Bab 9- Dua Perempuan Yang Membenciku
Mataku nyalang melihat ke sana kemari, ada sekelebat bayang yang menyembul dalam memoriku. Mungkinkah itu adalah kenanganku yang hilang? Aku menggeleng keras. Tidak! Aku tidak percaya bahwa aku kehilangan ingatan. Aku merasa baik-baik saja. Buktinya aku mengingat semua detail kisah cintaku dengan Rio. 

Kupandangi Deva dengan waspada. Penipu jaman sekarang bisa dari kalangan mana saja, kan? Ingat Bella, dia orang asing. Jangan percaya ucapannya tanpa ada bukti. 

“Oke… oke… maaf… baiklah mungkin aku salah informasi. Maaf…” Deva mengelus bahuku, aku mengelak.

Sialan. Bisa-bisanya dia bilang orang tuaku sudah meninggal. 

“Ehm… pelan-pelan saja, ya. Dokter bilang aku tidak boleh membuatmu terlalu berpikir berat. Ini… “ Deva mengambil dompet Lv. “Bukalah dompet itu!” perintahnya.

Aku menuruti  Deva dengan setengah bersungut –selama ini memuluskan jalanku untuk pulang- siapa tahu ada duit, iya, kan? Tapi yang kutemukan hanya deretan kartu-kartu yang tak kumengerti. Deva menyentuh sebuah kartu yang familiar sekali. Itu kartu kependudukan. Ia memperlihatkan KTP di hadapanku.

“Lihat ini wajahmu, kan? Namamu Bella Safira, lahir di Jakarta, tanggal lahir 14 April 1991 golongan darah A, pekerjaan Wiraswasta, menikah.”

Kuambil KTP yang dijulurkan oleh Deva dan mengamatinya baik-baik. Ini memang data diriku, tapi KTP ini terlalu bagus, KTP milikku sudah kumal. Fotonya pun berbeda. Di sini memang aku kurus, cantik dan memakai jilbab. 

“Aku tidak berjilbab.” Erangku. 
“Kamu berjilbab, sayang. Sehari sebelum menikah denganku, kamu memutuskan untuk berjilbab.” Deva bersimpuh di hadapanku. Ia memegang lututku dan itu membuatku merinding.
Ini pasti efek dinginnya AC. Tidak, aku tidak akan tergoda. Pendirianku kuat. 

“Ini pasti nama yang sama, pekerjaanku adalah pelayan restoran.”
“Tapi sekarang kamu pemilik restoran. Aku memberikanmu kuasa membuka restoran sendiri. Sesuai dengan impianmu, Bella.” Suara Deva menghipnotisku.

Untuk beberapa saat kami berada dalam jarak pandang yang sangat pendek. Saling menatap. Aku segera mengalihkan pandangan. Pemilik restoran? Fix dia penipu kelas kakap. Aku mulai berpikir untuk apa dia membohongiku? Apakah aku dijadikan sandera tawanan politik? Apa dia mau jual jantungku? Apa dia adalah pengusaha penjual organ tubuh? Aku merasa berkeringat seketika. 

“Aku jadi tidak nafsu makan. Aku ingin pulang. Beri aku uang.” Ujarku gemetar, entah karena takut akan pikiranku sendiri atau memang karena kelaparan. 

“Aku yang akan mengantarmu pulang ke rumah Rio.” Deva berdiri dengan santai. “Aku juga penasaran ingin bertemu dengannya. Ayo sarapan, Mommy akan marah jika anak dan menantunya absen sarapan.”

Deva melangkah lebih dulu dan ia berdiri di depan pintu untuk menungguku. Jalani semua ini Bella. Hanya sarapan setelah itu Deva akan mengantarmu pulang. Beres. Jadi aku melangkah mengikuti Deva ke ruang makan. Aku kira begitu keluar kamar aku akan menjumpai dapur tapi ternyata aku disambut oleh koridor yang panjang dan megah dengan meja indah di sisi kanan kirinya serta lukisan pemandangan dengan pigura mahal, guci-guci keramik di beberapa tempat yang membuat aku hati-hati berjalan. Takut memecahkannya karena akan pusing dengan biaya ganti rugi. 

Kemudian aku melihat kolam renang berukuran besar, sebesar kolam renang umum. Ya ampun! Mataku seperti mau menggelinding keluar. 

“I… ini masih rumah kamu?” tanyaku tercekat.

“Ya, sampai ujung sana.” Deva menunjuk ke ujung yang entah di mana ujungnya?

Beneran ribet jadi orang kaya. Kalau mau sarapan sejauh ini, bisa-bisa sampai di ruang makan aku sudah kenyang. Setelah makan dan mau kembali ke kamar aku bisa lapar lagi. Setelah melintasi kolam renang yang lebih rapih daripada kolam umum itu aku memasuki area yang luas tanpa benda apa pun.

 Kukira kita sudah masuk ruang makan, ternyata melewati satu ruangan lagi yang penuh sofa-sofa besar dan mewah serta TV. Ada foto-foto keluarga terpajang di sana termasuk foto pernikahan aku dan Deva dengan ukuran sangat besar. Langkahku berhenti, aku memandangi foto itu. Benar-benar mirip aku tapi aku yakin bukan aku. Tapi bagaimana dengan tubuh langsing ini? Kebetulan saja Bella, oke. 

