Part 2
POV DONI 

Hari ini Della mengajak pergi makan siang di luar. Tidak biasa-biasanya ia melakukan ini kecuali aku yang lebih dulu berinisiatif mengajaknya. Aku senang karena dua bulan belakangan ini hubungan kami kembali menghangat dan membaik. Setelah beberapa kali sempat terlibat pertengkaran karena ketahuan membohonginya. 

Awalnya Della tidak keberatan ketika aku kembali menjalin komunikasi dengan Ningsih. Namun, lama kelamaan ia mulai menyatakan keberatannya. Itu semua karena Ningsih tanpa mengenal waktu sering mengirim pesan dan menghubungiku.

Sebenarnya, itu bukanlah sepenuhnya salah Ningsih, tapi juga salahku. Aku meladeninya dengan senang hati bahkan, tanpa sadar sering mengabaikan Della. Tak ada niatan menyakitinya sama sekali. Aku hanya ingin menjadi teman berbagi untuk Ningsih yang sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya.

Della terlalu pencemburu. Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Ningsih. Dia hanya masa lalu. Kami hanya sekedar menjadi teman. Tak ada salahnya bukan, berhubungan baik kembali dengan mantan asalkan tidak kelewat batas.

Ningsih butuh teman untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Namun, Della tidak mau mengerti itu. Dia terlalu keras kepala untuk diberi pengertian. Bahkan, ia sempat mengancam akan kembali berhubungan dengan mantannya.

Tentu saja aku keberatan. Enak saja mantannya menyita waktu kami berdua. Akhirnya, aku setuju untuk memutus komunikasi dengan Ningsih.

Tak peduli seberapa banyak Ningsih mengirim pesan atau pun menghubungi, tetap kuabaikan. Aku tidak mau mempertaruhkan rumah tangga demi mendengar curhatannya. Namun, pertahananku goyah ketika tanpa sengaja bertemu dengannya di sebuah cafe.

Ningsih sedang menangis sendirian. Ada luka di sudut bibir dan pelipisnya. Ia berkata kalau itu semua karena ulah suaminya lagi-Hendri. Memang bajingan dia, beraninya dengan yang lemah.

Sejak saat itu kami kembali menjalin komunikasi. Tentu saja secara diam-diam. Aku tidak mau kembali terlibat pertengkaran dengan Della. Jelas dia tidak akan mengizinkan jika aku berterus terang.

Ningsih membeli nomor baru. Aku memberinya nama di kontak sebagai Agus. Singkatan dari nama panjangnya Agustina Ningsih. Tidak dipungkiri kalau getaran-getaran itu kembali hadir ketika kami sering terlibat percakapan membahas masa lalu. Pernah sempat terbersit khayalan andai saja dulu kami tidak berpisah. Namun, secepatnya angan itu kutepis dan beristighfar.

Suasana Kafe Lestari siang ini sangat ramai. Banyak pengunjung bahkan, parkiran pun hampir penuh. Mungkin karena ini hari minggu.

Della berpamitan ke toilet setelah memesan dua jus mangga untuk kami. Namun setelah beberapa menit berlalu, Della tak kunjung kembali ke meja. Baru saja berniat menyusulnya, aku dikejutkan dengan kehadiran Ningsih di kafe ini.

"Udah lama, Mas?" Ia tersenyum seraya mengambil posisi duduk di depanku.

Aku menatapnya bingung. Apa maksudnya ini?

"Kenapa kamu bisa ada di kafe ini?" Aku celingukan. Takut Della tiba-tiba muncul dan melabrak kami.

"Lho, bukannya Mas Doni sendiri yang minta buat ketemuan di sini?" Ningsih ikut bingung.

"Nggak. Aku nggak pernah buat janji ketemu di sini," bantahku. Jantung mulai berdebar cemas. Perasaanku mengatakan ada yang tidak beres.

"Nggak mungkin, Mas. Mas Doni sendiri, kok, yang semalem wa aku. Ngajak ketemuan di sini pas jam makan siang." Ningsih bersikeras dengan argumennya.

Aku gelagapan dan panik saat Della muncul begitu saja di hadapan kami berdua. Itu artinya Della sudah mengetahui kebohonganku lagi. Kuberanikan diri bertanya kepadanya tentang janji ini.

