Part 1

Maryam adalah wanita pilihan yang suci sepanjang masa, namanya bahkan menjadi salah satu surah di dalam Alquran. Apakah menyandang nama tersebut lantas membuat Syafira juga akan menjadi wanita suci sepanjang hidupnya?

Namanya Syafira Maryam, usianya sudah menginjak angka tiga puluh. Ia mendapat julukan perawan tua, apa lagi teman-teman sebayanya semua sudah menikah dan memiliki anak. Bahkan Shofa Marwah—adiknya sudah menikah terlebih dahulu dan memiliki dua orang anak.

Bukan tanpa alasan Syafira belum juga menikah pada usia tersebut. Ibunya meninggal dunia, gugur dalam tugas sebagai anggota intelijen negara saat ia baru saja melepas masa remajanya. Terpukul ditinggal pergi orang yang dicintai membuat ayahnya mendapat serangan jantung dan menderita stroke sehingga sebagai anak sulung Syafira harus selalu berada di sisi sang Ayah untuk merawat dan menjaganya. hal tersebut membuatnya sama sekali tidak memikirkan pernikahan. Prioritasnya adalah ayahnya. Namun, tanpa disadarinya usianya telah semakin dewasa dan ia terlambat menikah. Penantiannya akan pinangan seorang laki-laki tak kunjung datang. Para bujangan di desanya lebih memilih gadis muda daripada perawan tua sepertinya.

Ayahnya begitu khawatir, dan berusaha mencarikan jodoh untuknya. Melalui Kyai Zakaria yang masih menjadi kerabatnya, beliau menjodohkan Syafira dengan keponakan istrinya, Faruq—putra bungsu Kyai Fahri yang tak lain adalah musuh bebuyutan Syafira saat mereka duduk di bangku Sekolah Dasar. Hari ini, hari pernikahan yang paling ditunggu-tunggu Syafira pun akhirnya datang. Rumahnya sudah ramai oleh para tamu, pelamina dihias indah penuh dengan bunga-bunga, catering telah dipesan dan memenuhi stan-stan yang dihias indah.

Hari ini Syafira akan melangsungkan akad nikah. Ia telah siap dalam riasan sederhana yang elegan serta gaun putih yang dikenakannya. Kyai Zakaria yang akan menikahkan mereka tiba terlebih dahulu bersama istrinya—Bu Nyai Nabila—yang kini ikut rewang membantu menemui para tamu. Rumah Syafira bertetangga dengan ndalem Kyai Zakaria, letaknya tepat berdampingan hanya terhalang dinding pesantren.

Akad nikah akan dilaksanakan pukul 8.00, para tamu sudah berdatangan. Namun, hingga lewat satu jam dari waktu yang ditentukan mempelai pria belum juga datang. Para tamu mulai gelisah, demikian pula dengan Syafira. Di dalam kamarnya ia menunggu dengan cemas. Hingga kemudian datang sebuah kabar mengejutkan. Faruq kabur. Keluarganya sedang berusaha mencarinya. Seketika Syafira merasa lemas.

Dua jam telah berlalu, namun Faruq belum juga ditemukan. Bisik-bisik dari para tamu berdengung di sekitarnya.  Syafira ingin sekali menangis. Sejahat-jahatnya Faruq padanya semasa SD, Syafira tidak menyangka ia akan mempermainkannya seperti ini. Mata Syafira memanas, air mata sudah berkumpul di pelupuk mata siap tumpah. Namun, ditahannya begitu pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok Bu Nyai Nabila tersenyum hangat padanya.

“Syafira,” panggil Bu Nyai Nabila lembut.

Syafira memaksakan sebuah senyuman yang tak sampai mata. Bu Nyai Nabila duduk di sisinya, tangannya menyentuh punggung Syafira lembut. Lalu berucap dengan sangat hati-hati. “Faruq belum juga ditemukan, Nduk.”

Kali ini Syafira tidak dapat lagi menahan air matanya. Butiran Kristal itu luruh membentuk anak sungai di kedua pipinya. Betapa kejam nasib mempermainkannya. Syafira menangis terisak-isak. Mungkin sepanjang hidupnya ia tetap akan menjadi perawan, sesuai nama yang disandangnya.

“Pernikahan akan tetap dilangsungkan dengan mempelai pengganti jika kamu bersedia. Abah dan ayahmu meminta Ummik untuk menyampaikan ini padamu.” Syafira mengangkat kepala.

