5. Hamil
     



    Bencana itu seolah enggan menjauh. Ketika keluarganya lapor polisi, tak jua ditindak lanjuti dengan serius meskipun nama si pelaku telah diajukan. 

Seminggu setelah Sora berhasil menyebut nama ba*ingan itu, ia malah muntah-muntah dan kerap pingsan. Usai diperiksa, ternyata ia hamil. 

Sora kembali depresi. Bibirnya yang mulai mau berkata-kata itu kembali sunyi senyap. Terkunci rapat. Tatapannya kembali kosong. Kedua orang tua Sora stres, bahkan bapaknya syok dan meninggal, kakak-kakaknya pun terpukul dan tak bisa berbuat banyak. 

Sora merasa jijik dengan dirinya sendiri. Meninggalnya sang bapak menerbitkan satu cita-cita di hatinya. Ia ingin mati saja, menyusul bapaknya. Hidupnya tak ada arti. Mimpinya untuk kuliah sejurusan dengan Nugrah telah sirna, mimpinya untuk menjadi istri Nugrah dikuburnya dalam-dalam, keinginannya untuk jadi anak kebanggaan pun telah lesap ditelan badai yang menyerangnya.

"Kenapa kamu begitu cantik! Ohhh!" Begitu racauan Randy saat melecehkannya, tanpa peduli Sora yang terus meronta minta dilepaskan. 

Cantik. Satu kata yang kata orang-orang adalah anugrah, ternyata bisa jadi musibah dan awal petaka yang menghancurkan hidupnya hingga tak bersisa. Andai boleh memilih, ia ingin jadi gadis biasa-biasa saja. Hingga tak ada yang menaksirnya dan tak ada yang memujanya. 

Saat itu, hati dan pikiran Sora hanya dipenuhi satu pinta. Ia ingin mati saja, ingin mati saja, ingin mati saja. Begitu terus. Rasanya ia sudah tak kuat lagi, ia ingin mengakhiri penderitannya. Jalan satu-satunya yaitu mati. 

Saat memejam, bayangan Randy di atas tubuhnya dengan racauan menjijikkan terus berkelebat di kepala. Ia ingin membuang jauh-jauh kenangan buruk itu, tetapi bagaimana? Bagaimana melupakannya? Tidak ada jalan lain selain mati, pikirnya. 

Ibu dan kakak-kakak Sora bergantian menjaganya, karena Sora selalu menyakiti diri sendiri saat orang-orang tengah lengah. Bahkan pisau di dapur disembunyikan begitu ketat karena Sora pernah nyaris mencoba menusukkan benda itu ke dadanya. Beruntung saat itu kakak Sora melihat dan berhasil mencegah. Sora juga memukul-mukul perutnya, memukul kepalanya, memukul bagian-bagian tubuhnya yang ia ingat sangat dipuja oleh Randy. 

Nugrah yang mengetahui keadaan Sora yang hamil dan kembali depresi, ia pun berniat menikahi Sora.

"Aku akan menikahimu, Sora. Aku mencintaimu apa adanya. Aku yakin kamu akan sembuh," ucap Nugrah saat itu.

"Aku akan menemanimu sampai sembuh dan pulih seperti sedia kala."

Bagai mendengar alunan merdu dari surga, Sora hanya bisa menangis bahagia. Tak salah selama ini ia memendam cinta pada Nugrah, ternyata cinta pemuda itu begitu tulus padanya. Bahkan keluarga Sora sampai sujud sukur mendengar itu. Mengucap terima kasih berkali-kali.

*

Saat Nugrah mengutarakan niat untuk menikahi Sora pada ibunya, asanya pun lesap tak berbekas. 

Tentang cinta tulusnya serta apa yang menimpa Sora, semua ia ceritakan pada sang ibu. 

Ibunya sampai menitikkan air mata mendengar kisah gadis malang itu. Tetapi, untuk mengambil jadi menantu, ia tak mau. Mau ditaruh di mana wajahnya jika putra kebanggaannya menikahi gadis korban pemer*osaan hingga hamil, ditambah dengan depresi yang katanya parah. Ia membesarkan Nugrah dengan penuh cinta, berharap dewasanya akan jadi 'orang' dan berguna bagi banyak orang. Tak rela rasanya setelah putranya dewasa hanya menjadi pengasuh dari anak gadis orang yang pesakitan. 

Nugrah dilarang menikahi Sora. Bahkan ditentang sangat keras. 

Meskipun begitu, Nugrah tetap mengunjungi Sora seperti biasa. Ia tak sampai hati menjelaskan bahwa restu tak didapatkannya. 

Hari-hari berlalu dan Nugrah tetap dengan perhatiannya pada Sora. Menyuapi Sora, mendongengkan, menenangkan, menghibur, mengusap-usap perutnya, dan sebagainya.

Lambat laun, gadis itu pun mulai bisa tersenyum lagi. Binar di wajahnya tampak sangat cantik. 

Sayangnya, trauma yang dialami Sora tak kunjung sembuh, ia ketakutan saat ada pria asing yang mendekat. Bahkan ia kerap terkejut saat kulitnya tersentuh seseorang. Namun, perhatian Nugrah mampu mengikis traumanya sedikit demi sedikit, mimpi buruk itu mulai menjauh dari tidurnya. Hidupnya mulai membaik, tetapi saat kandungannya sampai lima bulan dan perutnya telah membuncit, Nugrah tak kunjung menikahinya. Mau menanyakan lagi, Sora malu, sehingga ia hanya menyimpan tanya itu di dalam hati. 

Di sisi lain, Nugrah bingung tak karuan. Ia sangat mencintai Sora dan ingin menikahinya, tetapi ibunya pun segalanya bagi hidupnya. Tak sampai hati ia menentang sang ibu, walaupun sebagai lelaki tak ada syarat persetujuan wali untuk menikah. Namun baginya, membuat ibunya murka, sama dengan menjebloskan diri ke neraka.

***

"Sora, hiduplah dengan baik. Ingat baik-baik, akulah ayah dari anakmu. Jangan banyak pikiran. Jaga kandunganmu baik-baik. Aku sedang banyak tugas kuliah, mungkin beberapa hari ke depan aku gak bisa ke sini," ucap Nugrah pada Sora di suatu siang. 

Sora yang baru saja selesai makan hanya mengangguk dengan hati berbunga. 'Akulah ayah dari anakmu' kata-kata sederhana itu mampu menyentuh ke kedalaman hatinya. Menyejukkan. Menenangkan. Laksana guyuran air hujan pada jiwanya yang kering kerontang. 

Lalu setelah itu, benar saja, Nugrah tak pernah lagi datang ke rumahnya. Sora hanya mampu memandang nanar ke ujung jalan tempat biasa yang dilewati Nugrah datang dan pulang. Setiap hari ia menunggu dan menunggu hingga kandungannya menginjak tujuh bulan. 

"Ke mana kamu, Kak?" gumam Sora sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit. Matanya tak mau beralih memandang ke ujung jalan. Berharap sosok yang dirindu itu muncul dari situ dengan motor hitamnya. 



Bersambung 🌹🌹