Perjalanan Di Mulai

Rapat yang mendadak, Renjiro buru-buru menuju ruangan. Ketika ia membuka pintu, orang-orang sudah berkumpul, para petinggi dan penanggung jawab rumah sakit.

"Keputusan sudah ambil, Renjiro dan teamnya akan di tempatkan disalah satu cabang rumah sakit rintisan,dekat dengan resort di Lampung Selatan. Di sana kita akan uji coba untuk membangun pelayanan kesehatan gratis terlebih dahulu agar para penduduk menerima."

"Tetapi Pa, apa tidak menunggu Renjiro dulu? Sebentar lagi ia akan tiba," Mouli mencoba berusaha menengahi. 

Ia tahu, Renjiro pasti tidak akan suka dengan keputusan yang diambil tanpa dirinya.

"Mouli, Renjiro akan menerima dengan lapang dada dengan keputusan yang di ambil. Bukan kah seperti itu, Romi?"

Melihat Papa Renjiro menjawab dengan senyuman , membuat kepala Mouli berdenyar-denyar.

Apa yang sedang mereka rencanakan untuk laki-laki yang telah masuk di ruang hatinya itu.


***

"Apakah musyawarah seperti itu, Pa?"

Renjiro mendengkus kesal, mendengar hasil rapat yang tak melibatkan dirinya. Setibanya ia keruangan rapat, ternyata sudah di ambil keputusan.

Bukan bermaksud ia datang terlambat. Tetapi ada pasien darurat yang butuh penanganan cepat.

"Kau harus menerimanya dengan lapang, Ren. Papa yakin kau bisa melewati ini semua."

Mendengar itu Renjiro hanya bisa menghela napas. Kepemilikan yang sudah berpindah membuat laki-laki itu tak berkutik, persis dirinya.
Ia merasa sedang diuji kelayakan. Entah apa yang direncanakan paman Thomas dan Papanya. Kali ini, ia kembali harus mencari tahu seorang diri. Seperti kotak pandora yang sedang ia coba pecahkan.
Semoga ini bisa menjadi awal titik kunci untuk mengetahui semuanya, bisik Renjiro pelan

***

"Dia baru saja tiba dan kembali padaku. Tidak bisakah kau memberiku waktu sejenak untuk berada di dekatnya lebih lama?"

"Ini permintaan Thomas. Sudah waktunya kita mengembangkan sayap lebih tinggi dan beregenerasi."

"Aku tak menyangka kau akan menumbalkan putraku, tidakkah kau tahu kalau dia belum sembuh total dengan traumanya."

Laki-laki berumur lima puluh tahunan itu menyentuh lembut jemari istrinya.

"Sudah waktunya, Renjiro harus tahu siapa dirinya."

"Ta-tapi ..."

Perempuan itu tercekat, ia tahu tidak akan pernah menang berdebat dengan suaminya. Hari itu akan tiba pada waktunya. Hari yang ia khawatir sudah tepat bergerak menuju terang benderang.

"Apa pun yang terjadi, dia tetap anak laki-lakiku kan," gumamnya pelan sambil menatap sang suami.

Laki-laki di hadapannya mengangguk pelan sambil tersenyum. Entah mengapa, air matanya kembali mengalir.

Apakah selalu seperti ini hati seorang perempuan?

***
"Kau baik-baik saja kan, Ren?"

Pesan Mouli baru saja masuk ketika Renjiro hendak beranjak dari meja kerjanya. Sesaat ia menghela napas membaca pesan dari sahabat kecilnya itu.

Renjiro hanya membalas dengan emoticon senyum dan acungan jempol. Menandakan ia baik-baik saja.

Bagaimana pun juga keputusan rapat sudah di ambil. Dia tak lebih hanya seorang pekerja, bukan pemilik.

Dulu, memang rumah sakit ini milik kedua orang tuanya. Namun krisis moneter yang di hadapi kala itu. Memaksa Papanya untuk melelang semuanya. Paman Thomas, dewa penolong bagi keluarganya.

Perempuan itu tampaknya tidak puas dengan balasan pesan dari Renjiro. Dengan baju kasualnya di ujung lorong ia terlihat buru-buru menuju ke ruang Renjiro.

Pintu terbuka dengan suara sedikit keras. Renjiro yang sedang menekuri kertas di hadapannya, mengangkat kepalanya.
"Aku akan baik-baik saja Mouli."