Ia membenarkan pertanyaanku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Rasanya napasku tercekat di tenggorokan. Keringat dingin mulai membanjiri kening juga telapak tangan saat melihat tatapan dingin dan tak bersahabat Della.

Aku terdiam membisu. Tak bisa membantah satu kata pun yang diucapkannya karena itu semua benar. Aku memang salah. Dengan tega kembali mengkhianati kepercayaan Della untuk kesekian kalinya.

Aku terlonjak kaget saat Della menggebrak meja dengan kuat. Membuat semua pengunjung kafe memandang ke arah kami. Baru pertama kalinya aku melihat ia bersikap kasar seperti ini.

Apa aku sudah keterlaluan menyakitinya?

Tak hanya sampai di situ. Della juga tidak mengindahkan permintaanku untuk berhenti. Ia terus bicara mengeluarkan semua keluh kesah dan rasa kecewanya di depan semua orang.

Aku tak berani menatap wajahnya. Hanya bisa menunduk malu. Bahkan, untuk menggerakkan tubuh saja rasanya sulit.

Namun, rasa malu ini menjadi berkali-kali lipat saat Della melakukan hal yang tidak pernah kuduga sama sekali. Ia menyiramkan jus mangga tepat di wajah kami berdua. Membuat aku dan Ningsih melongo terkejut.

Kalau bisa, rasanya aku ingin menghilang ditelan bumi saat ini juga. Apalagi saat mendengar umpatan dan cacian dari para pengunjung. Benar-benar memalukan. Pasti sebentar lagi kejadian ini akan menyebar di dunia maya.

"Mas."

Ningsih menangis seraya meraih tisu untuk menghapus jus dari wajahnya. Namun, aku tak peduli itu semua. Della. Aku harus mengejarnya yang berjalan cepat meninggalkan kafe ini.

Tak kupedulikan lagi pakaian dan wajah yang kotor. Berlari cepat seraya terus memanggilnya. Namun sayang, Della sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi.

"Sial!" umpatku dan segera berlari ke arah mobil.

Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat Della yang sedang menggeret satu koper besar menuruni tangga. Ia bersikeras ingin tetap pergi meski sudah dibujuk.

Kata maaf dan pelukan tak lagi berpengaruh padanya. Ia marah, tapi air matanya tak mau berhenti menetes. Jujur, hati ini ikut sakit dan perih melihatnya menangis.

Sebesar itukah kesalahanku? 

Bak disambar petir di siang bolong. Aku terkejut mendengar ia berkata akan mengajukan gugatan cerai. Jelas aku tidak mau. Lima tahun usia pernikahan kami akan hancur hanya karena kesalahpahaman. Ini tidak boleh dibiarkan.

Aku mengejar dan menghalanginya di pintu, tapi Della berhasil menyingkirkanku. Entah mendapat kekuatan dari mana hingga ia bisa mendorong dengan begitu kuat. Membuatku terhuyung beberapa langkah ke belakang.

Tidak pernah aku melihat ia semarah ini. Tatapannya penuh kebencian dan luka. Della pergi begitu saja. Tak peduli denganku yang terus berteriak dan berlari mengejar taksi.

Della ... dia sudah benar-benar pergi dan tidak mau mendengarkan penjelasanku sedikit pun.

???

Aku kembali ke rumah dengan langkah gontai. Harusnya Della memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Ia egois karena lebih mendahulukan amarah dibandingkan menyelesaikan masalah ini.

Aku mengambil kaos ganti di lemari. Tertegun menatap tak ada satu pun pakaian Della yang tersisa. Apa dia benar-benar serius akan menggugat cerai? Tidak. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja.

Aku berdiri mematung di depan cermin kamar mandi. Memandang rambut dan baju yang masih kotor karena ulah Della di kafe. Teringat jelas bagaimana malunya aku saat ia menyiram kami dengan jus mangga di depan orang-orang.

Ini sedikit keterlaluan. Aku tidak berselingkuh meski kuakui pernah berharap bisa kembali ke masa lalu. Namun, tidak mengapa. Mungkin ini terjadi karena Della tidak bisa mengontrol emosinya.