Bisa jadi Deva depresi karena istrinya meninggal lalu kebetulan aku mirip dengan istrinya jadi dia menyerempet motor Rio hingga aku jatuh lalu menculik aku ke rumah sakit. Memberikan aku perawatan tubuh. 

Aku memandangi sosok Deva yang berjalan di depanku, menuju pintu kaca yang sangat besar. Aish… sepertinya otakmu memang terbentur Bella. Kamu kebanyakan nonton drakor. Aku menepuk-nepuk kepalaku sendiri.

Apa pun analisaku, pasti ada betulnya. Yang jelas… aku harus segera bertemu Rio. Itu saja dulu. Kalau sudah ketemu belahan jiwaku, aku pasti tenang dan ngga akan gelisah lagi. Bisa saja Rio sengaja mengerjaiku, kan? Bisa saja… apa pun bisa terjadi. 
“Bella… ayo,” Deva menoleh kepadaku sebelum membuka pintu kaca.

Aku mengikuti langkahnya kemudian menyadari bahwa di balik pintu kaca itu ada sebuah taman yang indah sekali. Aneka tumbuhan dan tanaman hias tertata dengan baik, kolam panjang berisi puluhan ikan koi yang indah terlihat menentramkan saat dilihat. Suara gemericik air terjun buatan membuatku sedikit rileks.

 Kulihat Deva menghampiri padang rumput buatan yang agak luas. Di sana ada meja panjang dengan aneka makanan yang terhidang di atasnya, 4 kursi yang tertata mengelilingi meja, dua orang pelayan yang sedang melayani dua orang perempuan. 

Satu nenek yang tadi mengataiku pelacur (menyebalkan) tapi Deva bilang dia ibu mertuaku? Mimpi! Ibu mertuaku itu mamanya Rio, baik banget. Mulutnya juga ngga jahat. Lalu satu lagi adalah seorang perempuan yang bergaya seperti artis. Cantik sekali, kulitnya putih banget, rambutnya terawat, duduk dengan anggun dan memakai busana casual yang enak dipandang. Tunggu, aku paham kenapa Deva menertawakan aku yang memakai mantel. 

Di luar sini memang hangat sekali. Aku pasti akan kepanasan. 
“Halo Vivian,” Deva mencium gadis yang seperti artis itu.

Yaik! Fakboi!

Gadis yang dipanggil Vivian itu melirik sinis ke arahku kemudian menyantap buah pir yang tadi sudah dipotong oleh pelayan. Kupas buah pir aja pakai pelayan, sih, manja banget. Aku berusaha tersenyum dengan sopan pada gadis yang entah siapa itu. 

“Bella, jangan cemburu. Tadi aku mengecup Vivian, dia adik kandungku.” Deva menggandeng tanganku tapi dengan cepat aku menepisnya.
Kulihat nenek mertua itu dan Vivian langsung menghentikan kunyahannya lalu melotot kepadaku. Dua pelayan tadi juga sempat terdiam dan salah tingkah. Ada yang salah dengan sikapku? 

“Kamu kurang ajar sekali sama abang Deva.” Vivian meletakkan sisa buah pirnya. 

“Itu sikap seorang istri yang tidak punya attitude.” Nenek mertua kembali memotong-motong roti sandwichnya. 

Deva menatap mereka berdua bergantian kemudian tersenyum getir. 

“Mommy… Bella hilang ingatan tentang kita semua.”

“Pfffh…” Vivian tertawa kecil, “Abang percaya? Siapa tahu dia kerjasama dengan dokter buat bikin diagnosa begitu. Orang hilang ingatan separuh itu jarang bang. Kayaknya cuma ada di sinetron.”

“Hei! Elo pikir gue penipu?” Aku menarik ujung mantel bulu yang kupakai. “Gue ngga kenal sama dokter mana pun di Rumah Sakit dan gue ngga hilang ingatan. Kakak elo yang halu.”

Kedua pelayan itu melongo mendengar aku bicara. Vivian bahkan membuka mulutnya hingga besar sekali. 

“Oooh… dua tahun kita hidup serumah, aku baru kali ini mendengar kamu ngomong sekasar itu.” Vivian mengipas-ngipas kepalanya dengan kedua tangan. “Bang Deva, ini adalah aslinya Bella. Dia Bella… cewek yang abang pungut dari tempat kumuh.”

“Gue emang miskin tapi gue ngga kumuh,” aku melangkah ke depan.

Aku bisa menahan diri dengan ucapan kasar nenek mertua itu karena aku menghormati orang tua. Tapi Vivian? Dia lebih muda, kan? Rasanya mau kutinju mulut kasarnya itu tapi tangan Deva menangkap lenganku. Ia menarikku ke pelukannya. Sungguh tenaganya kuat sekali, memberontak pun malah membuatku sesak. Lengannya lebih besar dan panjang dari lengan Rio. Aku bisa merasakan napasku sendiri terjebak di kulitnya.