7. Mari Saling Melupakan


"Masak apa, Mi?" 

Ayumi tersenyum manja saat tangan suaminya melingkari perutnya dari belakang. 

Ia membalik badan dengan senyum mengembang. "Masak rica-rica ayam kampung kesukaanmu, Mas." 

"Makasih, Mi. Hmm, jadi gak sabar mau makan ... kamu." 

"Ish, mulai, deh!" Ayumi tersipu dengan bibir mengerucut. 

Nugrah menjawil dagu istrinya gemas, lalu mencium pipi itu singkat. Seketika membuat pipi Ayumi merona. 

"Udah, sana. Nanti kalau kamu di sini malah gak selesai-selelai masaknya." Istri dari Nugrah itu pura-pura cemberut untuk mengusir suaminya. Namun, sang suami malah memeluknya erat sekali. 

Wajah yang berada di dada lebar itu tersenyum sambil memejam dan menghidu parfum suaminya, nyaman. Dalam hati mengucap syukur karena diberi pasangan hidup seperti Nugrah seiring tak hentinya ia begitu mendamba dan mencintainya. 

Di lain waktu, pada hari Minggu yang hanya diisi dengan berdiam diri di rumah, Nugrah tengah duduk di teras belakang sembari menyesap kopinya. Hanya termenung memandang tanaman hijau, tanpa aktivitas apa pun. 

Ayumi mendekat, berinisiatif memijit bahu suaminya dari belakang. Ia ingin bercengkerama dengan hangat. Namun, tangan Ayumi ditepis oleh suaminya tersebut. Raut wajah kaku itu tak bersahabat sama sekali. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja.

Tanpa kata, Ayumi pergi begitu saja dengan menelan kekecewaan.

Begitulah Nugrah.

Perlakuannya pada Ayumi terkadang bisa begitu manis hingga membuat Ayumi tersipu, tetapi tak jarang juga di lain waktu sifat cuek dan egois muncul ke permukaan

Meski demikian, hati Ayumi tetap tak bisa membenci Nugrah sekalipun sedikit. Rasa untuk suaminya hanya kekaguman dan pendambaan. Karena memang Ayumi sadar, begitulah rumah tangga pasti ada pasang surutnya, dan manusia memang tak ada yang sempurna. 

Sembilan tahun berumah tangga, Ayumi tak heran dengan hal demikian. Oleh sebab itu ia tenang-tenang saja saat Nugrah sering ke luar kota--yang baru diketahuinya ternyata mendatangi perempuan idaman lain. Andai tahu, dari awal ia akan mencegahnya sekuat yang ia bisa. Biarlah ia egois demi keutuhan rumah tangga. 

"Hayo! Ngelamunin apa!" Puspita, sahabat Ayumi, mengejutkan dengan menepuk bahunya. Seketika sirna lintasan kenangan dengan mantan suaminya.

"Eh, kapan datang?" 

"Dari tadi. Dipanggil gak nyaut-nyaut." 

"Ya udah, duduk."

Puspita duduk di depan Ayumi, mereka berhadapan hanya terhalang oleh meja segi empat. Berada di salah satu kafe yang terletak di pinggiran kota sambil memandangi pemandangan luar, Ayumi merasa, jiwanya yang dulu kembali hidup.

Dulu, ia juga pernah bekerja dan nongkrong tak jelas atau shopping sesuka hati bersama teman-temannya mengejar diskonan walaupun barang tersebut tak diperlukan. Namun, setelah menikah dengan Nugrah, ia memilih tidak bekerja dan cuma fokus pada keluarga. Dunianya hanya seputar suami dan anak-anaknya, itu saja.

"Ngelamun lagi!" sungut Puspita, ia baru saja memesan minuman serta camilan. 

Ayumi hanya menyengir.

"Maaf, ya. Gara-gara aku kalian cerai," sesal Puspita. Ia lah yang pertama-tama memberitahu Ayumi tujuan Nugrah ke Bandung. Ia tahu dari suaminya, karena suami Puspita adalah sahabat dekat Nugrah.

"Nggak, lah, Pit. Bukan karena kamu. Kami memang sudah tak sejalan."

"Tetep aja gara-gara aku. Aku sampe gak bisa tidur berhari-hari pas denger kabar kalian cerai, ngerasa bersalah banget." Puspita mengucapkannya dengan raut sendu. 

Ayumi tertawa miris. Bukan hanya Puspita, bahkan hampir semua keluarganya dan keluarga Nugrah menyayangkan keputusan mereka untuk cerai.

"Udahlah lupain. Tadi ngajak aku jalan katanya mau ngehibur. Biar aku gak stres. Kok malah bahas perceraianku, ini bukan menghibur malah nambah beban," cecar Ayumi.

Puspita terkikik geli. "Iya, ya. Lupa. Btw, apa rencana kamu ke depannya, Ay?"

Ayumi menghela napas panjang. Itulah yang ia pikirkan berbulan-bulan sejak ia ditalak hingga beberapa hari lalu surat cerai telah keluar. Ia tak punya tempat pulang karena kedua orang tuanya telah meninggal. Pun, ia tak mau merepotkan adiknya yang baru saja menikah.

