Part 3
Ini sequelnya novel Surat Cinta dari Gus Zaka?

Iyap, betul.

Bukannya dulu di wattpad SSB itu cerita tentang Fikri, sepupunya Einsteina dama Seteduh Taman Surga?

Iyap, tapi itu dulu. Sekarang enggak lagi.

Di sini nanti kalian bakal ketemu sama anaknya Pak Duren sama Mbak Sekar. Dan, meskipun cerita ini baru mulai tapi aku bisikin sini, kalau habis cerita ini selesai aku bakal bikin cerita anaknya Pak Duren. Biar deh sambung menyambung dari Sabang sampai Merauke. Wkwk. Jadi, pastikan follow dan subscribe biar gak ketinggalan infonya. Kalau ketinggalan, jangan salahin penulisnya. Salahin aja bakul rujak.

Selamat membaca.

***

Bu Nyai Nabila menangis, wanita mungil tersebut terisak-isak sembari memeluk Syafira erat saat Gus Aris pamitan hendak kembali ke Jakarta, tentunya dengan membawa serta Syafira yang baru kemarin dinikahinya.

 “Secepat ini kamu mau meninggalkan Magelang, Ris? Ummik bahkan belum sempat memanjakan menantu Ummik.” Beliau menciumi pipi Syafira.
“Pekerjaan saya tidak bisa ditinggal lama-lama, Mik.” Gus Aris menjawab sambil menunduk memainkan ponselnya.

 Syafira tidak tahu apa yang membuatnya terlihat begitu enggan. Gus Aris seperti merasa berat saat mengajaknya memasuki kediaman orang tuanya, begitu pun ketika mereka tiba di sini, duduk di ruang tamu. Matanya tak lepas sedikit pun dari ponselnya, ia bahkan tidak menatap sang Ummik ketika sedang berbicara.

 “Bisakah ditunda sampai besok? Ummik masih sangat merindukanmu,” pinta Bu Nyai Nabila setengah memohon. Syafira melirik suaminya, Gus Aris hanya menghela napas dengan berat.

 “Tinggallah, Ris, semalam saja.” Kyai Zakaria yang sejak tadi diam pun akhirnya ikut membujuknya.

 “Bah, saya minta maaf. Saya benar-benar harus segera kembali ke Jakarta. Saya tidak bisa lama-lama menyerahkan tanggung jawab saya pada Amru, dia punya banyak pekerjaan sendiri,” jawabnya, akhirnya mengangkat kepala menatap Kyai Zakarian dan Bu Nyai Nabila secara bergantian. Kemudian Gus Aris mengusap wajahnya dan kembali menghela napas berat. Sikapnya masih tetap datar, namun Syafira dapat melihat kilatan frustasi dalam netra hitamnya yang sekelam malam.

 Bu Nyai Nabila melepaskan Syafira, kemudian beranjak duduk di sisi putranya. Tangannya terulur mengusap bahu Gus Aris. “Ummik mengerti.” Meski Syafira melihat kesedihan yang teramat dalam pada mata bulatnya, namun Bu Nyai Nabila tetap tersenyum lembut. “Pergilah, Ummik titip jaga Syafira dengan baik.”

 “Tentu, Mik.” Seolah-olah tidak ingin berlama-lama di sana, Gus Aris segera beranjak. Ia mencium tangan Bu Nyai Nabila dan Kyai Zakaria secara bergantian diikuti Syafira.

 “Sering-sering mengunjungi Ummik, ya Ris.” Bu Nyai Nabila memeluk tubuh besar putranya, terlihat sekali berusaha menahan tangis.

 “Kalau kamu sibuk, biar kami yang datang mengunjungimu ke Jakarta,” sambung Kyai Zakaria.

 “Tentu, Bah.”

 “Jaga Syafira baik-baik. Dia menjadi tanggung jawabmu dinia akhirat, Ris.”

 Gus Aris hanya mengangguk, kemudian setelah berpamitan ia mengajak Syafira keluar dan memasuki mobil yang terparkir di depan teras tanpa menoleh. Meningalkan kedua orang tuanya mengiringi kepergiannya dengan iringan tangis kesedihan.

 Sepanjang perjalanan, mereka sama sekali tidak berusaha membuka suara. Keduanya memang jarang sekali terlibat pembicaraan, bahkan boleh dibilang nyaris tidak pernah. Pagi itu saat Syafira terjaga dari tidurnya, ia tidak mendapati Gus Aris di sisinya. Tempat tidur di sampingnya terasa dingin, tanda kalau pria itu telah lama meninggalkan tempat tidur. Pun ketika sarapan, Gus Aris bergabung bersama para pria di ruang tamu sementara Syafira hanya berdua dengan Shofa. Baru ketika lewat waktu duha, Gus Aris mengajaknya bicara.

