Bab 2

"Mah, tapi Reyhan ini bukan orang lain. Ia keponakan Mira, anak dari Kakak kandung Mira. Ibu sudah tau 'kan semua seluk-beluknya, bagaimana Reyhan bisa menjadi anak Mira? Terus bagaimana Mah, Mama bisa 'kan  bantu Mira?" desak Mira. 

Mira sampai menjatuhkan harga dirinya, sebab ia memang sangat membutuhkan uang untuk pengobatan Reyhan. Mertuanya adalah harapan satu satunya, orang yang sangat diharapkan Mira akan membantunya.

"Nggak ada, Mira. Aku juga lagi butuh duit, walaupun ada aku nggak akan memberikannya sama kamu. Sudah sana, kamu pergi! Silahkan kamu cari pinjaman keorang lain saja! Karena aku tidak mau berurusan denganmu!" seru Bu Rusni, menyuruh Mira pergi. Ia berkata sambil mengibas - ngibaskan tangan mengusir Mira.

"Jeblug," suara pintu yang ditutup oleh Bu Rusni. Ia menutupnya tanpa ada basa basi lagi.

Bu Rusni boro-boro mengajak Mira masuk, atau menawarinua minum dulu, walau hanya sekedar basa-basi. Ini Mira baru datang, malah langsung di suruh pergi lagi. Jangankan disuruh duduk disuruh masuk saja tidak. Bu Rusni menerima Mira hanya di depan pintu saja. Mira seolah sedang mengemis, di rumah mertuanya sendiri.
Setelah mertuanya menutup pintu, Mira langsung pergi dari rumah mertuanya tersebut. Dia berjalan pulang dengan langkah gontai, kaki yang terluka pun tidak di masakannya. Ia berjalan  seakan kehilangan arah tujuan, ia bingung harus pergi ke mana lagi untuk mencari uang buat berobat Reyhan.

Pada saat sedang  berjalan, Mira teringat akan kejadian sewaktu Kakaknya dulu kecelakaan hingga meninggal, serta meninggalkan Reyhan.

Flash back ...

"Mira, Mira, kamu sudah dengar kabar belum, kalau Kakakmu Mirna sekeluarga kecelakan?" Mbak Nisa tetanggaku datang ke rumah memberitahu kabar duka kepadaku.

"Kecelakaan! Kecelakaan bagaimana, Mbak? Tolong dong jelaskan, jangan membuat aku bingung." Aku meminta penjelasan kepada Mbak Nisa.

Mbak Nisa pun memberitahu Mira, tentang kronologi kejadian Mirna serta Jamal suaminya kecelakaan. Hingga membuat Reyhan menjadi dalam pengasuhan Mira.
Waktu kejadian Kakak Mira yang bernama Mirna beserta suaminya berniat mudik ke kampung halaman, mereka mudik dengan  menggunakan motor. Namun di tengah perjalanan terjadi kecelakaan, yang merenggut nyawa mereka. Waktu terjadinya kecelakaan, Reyhan cuma lecet biasa. sehingga ia tidak di lakukan pengecekan secara intensif. Waktu kecelakaan tersebut, usia Reyhan baru enam bulan, tetapi atas kekuasaan Allah, Reyhan bisa selamat dari kecelakaan tersebut.

Suami Mirna yang bernama Jamal merupakan yatim piatu sama seperti Mirna, tetapi Jamal merupakan anak tunggal. Sehingga tidak ada lagi yang dapat merawat Reyhan kecuali Mira seorang. Jadi mau tidak mau Reyhan harus dirawat oleh Mira. Dibalik kesedihan Mira, yang ditinggal oleh kakak kandungnya Mirna serta iparnya. Mira juga senang mempunyai anak angkat sekaligus keponakannya, yang akan mewarnai hari - harinya yang sunyi selama ini.

*****

"Mira, sudah ya, Sayang. Kamu jangan menangis terus, itu kasihan sama Reyhannya, kalau kamunya nangis melulu. Nanti Reyhannya bisa rewel, kalau yang mengasuhnya juga sedang bersedih." Ruli menasehati Mira, supaya tidak terus-terusan menangis.

"Iya, Mas, tapi aku tidak menyangka saja, kalau Kak Mirna akan secepat ini meninggalkan kami." Mira menjawab perkataan suaminya.

"Ini sudah menjadi takdirnya, Sayang. Kamu harus ikhlas ya," pinta Ruli masih terus menasehati Mira.

Akhirnya Mira pun, sedikit demi sedikit bisa menerima kenyataan, apa yang terjadi kepada keluarganya. Mira kini baru sadar dari lamunan, saat ada seseorang yang memanggilnya. Ternyata dia sudah berjalan lumayan jauh, sekitar lima puluh meter dari rumah mertuanya tersebut

"Mir ... Mira," seseorang memanggilnya.

Mira pun refleks menoleh mencari sumber suara, orang yang memanggilnya. Ternyata saat ini Mira berada tepat, disebuah toko kelontong yang cukup besar. Toko tersebut adalah kepunyaan Hj Dulloh, Kakak kandung Bu Rusni, yang selalu Ruli panggil dengan seburan Uak, begitupun dengan Mira, yang mengikuti suaminya.

"Uak ..." seru Mira. Dia pun langsung menghampiri orang yang memanggilnya, yang ternyata Bu Isma.

"Dari mana kamu, Mir? Kok tengah hari begini kamu keluyuran, sambil bawa Reyhan panas-panasan. Kami habis darimana sih, Mir, mana jalan kaki lagi?" tanya Bu Isma lagi.

Ia  bertanya kepada Mira, kenapa bisa Mira berjalan kaki di tengah teriknya matahari, sebab memang saat itu mataharinya sedang panas-panasnya.

"Begini, Uak. Mira itu habis dari rumah Mamah, sebab Mira ada keperluan yang mendesak." Mira menjawab pertanyaan Bu Isma, sambil menyalami beliau dengan ta'zim.

"Tapi kok kamu pulangnya jalan kaki, kenapa tidak minta diantar sama Reni?" tanya Bu Isma heran.

Bersambung ...