Part 4
“Kamu baik-baik saja?” tanya seorang pria yang tampak necis  dalam balutan setelan jas resmi seraya menyerahkan paper cup berisi kopi.

Gus Aris menerimanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menghirup aroma yang menguar kemudian meneguknya pelan. Mereka duduk di kantin rumah sakit yang lengang. Baru pukul sembilan, jam makan siang masih lama sehingga tempat yang cukup luas tersebut sepi. Hanya sesekali pengunjung datang sekedar untuk membeli minuman. Gus Aris menandaskan gelas kopinya, lalu meremas paper cup dan melemparkannya ke tong sampah. Ia mendesah panjang, sementara Amrullah—sahabat sekaligus rekan kerjanya—duduk di depannya menatap prihatin.
 
“Saya baik-baik saja.”
 
“Wajahmu menunjukkan sebaliknya. Siapa wanita itu, Ris?” tanya Amru seraya menyesap kopinya sendiri, namun matanya tak sedikit pun lepas menatap Gus Aris.
 
“Istri saya,” jawabnya singkat dan datar. Namun, efeknya luar biasa. Amru tersedak, ia menyemburkan kopinya hingga percikannya mengenai baju Gus Aris dan terbatuk-batuk hebat. Gus Aris hanya menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

Setelah batuknya mereda,  matanya yang berair menatap Gus Aris dengan tatapan terperangah. Mulutnya sedikit ternganga. Ekspresinya terlihat bodoh, jauh sekali dari kesan seorang pria matang yang cool dan dikejar-kejar banyak wanita. Sebagai pengusaha muda sukses penampilannya selalu necis, sama sekali tidak memperlihatkan jika sebenarnya ia adalah cucu mendiang ulama besar di Jogja dan memiliki pesantren yang kini diasuh oleh ayahnya. Rasanya Gus Aris ingin sekali memotretnya untuk mengabadikan ekspresinya yang boleh dibilang langka tersebut.

Gus Aris sudah siap seandainya Amru akan menyemprotnya dengan rentetan kalimat mengenai ia yang tak mengundangnya atau sekedar memberitahukan pernikahannya. Namun, yang keluar dari mulut pria 34 tahun itu di luar dugaannya.

“Kamu benar-benar menikah, Ris?” Ia menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak. “Itu artinya orang tuaku tidak punya alasan lagi menuduhku gay.”

“Apa? Gay?”

“Orang tuaku terutama Mama, menganggap putranya memiliki kelainan seksual karena belum juga mau menikah. Dan, mereka menganggap aku terlibat hubungan khusus denganmu mengingat kamu juga tidak menikah lagi.”

Gus Aris mengernyitkan kening jijik. “Saya masih normal untuk menyukai pria sepertimu, sekali pun seluruh wanita tertarik padamu.” Amru tertawa keras.

“Mama bahkan menyarankan aku untuk menemui psikiater, kali aja kelainanku bisa disembuhkan. Kakakku beda lagi, dia tiada henti menyodorkan puluhan wanita untuk kunikahi. Berhasil menjodohkan Papa dengan Mama, kali ini dia ingin membuktikan predikat makcomblang ulungnya dengan mencoba menjodohkanku dengan wanita-wanita pilihannya.”

“Dan, sialnya kamu hanya tertarik pada anak dari kakakmu itu,” sambung Gus Aris mendengus keras. Ia sudah hafal betul perasaan sahabatnya. Bukan tanpa alasan Amru tidak menikah hingga usianya menginjak 34 tahun, membuat seluruh keluarganya khawatir bahkan menuduhnya punya kelainan seksual. Sebenarnya karena gadis yang disukainya masih tergolong bocah, dan itu merupakan keponakannya sendiri. Tentu saja ia dilema. Di sisi lain usianya sudah kelewat matang, sementara Amru tidak berani mengungkapkan gadis yang disukainya pada keluarganya. “Sudahlah, akui saja perasaanmu dan nikahi dia. Kamu sudah tua, pria seusiamu seharusnya sudah memiliki dua orang anak.”

“Hari ini kamu menjadi orang ke tiga yang mengatakan kalau aku sudah tua, Ris.” Amru mendengus seraya meraih paper cup kopinya.

“Apakah gadis kecil itu termasuk salah satunya?”

“Tentu saja, memangnya siapa lagi yang berani mengataiku om-om tua.”

