Pinjaman Romi
Jenazah Bik Rita siap untuk dikembumikan. Segala sesuatunya tentu sudah lengkap semua. Lobang kubur telah menunggu kedatangan pemiliknya, tapi sampai pukul 11 siang mayit itu masih berada di rumah duka. Belum ada yang mengizinkan berangkat ke peristirahatan terakhir sebelum Reno datang. Entah ke mana lelaki itu, padahal jarak yang ditempuh tidaklah memerlukan waktu lama.

"Coba dihubungi lagi, jangan sampai kita menyiksa Bibikmu," perintah Bu Sita pada anak-anaknya supaya menelepon Reno.

"Barusan ditelepon, Bu. Katanya sebentar lagi tiba," jawab Rusman anak tertua.

Mereka semua sebenarnya merasa kesal karena harus membiarkan jenazah berlama-lama di rumah. Harusnya sudah dikebumikan mengingat lobang yang telah lama siap. Ini merupakan hal yang tidak boleh ditunda, apabila lobang kubur telah siap maka segeralah menguburkan si fulan atau fulanah.

Sudah disarankan pada Reno agar membiarkan Bik Rita segera disemayamkan tapi anak Bu Sita satu itu tetap bersikukuh ingin bertemu walau dengan sosok yang kaku.

Setengah jam berlalu dari pukul sebelas, Reno dan istrinya baru menampakkan batang hidung. Memang, apabila ada salah satu nyawa yang ditumbalkan, dia diwajibkan untuk datang terlambat. Kejam sekali.

Reno datang dengan tampilan yang keren. Baju muslim berwarna putih dengan merek ternama ia pakaikan di tubuh yang sekarang mulai berisi, tidak kerempeng lagi. Begitupun istrinya, kerudung mahal serta perhiasan nampak sangat memukau. Seperti bukan mau melayat, melainkan pertunjukkan atau fashion show. Kacamata hitam bertengger di batang hidung sepasang insan kaya baru tersebut. Benar-benar membuat para pelayat lain terpukau hingga banyak yang menyambutnya penuh hormat.

Setelah itu, jenazah Bik Rita dimasukkan dalam keranda, kemudian berangkat menuju liang lahat.

Sesuai adat, walau sebenarnya batin Bu Sita menolak karena tak satupun ada dalil yang mengajarkan untuk menyembelih ayam di bawah anak tangga. Wanita sepuh itu terpaksa menyuruh salah satu anggota keluarga untuk melaksanakan ritual yang salah. Katanya, ayam itu berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi almarhum atau almarhuma ke alam barzah. Dan malamnya, ayam itu juga dijadikan lauk makan malam di takziah pertama.

Sesudah dikebumikan, Reno belum naik ke rumah panggung dulu. Ia duduk-duduk di halaman bersama para pelayat yang masih enggan pulang. Mereka bercengkrama akrab sekali. Beberapa makanan ringan yang dibeli Reno menjadi jamuan pengisi perut. Dia banyak membeli hingga semua pelayat ikut kebagian dan menimbulkan kesan kagum di hati orang-orang.

Lita juga tak mau ketinggalan, ia mengobrol bersama emak-emak tetangga. Bersenda gurau melepas kerinduan lama tak bertemu. Wanita ini juga mentraktir teman berbincangnya. Gemerincing gelang keroncong di tangan menambah anggun penampilan perempuan pesolek itu.

Bu Sita tak terlalu ambil pusing, beliau menyibukkan diri menjadi juru masak untuk malam takziah pertama. Bersama anak menantu lain, ia menjadi koordinator membuat opor, gulai, acar timun, serta sambal sebagai jamuan setelah shalat maghrib dan isya' di rumah duka.

Sepeser pun tak ada bantuan dari Reno dan istri. Jangankan rupiah, tenaga juga tak mereka keluarkan. Anak Bu Sita satu itu menjadi baik pada orang lain, pelit terhadap keluarga sendiri. Mungkin tak ingin seluruh saudaranya menikmati uang haram tersebut. Hingga kini, tak ada yang curiga kalau kematian Bik Rita merupakan tumbal perdana yang dipersembahkan Reno pada jin pesugihan kaki gunung di Pulau Jawa bagian timur.

Hingga malam takziah ketujuh, Reno tetap tak memberi bantuan untuk keluarga yang menyiapkan aneka perlengkapan.

