Daun Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin
Liona, seekor singa kecil yang kehilangan ayahnya karena pertarungan hebat sepekan lalu, selalu marah jika ada hewan lain yang membicarakan kejelekan ayah yang sangat ia sayangi di depan matanya. Tidak terkecuali kepada teman sesama singa. Ia benci jika ayahnya dikatakan singa tua yang kehilangan tahta.

Pernah pada suatu hari, Liona bersama ibunya pergi ke suatu acara untuk menghadiri pengangkatan raja hutan baru setelah ayahnya mati. Ada seekor ular bernama Sorka berkata, "betapa bahagianya aku mendapat pemimpin baru yang lebih kuat, hebat, muda serta bijaksana. Tidak seperti pemimpin sebelumnya yang sudah tua dan hanya mementingkan keluarga serta bangsanya."

Hati Liona memanas mendengar perkataan Sorka. Untungnya pada saat itu ia sedang bersama ibunya. Jika tidak, mungkin saja akan terjadi perkelahian yang hebat antara mereka. Seperti kejadian sebelumnya seekor keledai yang terpincang-pincang kakinya dibuat Liona karena menghina ayah Liona sebagai raja hutan yang tidak becus.

Liona memang masih kecil. Namun kemampuan bertarungnya sudah bisa dikatakan hebat untuk anak-anak seumurannya. Mungkin itu menurun dari sang ayah yang juga dapat dengan mudahnya mengalahkan musuh hanya dalam hitungan detik. Bahkan dengan mendengar aumannya saja hampir seluruh penghuni hutan kocar-kacir dibuatnya. 

Ayah Liona mati karena ada yang mengadu domba. Ia mati dalam pertarungan terpaksanya melawan adiknya sendiri. Ia tidak mampu menyakiti adiknya meskipun sebenarnya dengan kekuatan yang dimiliki saat itu, ia mampu mengalahkan siapapun. 

Adik ayahnya Liona yang tak lain adalah pamanya, tiba-tiba datang mengajak ayah Liona bertarung tanpa alasan yang jelas. Sempat ayah Liona menolak tapi itu sia-sia. Ia tetap dengan keputusannya untuk bertarung atas nama tahta. 

"Aku menantangmu bertarung di Bukit Sang Raja siang ini," ucap paman Liona saat itu. 

"Kita adalah keluarga, kenapa tidak kita selesaikan masalah ini dengan cara keluarga kita?" sahut ayah Liona. 

"Ya, ini pun merupakan cara keluarga kita memperebutkan tahta. Beradu kekuatan," jawabnya. 

"Tapi bukan ini maksudku. Marilah kita bicarakan baik-baik!" pinta ayah Liona. 

"Tidak bisa. Kau harus menemuiku siang ini kalau tidak, aku punya cara lain yang lebih kejam untuk mengalahkanmu." 

Sebelum berangkat menuju Bukit Sang Raja, seekor buaya bernama Gerba datang menghampiri ayah Liona. Ia bercerita bahwa selama ini adiknya ingin menggantikan ayah Liona sebagai raja hutan. 

"Simba," ucapnya, "aku sepenuhnya mendukungmu dalam pertarungan nanti. Aku tahu adikmu itu sudah kurang ajar dan tidak tahu diri dengan menantang kakaknya seperti ini. Hanya demi sebuah tahta, dia rela bertarung denganmu. Ia telah bersekongkol dengan seekor harimau sahabatnya." 

Namun ayah Liona tidak dengan mudah menerima mentah-mentah informasi yang ia dapatkan. Sebagai raja yang bijak, ia selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan apapun. Baik itu dalam berkata maupun bertindak. 

Akhirnya tibalah saat di mana ia harus memenuhi permintaan adiknya untuk datang ke Bukit Sang Raja. Ia tidak membawa perlengkapan apapun karena tidak ada niat atau bahkan sedikit keinginan untuk bertarung. Sementara adiknya tampak antusias untuk bertarung. Dipakainya baju besi sebagai perisai. Seolah-olah ia akan melawan musuh yang siap mengancam keutuhan wilayah. 

