melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda. Ia sangat senang membaca buku itu. Di halaman kedua dari akhir, ia melihat sebuah piano yang sangat indah dan unik. Piano itu bertuliskan Au Revoir. 

Malam harinya, Oliver kembali membuka buku yang membuatnya semakin penasaran itu. Terlebih pada gambar piano yang telah mencuri perhatiannya. 

Bruk! 

Oliver mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Di dapatinya sebuah piano yang persis seperti dengan yang ada di buku. Ia buru-buru meloncat keluar kamar. Dimasukannya pelan-pelan piano itu. 

Ditekannya satu per satu tuts piano dengan hati-hati. Suaranya indah, bahkan seorang seperti Oliver yang baru saja menyentuh pun bisa langsung piawai memainkannya. Tiba-tiba jari-jari tangan Oliver seperti bergerak sendiri. Ia memainkan sebuah lagu yang ia sendiri tidak tahu lagu apa itu. Namun nada-nadanya sangat indah. 

Oliver terjaga semalaman. Ia tidak bisa menutup matanya dan tertidur. Ia menikmati setiap permainan musik yang dimainkan jemari tangannya. Ia sangat bersemangat menekan setiap tuts pada piano itu. 

Alhasil pagi itu ia merasa sedikit lemas. Namun karena tetap konsisten pada pekerjaannya, ia mengusahakan untuk bekerja sebaik mungkin. Membantu ibunya adalah prioritas yang tak bisa ia tinggalkan walau sehari. 

"Kamu terlihat lemas Oliver. Kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Ibu Oliver. 

"Tidak Bu. Aku hanya kurang tidur. Aku tidak bisa tidur malam tadi. Tapi aku baik-baik saja," jawab Oliver. 

"Jangan memaksakan diri! Ibu tidak akan berjualan hari ini. Karena kita belum dapat buah untuk dijual. Kebetulan pengepul tempat kita biasa mengambil buah sedang sakit. Kabarnya istrinya meninggal kemarin." Ibu Oliver menjelaskan. 

"Bagaimana kalau kita membuat pengumuman hari ini kita libur, Bu? Agar pelanggan tidak menunggu," usul Oliver. 

"Tidak perlu. Ibu sudah menitip pesan pada pedagang di samping kita tadi pagi," jawab Ibu Oliver. 

"Ohh seperti itu. Ya sudah, aku mau tidur dulu ya, Bu," ucap Oliver. 

"Ehh, tunggu dulu. Kamu sudah makan?" tanya Ibu Oliver. 

"Nanti saja, Bu. Aku sangat mengantuk," jawab Oliver lagi. 

"Ya sudah, tidurlah! Jangan lupa nanti makan! Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu. Ibu mau mengunjungi rumah teman Ibu di desa sebelah," pesan Ibu. 

Setelah ibunya pergi, Oliver tertidur dengan pulas. Akhirnya kantuk yang menggelayut di matanya berhasil memaksa ia tidur mengalahkan bau sedap masakan yang telah dimasakan ibunya. 

Dua jam tidur pagi Oliver rupanya sudah cukup untuk mengganti beberapa jam tidur malamnya. Karena lapar yang tak tertahankan lagi, akhirnya selepas tidur ia menyantap dengan lahap makanan kesukaannya yang telah tersaji di meja itu. 

Teringat pada piano, Oliver bergegas menuju kamar. Ia masih tak henti-hentinya terkagum pada keanehan yang juga mungkin keajaiban piano itu. Karena suntuk bermain di kamar, ia membawa piano itu ke pasar tempat ia biasa berdagang. Hari ini ia akan bermain piano di sana. 

Keindahan nada-nada piano yang dimainkan Oliver telah mengundang banyak orang menonton permainan pianonya. Sebagian dari mereka memberi uang pada Oliver sebagai apresiasi atas permainan Oliver yang memukau. Sebagian lagi bertepuk tangan dan mengambil gambar Oliver yang sedang bermain piano. 

