1. Dia Cinta Pertama Suamiku
Assalamualaikum WR WB. Terimakasih banyak yang mau mampir ke kisah ini. Semoga suka 🌹🌹🌹

Bab 1 ___




"Dia cinta pertamaku, Mi," ucap Nugrah pada Ayumi, istrinya.

Ayumi hanya menunduk menunggu kata apa lagi yang akan terucap, meskipun perih di dalam sana laksana ditusuk-tusuk oleh pisau yang begitu tajam. Dan pelakunya adalah suaminya sendiri. 

Cukup lama jeda hening hingga Ayumi membuka suara.

"Lalu aku apa, Mas?" tanyanya dengan suara pelan dan bergetar karena menahan sesak di dada.

"Kamu istriku. Ibu dari ke dua anakku."

Ayumi mengangguk mencoba meraba-raba ke mana arah pembicaraan ini. 

Sembilan tahun silam mereka menikah memang atas dasar perjodohan. Saat itu Nugrah mengatakan bahwa hatinya masih mencintai perempuan yang jadi cinta pertamanya. 

Ayumi gamang. Namun, lelaki itu juga meyakinkan akan belajar mencintai Ayumi. Akhirnya ia menerima, yakin pasti nanti bisa membuat suami jatuh cinta padanya. Lagi pula, Nugrah yang ia kenali adalah lelaki yang taat pada orang tua.

Selama pernikahan mereka tak sekalipun kata cinta terucap dari bibir lelaki bertubuh tinggi itu. Tetapi, sikap hangat dan penyayang Nugrah mampu menenangkan hati Ayumi. Bagi Ayumi, Nugrah adalah sosok suami sempurna; Bertanggung jawab, setia, saleh, mapan, serta penyayang dengan anak istri. 

Siapa yang tak ingin memiliki suami seperti itu?

Ayumi memang telah lama jatuh cinta diam-diam dengan Nugrah sejak usianya masih di bawah 17 tahun. Orang tua mereka bersahabat, itu sebab mereka pun saling kenal sejak kecil meskipun rumah mereka berbeda kecamatan. 

Tak dinyana, saat ia baru lulus kuliah, ia dilamar oleh ibunya Nugrah untuk dijadikan menantu. Tak perlu waktu lama, ia pun langsung menyetujuinya setelah berbincang singkat dengan Nugrah. 

Begitulah perjalanan kisah cinta mereka secara singkat. Ternyata selama ini, ia belum berhasil merebut hati suami yang masih tersesat di lain hati.

Padahal, kurang apa dirinya? Ia telah mencintai Nugrah dengan sepenuh hati. Begitu mendamba pada sosok ayah dari ke dua anaknya. Selalu rindu jika tengah berjauhan, seolah Nugrah adalah dunianya yang penuh warna. 

"Jelaskan saja sampai mana hubungan kalian," pinta Ayumi mencoba tegar, menutupi luka menganga dengan menunduk. 

Pasalnya beberapa bulan terakhir ini, seingat Ayumi, Nugrah sudah empat kali ke luar kota dengan alasan membuka cabang di sana. Selama ini Ayumi tak pernah sedikit pun curiga ke mana pun suaminya pergi. Ia percaya seratus persen, tetapi temannya yang bernama Puspita, juga istri dari sahabat Nugrah, mengabarinya bahwa Nugrah ada niat lain ketika ke Bandung. 

Puspita memberi nasihat pada Ayumi untuk menyelidiki. 

Walaupun terpaksa, dengan perasaan was-was Ayumi akhirnya menurut. Ia menyuruh adik lelakinya untuk membuntuti ke mana Nugrah. 

Dunianya seolah hancur, kala adiknya mengabarkan bahwa Nugrah mendatangi kediaman seorang perempuan. Mereka duduk di teras sembari bercanda ria dan tertawa renyah.

Perempuan itu sangat cantik dan berkerudung. Ayumi dikirimi fotonya oleh sang adik. Ia hampir tak percaya, mengapa perempuan cantik dan berkerudung mau menerima tamu lelaki yang telah memiliki istri dan anak. Sungguh, Ayumi tak habis pikir. 

Dari penyelidikan yang didapat dari adiknya, perempuan itu berusia tiga puluh tiga tahun, belum pernah menikah, dan tinggal bersama pakde dan budenya yang telah sepuh. 

