4. Soraya 16 Tahun Lalu
Soraya adalah gadis remaja yang sangat beruntung. Umurnya saat itu masih tujuh belas tahun, ia pintar, ceria, wajahnya cantik--bahkan sangat cantik, dan dicintai banyak orang. 

Ia mempunyai banyak teman. Baik teman perempuan ataupun laki-laki. Perempuan ingin menjadi temannya, dan  laki-laki ingin menjadi kekasihnya. Guru-guru juga mencintainya, sekali senyum saja hati para guru lumer seketika. 

Senangnya menjadi Soraya. Ia tidak pernah kesepian. Hidupnya bagai sempurna untuk usia seukuran remaja. Meskipun ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi tak pernah kekurangan apa pun. 

Orang tuanya memang sudah tua. Tetapi, kakak-kakaknya yang telah menikah berusaha mencukupi semua kebutuhan dan keinginannya. 

Ia dapat beasiswa sekolah di SMA favorit. Jadi, teman-temannya banyak dari kalangan atas. Tak masalah, keramahan dan kecerdasannya membuat semua orang menyukainya meskipun mereka tak sederajat. 

Karena petuah dan wejangan dari kedua orang tuanya, Soraya tak pernah menerima ajakan lelaki untuk berpacaran. Hingga kelas tiga SMA ia tak pernah berpacaran, meskipun banyak lelaki tajir nan tampan yang mendekatinya dengan berbagai cara dan menghadiahinya dengan berbagai macam hadiah. 

Meskipun begitu, ia sama seperti remaja pada umumnya. Ia jatuh cinta pada pemuda baik yang begitu ramah dan tak lelah mendekatinya hingga berhasil membobol pertahanannya. Namanya Dewa Nugraha. Usia mereka selisih tiga tahun.

Mereka saling mencintai meski tanpa ikatan apa pun. Tak sehari pun terlewati tanpa kenangan manis. Bahkan saling pandang pun dunia terasa begitu indah bagi mereka. Bagi Nugrah, senyum Sora bagai candu yang memabukkan, melihat paras cantik itu ia bagai hidup di negeri dongeng. Bagi Sora, Nugrah adalah sosok idaman untuk pendamping hidup di masa depan.

"Saya tak mau pacaran, Kak." Begitu terus jawaban Sora saat Nugrah menembaknya.

"Tidak apa-apa. Teruslah pegang prinsip itu. Asal kamu tahu saja, aku sangat mencintai kamu sejak pertama kali melihatmu ketika aku mengantarkan adikku ke sekolah," ucap Nugrah. 

"Aku mencintai kamu. Sangat," imbuhnya.

Sora tersenyum, pipinya bersemu merah, ia menunduk menyembunyikan wajah. Tampak begitu menggemaskan bagi pemuda berusia 19 tahun itu. Ia jatuh cinta pada Sora sejak tiga tahun sebelumnya. 

"Aku hanya ingin tahu, apakah kamu juga mencintaku?" tanya Nugrah lagi. 

Meskipun malu-malu, Sora mengangguk. Bertahun-tahun, hanya Nugrah yang konsisten mendekatinya tanpa pemaksaan dan kata-kata pujian berlebih. Terlihat tulus dan alami dari hati. Dan hari ini, sebentar lagi ia lulus SMA, Sora pikir tak apa untuk mengungkapkan rasa yang tersembunyi dalam dada. 

Senyum puas begitu terlihat di wajah Nugrah. Ia mengepalkan tinju ke udara karena terlalu senang. Perjuangannya tak sia-sia. 

"Tunggu aku lulus kuliah hingga S2, kita akan menikah setelahnya." Begitu kata Nugrah saat itu. 

Soraya mengangguk lagi. "Tapi, ini hanya rahasia kita saja. Aku tidak boleh berpacaran jika ingin kuliah," kata Sora. Begitulah syarat dari orang tuanya.

Dan Nugrah mengangguk setuju. Mengetahui perasaannya berbalas saja, ia sudah senang tak kepalang. Tidak mengapa hubungan mereka walau hanya sebatas tahu perasaan masing-masing.

Sayangnya, tepat seminggu setelah kelulusan Sora di SMA, petaka itu datang menimpanya. Petaka yang tak pernah terpikirkan olehnya sama sekali. Petaka yang menjadi mimpi paling buruk seumur hidupnya.

Saat itu, Sora baru pulang dari salah satu rumah kakaknya, ia disekap seorang lelaki yang telah lama menyukainya. Dibawa ke rumah kosong, ia dirudapaksa dengan begitu keji. Tangisan Sora tak dipedulikan lalaki itu, mulut tersumpal kain hingga jeritan sekuat apa pun tak bisa menolongnya. 

