4
"Apa ingatan tuan putri ikut menghilang," sahut seorang Dayang.

"Maksudmu?"

"Tuan putri sudah menghilang berhari-hari, lalu begitu di temukan, tuan putri sekarang menjadi lupa, lupa semuanya," tukas seorang dayang lain.

"I ... iya, mungkin begitu. Coba jelaskan, siapa aku? Kenapa kalian memanggilku tuan putri? Dan dimana aku sekarang?" Tamara semakin memberondong pertanyaan pada para dayang.

"Tapi, tuan putri janji harus makan ya!"

"Baiklah!" sahut Tamara.

"Tuan putri adalah Putri Dara Jingga, putri dari Raja Srimat Tribuana Raja, dari Dharmasraya. Dan ini adalah kerajaan Majapahit, tempat tinggal tuan putri sekarang. Tuan putri dibawa kemari untuk mempersatukan kedua kerajaan, itu semua anugerah dewa berkat perantara pelayaran pamalayu yang dilakukan oleh Patih Mahesa Anobrang." Salah seorang dayang menjelaskan panjang lebar, Tamara menjadi semakin tidak faham dengan apa yang dia ucapkan. Dia hanya hanya menangkap kemungkinan, bahwa wajah sang putri Dara Jingga yang dimaksud itu, pastilah mirip dengannya. Sehingga semua orang di istana memanggilnya dengan Tuan Putri.

Tamara mengacungkan jari telunjuk ke wajahnya, "jadi, aku ini. Tuan putri Dara Jingga?"

"Betul tuan putri," sahut Dayang bersamaan, "sekarang tuan putri makan ya, kalau tidak. Nanti keadaan tuan putri semakin lemah." pinta sang Dayang.

"Baiklah, aku akan makan." Ia melahap suapan demi suapan hidangan yang lezat itu, kedua dayang yang berada di dekatnya hanya menutup mulut mereka menahan tawa, sang putri yang mereka lihat hari ini tak seperti yang biasa mereka lihat. Sang putri berubah menjadi begitu rakus saat makan, mulutnya yang masih terisi makan. Ia jejali lagi dengan makanan lain.

"Mbak, kenapa cuma senyam-senyum aja. Ini ikut makan, makanan segini banyak. Masak aku disuruh habisin semua. Nggak mungkinlah. Sini ... ini enak bingit lo." Tamara menyuapkan nasi yang ada di tangannya ke mulut salah seorang dayang.

"Jangan tuan putri, itu makanan untuk tuan putri. Bukan untuk para Dayang seperti kami." Seorang dayang berusaha menepis suapan yang Tamara jejalkan ke mulutnya.

"Mbak, ini enak banget lo mbak, tapi ini semua kebanyakan, nggak mungkin aku ngabisin semuanya, sayang kalau nanti dibuang, mubazir, Dosa lo! Serius mbak, ini enak banget." Tamara menarik lengan kedua dayang itu dan memaksa mereka untuk duduk makan bersama.

"Mbak, kalau mbak nggak mau makan. Aku juga nggak mau makan!"

"Ampun tuan putri, iya ... Kami aka ikut makan bersama tuan putri."

"Nah ... gitu dong! hehe." Tamara dan kedua Dayang itupun bersama-sama menikmati hidangan kerajaan yang beraneka macam yang rasanya begitu memanjakan lidah.

"Mbak, ini makanan apa sih? Enak banget, aku belum pernah nyoba lo! Ini pertama kalinya aku nyobain ... " ujar Tamara menunjuk Hidangan sup daging bebek yang dibumbui dengan aroma yang khas.

"Itu Jukut Harsyam Tuan putri." jawab seorang dayang.

"Ini juga nih mbak, enak banget nasinya. Beda sama yang biasa aku makan. Ini nasinya juga warna-warni. Ada hitam, kuning, merah, putih. Hmm ... aromanya nggak nahan, yang ini namanya apa mbak?"

"Itu Weas Paripurna Tuan putri. Hanya keluarga kerajaan, para Bangsawan, dan tamu istimewa kerajaan yang boleh memakan hidangan seperti ini," ujarnya lirih.

"Udah sih, Mbak. Kita sama-sama makhluk Tuhan. Nggak usah merasa gimana-gimana! Anggep aja aku ini temen mbak, yang lagi traktir kalian. Setuju?" Kedua Dayang itu hanya mengangguk, sebetulnya mereka pun merasa heran dengan gelagat aneh sang putri. Seusai menemani Tamara makan, kedua dayang itu bergegas membereskan sisa-sisa makanan yang ada dan membawanya kembali ke dapur.

***

Tamara yang kondisinya mulai membaik, mencoba untuk duduk di atas ranjang. Ia sandarkan punggungnya pada sandaran berukiran naga.
Pikirnya masih terbayang akan pertengkaran dengan ayahnya kemarin. Ia merasa bersalah dan menyesal, tak seharusnya ia menentang ayahnya.

Harusnya ia menuruti apa yang ayahnya inginkan, bukan mengikuti egonya dan terus bertengkar. 
Hari ini ia benar-benar merindukan ayahnya, dan ingin segera pergi dari tempat asing ini. Tapi ia tak tahu, kemana jalan yang harus ia tuju untuk kembali, dan bagaimana caranya ia bisa kembali memeluk ayahnya juga meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini. Air matanya jatuh perlahan.

"Tuan putri," Tamara menoleh, suara sang Ratu seketika membuyarkan lamunannya.

"Keadaanmu sudah mulai membaik nak." Sang ratu mendekat, tepat di sebelah Tamara. 
"Rambutmu sungguh berantakan nak, kemari! ibu akan merapikannya. Dayang tolong ambilkan sisir rambut putri, aku sendiri yang akan menyisirnya," titah sang Ratu.
"Ibu? Jadi, di sini aku punya ibu?" gumamnya dalam hati, matanya indahnya kembali berkaca-kaca.

Ia merasa tersentuh pada kasih sayang sang ratu yang begitu perhatian padanya, belum pernah ia rasakan sebelumnya sentuhan lembut seorang ibu. Kini, ada seorang ibu yang begitu menyayanginya serta mengkhawatirkannya. Rasanya, ia ingin sekali berterima kasih pada Putri Dara Jingga yang telah membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu, walau hanya sekejap. Sayangnya, ia pun tak tahu dimana putri Dara jingga kini.

Sang Ratu telah menata rambut Tamara membentuk sanggul yang di tancapi sebuah konde emas, Wanita cantik itu meminta para Dayang untuk menemani Tamara mandi serta mengganti pakaiannya.

"Tuan putri, Yang mulia Ratu meminta Tuan Putri untuk mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaian Tuan Putri," ucap seorang Dayang.

"Mandi ... mandi di mana? Ganti pakaian kaya gimana? Jangan bilang kalau aku harus pakai pakaian ribet seperti kalian!"
Tamara mendengus kesal.

"Ampun tuan putri, itu perintah dari yang mulia Ratu."

"Okelah kalau ratu yang minta, tapi ini kenapa rambutku jadi kayak konde sinden begini sih? Lepasin bisa nggak? Di apain sih aku sama ibu ratu tadi?" gerutu Tamara.

"Tuan putri terlihat cantik dengan rambut di sanggul seperti itu." ujar seorang Dayang tersenyum.

"Ah, yang bener?" Senyum melengkung di bibirnya, ia hanya membatin. Andai ayahnya tahu. Jika ia kini diperlakukan bak seorang putri.

"Mbak, kita mau mandi di mana? Jauh nggak?"