2. Dia Perempuan Baik, Katanya


"Maaf, Mi, aku mencintainya."

Kalimat itu terus saja mengiang di pikiran Ayumi. Serupa mantra sihir yang membuat hari-harinya begitu kelabu dan tak ada warna sama sekali. 

Pembicaraan Ayumi dan suaminya malam itu terhenti begitu saja karena Ayumi memutuskan untuk tidur lebih dulu. Ia tak sanggup meneruskan karena ia tahu ujung dari itu adalah perpisahan.

Bolehkah ia egois sebentar saja, mengulur waktu sembari mempersiapkan mentalnya dan mental kedua putranya. Menganggap semuanya masih baik-baik saja, meskipun jurang pemisah telah terbentang jelas di depan sana. 

Nugrah pun begitu, tak ada membujuk Ayumi sama sekali, membuat luka itu tak terobati walaupun sedikit. Bahkan semakin bertambah karena sikap dingin Nugrah setelah malam itu. Seolah menciptakan garis lurus di antara mereka yang tak bisa tersentuh. 

Bagi Ayumi yang telah menemani dan mendampingi suami selama ini, sebagai seorang perempuan ia merasa tak berharga sama sekali karena bukan ia yang diinginkan suaminya. Ia perempuan biasa yang akan senang saat diinginkan dan merasa hina saat tak diinginkan.

"Bunda," tegur putra sulungnya, Rayhan.
Mereka tengah menonton TV acara kartun kesukaan anak-anak yang tayang di sore hari. Mereka tengah duduk bersebelahan di sofa ruabg keluarga.

"Iya, Nak?" Ayumi menarik napas kuat-kuat untuk mengisi udara di dalam dada. Cukup mengingat suaminya menyebut nama wanita lain saja, hatinya kembali teriris. 

"Kenapa Bunda sekarang suka melamun. Kalau dipanggil juga sering gak jawab?"

"Maaf, Sayang. Bunda cuma lagi mikir besok masak apa buat kamu," kilah Ayumi sembari tersenyum dan membingkai pipi Rayhan dengan gemas. 

Putra sulungnya itu telah duduk di kelas satu SD, sedangkan putra keduanya di TK besar. Mereka hanya berjarak tiga belas bulan. Karena memang keingininannya memiliki anak yang tak terlalu jauh jaraknya, agar repotnya sekalian dan mereka seperti sepantaran. Saran itu didapat dari orang-orang dan ia mengamininya.

***

Namanya Soraya dan dipanggil Sora oleh Nugrah. Parasnya cantik dengan hijab menjuntai berwarna biru langit. Senyumnya manis dengan pipi bulat yang menambah ayu. 

Ayumi mencari-cari akun sosial media wanita tersebut. Dari Facebook hingga Instagram, tak ia temukan sama sekali. 

Meskipun foto yang dikirimkan adiknya dulu telah dihapus, jejaknya masih terekam jelas di memori kepalanya. 

Lama ia mencari, tetapi tak ia temukan satu pun akun bernama Soraya dengan foto sosok itu. Bukan ia mau menambah luka, ia hanya ingin tahu saja keseharian perempuan itu seperti apa. Kebanyakan manusia zaman sekarang suka membagikan kegiatan atau isi pikiran ke dinding akun mereka, kan? Jadi mudah saja jika ingin mengetahui kepribadian seseorang, meskipun tak 100 persen akurat. 

Ayumi hanya penasaran, apa istimewanya Sora hingga Nugrah tergila-gila padanya. Mengapa di usianya yang terbilang tua untuk ukuran gadis, belum juga menikah padahal parasnya begitu cantik. Ayumi menyandar sandaran ranjang sambil menarik napas dalam-dalam. 

***

"Mi," tegur Nugrah di suatu malam setelah dua minggu berlalu kejadian waktu itu. "Ayumi?"

"I-iya, Mas?" 

Ayumi tengah sibuk menyusun ulang baju-baju di lemari. Entah sudah berapa kali ia menatanya. Sebenarnya ia hanya ingin menyibukkan diri saat Nugrah ada di rumah, untuk menghindari kecanggungan yang tercipta karena tak ada yang mau meruntuhkannya. 

"Bolehkah aku ke Bandung?"

Tanpa pikir panjang, Ayumi hanya mengangguk, lalu mengerjakan kembali pekerjaannya.

Ingin ia menjawab 'tidak boleh!' dengan lantang seperti istri-istri di luar sana yang bisa menyuarakan isi hati sesukanya. Tetapi, ia sadar bukan ia yang diinginkan suaminya.

Bukan bermaksud pasrah dengan keadaan. Selama pernikahan mereka--sebelum badai cinta pertama menyerang--Ayumi telah berusaha keras membuat Nugrah jatuh cinta padanya. Ia bisa bermanja saat berduaan saja, ia bisa menjadi teman curhat jika Nugrah ada masalah dengan pekerjaannya, ia bisa tegas saat Nugrah terlalu lembek dalam mendidik anak, ia bisa mandiri tanpa pertolongan suaminya dalam mengasuh anak-anak, ia juga bisa merengek meminta sesuatu sampai kemauannya dituruti. Ya, seperti rumah tangga umumnya. Dan Ayumi dengan bangganya menyangka bahwa ia telah berhasil membuat Nugrah mencintainya sepenuh hati sebesar ia yang begitu mencinta, karena sepengamatannya selama ini Nugrah selalu mendahulukan istri dan anak-anak daripada dirinya sendiri. Ternyata itu semua hanya bentuk tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah. 

