Part 2
PERHATIAN, PERHATIAN, JANGAN DISKIP!

SEPERTI BIASA CERITAKU AKAN DIKUNCI MENDEKATI ENDING(3-4 PART SEBELUM ENDING) SAMA SEPERTI CERITA SANG MUHALLIL.

KECUALI YANG SUDAH TERBIT ATAU YANG SUDAH PERNAH TAMAT(YANG INI SUDAH PASTI DIKUNCI)

JADI, YANG MAU BACA GRATIS DARI AWAL SILAKAN BACA MUMPUNG MASIH ON GOING. JANGAN SAMPAI KALIAN TELAT PADA SAAT SUDAH TAMAT DAN DIKUNCI, KEMUDIAN MAKI-MAKI ATAU NGATAIN PENULISNYA DENGAN KALIMAT YANG MENYAKITI.

AKU PERINGATKAN LAGI SAMPE CAPSLOCK JEBOL, BIAR TIDAK TERULANG SEPERTI YANG SUDAH-SUDAH. JADI, BAGI YANG BACA TELAT JANGAN COBA-COBA NYALAHIN PENULISNYA. SALAHIN AJA TUKANG CILOK YANG LEWAT.

SALAM,
PIRANHA KECIL YANG GALAK DAN NGESELIN.

***

Selama resepsi berlangsung, mereka duduk berdampingan di atas pelamina dalam diam. Sejak saling berjabat tangan usai ijab qabul, tidak ada pembicaraan apa pun di antara mereka.

Gus Aris, dengan wajah datarnya duduk di samping Syafira tanpa berniat sedikit pun mengajaknya bicara. Demikian pula dengan Syafira, ia begitu gugup dan canggung. Bagaimana tidak, ia menikah dengan gurunya semasa nyantri di pesantren Al Hikmah. Selain itu, pria 39 tahun itu juga merupakan suami mendiang Ashfiya, sahabat dekatnya yang telah berpulang 11 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan.

Syafira tahu—tepatnya seluruh warga desa tahu mengenai kisah cinta mereka yang berakhir tragis. Gus Aris menikahi Ashfiya setelah melalui perjalanan kisah cinta yang panjang dan rumit. Namun, naas pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Tepat memasuki minggu pertama usia pernikahan mereka, Gus Aris harus kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan maut saat mereka tengah berbulan madu.

Sejak saat itu Syafira jarang sekali melihat pria tersebut di pesantren. Hanya beberapa kali dalam setahun Syafira melihat mobilnya memasuki gerbang pesantren yang terletak tepat di samping rumahnya.

Sebagai putra tunggal Kyai Zakaria dan Bu Nyai Nabila, Gus Aris juga tidak lagi mengajar di pesantren seperti sebelum menikah. Justru Gus Faisal, keponakan Kyai Zakaria yang aktif mengajar dan turut membantu mengembangkan pesantren bersama pamannya.

Usai resepsi, Gus Aris tidak lagi menemuinya. Ia bertahan di sisinya hanya sampai sesi foto selesai, setelah itu menghilang entah ke mana meninggalkan jas yang dipakaianya selama resepsi di dalam kamar Syafira. Syafira mengambil jas hitam milik pria yang telah resmi menjadi suaminya tersebut dan mendekapnya ke dada, ada perasaan hangat yang timbul setelahnya. Entah mengapa mendadak jantungnya berdetak kencang, perasaan aneh muncul bersamaan dengan air matanya yang merebak turun.

Gus Aris telah menyelamatkan Syafira dan keluarganya dari malu besar yang akan ditanggungnya. Ia menggantikan Faruq menikahi Syafira meski tidak mencintainya. Seumur hidup Syafira hutang budi padanya, ia berjanji dalam hati akan membalas suaminya dengan pengabdian yang tulus. Syafira akan menjadi seorang istri yang taat.

“Mbak Fira,” Syafira buru-buru menyusut air matanya begitu mendengar suara Shofa memanggilnya diikuti kepalanya yang melongok dari celah pintu. “Nggak ada Gus Aris, kan, boleh masuk?”