Aku menghempaskan tubuh di ranjang. Memandang lurus langit-langit kamar. Bayangan wajah Della seolah bermunculan di sana. Della yang sedang tersenyum, Della yang sedang tertawa juga wajah Della yang tengah merajuk manja.

Tanpa sadar aku terkekeh sendiri membayangkan kelucuan yang pernah terjadi di antara kami. Namun, detik berikutnya dada ini terasa begitu sesak. Seolah ada batu besar yang menghimpitnya

Bel rumah yang dibunyikan berkali-kali membuyarkan lamunan. Awalnya aku ragu untuk turun dan membuka pintu. Namun, detik berikutnya aku tersenyum senang.

"Della," gumamku.

Aku segera bangkit. Berlari tergesa-gesa menuruni tangga untuk membukakan pintu.

"Del ... la." Senyumku hilang seketika menyadari yang datang bukanlah wanita yang sedang kupikirkan.

"Mas." Ningsih tersenyum.

"Ada apa, Ning? Kenapa kamu belum pulang?" tanyaku heran.

"Boleh aku masuk sebentar, Mas?"

"Masuklah." Aku mengiyakan setelah sebelumnya berpikir sejenak. "Duduk, Ning."

"Makasih, Mas." Ia duduk di sofa panjang dengan santai. "Boleh aku minta minum, Mas?"

"Oh, iya. Aku lupa. Tunggu sebentar." Aku yang baru hendak duduk akhirnya kembali berdiri dan beranjak ke dapur.

Ningsih terlihat beranjak dari sofa kemudian melihat-lihat suasana rumahku.

"Minumnya, Ning." Aku meletakkannya di meja kemudian duduk.

"Iya, Mas. Makasih." Ia duduk kemudian menyeruput minumannya sedikit. "Rumah kamu bagus, ya, Mas."

"Alhamdulillah. Ini semua berkat kerja kerasku dan doa Della." Aku tersenyum bangga.

Teringat Della yang selalu bangun di sepertiga malam membuat hati ini menghangat. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakan kepercayaan wanita yang selama ini selalu mendukung dan mendoakan kebaikanku? Besok aku akan menyusulnya ke kampung. Semoga ia bersedia diajak kembali ke sini.

"Mas ... Mas Doni?"

"Iya, kenapa, Ning?" tanyaku saat mendengar panggilannya.

"Kok malah bengong sambil senyum-senyum sendiri gitu, Mas?"

"Nggak apa-apa, Ning. Oh, ya, kok kamu bisa tahu rumahku?" Aku baru menyadari kalau ini pertama kalinya Ningsih berkunjung ke rumah ini.

"Lho, Mas Doni lupa, ya. Kan Mas Doni sendiri yang pernah ngasih tahu alamatnya di wa."

"Oh, iya, ya. Aku lupa." Aku nyengir. "Ngomong-ngomong, ada apa kamu ke sini?" tanyaku.

"Aku mau ketemu istri kamu, Mas. Aku nggak enak soal kejadian di kafe tadi. Seharusnya istri kamu nggak mempermalukanku seperti itu. Toh, kita selama ini cuma temenan." Ningsih cemberut.

"Della nggak ada, Ning," jawabku pelan.

Ningsih mnegernyitkan dahi. "Nggak ada? Maksud Mas Doni?"

"Della marah besar karena aku membohongi dia lagi, Ning. Harusnya sejak lama kita berhenti komunikasi daripada jadi runyam seperti ini," sesalku.

"Ini bukan salah kita, Mas. Istri kamu aja yang terlalu cemburuan dan posesif. Selama ini kita cuma ngobrol biasa, kok, nggak mesra-mesraan."

"Iya, Ning. Tapi tetep aja Della nggak suka. Aku jadi sering cuek dan bohong sama dia sejak komunikasi sama kamu," jelasku.

"Jadi Mas Doni nyalahin aku?" tanyanya tak terima.

"Bukan, Ning. Aku nggak nyalahin kamu. Ini semua memang salahku sendiri. Harusnya aku berhenti jadi temen curhat kamu dari dulu. Kita berdua sama-sama sudah berkeluarga, harusnya bisa menghargai dan menjaga perasaan pasangan masing-masing," jelasku sambil menyandarkan kepala dan memejamkan mata.

