Part 5

Mobil berhenti di depan sebuah rumah berlantai satu yang teduh oleh pepohonan. Amru turun terlebih dahulu diikuti Gus Aris, sedangkan Syafira menyusul paling belakang. Syafira sudah sering mendengar tentang pesantren Miftahul Ulum, namun ia tidak menyangka jika pesantren yang cukup terkenal tersebut ternyata sangat besar dan megah. Bahkan ada landasan helikopter di dalamnya, telaknya di lapangan super luas tak jauh dari halaman rumah tersebut.

Mereka baru saja berjalan beberapa langkah setelah turun dari mobil saat terdengar suara jeritan seorang gadis. 

 “Oi, om-om tua!” panggilnya dengan suara melengking. Baik Syafira, Gus Aris, maupun Amru menoleh. Syafira mendapati seorang gadis berlari-lari ke arah mereka sambil membawa gagang sapu. Wajahnya memerah diliputi kemarahan, sedangkan telunjuknya menuding Amru dengan berani. “Di mana kamu sembunyikan flashdisk-ku?!” Ia mendekat, mengacungkan gagang sapu yang dipegangnya yang bersiap memukul Amru. Namun, pria itu menghindar dengan cepat dengan berlindung di belakang tubuh Gus Aris, refleks Gus Aris adalah menangkap gagang sapu yang dilayangkan ke arahnya.

“Nih di dalam saku, ambil sendiri,” jawab Amru dari belakang tubuh besar Gus Aris seraya menepuk saku jasnya. Gadis kecil itu melotot galak. Ia mengitari tubuh Gus Aris untuk menyerang Amru.

“Dasar tua bangka sialan! Kembalikan!”

“Cebol sepertimu mana bisa mengambilnya sendiri.” Amru mengejeknya sambil terus menghindar dari serangan gadis itu dengan menggunakan tubuh Gus Aris sebagai tameng. Mereka berputar-putar seperti anak kecil, mengabaikan ekspresi keberatan Gus Aris.

“Hentikan, Om Tua. Jangan menggunakan saya sebagai tamengmu.” Gus Aris merangkul Amru dan mendorongnya ke arah si gadis kecil yang terengah murka. Seketika pria itu mengaduh kesakitan begitu gagang sapu bertubi-tubi menyerbunya. Gadis kecil itu tiada henti memukulinya sambil mengumpat. Di dekatnya, Gus Aris tertawa puas sambil menggeleng-gelengkan kepala.
 
Dari tempatnya, Syafira terperangah menyaksikan tawanya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat suaminya tertawa. Gus Aris sangat tampan dengan tawa seperti itu, jenis tawa lepas hingga menampakkan gigi-giginya yang putih dan rata, merambat ke mata hingga netra yang selalu menyorot dingin dan menakutkan itu tampak berbinar hangat. Ia terlihat lebih manusiwi. Jantung Syafira seperti hendak melompat keluar ketika tiba-tiba matanya bertemu dengan mata Gus Aris. Tawa di bibirnya lenyap, Gus Aris balas menatap Syafira lekat.
 
Mereka memang nyaris tidak pernah terlibat pembicaraan, namun seringkali terlibat kontak mata seperti ini yang justru meningkatkan detak jantungnya. Gus Aris nyaris tak berkedip saat menatapnya. Syafira tidak tahan ditatap sedemikian instens, ia ingin sekali membuang pandangannya namun mata itu seperti magnet yang menariknya, kemudian menenggelamkannya dalam kepekatan netra gelapnya.
 
“Cukup, Queen! Kamu bisa mematahkan tulang-tulang Om Amru!” Seruan seorang wanita dari kejauhan menjadi kesempatan bagi Syafira membuang muka. Ia berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya yang tercekat. Syafira bukan gadis belasan tahun yang mudah tersipu oleh tatapan lawan jenis, namun entah mengapa tatapan Gus Aris seperti memberi pengaruh terhadapnya.
 
Di dekatnya, Amru terbungkuk-bungkuk sambil mengaduh kesakitan sementara gadis kecil yang dipanggil Queen itu terus memukulinya menggunakan gagang sapu. Syafira buru-buru melerainya, memegangi tubuh Queen dan berusaha menjauhkannya.
 
“Biarkan saja, Syafira. Jangan dilerai, Amru justru senang dipukuli olehnya.” Suara berat Gus Aris terdengar membelai telinganya. Ini adalah untuk pertama kalinya suaminya menyebut namanya. Namun, Syafira tidak sempat berdebar karena seorang wanita paruh baya datang menjewer telinga Queen sambil mengomelinya. Syafira membantu wanita tersebut menjauhkan Queen dari Amru, mengabaikan perlawanan gadis itu yang begitu murka dan berapi-api ingin terus menghajar sahabat suaminya tersebut.
 
“Sekali saja kamu bertingkah selayaknya gadis, bisa tidak? Mama pusing melihat tingkah barbarmu itu, Queen!” Wanita tersebut mencubit pipi Queen dengan gemas.
 