Bagaimana pun, ia pernah berusaha semaksimal mungkin. Dan kini, seperti tengah berada di titik terendah hubungan mereka. Yaitu menyerah. 

"Jika kamu ingin menikahinya, ceraikan aku, Mas." Ayumi mengucapkan sembari tangannya sibuk memindahkan baju lipatan ke dalam lemari teratas. Ia hanya ingin terlihat tegar dan baik-baik saja. Malu rasanya jika ia harus mengemis cinta dan perhatian. 

"Kenapa?" Suara Nugrah sedikit meninggi. Sontak membuat Ayumi menoleh di tempat suaminya duduk--di sofa kamar mereka.

"Kenapa? Haruskah aku jawab kenapa? Padahal jawabannya kamu sudah tahu!" Untuk pertama kali dalam sejarah pernikahan mereka, Ayumi berani meninggikan suara di depan Nugrah. Meskipun dadanya berdentam-dentam saat mengucapkannya karena ia masih takut dengan yang namanya dosa.

"Jangan begitu. Kalian bisa menjadi saudara. Dia pasti bisa jadi adik madu yang baik untukmu. Dia perempuan baik-baik," jelas Nugrah. Suaranya melemah seiring langkahnya mendekati Ayumi dan mengambil tangan Ayumi ke dalam genggamannya. 

Genggaman jemari kukuh yang bisanya  terasa hangat dan menentramkan hati itu, kini tak memberikan reaksi apa pun. Ayumi menarik tangannya tetapi tak berhasil. 

"Perempuan baik-baik mana yang mau merebut suami orang?" Bergetar suara Ayumi sembari menoleh ke sisi lain. Menyembunyikan wajah marahnya. 

"Sora perempuan baik. Dia perempuan sholehah. Kamu hanya belum mengenalnya saja. Jangan berburuk sangka padanya. Cukup perjalanan hidupnya yang menyedihkan, jangan ditambah dengan sangkaan jelekmu." Genggaman tangan itu terlepas kasar, mungkin Nugrah geram mendengar penghinaan istrinya untuk perempuan idamannya. 

"Oh, jadi dia perempuan baik? Dan aku yang jahat? Begitu kan, Mas? Baik, maka ceraikan aku! Beres masalahnya." Ayumi menyeka pipinya yang ternyata sudah basah sebab air mata. Pembicaraan yang ia takutkan akhirnya terjadi malam ini. Berhari-hari ia melatih mentalnya agar bisa tegar, tetapi hasilnya tetap saja ia menangis. Ia hanya wanita biasa dan tak sekuat bayangannya. 

Sejenak Nugrah tergagu. "Bu-bukan begitu. Kamu juga perempuan baik, istri sholehah dan ibu yang hebat. Kalian sama-sama baik."

"Omong kosong!" Air mata Ayumi semakin deras saja. Mendengar suaminya memuji perempuan lain, sungguh hatinya terasa sakit bagai ditusuk jutaan jarum. 

Andai luka di dalam sana bisa terlihat, pasti darahnya telah mengalir deras hingga membasahi tempat yang mereka pijak. 

"Sungguh. Memilikimu dan anak-anak adalah anugrah terindah dalam hidupku, Mi. Hanya saja, masalah hati dan perasaan bukan aku yang mengendalikannya. Cintaku untuk Sora tak pernah hilang walaupun aku sudah memiliki kalian." 

"Cukup! Jangan teruskan menyebut-nyebut namanya! Tak cukupkah kamu menyakitiku? Hingga terus menambah lukaku dengan omong kosongmu itu!" Dada Ayumi kembang kempis, seolah di dalamnya kehabisan asupan udara hingga menyebabkannya kesulitan bernapas. Aliran darahnya terasa mendidih, panas oleh api cemburu. 

"Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk selalu jujur? Dan aku mengatakan yang sejujurnya. Apa salah? Aku memang masih mencintainya selama ini."

Tangan Ayumi mengepal dengan gigi bergemelatuk. Tak bisakah sedikit saja berbohong untuk menghibur jiwanya yang rapuh ini, meskipun hanya bualan semata. 

"Teruskan saja wahai Bapak Nugraha yang terhormat. Teruskan. Ulang-ulang terus kata cinta untuk perempuan itu. Iya, terus saja sakiti aku hingga aku tak kuat menyandangnya," ucap Ayumi semakin terisak, terdengar begitu memilukan. Bahunya lunglai dan berguncang.

Tolong biarkan sekali ini saja ia menangis di hadapan suaminya. Ya, sekali saja. Setelah ini ia janji tak akan menangis lagi.

"Maaf."

Nugrah membawa Ayumi ke dalam pelukannya, tetapi Ayumi lekas menepisnya. 

 
Bersambung 🌹🌹