3. MERTUAKU ORANG TUAKU I
Sinar Fajar
Tidak semua mertua jahat, percayalah ada banyak yang menyenangkan. 
Kisah ini juga dibuat dalam dua bagian. Moga pembaca suka. 
🐼
Setelah tamat SMA di desa, aku kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta. 

Aku juara satu di SMA. Sekarang aku kuliah dengan beasiswa. Ayah ibu tetap membiayai aku secukupnya. Kata ayah, dana darinya pakai seperlunya saja usahakan ada tabungan. Jangan boros. 

Kami biasa hidup sederhana. Ayahku seorang lurah dan ibuku seorang guru SMP. 

Aku kuliah di Fakultas Tehnik, aku ambil program studi arsitektur. Di antara sekian banyak mahasiswa di prodi ini, tujuh puluh persennya cewek. Rata-rata tomboy. Cowoknya yang sedikit jadi kalah pamor. 

Waktu aku keluar kelas di hari pertama kuliah, seorang mahasiswi tajir dan reman mendekatiku. 

"Hei, kudengar kamu penerima beasiswa, kamu pasti anak pintar! Kita sejurusan, aku mau kamu jadi temanku ya!"

Huhhh . . . otoriter, main perintah. 

"Okey ga masalah, asal kau tak menggigitku."

"Memang aku harimau apa?"

"Tidak. Kau bukan harimau, tapi srigala."

Ha hah haaa.... 

Kami tertawa bersama. 

Aku teringat pesan ibuku, dalam pergaulan jangan melawan arus. Jadi aku ikuti aja keinginan dia selama aku bisa. 

"Aku Pelita," aku ulurkan tangan. 

"Sofi," sambutnya. 

Itu awal pertemuanku dengan Sofi. Aku sekarang sering diajak ke rumahnya, menginap di sana kalau ada PR. Dia pintar juga, cuma agak santai, maklum anak manja. 

Di rumahnya yang besar dan indah aku diperkenalkan pada seluruh anggota keluarganya.  Rupanya Sofi anak seorang Jenderal kaya. 

Mereka empat bersaudara. Maminya sangat cantik dan modis. Ketika pertama datang ke rumahnya mami memandangku tajam, penuh selidik. Tidak banyak senyum, aku bicara dengan hati-hati takut salah dan takut melanggar sopan santun. 

Demikian juga waktu pertama jumpa papi, aku risih, papi Sofi sangat berwibawa. Setelah mengenalnya aku tahu beliau seorang yang rendah hati dan penyayang. Aku sangat menghormatinya. 

Di luar kegiatan akademik di kampus, aku sering menghabiskan waktu dengan keluarga Sofi. Aku suka memasak di sana bersama para ART. 

Sofi tidak punya saudara perempuan, aku dijadikan kakaknya walau usia kami hampir sebaya. 

Salah satu saudaranya, dr. Samudra mulai sering menemuiku. Kami hanya berteman. 

Papi Sofi Om Baruna, menyukai masakanku, mereka sering memintaku mengajari Sofi masak. 
Aku yang anak rantau senang sekali bisa makan masakan rumahan. Maklum anak kos. Bang Samudra yang ganteng itu paling suka pindang gurami buatanku. 

Pada hari-hari selanjutnya kulihat mami mulai ramah denganku. Kalau sudah kesorean belajar di rumahnya aku disuruh menginap atau dilarang pulang sendiri pakai ojek, aku pulang diantar supir. 

Aku juga sering dibelikan baju kalau Mami Tari belanja bersama Sofi. Aku tidak pernah minta karena itu pantangan dalam keluargaku. Tapi Aku tidak menolak kalau mami memberikan. Walau ada rasa malu waktu menerimanya. 

Sudah beberapa kali liburan mereka sekeluarga main ke desaku. Mereka betah di rumahku, dan mulai akrab dengan keluargaku. 

Suatu hari, Sofi bertanya. 

"Ta, apa kamu pacaran sama abangku?"

"Tidak, kami berteman saja."

"Dia sering memujimu, dia suka membandingkan kamu yang rajin dengan aku yang pemalas."

Katanya. "Pelita itu sudah cantik, pintar, baik hati, rajin masak dan seksi."

"Preeeet . . aku sebel Plitaa." Sofi merajuk. 