"Akhirnya, kau datang juga," ucap Siemen—paman Liona. 

"Aku datang ke sini bukan sebagai petarung dari saudaranya sendiri. Tapi aku datang untuk memenuhi permintaan sang adik," jawab Simba. 

"Sang raja yang mendapatkan tahta dengan cara kotor tidak sepatunya berbicara seperti itu. Itu membuatku muak," balas Siemen. 

Simba yang pada saat itu tidak mengerti apa yang sudah meracuni pikiran adiknya, mencoba membuat keadaan setenang mungkin. Namun nyatanya itu tidak berhasil. Siemen tetap saja bersikeras ingin bertarung. 

Pertarungan pun terjadi. Simba tidak mau menyakiti adiknya. Ia tidak mengeluarkan kemampuan yang ia biasa gunakan ketika melawan musuh. Alhasil, ia terluka. Beberapa cakaran dan gigitan adiknya itu melemahkannya. 

Dari arah belakang, seekor harimau ikut menyerang Simba. Simba yang kepayahan semakin tak berdaya sampai akhirnya dia mati. 

Namun pertarungan itu belum berakhir. Adik Simba yang juga sudah kelelahan melawan kakaknya—sang raja hutan, kini harus bertarung melawan Trois yang tak lain adalah seekor harimau yang berpura-pura menjadi sahabatnya. 

Dalam keadaan seperti ini akhirnya Siemen menyadari bahwa ia telah diadu domba. Ia menyesal. Namun, penyesalannya tiada arti. Ia sudah kehilangan kakaknya dan kini siap-siap kehilangan nyawanya sendiri. 

Dua singa perkasa mati dipecundangi musuh. Liona, seekor singa keturunan raja tidak terima dengan semua keadaan ini. Ia selalu berusaha memberikan penjelasan pada penghuni hutan bahwa ayah dan pamannya tidaklah mati sebagai singa lemah. Mereka mati dalam tipu daya. 

Namun, tidak semudah itu meyakinkan penghuni hutan. Apalagi kata-kata itu keluar dari mulut seekor singa kecil yang baru kehilangan ayah dan pamannya. Liona tak jarang mengamuk di keramaian karena tidak terima dengan omongan para penghuni hutan. Ia menjadi pemarah dan mudah tersinggung. 

"Aku benci mereka, Bu. Akan kucabik-cabik mulut mereka semua," ucap Liona pada ibunya. 

"Ibu tahu, Nak. Tapi jangan seperti itu! Tidak baik." Ibu Liona menenangkan. 

"Aku benci kenapa aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada ayah dan pamanku menjelang hari itu tiba. Sebenarnya temanku sudah bercerita padaku tentang tipu daya yang dilakukan harimau licik itu dan temannya sehari sebelumnya. Namun aku tidak peduli. Aku mengabaikannya," jelas Liona. 

"Sudahlah, Nak. Semuanya sudah terjadi. Waktu tidak bisa diputar kembali. Jangan membenci diri sendiri! Jangan membenci takdir!" Ibu Liona tidak henti-hentinya menguatkan hati anaknya. 

"Tapi ini semua salahku, Bu." Liona tetap saja dengan penyesalannya. 

"Nak, dengarkan Ibu! Kita hidup di dunia ini sudah dengan garis takdir masing-masing. Semuanya sudah terjadi karena hidup memang harus seperti ini. Yang berlalu, biarlah terjadi. Kini kamu dan Ibu akan menjalani kehidupan baru. Semoga kelak, kamu menjadi sebijaksana ayahmu," sambil mengusap air mata yang mulai jatuh dari bening mata Liona, ibu singa itu terus meyakinkan anaknya. 

Liona pun tenang. Ia tertidur lelap di pangkuan ibunya.