Mau tak mau Gus Aris tertawa mendengarnya. Nasib asmara sahabatnya ini memang kurang mujur, Amru mencintai Shaqueena, atau yang akrab di sapa Queen—anak angkat kakaknya, namun Queen yang dicintainya justru membencinya setengah mati. Entah apa yang terjadi di antara mereka sehingga Queen begitu memusuhinya.

“Ah, sudahlah. Tidak penting membahas piranha kecil itu. Lebih baik sekarang memastikan kondisi wanita—maksudku istrimu. Aku baru saja hendak berangkat saat kamu menelepon.”

Ia memang menelepon Amru setelah pulih dari rasa syoknya, dan pria itu langsung datang bersama beberapa anak buahnya, memberi perintah untuk mengurus mobil Gus Aris yang ringsek kemudian membawanya ke rumah sakit.

Gus Aris menghela napas panjang, disandarkannya kepala pada sandaran kursi. Pikirannya melayang kembali pada kejadian tadi, di mana trauma masa lalu yang sudah 11 tahun disimpannya muncul ke permukaan. Membangkitkan ketakutannya yang berusaha ia tekan kuat-kuat setiap mengemudi membawa seseorang bersamanya.

Ia hampir saja mengulangi kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Karena kecerobohannya, ia kehilangan wanita yang teramat dicintainya tepat di usia pernikahannya yang baru genap seminggu. Gus Aris tidak akan pernah memaafkan dirinya, membawa rasa bersalah itu dalam setiap helaan napasnya untuk terus mengingat kesalahan yang menyebabkan istrinya kehilangan nyawa.

Gus Aris seolah melihat Ashfiya dalam diri Syafira, wanita itu juga diam tak bergerak saat ia mengguncang tubuhnya. Bedanya Syafira masih bisa menatapnya, ia hanya syok ringan, sementara Ashfiya terbujur diam dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Gus Aris mengusap wajahnya dan mendesah panjang, rasa sakit itu masih terus bertahan setiap ingatan masa lalu datang menghampirinya.

“Saya membawanya untuk tinggal bersama saya di Jakarta.”

“Kamu tidak mengatakan itu sebelumnya. Kalau tahu kamu akan kembali hari ini, aku bisa menjemputmu. Melihat kondisimu seperti ini sebaiknya kamu kembali ke Magelang dan menunda keberangkatan. Aku akan mengantarkanmu.”

“Tidak. Saya akan tetap berangkat.”

“Jangan keras kepala, Ris. Kamu memang baik-baik saja, tapi kasihan istrimu. Sepertinya dia terluka.”

“Dia hanya terluka ringan dan mengalami sedikit syok. Dokter sudah menanganinya, setelah beristirahat saya rasa sekarang sudah membaik.”

“Ris, jangan memaksakan kehendak, atau—“ Amru menggantungkan kalimatnya, ia menatap Gus Aris serius. “—atau karena kamu masih belum bisa melupakan mendiang istrimu?”

“Saya harus melihat Syafira.” Gus Aris bangkit, mengelak dari topik yang baginya sentisif tersebut. Amru tidak mengejarnya, membiarkannya berjalan meninggalkan kantin dan hanya menatap punggungnya hingga menghilang.

***

Seperti yang dikatakan Gus Aris, Syafira hanya mengalami luka kecil di pipi kirinya dan sedikit syok. Setelah dokter mengobati lukanya dan beristirahat sebentar, ia sudah kembali baik-baik saja.

Saat itu juga Gus Aris membawanya keluar dari rumah sakit. Dengan menumpang mobil Amru mereka berkendara ke Jogja menuju kediaman orang tua pria itu di pesantren Miftahul Ulum. Amru bersikeras untuk kembali ke Jakarta bersama dengannya menggunakan helikopter milik ayahnya.
 
Dari kaca spion tengah, Gus Aris melihat plester yang menempel di pipi kiri Syafira. Wanita itu diam, matanya menatap ke luar jendela. Terlihat sedikit pucat namun sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.
 