Renjiro tersenyum, menanggapi sikap Mouli. Sahabat kecilnya itu akan menggunakan helikopter rumah sakit untuk mengantarkannya ke pulau kecil itu.

"Aku tidak tahu, mengapa akhir-akhir ini mengkhawatirkanmu. Apakah aku berlebihan?" Mouli mencoba mengungkapkan apa yang ada di hatinya.

"Sepertinya aku harus mencobanya, Mouli," jawab Renjiro, sekenanya.

Mungkin sudah saatnya ia harus menaklukkan dan bersahabat dengan laut. Jiwa kemanusian untuk menolong sesama menjadi cambuk Renjiro untuk menaklukkan semuanya

Sesaat ia menghela napas, ada rasa berkecamuk di hatinya serta rasa ingin tahu yang penuh tanda tanya. Renjiro, harus melakukan sesuatu.

"Aku sudah menemukan caranya, Mouli. Jadi kau tidak perlu khawatir."

"Aku bersungguh-sungguh soal helikopter itu, Ren," desaknya lagi.

"Itu tidak perlu, percayalah."

Gadis di hadapannya itu hanya bisa menghela napas. Mencoba membuang rasa khawatir.

"Nanti aku akan mengunjungimu jika urusanku sudah selesai."

Renjiro mengangguk pelan, mengiyakan.


***

Sesaat wajah Renjiro pias ketika melihat kendaraan yang akan membawanya ke pulau itu. 

"Laut sedang surut, tidak memungkinkan kita menggunakan kapal yang besar. Jika pun iya masih harus menggunakan sekoci, itu merepotkan," papar dokter Sikri, kolega barunya.

Ragu-ragu Renjiro meraih jaket pelampungnya. Itu keselamatan standar meski Renjiro bisa berenang. Tetapi dengan kondisinya yang trauma dengan laut membuat ia harus memakainya.

Kembali matanya menatap langit yang cerah, lalu tatapannya terlempar pada lautan yang luas. Berembus isu jika samudera Hindia begitu ganas jika cuaca buruk.

Di tambah pertemuan arus bawah antara selat sunda dan laut lepas, tak main-main. Sesekali sering terjadi adanya pusaran air yang membahayakan.

Mengingat it mendadak membuat Renjiro mual, cepat-cepat ia keluarkan kaca mata hitam juga beberapa obat tidur.

Renjiro putuskan selama menuju pulau, ia akan tidur agar rasa paniknya tidak timbul. Baginya, kondisi di luar kendalinya merupakan hal yang memalukan. Ia tidak ingin jadi bulanan setiba di pulau nanti.

Guncangan ombak sesaat, sudah membuat kepalanya terasa pusing. Segera Renjiro mengambil posisi santai. Ia tidak peduli dengan kondisi tempat duduk yang tidak begitu luas. Bagaimanapun juga, perjalanan yang memakan waktu 1 setengah jam itu, ia harus terlelap.

***

"Ombak tinggi! Ombak tinggi! Sebentar lagi akan karam! Putar kemudi! Pertahankan!"

Orang-orang bergerak panik ketika mendadak suasana lautan berubah mengganas. Padahal setengah jam lalu setelah sauh di lepaskan, cuaca masih baik-baik saja.

Laki-laki itu hanya bisa meringkuk pias. Perutnya persis di aduk-aduk, terasa mual. Tubuhnya gemetar hebat menghadapi kondisi yang ia rasakan sekarang.

Apakah ia akan mati?

Ibu, apa yang harus kulakukan, bisiknya dengan tubuh yang tak semakin berdaya. Bayangan kematian sudah berdiri tegap di hadapannya.

Senja itu mendadak ramai. Namun seru, riuh rendah itu tak lama, mereka di kalahkan amukan laut yang mengganas. Ombak dan badai mempermainkan badan perahu begitu hebat. Tiang layar patah di tambah air memasuki lambung perahu.

Timbul tenggelam yang ia rasakan. Padahal ilmu berenang telah di kuasainya. Namun tetap saja tak berdaya tiap menghadapi datangnya gulungan ombak yang tinggi. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan agar ia tidak semakin dimainkan oleh gulungan ombak.

"To... tolong, tolong!"

Namun suaranya tercekat, ia semakin tak berdaya. Dadanya seakan hendak pecah karena air laut mulai memenuhinya.

"Dok, dokter Renjiro!"


***
Happy ReadingšŸ¤— bantu like dan subcribe ya
Terima kasih