Part 3
~Della~

???

Siapa pun jelas tak ingin mengalami sebuah perceraian. Setiap orang pasti menginginkan pernikahan yang langgeng dan bahagia. Begitu juga aku. Namun, ikatan pernikahan itu prosesnya lama dan panjang. Butuh kerjasama kedua belah pihak untuk menjaganya tetap utuh.

Hal itu tidak bisa kudapatkan dari Mas Doni. Aku telah mencoba bersabar dan memberikan kesempatan berkali-kali, tapi dia tidak bisa menghargai itu. Baginya ini sepele, tapi tidak bagiku. Bukan tidak mungkin cinta lama akan bersemi kembali di antara mereka.

Perjalanan menuju kampung hari ini diiringi rintik hujan. Seolah langit ikut bersedih akan mengetahui ikatan suci di ambang kehancuran.

Apakah aku egois? Salahkah tindakanku ini?

Bus yang kutumpangi berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang berkelok-kelok. Di sisi kiri jurang menganga lebar. Membuatku terkadang bergidik ngeri jika membayangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi.

Bus berhenti tepat di depan jalan kampung. Masih butuh sekitar 20 menitan untuk sampai di rumah. Dari sini aku masih harus berjalan kaki. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak ada lagi ojek di pangkalan.

Aku berjalan cepat dengan menggeret koper besar. Semilir angin malam yang dingin membuatku merapatkan jaket yang dikenakkan. Hening. Hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar bagai alunan malam dari sawah-sawah yang terlewati.

Sebelum masuk ke dalam perkampungan yang banyak rumah, aku memang harus melewati persawahan. Beruntung di sisi kiri dan kanan jalannya sudah disediakan lampu sebagai penerang jalan. Aku bisa menghela napas lega setelah berhasil melewati tempat sepi tadi. Jujur, ada sedikit  perasaan takut juga.

Aku melihat televisi di pos ronda menyala, tapi tidak ada satu pun warga yang sedang duduk di sana. Mungkin mereka sedang pergi dulu ke rumahnya. Sedang berjalan tenang, tepukan di bahu dari arah belakang mengejutkanku.

"Neng Della, kan?" tanyanya.

"Iya, Pak Maman. Saya Della," jawabku. "Pak Maman bikin saya kaget saja."

"Maaf, Neng. Bapak teh nggak maksud ngagetin. Tadinya mau manggil, tapinya takut salah," jelasnya.

"Iya, Pak. Nggak apa-apa." Aku tersenyum.

Pak Maman ini warga kampung sini yang kupercaya untuk merawat dan mengelola sawah peninggalan Orangtua. Beliau juga kawan baik ayahku semasa hidup. Sangat baik dan ramah.

"Neng Della teh tambah cantik aja, ya. Bapak ikut seneng lihat Neng Della sekarang berhijab." pujinya.

"Iya, Pak. Alhamdulillah. Doakan saya istiqomah, ya, Pak."

"Aamiin, Neng," sahutnya.

Aku memang dulu belum berhijab. Begitu pun saat sudah menikah dengan Mas Doni. Baru tiga tahun yang lalu memutuskan berhijrah saat ayah meninggal menyusul ibu. Aku tidak mau ayah dan suami ikut menanggung dosaku karena tidak menutup aurat.

"Neng Della sendirian aja ke sininya?"

"Iya, Pak. Saya sendiri. Pak Maman mau ke mana?" tanyaku.

"Ini Neng, bapak teh habis nengokin aliran air di sawah sama Agus. Kebetulan dia jadwal ronda malem ini. Sekalian aja bapak teh minta ditemenin ke sawah dulu."

"Oh." Aku mengangguk dan tersenyum.

"Nah, itu Agus!"

Aku ikut memandang ke arah anaknya Pak Maman yang muncul dari arah belakangnya dengan membawa senter.

"Meuni lami pisan kamu teh Agus." (Lama banget, sih, kamu Agus.)

"Muhun, Pak. Tadi teh aya sampah nu mampetan. Sakanteunan weh Agus bersihan heula." (Iya, Pak. Tadi ada sampah yang nyumbat. Sekalian aja Agus bersihin dulu.)

Agus menelisik penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membuatku sedikit tak nyaman.

"Della?" Ia menunjukku dengan tersenyum lebar.

"Iya, Gus. Ini saya, Della." Aku mengangguk dan tersenyum tipis.

"Walah, pangling pisan," pujinya.

"Makasih. Kalau begitu saya permisi dulu, ya, Pak," pamitku pada Pak Maman.

"Mangga, Neng. Mangga." (Silakan, Neng. Silakan). "Anterin atuh, Gus! Bawain kopernya Neng Della. Kasihan."

"Nggak usah, Pak. Makasih. Biar saya bawa sendiri aja," tolakku.

"Nggak apa-apa atuh, Neng. Udah sana, Gus!" perintahnya pada Agus.

"Iya, Pak. Ayo, Del! Biar saya antar." Agus mengambil alih koper dari tanganku.