Lima tahun berlalu. Tentu sudah lima pula tumbal yang dipersembahkan Reno, tapi beruntung belum ada saudara kandung yang dikorbankan. Salah satu tumbal itu adalah Paman Seno adik Bu Sita, lalu Bik Mariam dan Bik Asma adik kandung dari bapaknya Reno, dan kakek Lubis merupakan paman dari Bu Sita, hebatnya, tak satu pun ada yang menaruh curiga.

Semua meninggal secara mendadak. Paman Seno ketika menjelaskan mata pelajaran yang ia suguhkan pada anak didik hingga membuat gempar sekolah, Bik Maryam saat di kamar mandi, Bik Asma sedang tidur siang, dan Kakek Lubis saat di perairan mencari ikan.

Suatu hari, Romi yang telah berkeluarga datang bersama Sang Istri dan seorang putra tercinta, sengaja menemui saudaranya di rumah tua. Reno, mudik karena ada urusan penting bersama temannya.

"Mbak, maaf. Boleh pinjam uang gak?" ucap Romi memberanikan diri membuka suara setelah sekian lama bercerita dan bersenda gurau bersama. Ia sengaja memohon kepada istri Reno demi menghormati sang kakak ipar.

"Waduh, maaf juga. Gak ada, Dek," tekannya dengan logat yang dibuat-buat atau gaya sok cantiknya. Maklum dia merupakan wanita pesolek dan banyak gaya dilengkapi pula banyak omong.

Hana, istri Romi menjadi malu, baru kali ini memohon pertolongan langsung dijawab seperti itu. Seharusnya ditanya dulu mau berapa. Sebenarnya ia bukan tidak bisa untuk meminjam ke bank, tapi keperluan yang digunakan masih dianggap sedikit.

"Berapa, Romi?" tanya Reno langsung. Kakak yang satu ini memang paling sayang terhadap Romi. Apa pun keinginan Sang Adik sewaktu masih lajang pasti dipenuhi meski apapun itu.

"Lima juta, Bang," jawab Romi mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk karena malu.

"Iya, Bang. Lima juta, nanti kalau dapat arisan langsung dikembalikan," timpal Hana membantu suaminya membuka suara.

Sebenarnya, kalau sejak awal mereka langsung berkata kepada Reno pasti sudah dikabulkan, tapi demi menghormati si kakak ipar, Romi dan Hana harus mengutarakan maksud di hadapan pasangan suami istri itu agar tidak ada kesan yang ditutup-tutupi.

"Ini kunci mobil, ambil tas di atas jok." Bergegas Romi meraih kunci itu dan segera menuju mobil mewah milik kakaknya.

"Ini tasnya, Bang." Romi mengulurkan tas kecil berwarna coklat yang terbuat dari bahan kulit dengan merk terkenal.

"Apa tidak kurang lima juta? Ini masih banyak, lho. Kalau mau sepuluh juga ada."

"Cukup, Bang. Lima juta saja," jawab Hana mendahului Romi, dia takut suaminya tergoda. Sedangkan ia tahu bagaimana gerak gerik mata si wanita kakak ipar dan raut wajahnya.

Romi mengambil uang yang disodorkan Reno sambil beberapa kali mengucap terima kasih. Begitu pun Hana, ia tak segan bersyukur di hadapan saudara tua dari sang suami.

Romi dan Hana sama-sama PNS, mereka lagi butuh uang itu karena sedang merenovasi rumah yang dibelinya dua tahun lalu. Rencananya akan mereka huni kalau sudah selesai. Kebetulan, tukang yang mengerjakan renovasi juga butuh uang, terpaksa mereka pinjam ke sana ke mari karena gajian masih lama. Itu pun tak bisa di pakai untuk yang lain, cukup untuk beli bahan bangunan dan makan minum sehari-sehari serta upah para pekerja. Maklum, mereka masih terbilang baru diangkat, jadi gajinya belum seberapa.

Baru saja sudah selesai gajian, gawai Romi berdering. Segera lelaki itu menjawab salam dari suara dalam handphone.

"Iya, Mbak. Ada apa?" tanya Romi spontan.

"Maaf, Mbak. Arisannya dikocok tanggal sepuluh nanti. Ini baru tanggal tujuh," senyum Romi terukir saat Hana mendekat dengan raut wajah cemberut.

"Iya, nanti dikabari, ya Mbak. Wa'alaikum salam.." balas Romi sambil menutup pembicaraan.

"Kenapa, Bang?" Hana lebih mendekat karena penasaran dengan dialog sang suami.

"Mbak Sulita sudah menagih, Dek," jawab Romi seadanya.

"Semoga besok keluar nama kita, ya Bang," pinta Hana yang langsung di-aamiin-kan oleh Romi.

Next.