“Tua Bangka itu yang mulai, Ma!” protesnya tidak terima. “Dia mencabut flashdisk Queen begitu saja dan menyembunyikannya. Semua tugas Queen ada di sana, Ma.”
 
“Panggil Om Amru, kamu sama sekali tidak sopan menyebut ommu sendiri dengan panggilan seperti itu!”
 
“Dih, gak sudi!”
 
“Hei, aku juga tidak sudi punya keponakan barbar sepertimu!” balas Amru. Raut wajahnya diliputi kekesalan. “Mbak Ina harus mendidiknya untuk menjadi gadis seutuhnya. Aku curiga jangan-jangan bocah gila ini bukan seorang gadis.” Queen melotot, ia mengayunkan kembali gagang sapunya namun buru-buru ditahan oleh Syafira.
 
“Astaghfirullaah. Sudah, sudah, Mama capek melihat permusuhan kalian!” Wanita yang dipanggil Mbak Ina tersebut mengurut keningnya. “Lekas kembalikan flashdisk Queen, Am. Kamu yang tua juga suka sekali mencari gara-gara, senang kalau melihat Queen ngamuk.”
 
Amru mengeluarkan benda hitam kecil dari dalam saku jasnya, kemudian mengulurkannya pada Queen. Namun, katika Queen bermaksud mengambilnya, Amru justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuat gadis kecil itu kembali marah-marah. Dengan paksa ia meraih tangan Amru, kemudian menggigitnya. Amru menggeram kesakitan seraya berusaha menarik lepas tangannya. Syafira dan mamanya Queen panik, mereka kompak menarik tubuh Queen, tetapi gadis itu tidak mau melepaskan gigitannya begitu saja. Barulah setelah mendapatkan flashdisk dari genggaman tangan Amru, gadis itu melepaskan gigitannya. Kemudian tanpa rasa bersalah beranjak meninggalkan omnya yang meringis kesakitan setelah melemparkan tatapan penuh permusuhan terlebih dahulu.
 
“Dasar piranha kecil!” umpat Amru seraya mengusap bekas gigitan Queen pada lengannya yang mengecap gigi-gigi.
Di sampingnya GusAris terkekeh puas.“Belum apa-apa jika dibandingkan dengan gigitannya setahun yang lalu.” Ia melirik pergelangan tangan kiri Amru yang terdapat bekas jahitan.

“Aku benar-benar ingin sekali menggantungnya di langit-langit kamarku, kemudian menabok bokongnya biar kapok. Giginya benar-benar tajam seperti piranha.”

“Hadapi dulu ibunya,” balas sang Mama seraya mendengus geli.

“Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Amru balas mendengus. “Oh ya, ngomong-ngomong ini Syafira, Mbak, istrinya Aris.” Amru menoleh padanya, Syafira buru-buru mengelurkan tangan.
 
“Masya Allah, istrinya Gus Aris? Kapan menikah, kenapa tidak mengundang kami?”
 
“Dadakan kok, Mbak. Tidak menyebar undangan.” Gus Aris menjawab mewakili Syafira.
 
Wanita itu menjabat uluran tangan Syafira dan memeluknya hangat. “Panggil saja Mbak Ina, aku kakaknya Amru. Senang sekali akhirnya ada yang bisa menaklukkan hati Gus Aris. Kamu tahu, Fira, aku dan keluargaku sempat menganggap jika adikku terlibat hubungan khusus dengan suamimu, mengingat keduanya tak pernah terlihat dekat dengan wanita dan tak kunjung menikah meski umurnya sudah kelewat matang. Rasanya lega saat tahu Gus Aris sudah menikah. Itu artinya adikku normal.”

Syafira tertawa kecil. Mbak Ina merupakan wanita yang menyenangkan, Syafira menyukainya. “Terlalu banyak pilihan bisa menjadi penyebabnya, Mbak.”
 
“Entahlah, Fir, aku benar-benar tidak tahu selera Amru. Puluhan wanita sudah kusodorkan padanya, tapi tidak ada satu pun yang diterimanya. Mungkin jodohnya sedang bermain rumah-rumahan dan petak umpet,” gerutu Mbak Ina. Syafira ingin tertawa, tetapi ia mengurungkannya begitu melirik Amru dan mendapati pria itu meringis dengan wajah memerah.
 
“Gus, tolong katakan pada sahabatmu, menikah itu benar-benar menyenangkan. Dia belum pernah merasakan surga dunia, kalau sudah nanti menyesal kenapa tidak menikah sejak dulu. Kamu yang sudah berpengalaman dengan Syafira harus menasehatinya biar segera menikah.”
 
Syafira menelan ludah mendengar kalimat terakhir Mbak Ina. Wanita ini tidak tahu jika sampai saat ini Syafira tetaplah seorang perawan. Gus Aris sama sekali belum menyentuhnya, dan pria itu terlihat sangat menjaga jarak. Diam-diam rasa sedih menyusup ke dalam sanubarinya. Mungkin selamanya Syafira akan tetap menjadi wanita suci, seperti nama yang disandangnya.