Cerita keindahan permainan piano Oliver sampai di telinga Rodio, seorang bangsawan yang kaya dan terpandang di negeri itu. Ia ingin mendengar langsung permainan piano Oliver.

Sang bangsawan Rodio pun memerintahkan bawahannya untuk menjemput dan membawa Oliver ke hadapannya. Ia bersedia membayar berapapun untuk itu. Akhirnya dua orang utusan Rodio berangkat ke tempat di mana Oliver berada. 

Oliver dan ibunya terkejut dengan kedatangan dua orang yang tidak dikenal itu. "Siapa kalian?" tanya Oliver. 

"Kami berdua adalah utusan Rodio, sang bangsawan terkemuka di negeri ini." Salah satu dari mereka menjawab. 

"Lalu untuk apa kalian ke sini?" tanya Ibu Oliver. 

"Kami ke sini untuk menjemput seorang yang bernama Oliver. Katanya dia pandai bermain piano," jawab utusan Rodio lagi. 

"Akulah Oliver. Aku sebenarnya tidak pandai bermain piano. Hanya saja ada yang istimewa dari pianoku. Dia bisa menggerakan jemari yang memainkannya." Oliver mengatakan yang sejujurnya pada utusan Rodio itu. 

"Kamu punya piano dari mana?" Ibu Oliver tidak tahu jika Oliver menemukan sebuah piano karena Oliver pun belum bercerita tentangnya. 

"Nanti akan aku jelaskan, Bu. Tapi yang pasti Ibu sudah tahu sendiri kalau aku tidak pandai bermain piano, kan?" tanya Oliver. 

"Iya," jawab Ibu Oliver singkat. 

"Tapi kami tidak bisa menolak titah Tuan Rodio. Kami harus membawa Oliver ke hadapan Tuan Rodio," ucap utusan Rodio yang lain setengah memaksa. 

"Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Tuan Rodio kalian. Tapi aku sudah mengatakan yang sejujurnya pada kalian. Aku tidak pandai bermain piano. Jika dia tidak menyukaiku, itu bukan salahku. Aku tidak mau mendapat masalah atas itu," jelas Oliver. 

Singkat cerita, sampailah Oliver di kediaman Rodio. Rodio yang sudah tidak sabar mendengar permainan musik Oliver langsung menyambut kedatangan tamunya dengan baik. "Selamat datang di rumahku! Aku sudah tidak sabar menantimu. Cepatlah bermain piano untukku!" perintahnya tanpa ragu-ragu. 

"Maaf Tuan Rodio, aku tidak pandai bermain piano. Tapi ..." Belum selesai Oliver menjelaskan, Rodio memotong, "Lalu apakah semua orang yang mengatakan betapa indahnya permainan pianomu itu berbohong? Semuanya? Ayolah, jangan banyak alasan, cepat mainkan pianomu!" perintahnya lagi. 

Oliver menyiapkan pianonya. Dengan hati berdebar-debar ia mulai meletakan jemarinya di atas tuts piano. 

Dan seperti sebelumnya, permainan piano Oliver sangat memukau setiap telinga dan mata yang menyaksikannya. 

Rodio berkata, "sungguh luar biasa Oliver! Aku akan membayarmu berapapun asal kau mau bermain piano setiap hari di sini." 

"Tidak, terimakasih! Aku memiliki seorang ibu yang harus kujaga di rumah," jawab Oliver. 

Tidak sedikitpun Oliver tergoda oleh iming-iming Rodio. Ia bergegas meninggalkan rumah megah itu. Tidak terima dengan keputusan Oliver, Rodio menyuruh anak buahnya merampas piano Oliver. Oliver yang tak berdaya menghadapi beberapa orang suruhan Rodio akhirnya menyerahkan piano itu. 

Oliver pergi meninggalkan rumah Rodio. Tapi suatu keanehan terjadi. Rumah Rodio yang megah itu tenggelam ditelan air yang datang secara tiba-tiba. Rodio dan seluruh penghuni rumah itu tidak bisa diselamatkan. Mereka meninggal. Au revoir! (selamat tinggal!)