2
"Kemarin, seorang prajurit menemukannya tergeletak di depan gapura istana, entah mengapa dia sampai sekarang belum juga sadar, dan lihatlah patih! Mengapa pakaiannya menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Sang Ratu menitikkan air mata, melihat kondisi Tamara yang tak kunjung sadar.

Tak lama, dayang Jumani tiba membawa seorang Tabib istana. 
Sang Ratu mempersilahkan Tabib itu untuk memeriksa keadaan Tamara, lalu tabib itu mengoleskan ramuan pada hidung, kening, serta pelipis Tamara, Tamara bergerak perlahan, matanya sedikit terbuka. Lalu, segera Tabib itu mencekoki mulut Tamara dengan Ramuan lain dari sebuah wadah berwarna keemasan.

"Huek!" Tamara bangkit memuntahkan ramuan itu, matanya mengerjap ia edarkan pandangan ke sekelilingnya. Matanya melebar, kedua alisnya mengangkat. Pikirnya terus bertanya-tanya, sebenarnya dimana ia sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi?. Ia mencubit pipinya berkali-kali memastikan yang ada di hadapannya apakah mimpi atau bukan.

"Ayah ... dimana ayah? Hapeku? Dimana aku? Kamu, kamu ini siapa? Ayah .... " Tamara terus bertanya dan berteriak, Sang Ratu mengelus pelan rambutnya, mencoba menenangkan Tamara, wanita itu tersenyum sumringah melihat Tamara sudah terbangun meskipun keadaannya mengherankan.

"Tuan putri, tenanglah! kita ada di istana Majapahit, ada ibu Ratu disini, kau akan baik-baik saja tuan putri." ucap lembut sang ratu menatap tamara dengan tatapan penuh kasih.

"Tuan putri? Anda memanggil saya tuan putri? Maksudnya apa sih?" Tamara semakin bingung. 
" Tuan putri, istirahatlah. Mungkin keadaan tuan putri masih lemah." sahut Patih Mahesa Anobrang. 
"Tabib, kau boleh pergi." Pinta sang Ratu, lalu tabib itu meninggalkan obat untuk Tamara, dan berlalu meninggalkan kamar.

"Sebenarnya kalian ini siapa sih? Tuan putri siapa yang kalian maksud? Aku ini Tamara, bukan tuan putri!" ujar Tamara bingung, orang-orang sekelilingnya terus menyebutnya dengan tuan putri. 
Sang Ratu dan Patih Mahesa semakin kebingungan dengan tingkah tuan putri Dara Jingga yang kian aneh dan berbeda dari biasanya.

"Tapi, aku sekarang lapar banget. Bolehkah aku meminta makanan? Em ... besok ya uangnya, aku akan minta sama ayah, sekarang aku nggak bawa uang, hape ku juga ketinggalan, aku serius. Besok bakalan aku bayar" pinta Tamara memelas.

"Dayang, tolong ambilkan makanan untuk Tuan putri, segera!" titah sang ratu.

"Sendiko dawuh Gusti Ratu," sahut dua orang dayang.