***

Rumah ini selalu sepi karena memang tidak memiliki asisten rumah tangga yang menetap. Gus Aris menyukai privasi, ia tidak memiliki pembantu untuk mengurus kebutuhan makan, mencuci, dan bersih-bersih rumah. Ia tidak membutuhkannya, mengingat waktunya hampir seluruhnya ia habiskan di kantor. Gus Aris pulang hanya untuk tidur, kadang-kadang ia malah lebih suka menginap di apartemen Amru yang jaraknya lebih dekat dari kantor kalau sudah sangat letih sekedar menyopir pulang. Karena itu ia hanya menggaji tukang bersih-bersih yang datang pagi hari untuk mengerjakan tugasnya kemudian pulang setelah semua pekerjaannya selesai. Hanya dua orang satpam yang menginap, berjaga secara bergantian di gardu depan.

Rumahnya tidak begitu besar, karena selama ini hanya ditempatinya seorang diri. Namun, memiliki halaman yang sangat luas dan asri, tipe rumah idaman ummiknya yang gemar menanam berbagai macam bunga. Dikelilingi pagar beton setinggi dua meter, sehingga memberi kesan terisolasi.

Sebagai seorang yang sangat memperhatikan arsitek bangunan, Amru sering sekali mengomentari rumahnya yang terkesan dingin dan murung, seperti tidak pernah tersentuh kehangatan. Pria itu bahkan menawarkan diri untuk mengubah desainnya yang sudah jelas ditolak mentah-mentah olehnya.

Jangankan pukul 3 pagi seperti saat ini, di siang hari pun rumah ini terasa sangat sepi dan lengang. Nyaris tidak ada suara-suara apa pun. Namun, pagi ini saat terjaga dari tidurnya, samar-samar Gus Aris mendengar suara seorang perempuan. Ia beranjak dari tempat tidur untuk mencari sumbernya.
 
Suara itu terdengar sayup-sayup saat ia keluar dari pintu kamarnya menuju balkon. Kakinya melangkah mendekati jendela kamar di sampingnya, kemudian mendekatkan diri di sana. Suara itu terdengar jelas. Gus Aris tertegun, hatinya  berdesir mendengar suara murattal yang sangat indah. Gus Aris semakin mendekat, kemudian menyandarkan tubuhnya pada jendela. Manyimak bacaannya dalam keremangan balkon kamarnya.

Qoolat annaa yakuunu lii ghulaamun wa lam yamsasnii basyarun wa lam aku baghiyyaa.
 
Qoola kazaalik, qoola robbuki huwa ‘alayya hayyin, wa linaj’alahuuu aayatan lin-naasi warohmatan minnaa, wa kaana amron maqdhiyyaa.
  
Fa hamalat hu fantabazat bihii makaanan qoshiyya.
 
Fa ajaaa ahal-makhoodhu ilaa jiz’in-nakhlah, qoolat yaa laitanii mittu qobla haazaa wa kuntu nas-yan mansiyyaa
 
Surah Maryam. Batinnya dalam hati. Surah yang bercerita tentang Siti Maryam, wanita pilihan yang suci sepanjang masa dan perjuangannya dalam melahirkan Nabi Isa AS. Gus Aris semakin mempertajam pendengarannya. Suaranya sangat indah, Gus Aris sampai merinding mendengarnya. Halus dan penuh penghayatan. Tajwidnya sangat bagus, makharijul huruf-nya benar-benar diperhatikan. Gus Aris memejamkan mata, menikmati keindahan suara bidadari di dalam sana. 

Gus Aris sudah dapat menebak pemilik suara tersebut. Tidak lain pasti Syafira, wanita yang telah resmi menyandang status sebagai istrinya. Selain dua satpam di luar, hanya ada mereka berdua di dalam rumah tersebut. Sejak tiba di Jakarta kemarin, mereka memang tidur di kamar yang terpisah. Syafira menempati kamar utama miliknya, sementara ia sengaja tidur di ruang kerjanya yang terletak tepat di samping kamar utama.
 
Gus Aris tahu jika wanita itu dulu sering mengikuti lomba-lomba tartil maupun tilawah mewakili pesantren Al Hikmah, tetapi sebelumnya ia sama sekali belum pernah mendengar suaranya secara langsung. Selain rupawan dan cerdas, ternyata Syafira memiliki suara emas. Seharusnya untuk ukuran seorang wanita yang memiliki banyak kelebihan sepertinya, tidak susah untuk membuat pria jatuh cinta padanya. Namun, entah mengapa ia justru sepertinya susah menemukan jodoh.
 
Seharusnya Gus Aris juga tidak susah jatuh cinta padanya, ia bisa dengan mudah menggantikan Ashfiya di hatinya. Gus Aris buru-buru menggelengkan kepala menyadari arah pikirannya. Gus Aris kembali melangkahkan kakinya memasuki kamarnya begitu suara Syafira tak lagi terdengar. Ia beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudlu, sudah waktunya melaksanakan salat malam.
 
Usai melaksanakan salat tahajud, entah mengapa suara lembut nan indah itu terngiang di telinganya. Seolah mengalun ke seluruh penjuru ruangannya tersebut dan memberinya ketenangan batin. Gus Aris ingin mendengarnya lagi.

Bersambung …