Part 6
Suara Sang Bidadari
Part 6

Hari demi hari berlalu dengan sangat lambat. Jam seolah enggan berputar, detaknya yang pelan seperti Syafira yang kehilangan semangat dan keceriaan. Sudah tiga hari ia ikut Gus Aris ke Jakarta dan tinggal di rumah yang sepi ini tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Rasanya ia hampir mati saking bosannya.
Tidak ada teman yang bisa diajaknya bicara, di sini ia benar-benar sendirian. Gus Aris pergi ke kantor sebelum pukul delapan tanpa menyentuh sarapan yang dibuatkan olehnya. Ia selalu terburu-buru. Kemudian baru akan kembali menjelang petang. Sementara di rumah ini hanya ada Syafira dan dua orang tukang bersih-bersih yang tidak menetap, mereka datang pagi hari dan pulang ketika semua pekerjaan sudah selesai.
Syafira kesepian. Jujur saja ia merasa tidak betah tinggal di sini, akan lebih baik jika ia tinggal di Magelang, toh Gus Aris juga sepertinya tidak benar-benar menganggap Syafira adalah istrinya. Buktinya sikapnya pada Syafira masih tetap dingin dan menjaga jarak. Suaminya itu bahkan tidak pernah mengunjungi kamarnya. Entah di mana selama tiga hari ini ia tidur. Syafira tahu, kamar ini sebenarnya milik Gus Aris mengingat semua barang-barang pria itu ada di sini. Namun, sejak mengantarkan Syafira kemari ia sama sekali tidak menginjakkan kaki di dalamnya.
Syafira memaklumi jika Gus Aris masih belum bisa menerimanya, mengingat mereka menikah juga di luar keinginan masing-masing. Akan tetapi, tidak bisakah pria itu bersikap sedikit lebih baik padanya alih-alih seperti tidak menganggap keberadaannya? Mendadak perasaan sentimental itu datang menghampirinya, ia tiba-tiba merindukan kampung halamannya. Betapa Syafira ingin pulang ke sana, bertemu dengan keluarganya yang penuh kehangatan alih-alih di sini begitu menyedihkan.
Syafira menggelengkan kepala sedih, mengusir segala keinginannya untuk pulang ke Magelang. Biar bagaimana pun Syafira sudah menjadi istri Gus Aris, sudah menjadi kewajibannya mengikuti ke mana pun pria itu pergi. Syafira bertekad akan menaklukkan suaminya, ia akan berusaha untuk mencairkan kebekuan Gus Aris.
Menghela napas panjang, Syafira melirik jam dinding di kamarnya. Baru pukul 17.00, namun di luar tampak gelap karena mendung disertai gerimis yang mulai turun membasahi bumi. Setengah jam lagi Gus Aris kembali, Syafira beranjak dari kamarnya menuju dapur. Ia akan memasak untuk makan malam, dalam hati mulai bertekad untuk menyenangkan suaminya. Kali ini Gus Aris harus mencicipi masakannya.
Syafira membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak. Meski jarang di rumah, tetapi sepertinya Gus Aris sangat memerhatikan isi kulkasnya. Terbukti kulkas besar yang memiliki empat pintu tersebut terisi penuh dengan berbagai macam bahan makanan, baik sayuran dan buah-buahan segar, daging beku, hingga makanan kalengan.
Syafira mengambil beberapa bahan yang diperlukan. Ia berencana membuat masakan sederhana ala rumahan. Cumi asin masak cabe hijau, cah kangkung, dan bakwan jagung. Jenis masakan yang biasa ia masak dan sangat disukai oleh keluarganya, terutama mendiang Ibu.
Berkutat di dapur membuatnya lupa waktu, ia memang sangat suka masak. Sejak masa kanak-kanan Syafira sering sekali membantu mendiang Ibu di dapur, berbanding terbalik dengan Shofa yang nyaris tidak pernah menyentuh dapur. Ibu lebih memilih dibantu Syafira daripada adiknya, karena tidak mau mengambil resiko dapur kebanggaannya terbakar. Terkadang Syafira rindu akan masakan ibunya. Berbanding terbalik dengan pekerjaannya sebagai anggota intelijen, ibunya justru terampil sekali di dapur. Apa pun jenis makanan yang dimasak oleh tangan ibunya, rasanya pasti luar biasa. Tak jarang Ibu juga mengajari Bu Nyai Nabila dan Budhe Nafisya, dua sahabatnya yang sama-sama tidak bisa memasak.
Terbiasa membantu di dapur, membuat Syafira hafal di luar kepala resep-resep khas ibunya. Tak heran jika sepeninggalan ibunya, Bu Nyai Nabila dan Budhe Nafisya ganti menjadikannya tempat belajar resep makanan.
Syafira menyudahi kesibukannya di dapur dan meletakkan hasil masakannya di atas meja makan. Ia menunggu kedatangan suaminya dengan sabar. Jam terus bergerak, detik demi detik berganti menit, rintik gerimis kini telah berganti dengan hujan deras. Tidak lama kemudian suara azan magrib terdenga, namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan Gus Aris.
Syafira menghela napas panjang. Ternyata begini rasanya menunggu, sungguh tidak menyenangkan. Rasa khawatirnya menyeruak begitu melihat ke luar jendela hujan semakin deras disertai angin dan petir yang menggelegar. Meski baru tiga hari hidup seatap dengan Gus Aris, tetapi Syafira mulai hafal kepulangan suaminya. Biasanya pria itu sampai rumah menjelang petang. Langkah beratnya menggema di dalam rumah yang sangat sunyi, sehingga Syafira selalu menyadari kepulangannya. Namun, kali ini hingga magrib Gus Aris belum juga menampakkan diri.
Syafira berjalan mondar-mandir dengan resah. Di luar suara petir menggelegar saling bersahutan. Mungkin Gus Aris tertahan di kantor karena cuaca buruk. Pikirnya. Syafira memutuskan untuk salat magrib terlebih dahulu. Dengan pikiran yang kalut, ia berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Beberapa saat kemudian setelah  selesai salat magrib, Syafira kembali turun dan menunggunya di meja makan hingga isya’ tiba. Ia bergegas bangkit begitu mendengar suara sepatu Gus Aris menapaki lantai, langkahnya pelan dan berat. Setengah berlari Syafira meninggalkan meja makan untuk menyambut kedatangan suaminya.