Dari balim air matanya, Syafira menatap sosok berwajah lembut nan teduh tersebut. “Siapa penggatinya, Ummik?”

Bu Nyai Nabila tersenyum, binar matanya menunjukkan sebuah harapan besar. Syafira semakin bertanya-tanya dalam hati siapa kiranya pria yang begitu baik hati ingin menyelamatkannya dari rasa malu yang akan ditanggungnya seumur hidup tersebut.

“Insya Allah dia adalah laki-laki yang saleh. Ummik benar-benar sangat berharap kamu bersedia.”

Syafira tidak peduli, siapa pun pria itu ia harus berterima kasih. Karena jika pernikahannya ini benar-benar gagal, tidak hanya dirinya yang akan terluka, ayahnya yang memiliki harapan besar akan pernikahannya pasti akan sangat terpukul. Syafira tidak ingin hal itu terjadi. Sehingga dengan mantap ia menganggukkan kepala. “Siapa pun pria itu, Syafira bersedia, Ummik.” Wanita mungil yang sangat disegani itu memeluk Syafira erat, berkali-kali mengucapkan terima kasih yang tidak Syafira tahu untuk apa.

“Kalau begitu, ayo keluar. Semua sudah menunggu. Ummik akan bilang pada Abah untuk segera melangsungkan akad nikah.”

Dengan dituntun oleh Bu Nyai Nabila, Syafira keluar dari kamar. Ia merasa seluruh mata para tamu wanita yang hadir di sana menatapnya. Syafira merasa gugup, namun ia tetap mencoba tenang. Berkali-kali ia menarik dan mengembuskan napasnya. Bu Nyai Nabila mendudukkannya di pelamina kecil di ruang tengah, di hadapan para tamu wanita. Sementara tamu pria berada di ruang tamu, saling terpisah.

Melalui pengeras suara, terdengar pembawa acara mulai membacakan susunan acara. Kemudian dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan oleh Misbahul Munir, qori’ yang diundang oleh keluarga Syafira. Setelah itu, terdengar suara khas Kyai Zakaria membacakan khutbah nikah. Hingga kemudian tibalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yakni ijab qobul.

Jantung Syafira berdetak kencang, momen sakral ini akhirnya terjadi setelah 30 tahun hidupnya. Matanya memanas saat sebuah suara berat nan dalam terdengar tengah membuat perjanjian dengan Allah yang akan dipertanggungjawabkannya dunia hingga akhirat. Para saksi mengucap kata sah yang kemudian doa pun dibacakan.

Air mata Syafira mengalir deras mengamini doa-doa yang dibacakan oleh Kyai Zakaria. Akhirnya penantian panjangnya telah usai, kini ia resmi menyandang status sebagai seorang istri. Hatinya berdesir menyebut kata istri, rasa haru menyelimutinya membuat dadanya menghangat.

Tibalah saatnya ia bertemu dengan sosok yang sudah menjadi suaminya tersebut. Tirai gorden disibakkan, sekilas Syafira dapat menangkap sosok tegap dalam balutan kemeja putih dan sarung batik muncul di sana. Ia tidak berani mengangkat kepala, jantungnya berjumpalitan. Pria tak dikenal itu adalah suaminya, sosoknya mendekat kemudian berdiri tepat di depannya. Syafira semakin menundukkan kepala dalam-dalam.

“Cium tangan suamimu, Nduk,” bisik lembut Bu Nyai Nabila seraya membimbingnya bangun. Tangannya yang dingin dan gemetar menjabat tangan besar dan hangat yang terulur padanya, kemudian menciumnya.

Usai mencium tangan suaminya, Syafira memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap sosok di depannya tersebut. Seketika kakinya terasa lemas, rasa gugup kembali menyerbunya. Kali ini jauh lebih hebat dari sebelum melangsungkan akad nikah.

Sosok tegap tersebut adalah gurunya. Muhammad Al Khawarizmi, atau biasa disapa Gus Aris, putra tunggal Kyai Zakaria dan Bu Nyai Nabila sekaligus suami mendiang sahabatnya. Syafira merasa dunia di sekelilingnya berputar, pandangannya terhalang jutaan bintang-bintang yang siap merenggutnya dalam kegelapan.

Bersambung ...