Pengkhianatan Harus Dibalas Dengan Manis(2.2)
Namun yang jelas, dari bisnis jaringan ini, aku banyak belajar. Aku yang dulu pemalu, penakut, nerimo, tak berani bersuara. Berubah menjadi sosok yang lebih berani bicara dan tegas. Terlebih setelah jaringan makin besar. Aku dituntut untuk bisa menjadi sosok idealis bagi jaringan di bawahku. Aku mulai menduplikasi dengan baik  mindset, sikap bahkan jawaban-jawaban cerdas upline leaderku yang sudah berhasil menghasilkan 100 sampai 200 juta perbulan. 

Sungguh beruntung mengenal sosok yang bisa kucontoh segala halnya dengan baik. Darinya aku belajar bagaimana menghadapi penolakan dari orang-orang yang terkadang ketus saat diajak join. 

“Kita tidak boleh baper, tapi jawab saja dengan bijak, baik dan menohok kesadaran mereka” ucap Kak Dewi, uplineku.

Kak dewi juga tahu bagaimana kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana aku diperlakukan. Dia sering memberi saran, masukan, dan mengajariku bersikap. Pelan-pelan aku bangkit dan tidak lagi menjadi sosok yang rapuh. Kak Dewi mau membimbingku karena aku punya impian dan motivasi tinggi. Mau bekerja keras, jadi dia jgua mau membantuku menjadi sukses, karena menurutnya, dengan aku sukses maka masalah rumah tangga yang aku hadapi akan mudah selesai. aku punya banyak pilihan untuk menetnukan sikap, dan kesuksesan yang kuraih bisa membuat kepercayaan diriku makin baik.

 Maka sejak itu aku merasa sikapku salah kepada keluarga suamiku. Namun aku tak mau serta merta berontak. Aku masih menerima kalau hanya disuruh-suruh mertua mengerjakan ini itu. Kuanggap itu baktiku pada orang tua. Pun ketika mendapati penghinaan verbal, tak apalah, kalau aku tak membiarkan diriku sakit di hina, maka semua akan baik-baik saja. Tapi sekali lagi, Bang Haris mau menikah dengan orang lain, wanita mana yang bisa menerimanya.

“Haris, kamu harus hati-hati sama Syifa sekarang. Dia sudah mulai kelihatan berontak-berontak. Mungkin dia tahu rencana pernikahanmu,” bisik Mama di depan pintu, ketika sorenya Bang haris pulang kerja. 

“Ya, gimana lagi, Ma. Haris ‘kan ingin punya anak. Dulu haris menikahi dia karena dia kalem, penurut. Haris kuatir punya istri yang merongrong keuangan suami, sementara Haris masih mau berbakti sama Mama. Haris Mau Mama bersenang-senang dengan penghasilan Haris. meski hHaris sudah menikah. Istri mah nurut suami aja.”

“Nah, tapi kamu masih mau melanjutkan penikahan sama Fanny ‘kan?”

“Lanjut ‘lah. Sekarang Haris udah pejabat eselon. Bisa menghidupi istri kaya Fanny. Uang bulanan buat Mama juga cukup. Lagian Fanny juga pekerjaannya bagus. Penghasilannya cukuplah untuk biaya bulanan dia sendiri,” jawab Bang Haris.

Astagfirullah. Kok mereka sekata-kata. Setegar-tegarnya hatiku. Mendengar ini, tak mampu lagi kubendung air mataku.

“Sudahlah, terima aja nasibmu, Syifa. Kamu harusnya sadar diri, terima keadaanmu. Kamu mandul. Nggak cantik, nggak punya apa-apa. Masih beruntung dinikahi lelaki punya jabatan, berpendidikan, bermartabat. Salah sendiri kamu nggak bisa hamil!” Kak Yesa tiba-tiba sudah berdiri di belakangku dengan kata-kata ketusnya.

Wanita di hadapanku ini, tak ubahnya seperti Mama. Menghabiskan uang Bang Haris untuk perluan pribadinya. Menurutnya, karena dulu ia sudah banyak menghabiskan waktu untuk membantu belajar Bang Haris agar bisa selalu juara kelas. Bahkan mengalah tidak sekolah di sekolah bagus dan mahal, agar Mama Papa bisa menyekolahkan Bang Haris di sekolah yang berkualitas dan mahal. Jadi wajar saja dia beli ini itu pakai uang Bang Haris. Dan Bang Haris tidak pernah keberatan Kak Yesi bertindak seperti itu. Lucunya, aku hanya boleh makan apa adanya saja di rumah, sesuai yang kumasak. Sekedar jatah jajan pun tak di beri.
Kehidupan yang aneh. Dan anehnya aku selama ini manut saja. Tapi tidak untuk saat ini.

“Kenapa kamu menatapku begitu? Sudah pergi ke belakang sana. Pakaian belum di setrika!”

Baiklah, aku akan pergi. Tapi bukan untuk pergi jauh-jauh. Aku akan pergi dan pindah ke rumah megah di depan rumah kalian. Rumah seharga 2 M di depan itu sudah kudepe 1M tanpa Bang Haris dan keluarga tahu. Rumah itu tadinya akan kujadikan sebagai kejutan untuk Bang Haris dan keluarganya bahwa aku bisa menghasilkan walau bekerja dari rumah. Tapi ternyata Allah tunjukkan kebusukan mereka sebelum kejutan dan niat baikku itu kusampaikan. Soal hamil, bukankah sekarang banyak teknologi canggih yang bisa membantuku untuk hamil. 
Sekarang, Maaf, sudah tak bisa lagi aku berbaik-baik di depan mereka. Silahkan saja menikah, tapi kupastikan aku tak akan menderita dengan penghianatan dan kejahatan kalian!

Swipe utk bab selanjutnya.