"Hei kau sahabatku yang paling setia, manis manja, nyebelin hah ha."
Bujukku sambil memeluknya. 

🐦

Dr. Samudra mendapat tugas baru ke wilayah timur Indonesia. 

Mami bertanya. 

"Sam, kamu kan sudah punya pacar si Elia, sebaiknya kalian nikah, jadi kamu tidak sendirian di daerah terpencil."

"Kami sudah lama putus Mam, ga cocok, Elia gak suka hidup di desa. Sekarang aku ini lagi jatuh cinta lagi Mam."

"Sama siapa lagi kamu Sam, ayo ceritakan sama Mami."

"Dia cantik Mam, pintar, baik hati, rajin masak dan seksi."

"Huhhh mungkin si Inem pelayan seksi  Mam." Sambar Sofi yang tiba-tiba muncul. 

Sam berbisik ke telinga mami, 
m okami terkejut, lalu tersenyum lebar.

 "Kamu yakin? Jangan bercanda."

"Tapi dia belum tahu Mam." Jawab Samudra. 

"Haaaaa. . . . Kok gitu Nak?"

"Sam belum nembak dia." Jelas Samudra agak malu. 

"Sebelum kamu berangkat beresin dulu hubungan kamu."

"Ya Mam, doakan ya."

🐦

Suatu hari Bang Samudra mengajakku makan malam di restoran mewah dekat pantai. Dia datang sendirian menjemputku ke tempat kos. 

Aku jadi tanda tanya mengapa kami hanya akan pergi berdua saja tanpa Sofi dan keluarga lainnya. 

Setelah sampai di restoran itu, kami memilih tempat duduk yang menghadap ke laut. Dari jauh terlihat lampu kerlap kerlip. Di langit penuh bintang pertanda esok cuaca akan terang. Angin laut berhembus membuatku sedikit menggigil. Kami duduk berhadapan. 

Pelayan datang menyodorkan buku menu. 

"Pelita mau makan apa?"

"Yang ringan aja, jangan nasi."

"Disini terkenal dengan sate gurita, enak, abang sudah pernah coba."

Kami pesan dua porsi sate dan dua mangkok buah campur. 

Sambil menunggu pesanan datang, Bang Sam menceritakan  tentang rencana kegiatannya sebagai dokter di daerah terpencil. Aku mendengar dengan kagum. Dia dokter yang penuh pengabdian. 

Tak kuduga anak orang kaya dengan suka cita mau bertugas di desa. Seharusnya orang desa sendiri kalau sudah sukses pendidikannya jangan enggan untuk kembali ke desa, harus mau membangun desa untuk meningkatkan taraf hidup warga desanya. 

Ketika pesanan kami datang, kami makan tanpa banyak bicara, aku grogi, Bang Sam sambil mengunyah, terus memandangku. 

Setelah makan Bang Samudra memulai pembicaraan serius. 

"Pelita, bagaimana perasaanmu padaku?"

Aduh aku harus jawab apa. 

"Aku jatuh cinta padamu." Jelasnya. 

DOOOR, jantungku gemuruh. 

Aku memandangnya tak berkedip. Membisu. Dia melanjutkan ucapannya tanpa menunggu jawabanku. 

"Maukah kau menerimaku sebagai suami?"

DOOOOOR, OHH Tuhan. Anak tentara ngaku cinta ngedooor. 

Sekarang aku bukan hanya membisu, tapi mulutku juga nganga. Terus dia tersenyum. 

"Plita, kalau kamu mau jadi istri Abang, nikahnya tidak sekarang. Abang minta Pelita mau memikirkannya ya.Tidak perlu jawab sekarang."

Bang Samudra lalu pergi ke kasir. Aku masih terduduk bingung. 

Dia mendekati aku. 

"Kita pergi sekarang?" tanyanya. 

Aku mengangguk. 

"Kita jalan sebentar di pantai yuk."

Dia menggandeng tanganku keluar dari restoran, kami menyusuri pantai indah di bawah sinar bulan. Tak sepotong kata pun keluar dari mulutku. Samudra merangkul bahuku. 

🐼

Lanjut ke bagian II di sebelah. 

11kcptrl
120121
#Sinar_Fajar KBMapp

Cerpen ini telah saya kembangkan lagi menjadi sebuah Cerbung dengan judul yang sama. Silahkan mampir. 





Komentar

Login untuk melihat komentar!