"Permisi, ya, Pak." Aku sedikit membungkuk pada Pak Maman. Beliau tersenyum dan mengangguk.
"Makasih, ya, Gus. Maaf ngerepotin." Aku mulai melangkah bersamanya.

"Nggak ngerepotin sama sekali atuh, Del."

"Bukannya kamu mau ronda?" tanyaku.

"Iya, tapi belum. Nanti jam sebelas ronda mah mulainya," jawab Agus. "Kamu sendirian aja ke sininya?"

"Iya, sendiri. Lagi kangen aja sama rumah."

"Kelihatannya teh kamu mau lama, ya, di sini?" tanyanya. Ia pasti bertanya seperti itu karena melihat koperku yang cukup besar.

"Belum tahu, Gus. Mungkin iya."

Tak lama kami sampai di depan rumahku. Rumah peninggalan bapak memiliki halaman luas. Ada pohon mangga di sisi kanan dan kirinya. Juga bangku kayu di bawah pohon untuk duduk santai.

"Makasih, ya, Gus," ucapku seraya mengambil kembali koper dari tangan Agus.

"Iya, sama-sama, Del." Agus tersenyum. "Selamat beristirahat, ya. Aku pamit dulu."

Aku mengangguk. Agus mulai melangkah pergi meninggalkanku yang masih berdiri di tempat. Sesekali ia masih menoleh dan tersenyum sebelum akhirnya, sosoknya hilang di belokan. Aku memutar balik badan menghadap rumah. Tersenyum tipis memandangi rumah.

"Bapak, ibu ... Della pulang," gumamku kemudian melangkah pelan mendekati pintu.

???

Udara dan suasana sejuk di pedesaan memang mampu membuat perasaan dan hati ini menjadi lebih tenang. Embusan angin dingin langsung menerpaku saat jendela dibuka.

Beberapa warga sudah terlihat berlalu lalang. Kebanyakan di sini warganya bekerja sebagai petani. Entah itu mengelola sawah milik orang lain atau pun sawah miliknya sendiri.

Meski begitu, tidak sedikit juga anak-anak dari mereka pergi ke kota untuk merantau. Mencoba mencari pekerjaan yang bisa mengubah kehidupan orangtua di kampungnya lebih baik.

Aku menyambar sweater kemudian pergi keluar rumah. Bermaksud mencari sarapan sekaligus belanja sayur untuk masak sore nanti.

Tak sedikit para tetangga yang menyapa dengan ramah ketika kami bertemu. Mereka senang melihatku kembali di desa ini. Dulu, aku dijuluki kembang desa di sini. Tak sedikit pria yang berusaha datang ke rumah untuk melamarku.

Hanya saja, pilihanku jatuh kepada Mas Doni. Pria yang tak sengaja kutemui di sebuah area pariwisata Gunung Galunggung. Ia sedang berkunjung ke rumah temannya di kota Tasikmalaya.

Dari pertemuan itulah kami bertukar nomor ponsel dan sering berbalas pesan. Hingga akhirnya, Mas Doni jadi sering datang ke desa ini hanya untuk bertemu denganku.

"Assalamu'alaikum," salamku pada ibu-ibu  yang sedang memesan nasi kuning.

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak. "Neng Della, iraha dongkap?" (Neng Della, kapan datang?)

"Wengi tadi, Bu." (Tadi malam, Bu.) Aku tersenyum dan ikut duduk bersama mereka.

"Meuni tambah geulis pisan. Coba Neng Della teh dulu mau jadi mantu ibu, pasti weh cucu ibu geulis jeung kasep." (Makin tambah cantik aja. Coba aja Neng Della dulu mau jadi menantu ibu, pasti cucu ibu cantik dan ganteng.) Ibu Eti mengusap kepalaku yang terbungkus hijab.

Semuanya tertawa senang mendengar celotehan Ibu Eti. Aku hanya tersenyum malu mendengar pujiannya.

"Bade meser naon, Neng?" (Mau pesen apa, Neng?) Ibu Eha-pemilik warung bertanya kepadaku.

"Nasi kuningnya satu, Bu."

"Bade dibungkus?" (Mau dibungkus?)

"Muhun, Bu." (Iya, Bu.)

"Ibu ti payun, Neng. Bade nganteuran sarapan kanggo bapak di sawah." (Ibu duluan, Neng. Mau nganterin sarapan buat bapak di sawah.)

"Mangga, Bu." (Silakan, Bu.) Aku tersenyum dan mengangguk.

Bu Eti dan ibu-ibu lainnya meninggalkan warung ini satu persatu. Hanya tinggal aku sendiri dan Bu Eha.

"Ini Neng, nasi kuningnya." Bu Eha menyodorkan pesananku.

"Hatur nuhun, Bu. Ieu artosna." (Terima kasih, Bu. Ini uangnya.)

"Sami-sami, Neng. Neng Della bade langsung uih ka bumi?" (Sama-sama, Neng. Neng Della mau langsung pulang ke rumah?)

"Muhun, tapi bade muter jalanna. Hoyong ningal heula sawah sakanteunan jalan-jalan." (Iya, tapi mau muter jalannya. Mau lihat sawah dulu sekalian jalan-jalan.)

