Part 4
Della terkejut melihatku yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Ia tertegun. Aku memang sudah berencana menyusulnya hari ini setelah sebelumnya pergi ke kantor. Bekerja setengah hari sekalian mengambil izin cuti tiga hari. Sejak Della pergi meninggalkan rumah, tak sekali pun ia mengaktifkan ponselnya. Jelas hal itu semakin membuatku cemas.

"Dek," sapaku.

Della hendak menutup kembali pintu rumahnya, tapi aku sigap menahan pintu itu dengan satu kaki. Della mendelik, menatap tak suka kepadaku.

"Mau ngapain Mas Doni ke sini?" tanyanya dingin.

"Mau nyusulin kekasih halal," gombalku. Bukannya senang, Della malah mengerlingkan mata malas dan hendak menutup kembali pintu.

"Dek." Aku kembali menahan pintu dengan kedua tanganku.

"Pergi, Mas. Jangan ganggu lagi hidupku. Habiskan saja waktu bersama mantanmu itu." Della menepis tangan. Menutup pintu dengan kasar.

"Dek! Buka pintunya, Dek!"

Aku tak menyerah. Terus memanggil seraya mengetuk pintunya. Aku tahu wanita seperti apa Della. Dia bukan tipe wanita yang tegaan. Aku yakin Della pasti akan membukakan pintunya.

"Dek ... aku minta maaf, Dek. Aku menyesal. Aku ngaku kemarin perbuatanku salah. Beri aku kesempatan. Aku janji nggak akan begitu lagi, Dek."

Sekian lama membujuk dan mengetuk pintunya, tapi Della tak kunjung membukakan pintu rumah. Aku mendesah berat. Sudah setengah jam lebih aku mencoba, tapi tak berhasil.

"Aku nggak akan pergi dari sini, Dek. Aku bakal tunggu di sini sampe kamu mau bukain pintu dan maafin aku."

Ini cara terakhirku untuk membujuknya. Pasti berhasil. Terlebih lagi hujan kembali turun dengan deras. Kilat dan guntur saling menyambar. Membuatku sesekali terlonjak kaget karenanya.

Pundakku merosot lesu karena Della tak kunjung keluar. Melangkah perlahan dan duduk di kursi rotan di depan jendela. Melepas sepatu dan menaikkan kedua kaki ke atas. Mengusap-usap lengan karena dingin yang menusuk tulang.

Tega sekali kamu, Dek. Aku dibiarkan kedinginan di luar berselimutkan gelapnya malam. Apa kesalahanku begitu fatal sampai kamu begitu sulit memaafkan? Ke mana sosok Della yang pemurah hati dan pemaaf?

Aku terduduk memeluk lutut. Sesekali menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang dingin. Menoleh saat mendengar suara kunci pintu rumah diputar. Senyumku mengembang melihat Della muncul di ambang pintu.

"Dek." Aku menurunkan kedua kaki yang sedari tadi ditekuk.

"Masuk," ucapnya dingin. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Yes! Benar dugaanku tadi. Della tidak akan tega melihatku kedinginan di luar. Tidak sia-sia satu jam aku menunggunya di sini.

"Kamu serius, kan, Dek?" tanyaku memastikan.

"Ya udah kalau nggak mau." Ia hendak menutup kembali pintu.

"Iya, iya. Mau."

Aku bergegas bangun. Menenteng sepatu dan langsung masuk melewatinya yang berdiri dengan melipat kedua tangan di dada. Tak ada senyum. Wajahnya cemberut. Ia mendelik tajam saat aku meliriknya.

Wajahmu semakin menggemaskan kalau cemberut begitu, Dek.  Membuatku tambah gemas. Cocok, nih, cuaca dingin begini. Hujan lagi. Haha.

"Simpan sepatunya di rak belakang," perintahnya dingin.

"Iya, Dek."

Aku melangkah menuju rak sepatu di dekat pintu belakang dan kembali menghampirinya yang tengah mengambilkan minum untukku.

Aku membuka penutup saji di meja makan. Masih ada beberapa potong ayam goreng dan sambal juga lalapan. Aku menelan ludah. Perut memberontak minta diisi. Sedari pagi aku tidak berselera makan karena memikirkan Della.