“Masuk saja, Gus Aris sedang di luar,” ujarnya setelah membuka pintu lebar membiarkan adiknya masuk. Kemudian ia duduk di sisi tempat tidur masih dengan mendekap jas hitam milik Gus Aris diikuti oleh Shofa. Sudah pukul 22.00 pasti adiknya itu baru saja menidurkan kedua anaknya.

“Mbak Fira, aku ikut bahagia untuk pernikahanmu,” kata Shofa memulai percakapan. Matanya berkaca-kaca menatap sang kakak yang teramat dicintainya. “Dan, lebih bahagia lagi yang menikahimu bukan Faruq, melainkan Gus Aris. Aku tiada henti bersyukur akan itu, Mbak.”

“Apakah kamu berpikir kalau menikah dengan Faruq itu buruk, Shof?”

Shofa menghela napas panjang. “Aku hanya ingin kakakku bahagia bersama laki-laki yang tepat. Faruq itu terkenal playboy, Mbak. Dia gemar sekali memacari gadis-gadis desa, memanfaatkan ketenarannya sebagai putra Kyai Fahri. Dia memang beda dari sudara-saudaranya, alasan itu pula yang membuat Kyai Zakaria menjodohkannya dengan Mbak Fira, berharap sifat Mbak Fira yang tegas mampu mengubahnya.”

Tentu saja Syafira tahu kalau Faruq playboy, sikapnya sama sekali tidak mencerminkan putra seorang ulama yang sangat disegani. Seluruh warga desa tahu akan hal itu. Entah sudah berapa kali Faruq mengkhitbah seorang gadis, kemudian di tengah jalan ia membatalkannya. Orang tuanya sudah lelah menasehatinya, bahkan tak jarang Budhe Nafisya—ibunya—mengeluh akan kelakuan putra bungsunya itu pada Bu Nyai Nabila atau mending Ibu ketika masih hidup. Ibu, Bu Nyai Nabila, dan Budhe Nafisya memang bersahabat sejak masih muda, sehingga tak jarang mereka saling curhat mengenai kelakuan anak-anaknya saat punya kesempatan berkumpul. Sekarang, Ibu telah meninggal dunia menyisakan Bu Nyai Nabila dan Budhe Nafisya, keduanya sudah seperti ibu bagi Syafira. Mereka berdua pula yang selalu ada membantu banyak hal padanya saat Ayah menderita stroke tak lama setelah ditinggal Ibu.

Syafira menghela napas panjang. Budhe Nafisya pasti sangat terpukul dengan kelakuan putranya pada Syafira. “Faruq itu membenciku, Shof. Dia tidak pernah absen menggangguku sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Bahkan ketika di bangku Aliyah dia senang sekali mengata-ngataiku gendut, jelek, uler keket, dan julukan-julukan lainnya yang entah didapatnya dari mana. Dia bahkan mengejekku perawan tua. Aku saja sangat heran saat dia setuju dijodohkan denganku, sekarang aku tahu dia sengaja ingin mempermalukanku. Kurasa itu adalah hal paling jahat yang pernah dia lakukan padaku.”

“Hanya orang buta yang mengatakan Mbak Fira jelek. Mbak Terlalu fokus ngurus Ayah sampai tidak pernah menggubris lamaran banyak pemuda yang datang hingga tidak sadar kalau usia Mbak Fira semakin bertambah. Aku yakin Faruq akan menyesal telah melepas berlian seperti Mbak Fira dan membiarkannya dimiliki sepupunya. Gus Aris beruntung mendapatkan Mbak Fira.”

“Tidak, Shof, justru aku yang beruntung. Perawan tua sepertiku bisa menikah dengannya. Seumur hidup aku berhutang budi padanya. Ia bersedia menyelamatkan muka keluarga kita.”

“Jangan berkata seperti itu! Mbak Fira bukan perawan tua, tidak perlu mendengarkan omongan orang. Bu Nyai Nabila saja sangat gembira dan begitu bangga akhirnya ada perempuan yang bisa membuat putranya menikah lagi. Itu tandanya Mbak Fira istimewa, kalau tidak mana mungkin Gus Aris yang terkenal seperti kutub utara mau menikah lagi.”