Namun, betapa terkejutnya saat melihat Gus Aris tengah terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya, susah payah berusaha menaiki anak tangga menuju lantai dua. Syafira berlari menyongsongnya, ia menangkap tubuh suaminya yang limbung kemudian merangkulkan sebelah tangan besarnya pada bahu Syafira. Ia menuntun tubuh berat Gus Aris dan membantu menapaki satu demi satu anak tangga menuju kamarnya. 

Syafira membuka pintu kamarnya, ia membimbing tubuh suaminya untuk berbaring di ranjang. Mata Gus Aris terpejam, keningnya mengernyit dalam, beberapa butir air membasahi rambut panjangnya yang terikat karet, lalu turun ke keningnya. Rautnya dipenuhi kesakitan, napasnya tersengal. Syafira melepas sepatu dan kaos kaki suaminya, kemudian beralih ke jas hitam yang dikenakannya yang sedikit lembab oleh air hujan dan  dasi yang melilit lehernya hingga menyisakan kemeja putih dan celana katun saja. Ia juga melepas jam tagan yang melingkar di pergelangan tangan suaminya, lalu meletakkannya di atas nakas bersama dengan ponsel Gus Aris yang ia ambil dari saku jas.  Setelah itu menarik selimut hingga menutup pinggang suaminya.

Memberanikan diri, dengan tangan gemetar Syafira menyentuh butiran air di kening suaminya. Syafira tersentak merasakan panasnya kulit Gus Aris.  Pria ini demam. Buru-buru ia bangkit, keluar dari kamar untuk mengambil air dalam sebuah wadah dan sebuah handuk kecil putih, kemudian membawanya kembali ke dalam kamar.

Sangat pelan, tangan Syafira mengompres kening suaminya dengan handuk yang sudah ia celupkan ke dalam air dingin. Gus Aris masih tetap memejamkan mata, namun kepalanya  bergerak-gerak resah, kernyitan di dahinya semakin dalam. Sesekali tangannya menyengkeram ujung selimut seperti tengah menahan rasa sakit. Syafira duduk di sisi tempat tidur menungguinya, membiarkan suaminya beristirahat sambil sesekali mengganti handuk di kening di keningnya.

Dalam keadaan seperti ini, sosoknya terlihat berbeda dari biasanya. Kesan dingin dan menakutkannya sama sekali tidak tampak. Diam-diam Syafira memerhatikan dengan seksama wajah suaminya. Suaminya sangat tampan meski penampilannya kurang rapi. Rambutnya yang panjang disisir dan dikucir ke belakang dengan jambang lebat. Namun, penampilannya itu justru menjadi salah satu daya tariknya.

Bunyi dentingan mengalihkan perhatian Syafira dari wajah lelap suaminya. Ia berpaling menatap benda persegi yang menyala di atas nakas. Sekilas Syafira dapat melihat nama Arshila, si pengirim pesan dari aplikasi hijau di ponsel suaminya.

Mas, aku kangen …

 Tak bermaksud membuka privasi suaminya, tetapi ia terlanjur sedikit melihat isi pesan tersebut. Hati Syafira mendadak seperti ada yang mencubit, ada seorang wanita yang mengaku kangen dengan suaminya. Rasa cemburu menyeruak, membuat matanya terasa panas. Apakah ada wanita lain yang terluka oleh pernikahan mereka? Batinnya bertanya-tanya. Tidak ada yang menjamin Gus Aris tidak memiliki wanita pilihannya saat menikah dengan Syafira, bisa saja ia meninggalkan wanita pilihan hatinya untuk memenuhi keinginan orang tuanya menikahi Syafira menggantikan Faruq.

Mengerjapkan matanya yang memanas, Syafira menolak menangis. Ia mengjela napas panjang, kemudian bangkit meninggalkan sisi tempat tidur di mana suaminya berbaring. Ia kembali turun. Makanan yang ia masak dan tertata di atas meja telah dingin. Usahanya untuk membuat Gus Aris mencicipi masakannya kembali gagal. Syafira membereskan makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam kulkas. Nanti ia yang akan memakannya kalau selera makannya sudah kembali.

Rasa lapar yang ia tahan sejak tadi menguap setelah melihat nama Arshila yang mengaku kangen dengan suaminya. Sia-sia ia menunggu Gus Ari berjam-jam dalam keadaan lapar. Berkali-kali Syafira menghela napas dan mengembuskannya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Rasa cintanya untuk Gus Aris telah tumbuh dengan sangat cepat, membangkitkan rasa cemburu yang menyesakkan menyadari pria itu sama sekali tidak menganggapnya ada.

Setelah membereskan hasil masakannya yang belum tersentuh sedikit pun, Syafira kembali ke dapur. Ia akan membuat bubur untuk Gus Aris. Suaminya itu demam, tubuhnya sangat panas, akan lebih baik jika makan bubur saja. Ia kembali berkutat di dapur bertemankan udara dingin yang menggigit tulang, sedingin perasaannya. Hujan masih belum reda, desau anginnya terdengar menerpa tumbuh-tumbuhan di taman belakang yang terlihat dari jendela kaca super besar yang ada di dapur.

Bersambung ….