Sampai saat ini Gus Aris belum tahu alasan yang membuatnya dengan mudah mengiyakan saja permintaan ummiknya untuk menggantikan saudara sepupunya yang kabur. Bukan sekali dua kali ummiknya memintanya untuk menikah lagi setelah kepergian Ashfiya, bahkan tak terhitung entah berapa kali sosok mungil yang telah melahirkannya itu menyodorkan banyak sekali gadis pilihannya untuk dinikahi. Bukan tanpa alasan Gus Aris menolak semuanya dengan halus, ia tidak ingin ada wanita lain yang menggantikan posisi Ashfiya di hati maupun di sisinya.
 
Namun, entah mengapa ia menyetujuinya begitu saja saat diminta untuk menikahi Syafira. Gus Aris tentu kenal dengan putri sulung mendiang Budhe Miza, sahabat ummiknya sekaligus saudara jauh dari pihak abahnya. Mantan lurah pondok yang menjadi kebanggaan pesantren Al Hikmah. Syafira terkenal sangat cerdas dan berprestasi. Dulu, ummiknya pernah ingin menjodohkan Syafira dengannya namun ditolak oleh mendiang Budhe Miza saat tahu  Gus Aris mencintai Ashfiya yang tak lain adalah sahabat dekat Syafira.
 
Wanita itu memilih menomorduakan pernikahan dan lebih memprioritaskan waktunya untuk merawat ayahnya yang menderita stroke, sehingga tanpa sadar usianya terus bertambah. Namun, Gus Aris merasa tidak yakin tidak ada laki-laki yang datang melamarnya meski orang menyebutnya perawan tua sekalipun. Syafira adalah wanita yang sangat cantik dan cerdas, di usia yang sudah menginjak angka 30 ia masih terlihat sebaya dengan Rosyidah, putri bungsu Budhe Maisa yang berusia 23 tahun. Perawakannya pas untuk seorang wanita, tidak begitu tinggi dan juga tidak semungil ummiknya. Kecantikannya sangat menonjol, karena itu selain perawan tua, ia juga dijuluki kembang desa yang telah layu.
 
Gus Aris tidak tahu apa yang membuat Faruq memilih meninggalkannya di hari pernikahan mereka. Apa pun alasannya, Gus Aris tidak akan membenarkan tindakannya. Sepupunya yang satu itu memang berbeda dari yang lain. Sikapnya sungguh kurang ajar, susah dinasehati, dan suka seenaknya sendiri. Ia juga gemar mematahkan hati gadis-gadis, akan tetapi Gus Aris rasa tindakannya kali ini yang kabur di hari pernikahannya sungguh-sungguh sangat keterlaluan.
 
Gus Aris kembali mengamati wajah Syafira dari kaca spion tengah, menatap plester yang menempel di pipi kirinya, seketika rasa bersalah kembali terbit. Luka itu karena kecerobohannya.
 
“Kenapa harus curi-curi saat terang-terangan pun sudah diperbolehkan?” Suara Amru menyentakkan Gus Aris. Dilihatnya Syafira juga menoleh, menatap pria itu dari belakang sebelum kemudian beralih ke arah spion tengah. Sejenak tatapan mereka bertemu di sana, mata sejernih telaga itu menatapnya.

Seumur hidup, baru pertama kali ini Gus Aris melihat mata sebening itu. Tatapan mereka saling terkunci, ada rasa enggan untuk berpaling darinya. Mata bening itu seperti menghipnotisnya, membuatnya ingin sekali masuk dalam kejernihannya dan menyelami isinya.

Keduanya tersentak dan kontak mata mereka terputus saat Amru mendadak menginjak rem. Tubuh Mereka terhuyung ke depan, Syafira yang duduk di belakang tidak mengenakan sabuk pengaman sampai terjerembab.

“Am!” tegur Gus Aris, menoleh dengan terkejut ke arah sahabatnya, namun pria itu malah terkekeh.

“Jadi raket nyamuk itu tidak enak, sumpah. Akan kupikirkan kembali usulanmu untuk mengakui perasaanku pada piranha kecil itu dan menikahinya.” Mendengarnya, baik Syafira maupun Gus Aris membuang muka dengan wajah memerah. Mereka sadar aksi tatap-tatapan itu dipergoki oleh Amru.

Bersambung …

Tokohnya saling berhubungan dengan novel Surat Cinta dari Gus Zaka dan Seteduh Taman Surga, karena memang ini merupakan sekuel gabungan keduanya. Jadi, mungkin yang belum pernah baca SCDGZ dan STS agak bingung.

Tapi, tenang saja novelnya masih bisa dibeli kok. Wkwk, ngiklan.