Shofa bangkit dari duduknya, ia memegang kedua bahu Syafira dan menatapnya serius. “Mulai sekarang, aku dan Mas Ramli yang akan merawat Ayah. Selama ini Mbak Fira sudah banyak berkorban untuk Ayah, sementara aku sibuk sendiri dengan keluarga kecilku. Aku dan Mas Ramli sudah sepakat akan menggantikan Mbak Fira merawat Ayah. Jadi, Mbak Fira bisa tenang ikut dengan Gus Aris ke mana pun beliau akan membawa Mbak Fira tanpa perlu mengkhawatirkan Ayah lagi.”

“Shof,” Syafira memeluk adiknya erat. Air matanya tumpah. Sejak Ibu meninggal dan Ayah menderita stroke, inilah sosok yang selalu ia ajak bertukar pikiran sebelum kemudian menikah dan ikut dengan suaminya. Syafira dan Shofa sama-sama masih remaja saat ditinggal Ibu mereka, dan keduanya dipaksa harus dewasa sebelum waktunya. “Terima kasih, Shof. Terima kasih.”

“Tidak perlu berterima kasih, Mbak. Sudah menjadi tugasku sebagai seorang anak,” Shofa mengusap air mata di pipi kakaknya, ia sendiri menangis. Mereka kembali saling berpelukan seolah malam itu menjadi malam perpisahan kakak-beradik tersebut. “Terima kasih selama ini telah merawat Ayah dengan baik.”

Pelukan mereka baru terlepas begitu terdengar tangis bayi dari kamar sebelah. Shofa menyusut air matanya dan terkekeh kecil. “Sepertinya anakku bangun, Mbak. Sebaiknya aku keluar juga sebelum Gus Aris datang. Sekali lagi selamat, Mbak.” Shofa mengecup pipi Syafira dan langsung bergerak meninggalkan kamar yang berhiaskan bunga-bungaan tersebut.

Sepeninggalan Shofa, Syafira mengembuskan napas berkali-kali. Rasa gugupnya kembali terbit mengingat ia akan bertemu kembali dengan Gus Aris, tangannya semakin merapatkan jas hitam dalam dekapannya ke dada. Samar-samar ia dapat mencium aroma wewangian asing yang menguar dari sana yang justru menimbulkan detak jantungnya yang semakin menggila.

Menghempaskan diri di atas tempat tidur besarnya, Syafira memejamkan mata berusaha mengusir rasa gugupnya. Namun, suara Gus Aris yang terdengar dari luar kamar tengah berbicara dengan Ramli membuat degup jantungnya menggila, rasa gugupnya justru semakin memuncak. Syafira buru-buru menaikkan seluruh tubuhnya ke atas ranjang, ia berbaring menghadap dinding pura-pura tidur. Tangannya yang bergetar dan terasa dingin mencengkeram erat jas hitam suaminya.

Beberapa saat kemudian terdengar pintu dibuka, lalu ditutup kembali diikuti bunyi klik tanda Gus Aris menguncinya. Syafira menahan napas, ia menunggu gerakan Gus Aris di balik punggungnya. Namun, tidak ada tanda-tanda pergerakan apa pun, sehingga ia meyakini jika Gus Aris tengah memerhatikannya.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Syafira merasakan pergerakan di balik punggungnya. Tempat tidur di sisinya melesak dengan sangat pelan, tanda kalau Gus Aris membaringkan diri di sampingnya dengan sangat perlahan. Syafira semakin merapatkan matanya begitu merasakan Gus Aris menyelimuti tubuhnya, tak lama kemudian ia sudah mendengar suara tarikan napasnya yang teratur. Barulah, Syafira melepaskan napas yang sejak tadi ditahannya dan menghirup udara dengan rakus.

Ini akan menjadi malam yang panjang, Syafira yakin ia tidak akan bisa tidur sepanjang malam.

Bersambung....