"Kami tak ada hubungan apa-apa, Mi. Dia tak mau menikah, apa lagi denganku yang berstatus lelaki beristri."

Ayumi menghela napas berat bercampur geram, tak habis pikir. "Lalu, kamu ngapain aja ke sana, Mas?"

"Aku ... aku ... berusaha meyakinkannya dan ingin menikahinya." Nugrah memandang sendu pada Ayumi. "Maaf ... belum izin padamu. Rencananya kalau dia sudah setuju, baru aku ngomong sama kamu. Maaf kalau kejujuranku menyakitimu."

'Kenapa kamu tega, Mas?' batin Ayumi menjerit hingga membuat napasnya satu satu. Matanya berkaca-kaca, ia memandang ke langit-langit kamar berupaya agar kaca-kaca tersebut tak akan menetes.

"Maaf," ucap Nugrah lagi. 

Maka, meneteslah air mata yang sejak tadi ditahannya saat mengerjap. 

Baru kali ini ia mendengar permintaan maaf yang sangat menyakitkan bahkan hatinya seperti dicabik-cabik hingga tak berbentuk lagi. 

Beribu tanya menggumpal di benaknya, mengapa Tuhan seolah mempermudah penyelidikannya, dengan membuat Nugrah mengatakan yang sejujurnya? Apakah hubungan sakral ini harus kandas? Apakah karena ia mencintai suaminya terlalu dalam hingga Tuhan pun cemburu dan ingin memisahkan? 

Ayumi menyeka air matanya sambil menjerit-jerit dalam hati, apa pun itu, kenapa Nugrah sampai hati melakukan ini padanya?

"Apa bunga mawar biru itu untuk perempuan itu?" Meskipun sakit, Ayumi terus saja bertanya. Ia harus tahu kebenarannya. 

"Bunga?" ulang Nugrah.

"Iya. Bunga yang ada di tas kamu, Mas, sebelum kamu ke Bandung dua bulan lalu, aku melihatnya." 

Saat itu, malam sebelum keberangkatan Nugrah ke luar kota, Ayumi meletakkan suplemen vitamin ke dalam tas suaminya. Dan ia mendapati bunga itu ada di sana berbungkus plastik putih transparan. 

Bibirnya mengulas senyum, karena menyangka bunga itu akan diberikan kepadanya sebab saat itu sebentar lagi tanggal lahirnya. Selama mereka menikah, Nugrah tak sekalipun pernah memberinya bunga. Nugrah lebih suka mengajak Ayumi langsung ke tempat perbelanjaan yang Ayumi ingin membelinya.

Sayangnya, sampai Nugrah berangkat dan pulang kembali, bunga itu tak ada kabarnya sama sekali. Saat ia mengecek, bunga itu sudah tak ada lagi. Ayumi masih berpikiran postif, mungkin saja itu bunga pesanan temannya dan suaminya yang baik hati itu membantu membelikan. Mengingat type suaminya yang selalu tak enakan pada siapa pun. 

"I-iya. Bunga mawar biru adalah kesukaan Soraya. Dia ... dia ... penyuka warna biru," jelas Nugrah. "Maaf."

Ayumi tersenyum sambil mengangguk-angguk, padahal luka menganga di hati Ayumi bagaikan disiram air garam. Perih tak terperi, hingga untuk bernapas pun ia kesulitan.

Soraya?

Nama yang indah, bahkan suaminya sampai tak bisa melupakannya padahal telah memiliki dua putra yang menggemaskan.

Ingin Ayumi bertanya lagi apakah Nugrah sampai sekarang masih mencintai Soraya, tetapi urung karena ia sudah tahu jawabannya. Otaknya berpikir keras, langkah apa yang harus diambilnya.

Setelah jeda sunyi kurang lebih dua puluh menit, ia pun berkata,

"Aku memaafkanmu, Mas. Tapi, jika kamu ingin rumah tangga kita utuh maka jauhi dia dan jangan datangi lagi. Bisa?"

Nugrah mengerjap beberapa kali, tampak sekali ia berpikir keras. Ayumi menunggu jawaban itu, menunggu detik demi detik yang terasa begitu lama dan menegangkan. 

"Maaf, Mi. Aku mencintainya," jawab Nugrah dengan tatapan sayu. "Dia membutuhkanku. Hanya aku yang memahami kondisinya."

Cukup! Ayumi menggeleng dengan tersenyum sinis dan hati teriris. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain menyerah?



Bersambung 🌹🌹