 “Saya akan berangkat ke Jakarta hari ini juga, lekaslah berkemas.” Hanya itu kalimat yang terucap dari bibirnya, selebihnya ia lebih suka menggunakan bahasa isyarat saat meminta Syafira mengikutinya ke ndalem orang tuanya untuk berpamitan, tentunya setelah berpamitan terlebih dahulu dengan keluarganya.

 Syafira melirik ke arah suaminya yang duduk di sampingnya mengemudi dengan tenang. Sosok ini jauh berbeda dengan yang dikenalnya 11 tahun silam. Sebelum menikah dengan Ashfiya, Gus Aris adalah sosok yang ramah, murah senyum, dan tentunya diidolakan oleh seluruh santriwati. Ia sangat tampan, tubuhnya ramping dengan raut yang selalu berseri. Menjadi pemandangan yang paling menakjubkan setiap ia melewati asrama putri menuju kelas untuk mengajar.

 Namun, sekarang ia berubah 180 derajat. Tubuh tingginya yang ramping kini sangat tegap, turunan dari Kyai Zakaria. Wajah bersihnya ditumbuhi jambang lebat yang jauh dari kata rapi, rambutnya panjang diikat karet gelang. Sedangkan rautnya yang dulu selalu berseri, terlihat datar bahkan cenderung dingin. Bibirnya terkatup rapat. Sejak pertemuan mereka seusai akad nikah, belum sekali pun Syafira melihat bibir itu tertarik membentuk senyuman, jenis senyum yang dulu mampu membuat para santriwati terpana kemudian tersipu malu. Senyumannya sampai ke mata hingga menampakkan binar cerah dalam netra hitamnya. Sayangnya semua itu tidak ada lagi. Mata Gus Aris kini justru dingin, netra hitamnya yang sekelam malam menyorot tajam dan menakutkan. Siapa pun yang ditatap dengan tatapan seperti itu pasti akan merasa dingin dan merinding. Sama halnya dengan Syafira, ia bahkan tidak berani menatap wajah suaminya apa lagi matanya.

 Dari samping, Syafira melihat raut datar Gus Aris yang tengah berkonsentrasi mengemudi. Meski terkesan sedikit menyeramkan, namun sama sekali tidak menyembunyikan ketampanannya. Ia justru mirip seperti aktor-aktor jahat dalam film yang dulu sering ditontonnya bersama Shofa. Rahangnya kokoh dengan dagu persegi yang semakin memperlihatkan ketegasannya, aura dinginnya yang suram justru menjadi daya tarik tersendiri. Menyadari dirinya terpikat akan daya tarik Gus Aris, mendadak jantung Syafira berdetak kencang. Mungkinkah ia telah jatuh cinta padanya?

 Syafira menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Bukan sebuah dosa jatuh cinta pada suami sendiri. Membayangkan hal tersebut wajahnya seketika memanas, dan semakin panas lagi hingga menjalar ke telinganya ketika Gus Aris mendadak menoleh. Ia memergoki Syafira tengah mengamatinya diam-diam. Tatapan mereka saling bertabrakan, Syafira dapat melihat suaminya terpaku menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka terus bertatapan hingga kemudian tersentak saat mobil nyaris menabrak pengemudi di depannya. Refleks Gus Aris membanting setir, dengan tajam mobil menabrak trotoar hingga naik ke atasnya dan membentur pohon diiringi dengan rentetan bunyi klakson dari belakangnya.

 Syafira memekik ketika pecahan kaca menyerbunya, serpihannya melukai pipi kirinya meninggalkan rasa perih. Gus Aris segera melepas sabuk pengaman yang dikenakannya, dengan gerakan cepat ia memeluk tubuh Syafira. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya terdengar menderu di telinga Syafira, dekapannya semakin erat hingga terasa seperti hendak meremukkan tulang-tulangnya. Cukup lama ia memeluk Syafira, keributan di luar mobil tak dihiraukannya. Orang-orang berhamburan  ke arah mobil, beberapa mengetuk kacanya dengan panik. Barulah, setelah napasnya mulai teratur Gus Aris melepaskannya.
 
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan suara bergetar. Segela ketenangannya lenyap, rautnya diliputi ketakutan alih-alih kekhawatiran. Matanya menatap nanar luka di pipi Syafira. “Ya Tuhan. Maafkan saya, maafkan saya.” Dengan gemetar ia menyentuh luka tersebut. Tangannya terasa dingin, sangat dingin hingga Syafira berjengit kaget kala menyeka hangat darahnya yang mengalir di pipi.
 
Syafira tak menjawab. Ia diam tak bergeming, bahkan saat Gus Aris mengguncang lengannya keras. Syafira menatap lekat suaminya, ia melihat sebuah ketakutan dalam netra kelam suaminya. Sekarang Syafira tahu, Gus Aris menderita trauma.

Bersambung …