"Aku ... aku ingin pindah, Pit."

Puspita membelalak. "Pindah ke mana?"

"Eh, tapi ingat. Kamu gak boleh kasih tau suamimu apa lagi Nugrah. Janji?"

Tampak berpikir sejenak dengan menatap ke atas, Puspita pun menjawab, "gak janji, sih. Tahu kan, aku orangnya gimana?"

Keduanya tertawa. 

"Kalo gitu, aku gak akan kasih tahu." 

"Eh, eh, yaudah aku janji. Beneran janji gak akan ember." Puspita memamerkan dua jemarinya membentuk v seiring senyum dengan raut memohon. "Aku gini-gini, tetap tim kamu. Biarin lah tu si Nugrah mau kayak gimana, kesel aku!"

Ayumi menggeleng-geleng gemas. Meskipun suka ceplas-ceplos, Puspita adalah salah satu teman terbaiknya dan yang paling dipercaya. Ayumi mengenal Puspita memang baru semenjak menikah saja, tetapi interaksi keduanya laksana telah sahabatan puluhan tahun. 

"Tahu gak kamu. Nugrah bilang sama suamiku, katanya dia nyesel banget nyerein kamu. Tapi mau ngajak balikan dia takut kamu dah ilfil dan terlanjur kecewa sama dia."

Ayumi mengernyit. "Nyesel?" Pasalnya, ia tak melihat raut menyesal sama sekali di wajah Nugrah. Bahkan mantan suaminya itu malah mau menjodohkannya dengan temannya yang duda. Menjengkelkan sekali mengingat itu. Apa dikira mudah, ganti pasangan sesuka hati?

"Iya, nyesel banget dia. Dia itu dilema berat. Sekarang, dia malah ngerokok. Katanya untuk ngilangin stres."

"Hah?"

Puspita mengangguk yakin. 

Rasanya tak percaya, Ayumi tahu sekali bagaimana Nugrah, selama hidupnya tak pernah merokok. Lalu, bukankah perceraian adalah kesepakatan bersama. Karena memang lelaki itu kukuh mencintai wanita masa lalu yang katanya baik dan salihah itu. Nyes, mengingatnya saja hati terasa diremas kencang, perih. 

Ayumi memejam menikmati perih itu, seiring pinta ia tuturkan dalam hati semoga kepedihannya akan membuka banyak pelajaran dan hikmah bagi kehidupannya selanjutnya. Semoga.

Dewa Nugraha, bolehkah Ayumi mengakui bahwa ia sangat merindukannya. Empat bulan lalu, mereka masih bersama. Lelaki yang didambanya setengah mati itu masih mendekapnya dengan senyum hangat, mengelus pipinya dengan dengan ujung jari, membuat Ayumi nyaman dan bahagia. 

Tak terasa air mata mengalir di sudut netranya. Tak tahukah Nugrah rasanya jadi dirinya? Wanita yang tulus mendampingi malah diabaikan demi menikahi wanita masa lalunya. 

Puspita mengelus-elus pundak Ayumi. Ia telah pindah duduk tepat di sebelah sahabatnya tersebut. "Maaf, kalau omonganku jadi beban kamu."

Ayumi buru-buru menggeleng sambil mengelap pipinya. "Enggak papa. Memang gak semudah itu untuk lupain dia. Tapi aku tetap berjuang."

Puspita merangkul Ayumi. "Kamu pasti bisa."

Sejenak keduanya larut dengan pikiran masing-masing. 

"Aku mau jual rumah peninggalan orang tuaku. Tiga bulan nyari pembeli gak dapet-dapet. Bisa bantu gak?" Ayumi menegakkan punggungnya. Ia mulai tenang kembali. 

"Kenapa dijual?"

"Aku mau pindah. Beli rumah dan buka usaha di tempat lain." Hidup itu perjuangan, dan Ayumi memaknai perjuangannya saat ini yaitu melupakan Nugrah dan menghapus semua kenangan bersamanya.

Meski berat, Puspita pun mengangguk. "Nanti aku bantu, kebetulan teman ibuku lagi nyari rumah. Eng, dia gak boleh tahu, kan?"

Ayumi mengangguk mantap dengan senyum tipis. 

"Di tempat baru nanti, kamu harus janji kabarin aku tiap waktu." Binar sendu tampak jelas di wajah Puspita. Seolah mereka akan berpisah detik itu juga. 

"Kayak emak-emak yang mau ditinggal merantau anak gadisnya aja," ledek Ayumi. Timpukan keras langsung mendarat di lengannya. Mereka pun tergelak sambil berbalas-balasan.

Tertawa di tempat ramai, tetapi bayangan saat ia bercanda dengan Nugrah kembali hadir di ingatan.  'Lihatlah, Mas ... bahkan di tempat ramai pun aku masih mengingatmu. Mari ... kita saling menjauh dan saling melupakan ....'


Bersambung


                              🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan jejak love dan komentar ya. Makasih semua 😘