"Hayu, Bu. Assalamu'alaikum." (Mari, Bu. Assalamu'alaikum.)

"Wa'alaikumsalam.)

Aku berjalan santai menyusuri jalan desa. Kanan kiri diapit persawahan. Juga gunung dan bukit-bukit yang mengelilingi desa tempatku dilahirkan.

Sungguh pemandangan yang indah bagaikan sebuah lukisan. Kicauan burung tak luput ikut mewarnai pagi cerah ini. Juga tawa riang anak-anak kecil yang hendak berangkat ke sekolah.

Seulas senyum bahagia terukir di bibirku. Keputusan untuk pulang ke kampung sepertinya pilihan yang tepat. Aku merasakan ketenangan batin di sini. Seakan lupa dengan masalah yang sedang menimpa rumah tanggaku.

"Della!"

Aku menoleh saat mendengar seseorang memanggil. Agus dan Pak Maman tersenyum dari kejauhan. Mereka tengah menaburkan pupuk di sawah milik mereka sendiri.

"Ke sini!" Agus melambaikan tangannya kepadaku.

Aku mengangkat sedikit rok yang dipakai sebelum berjalan menapaki tegalan sawah untuk menghampiri keduanya.

"Dari mana, Neng?" tanya Pak Maman.

"Ini, Pak. Habis beli nasi kuning buat sarapan." Aku menunjukkan bungkusan di tanganku.

"Kebetulan pisan atuh. Hayu! Kita sarapan bareng di sini. Bapak sama Agus juga baru mau sarapan ini teh."

Aku berniat menolak, tapi tidak enak melihat senyum ramah di wajah Pak Maman.

"Iya, Pak." Akhirnya aku meng-iyakan ajakannya.

"Sini, Del! Duduk." Agus membersihkan dan merapikan saung sederhana dengan gesit.

"Ini, Neng. Cuci tangannya dulu." Pak Maman menuangkan air ke tanganku.

"Makasih, Pak." Aku mengambil posisi duduk berhadapan dengan keduanya.

"Ini, Del. Sok dimakan. Ibu tadi masak banyak." Agus dengan gesit membuka tutup setiap rantang bekalnya.

"Nggak usah, Gus. Ini juga udah cukup, kok," tolakku.

"Nggak apa-apa atuh, Neng. Jangan sungkan," imbuh Pak Maman.

Akhirnya kami bertiga pun sarapan bersama. Terasa nikmat sekali makan sederhana di saung seperti ini. Kami makan sambil diselingi obrolan ringan juga canda tawa.

Terlebih lagi, Pak Maman terus-menerus meledek putra semata wayangnya yang masih lajang sampai sekarang. Agus tersipu malu. Wajah putihnya merona ketik Pak Maman tak berhenti menggodanya. Aku tadinya ikut tertawa, tapi langsung diam saat melihatnya menunduk malu.

"Makasih, ya, Pak. Masakannya enak," ucapku seraya beranjak dari tempat duduk.

"Sami-sami, Neng. Main atuh ke rumah, ya. Makan bareng lagi di rumah bapak," ujar Pak Maman.

"Iya, Pak. InsyaAllah. Kalau begitu Della pamit pulang dulu."

"Aku anterin, ya, Del," tawar Agus.

"Nggak usah, Gus. Habis ini mau mampir ke warung sayur dulu. Aku pergi, ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya serempak.

???

Aku baru saja selesai makan malam. Tumis kangkung, ayam goreng dan sambal menjadi menu makan malamku kali ini. Tak ketinggalan juga ada lalapan timun dari kebun Pak Maman. Agus yang sengaja mengantarkannya ke sini tadi sore.

Sejak maghrib tadi hujan turun membasahi bumi. Membuat cuaca di desa ini semakin dingin. Guntur dan kilatan petir saling menyambar dan bersahutan. Ditambah lagi angin yang berhembus dengan cukup kencang.

Aku membawa selimut dari kamar ke ruang tengah. Mencoba menonton televisi saat guntur dan petir tak lagi terdengar. Hanya menyisakan angin dan hujan rintik-rintik.

Sejak pergi dari rumah Mas Doni, belum satu kali pun aku mengecek ponsel. Sampai detik ini, ponsel masih dalam keadaan mati.

Entahlah. Rasanya malas untuk menyalakan ponsel. Pasti akan ada banyak panggilan dan pesan dari Mas Doni. Aku sedang ingin menenangkan diri. Tak ingin mendengar apa pun pembelaan darinya.

Suara ketukan di pintu menggangguku yang tengah asyik menonton film barat aksi. Aku melirik jam dinding. Pukul setengah sepuluh malam.

Siapa yang berkunjung malam-malam begini? Pak Mamankah?

"Iya, sebentar!" seruku saat mendengar ketukan di pintu tak mau berhenti.

Pintu terbuka. Aku tertegun menatap sosok yang kini sudah berdiri di hadapanku dengan senyum khasnya.

"Mas Doni ...."


???