"Wah! Ada ayam goreng sama sambel, nih! Kebetulan aku belum makan dari pagi, Dek."

Aku menatap sumringah makanan di meja. Della tak acuh. Ia meletakkan gelas air minum di depanku yang sudah duduk di kursi meja makan.

"Aku boleh makan ini, kan, Dek?"

Della melirik sekilas kemudian mengangguk pelan.

"Alhamdulillah," gumamku. Akhirnya perut tidak akan berdemo lagi.

Della mengambilkan piring kosong, menyendokkan nasi juga lauknya untukku.

"Makasih, Dek," ucapku sungguh-sungguh.

Della tak menjawab. Ia berjalan ke arah kompor. Aku makan sambil mengamati gerak-geriknya. Ia sedang merebus air panas. Di menit berikutnya, ia kembali menghampiriku dengan segelas teh hangat.

Aku segera mencuci tangan sebelum menyeruput teh hangat buatannya. Della membawa piring kotor dan langsung mencucinya.

Nikmat sekali minum teh hangat di cuaca dingin seperti ini. Lebih nikmat lagi kalau sambil peluk istri. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan kemesraan yang akan terjadi di antara kami sebentar lagi.

Della selesai. Ia berlalu melewatiku. Aku langsung mengekorinya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di momen dan suasana yang mendukung seperti ini.

Aku dengan sigap menahan pintu kamar saat Della mau menutupnya. Keningnya berkerut. Menatapku tak suka.

"Aku mau tidur, Dek. Dingin." Aku tersenyum menggoda.

"Terus?" tanyanya cuek, menaikkan satu alisnya.

"Yaa ... aku mau tidur di kamar," jawabku. Memang benar, kan? Tidak ada yang salah dengan kata-kataku.

"Tidur di kamar yang lain, bukan di kamar ini," ketusnya.

"Tapi, Dek–"

"Atau Mas Doni mau tidur di luar?" potongnya.

Alamak! Aku menelan ludah susah payah. Pahit. Wajah cantiknya menunjukkan ia tak akan mempan untuk dirayu.

"Ya udah. Aku tidur di kamar samping aja," ucapku lesu.

Della langsung menutup pintu begitu saja. Terdengar juga kunci pintu yang diputar. Aku berdecak. Menggaruk kepala yang tak gatal dan melangkah lesu ke kamar sebelah.

Nasiib ... nasiib .... Gagal, deh, kelonannya. Ambyar semua khayalanku tadi.

???

Setelah menunaikan salat subuh, aku kembali membaringkan tubuh di ranjang. Di rumah ini ada dua kamar. Ini kamarnya Della, sedangkan yang Della tempati itu kamar Orangtuanya.

Cuaca dingin membuatku enggan beranjak dari ranjang. Menarik kembali selimut tebal dengan mata kembali terpejam. Biasanya Della yang selalu cerewet membangunkan dan melarangku tidur setelah subuh.

Namun, kali ini ia tidak melakukannya. Aku bisa paham. Itu karena Della masih marah. Masalah di antara kami memang belum diselesaikan. Aku harus secepatnya berbicara dengan Della.

Pukul setengah delapan pagi, aku bangun dan melangkah malas ke kamar mandi. Rencananya mau mandi supaya badan lebih segar, tapi baru saja tangan menyentuh air, aku langsung bergidik dingin.

Rasanya seperti air yang baru keluar dari lemari es. Tidak kuat kalau harus mandi dengan air sedingin itu. Akhirnya kuputuskan hanya mencuci muka saja. Dulu Della yang selalu menyiapkan air hangat ketika kami sedang berkunjung ke sini.

Namun, sekarang aku belum melihat sosok Della. Di kamar pun dia tak ada. Begitu juga di halaman belakang.

Ke mana dia?

Aku membuka penutup saji. Ada nasi goreng, telur mata sapi juga pisang goreng. Aku langsung mengambil piring kosong dan mulai menyantap sarapan yang sudah tersaji di meja.

"Assalamu'alaikum," salam Della. Ia masuk dengan membawa satu kantong plastik hitam lumayan besar di tangannya.

"Wa'alaikumsalam," jawabku dengan mulut penuh. "Dari mana, Dek?"