Beberapa kali lelaki itu melakukannya pada Sora. Hingga Sora jatuh pingsan karena kelelahan meronta, menjerit, dan menahan sakit yang teramat sangat. 

Sementara bapak ibunya mengira Sora masih di rumah kakaknya, sedangkan kakaknya mengira Sora telah sampai di rumah. Itu sebabnya sehari semalam hilangnya Sora tak ada yang mencarinya.

Keesokannya gempar dan terbukalah kebenaran saat kakaknya berkunjung ke rumah orang tua dan Sora tak pulang sejak kemarin. Tersiarlah kabar hilangnya Sora, pencarian pun dilakukan. Semua orang mencarinya. 

Tak perlu waktu lama, Sora pun akhirnya ditemukan. Entah kebetulan macam apa yang menemukannya pun Nugrah bersama satu orang temannya. Nugrah menjerit senyaring-nyaringnya saat melihat pujaan hatinya seperti itu; tanpa satu pakaian pun yang melekat di badan, tubuhnya penuh lebam dengan tangan terikat, dan ada darah mengering di tengah-tengah kedua kakinya. 

Lekas Nugrah membuka kaus yang melekat di badannya, lalu memakaikan ke tubuh Sora dengan tangan bergetar dan hati bergemuruh.

Siapa yang tega menodai kekasih hatinya? Siapa yang tega melakukan perbuatan keji pada gadis sebaik Sora? Bahkan ia pun tak berani memegang pipinya selama ini, batin Nugrah.

Nugrah membopong Sora dan mengantarkannya dengan mobil ke rumah orang tua Sora. 

Gemparlah kabar itu. Bapak ibu Sora menangis histeris melihat putri bungsunya seperti itu. Kakak-kakak Sora mengamuk dan mencaci-maki pelaku yang belum diketahui. Tersiar dan merebaklah kabar yang menimpa gadis idaman itu, sebagian ada yang bereaksi jijik dan sebagian lagi ada yang mengasihani. 

Setelah diperiksa mantri dan berbagai usaha, akhirnya Sora membuka mata. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, tatapannya menerawang kosong, air matanya meleleh tanpa henti meski tanpa isakan. 

Orang-orang yang dulu begitu memujanya kini berbalik meninggalkannya dan menjauhinya. Hanya segelintir yang masih peduli.

Berhari-hari Sora hanya seperti itu. Pertanyaan apa pun yang terlontar, ia hanya diam. Seolah mulutnya terkunci rapat. Namun, saat ditanya siapa yang memper*osanya, ia menangis dan menjerit. Karena mengingatnya sama seperti ia kembali di*erkosa. Sakit, perih, terluka, dan hancur.

Setiap hari Nugrah berkunjung, menemui sang gadis pujaan. Cinta untuk Sora tak luntur meskipun keadaannya tak sama lagi. Sora selalu membuang muka saat Nugrah menampakkan wajahnya, tetapi Nugrah tak patah semangat. 

Satu bulan berlalu sejak kejadian itu, Sora masih benci ditanya kejadian yang mati-matian dilupakannya. Ia akan mengamuk jika dipaksa mengatakan siapa pelakunya. 

Kakak Sora telah melapor ke polisi, tetapi tak ada perkembangan. Pelaku tak ditemukan jua.

Gadis cantik, ceria, cerdas, dan dicintai banyak orang itu telah mati ditelan bumi saat kejadian terkutuk itu merenggut kesuciannya. Kini, Sora menjadi sosok pendiam dan menyedihkan, sesekali ia menangis dan menjerit. Orang-orang ada yang menganggapnya gila. 

Nugrah tak patah semangat mengajak Sora berbicara. Ia terus saja melontarkan kata-kata lucu atau mengutarakan kenangan mereka yang pernah dilalui bersama. Ia juga tak sayang mengocek rupiah yang tak sedikit guna membayar psikiater untuk Sora. 

Lambat laun, Sora mulai terkendali. Berkat keteguhan dan kesabaran Nugrah dalam membersamainya, serta bantuan psikiater dan seluruh keluarga yang membantu masa pemulihan trauma itu, Sora akhirnya mau menyebut satu nama yang menjadi titik balik kehidupan sempurnanya menjadi kehidupan menyeramkan. 

Randy. 

Adalah teman sekelas Sora yang telah lama menyukainya, itulah sang pelaku. 

Darah Nugrah seperti mendidih mengetahuinya. Setelah mendengar itu, ia bergegas mendatangi kediaman Randy. Namun sayang, pengecut itu telah pindah ke luar negeri bersama kedua orang tuanya.

Bersambung 🌹🌹

Untuk beberapa bab ke depan masih sambungan bab ini dulu (flashhback)