"Aku baru sadar kalau aku telah salah banyak selama ini. Menganggap semuanya terlalu sepele hingga akhirnya jadi bom waktu." Aku mendesah berat seraya memijat pelipis. 

"Sabar, ya, Mas. Istri kamunya aja yang terlalu berlebihan."

Aku terperanjat kaget saat menyadari Ningsih sudah berpindah duduk di samping seraya mengusap paha. Aku berdehem pelan kemudian berdiri untuk menghindar.

"Kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, sebaiknya kamu pulang, Ning. Aku mau istirahat dulu. Kepalaku pusing." Aku berbohong.

"Mas Doni sakit? Mau aku buatin minuman hangat?" Ia ikut berdiri seraya menyentuh keningku.

"Nggak. Aku nggak apa-apa." Aku menepis tangannya pelan. "Aku cuma butuh tidur." Aku mundur beberapa langkah.

"Kamu kenapa, sih, Mas? Kayak menghindar gitu?" Ia menatapku heran.

"Sebaiknya kamu pulang, Ning. Di rumah nggak ada Della. Nggak enak sama tetangga kalau lama-lama." Aku mengusirnya halus.

Ningsih masih terdiam di tempat menatapku.

"Sebelum aku pergi, boleh aku tanya sesuatu, Mas?"

"Hm. Apa?"

"Pernahkah sedikit saja terbersit pikiran kalau Mas Doni ingin hubungan kita kembali seperti dulu?" tanyanya, menatapku penuh harap.

Iya. Aku memang pernah berkhayal seperti itu dan aku menyesal.

"Nggak," jawabku berbohong. "Nggak pernah sedikit pun aku berpikir ke arah sana. Aku hanya menganggapmu teman."

Ningsih terdiam, tapi tak lama kemudian ia tertawa pelan.

"Kamu nggak bisa bohongin aku, Mas. Aku tahu kalau beberapa waktu ini kita pernah merasakan hal yang sama." Ia berjalan mendekat, aku mundur.

"Kita pernah sama-sama berkhayal merajut kembali mimpi yang pernah kandas dulu. Iya, kan, Mas?" Ningsih meletakkan tangannya di dadaku.

"Sebaiknya kamu pulang, Ning." Aku melepaskan tangannya kemudian berjalan cepat ke arah pintu.

"Ok! Aku akan pulang untuk sekarang." Ningsih menyambar tas tangannya di sofa. Ia masih  sempat melempar senyum ketika berjalan melewatiku.

"Nanti aku telepon, ya, Mas!" serunya seraya berjalan menjauh keluar gerbang.

Aku hanya merespon ucapannya dengan tersenyum tipis. Langsung masuk dan membanting pintu keras saat sosok Ningsih sudah hilang naik taksi.

"Sial, sial, sial!" Aku menarik-narik rambut frustasi. Mengusap wajah seraya menghembuskan napas kasar. Baru kusadari tadi kalau Ningsih berusaha menggoda.

"Harusnya aku dengerin Della dari dulu. Dia benar. Nggak ada sahabat bagi lawan jenis yang sudah menikah."

Aku berlari cepat ke arah kamar. Meraih ponsel di atas nakas kemudian secepatnya menghubungi nomor Della. Berkali-kali mencoba, tapi nomor Della tetap tidak aktif.

"Aarrgh!" Aku melempar ponsel ke atas ranjang. Napasku terengah karena berlari juga emosi.

"Kenapa aku baru menyesal sekarang?! Bodoh, bodoh, bodoh!" Aku memukul-mukul kepalaku sendiri. 

Figura foto Della yang sedang tersenyum di atas nakas menyita perhatian. Aku berjalan perlahan dan meraihnya. Duduk lesu di tepi ranjang seraya mengusap wajahnya di foto itu.

"Semoga kamu mau maafin aku, La. Semoga masih ada kesempatan untukku sekali lagi." Aku berbaring terlentang seraya mendekap foto Della di dada.


★★★

Pasti pada mau ngebully Doni dan Ningsih, kan? Monggo ... waktu dan tempat saya persilakan. Kabur, ah. Haha.