"Beli sayur," jawabnya cuek.

Ia mulai merapikan belanjaan yang di belinya ke dalam lemari pendingin. Sekali pun ia tak menoleh padahal, sedari tadi aku tak lepas dari memandangnya. Berharap tatapan mata kami bertemu saat ia menoleh.

"Dingin banget, ya, Dek." Aku berbasa-basi membuka obrolan.

"Panas," sahutnya ketus.

Sabar, Doni ... sabar. Aku menghela napas pelan. Meneguk air putih di gelas kemudian beranjak dari kursi dan menghampirinya.

"Aku minta maaf," ucapku sungguh-sungguh. Menyentuh lengannya lembut.

Tangan Della yang sedang memotong sayuran terhenti. Detik berikutnya, ia menepis pelan tanganku.

"Nggak perlu minta maaf. Aku udah nggak peduli lagi. Nanti siang aku akan mengajukan gugatan cerai ke kantor pengadilan agama di sini."

"Dek!" Nadaku meninggi. "Kita harus bicara," tegasku.

"Aku capek, Mas." Della meletakkan pisau di meja dapur dengan kasar. "Maaf aja terus, tapi nggak pernah kamu berubah! Mas itu cuma tobat sambel! Berapa kali Mas sudah bohongin aku, hah? Berapa kali!" sentaknya.

Aku terdiam. Della benar. Aku memang sudah sering membohonginya.

"Aku juga punya perasaan, Mas! Aku ini istrimu, tapi kamu lebih mentingin perasaan istri orang lain!" Mata Della berkaca-kaca. Bibir mungilnya bergetar.

"Pernahkah Mas pikirin perasaan aku gimana?" Suaranya kembali memelan. "Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Gimana kalau Mas yang ada di posisi aku, hah? Apa mas nggak akan sakit hati? Apa mas nggak akan marah kalau aku berhubungan dengan pria lain?! Bela-belain begadang buat teleponan sampai chatting hanya untuk bernostalgia masa lalu?!"

Aku terdiam. Hatiku seperti diremas-remas. Jelas saja aku tidak mau.

"Kalau Mas dan Ningsih masih saling mencintai, kenapa dulu putus? Nggak ada mantan terindah, Mas! Kalau memang dia terindah, nggak mungkin dia jadi mantan!"

Aku seolah mati kutu. Lidah kelu. Kata-kata yang sudah dipersiapkan untuk membujuknya sudah berhamburan entah ke mana.

"Kenapa diam, Mas? Nggak bisa jawab?"

Aku menghela napas panjang, menatap lekat matanya yang memerah. Tetesan demi tetesan air mata lolos membasahi pipi tirusnya.

"Aku ngerti itu, Dek. Aku juga pasti akan marah sama seperti kamu." Akhirnya aku berani membuka suara.

"Terus, kenapa mas nggak pernah berubah? Kenapa mas terus-terusan mengulangi kesalahan yang sama?"

Della menunduk. Bahunya berguncang. Isak tangis terdengar jelas darinya. Aku langsung meraih tubuhnya, mendekap erat.

"Maaf, maaf, maaf." Aku membelai lembut kepalanya sembari terus bergumam kata maaf. Sungguh. Aku menyesal. Menyesal pernah berharap bisa kembali bersama Ningsih. Andai waktu bisa diputar kembali, tidak akan kubiarkan kami bertukar nomor.

"Aku capek, Mas. Hatiku yang capek. Aku merasa berjuang sendiri untuk pernikahan ini." Della menangis sesenggukan di dadaku. Kedua tangannya terkulai bebas di samping badan, enggan membalas pelukan.

"Aku tahu, Mas. Aku belum sempurna sebagai seorang istri karena belum bisa memberimu keturunan. Kalau memang Mas ingin mencari wanita lain atau kembali dengan Ningsih, silakan. Pergilah, Mas. Aku sudah tenang di sini," lirihnya.

"Dek ...." Aku semakin mendekap tubuhnya erat. Hatiku ngilu dan berdesir perih mendengar kata-katanya.

"Jangan bilang begitu. Aku nggak pernah nyalahin kamu untuk masalah anak." Aku mengurai pelukan. Menghapus air matanya yang tak mau berhenti menetes meski sudah kuhapus berulang kali.

"Lihat aku, Dek." Aku memegang kedua bahunya. Della perlahan mengangkat wajah. Mencoba menghentikan tangis meski isaknya masih jelas terdengar.

"Beri aku kesempatan sekali lagi. Ya? Hanya sekali lagi. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku nggak akan peduli lagi dengan apa pun yang terjadi pada Ningsih."

Bola mata Della bergerak-gerak mencari kesungguhan dari mataku.

"Aku janji, Dek. Kalau aku sampai menyakitimu lagi, aku bakal terima apa pun keputusan kamu," imbuhku untuk meyakinkannya.

Della masih terdiam. Keningnya berkerut dalam, tapi tak lama kemudian ia mengangguk pelan. Seulas senyum tipis terukir di sudut bibirku.

"Serius? Kamu mau maafin aku?" tanyaku memastikan.

"Iya, Mas." Della tersenyum. Senyum manis nan indah yang sempat hilang, kini telah kembali.

Aku kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Senyumku semakin lebar saat menyadari tangan Della membalas pelukan, melingkari punggungku dengan erat.

"Makasih, Dek. Makasih udah mau kasih aku kesempatan." Aku mendaratkan kecupan di kepalanya beberapa kali.

"Jangan diulangi lagi, ya, Mas."

"Nggak akan, Dek. Aku janji."

Untuk sesaat kami hanya saling memeluk dalam diam. Detik berikutnya aku mengurai pelukan. Pandangan mata kami saling mengunci satu sama lain. Della menunduk dengan pipi merona.

Ah ... dia memang menggemaskan. Aku suka melihatnya tersipu malu seperti itu. Della paling tidak tahan kalau ditatap lama-lama.

Aku menyentuh dagunya lembut, membuatnya kembali memandangku. Perlahan wajah ini semakin dekat hingga akhirnya bibir kami bertemu. Untuk beberapa saat kami berdua larut. Saling melebur rasa rindu yang membelenggu, mengurai rasa yang menyesaki dada.

Menit berikutnya mata kami terbuka. Aku tersenyum penuh arti. Della tersipu malu dan langsung membenamkan wajahnya di dada. Menyembunyikan semburat merah yang tergambar jelas di wajah putihnya.

"Ehm ... berarti ... boleh, dong, aku minta itu," godaku sembari memeluknya.

"Itu apa?" Ia pura-pura tidak tahu. Masih menyembunyikan wajahnya, tak berani menatapku.

"Itu, lho ... main dokter-dokteran," bisikku di telinganya. "Aduh!" Ia mencubit pinggangku. "Kok nyubit, sih, Dek?" Aku terkekeh seraya melepas pelukan.

"Biarin." Ia mengerucutkan bibirnya, seksi!

"Boleh, ya? ya?" bujukku.

"Nggak mau. Aku masih kesel," ketusnya seraya memalingkan wajah.

"Ayolah, Dek! Dari semalem aku nggak bisa tidur. Kangen, tapi cuma bisa peluk guling," rengekku. Aku sedikit berbohong. Jelas-jelas semalam aku tertidur pulas karena hawa dingin.

"Dosa, lho, nolak suami," gertakku. Cara yang paling ampuh supaya ia mengiyakan permintaanku.

"Ish ... giliran ada maunya aja, bawa-bawa dosa," sindirnya.

Aku hanya nyengir seraya menggaruk kepala. Detik berikutnya, ia menjerit tertahan saat aku menggendong tubuhnya begitu saja.

"Kamu kan belum mandi dari semalem, Mas," komentarnya.

"Tar sekalian."

"Bau asem, tau!" Ia terkekeh seraya memukul dadaku pelan.

"Nggak apa-apa. Justru itu ramuan yang bisa buat kamu tambah lengket sama aku. Iya, kan?" Aku mengerling nakal.

"Diih, pede!" ledeknya. "Lagian, aku kan belum bilang iya, Mas."

"Kelamaan. Tar keburu jamuran," sahutku seraya mengedipkan sebelah mata, menggodanya.

"Makanan kali jamuran," selorohnya. Aku tertawa, begitu juga Della.

★★★